Aku akan bercerita dan bukan
mendongeng, jadi aku tidak akan menggunakan kata ‘pada jaman dahulu kala, dulu
nan jauh disana, alkisah’ dan sejenisnya.
Kali
ini aku akan bercerita tentang tiga orang anak manusia yang hidup di dua
daratan, dua waktu, di tiga lokasi berbeda. Dan yang
mengesankan mereka tak saling kenal, tak pernah bertemu, tapi mereka berusaha
untuk saling menyayangi dan menghargai satu sama
lain dengan hanya berpegang pada topeng yang melapisi wajah mereka. Aku yakin,
tiga manusia ini tidak ada yang mengetahui siapa mereka sebenarnya. Mungkin
salah satu dari mereka adalah seorang teroris yang menyamar menjadi anak
sekolah berusia 17 tahun. Atau malah seorang narapidana yang menyamar. Dimana saat
seluruh barisan barikade polisi sibuk mencarinya, dia malah
asik bersantai diatas sofa empuk sambil menikmati segelas martini mewah
ditangannya. Menggoyang-goyangkan tangkai gelas dengan jari telunjuk dan yang ibu jari sebagai penjepitnya.
Mungkin juga, salah satu dari mereka adalah seorang manusia yang memiliki
daftar list sepanjang empat meter yang berisi nama siapa saja yang mengira dia
sebagai laki-laki. Yang mungkin saja, dalam kenyataannya dia adalah seorang perempuan yang senang berbicara tanpa
arah, memiliki gangguan jiwa, hiperaktif yang seketika berubah
menjadi putri tidur atau manekin, berdaya ingat rendah, dan berpotensi menjadi
seorang psykopat.
Sudah
kukatakan mereka tidak pernah bertemu, lalu bagaimana mereka dapat saling
menyayangi? “Sebuah kotak ajaib.” Itu rahasia yang ingin kubagikan padamu. Tapi
kau terlihat tak bersemangat, kenapa?
“Cerita
ini membosankan!”
“Yah,
aku tahu. Aku bukan seorang pendongeng ulung seperti nenekmu. Tapi aku punya
imajinasi yang luar biasa yang tidak dimiliki nenekmu itu.” Anak kecil
didepanku hanya cemberut dengan bertopang dagu. Aku tersenyum menang. “Yah,
baiklah. Lanjutkan.”
Si
narapidana itu adalah orang yang mempertemukan seorang teroris dan psykopat.
Kupikir mereka bertiga adalah senjata yang luar biasa kejam dalam kriminalitas.
Bayangkan, jika itu benar-benar terjadi, betapa kerennya itu. Seperti cerita didalam
novel-novel atau film tentang kasus pembunuhan, tidak ada seorang penjahat yang
membuka semua kartu as mereka meskipun itu pada rekan mereka sendiri.
“Kau
tau apa maksudnya?” dia hanya menggeleng sambil menghabiskan sebungkus besar
roti kukus miliknya. “Dasar bodoh! Cobalah sedikit berimajinasi.” Suaraku mengeras tapi
tidak membuatnya berkutik sedikitpun.
“Baiklah,
membuka kartu as sama saja membuka senjata rahasia terbesarmu. Dan jika satu orang
saja tahu, tidak akan ada yang menjamin orang ketiga dan keempat tidak akan tahu. Jadi mereka masih bermain
dengan topeng mereka masing-masing. Apa aku benar?”
“Memang
tidak salah menceritakan imajinasiku padamu.” Seruku semangat dan bangga. Wajahnya datar, mulutnya penuh
dengan roti kukus, dan sama saja- tidak bersemangat. Menyebalkan.
Hidup
di dua daratan, dua waktu, dan di tiga lokasi berbeda menjadi satu. Aneh,
mereka dengan mudahnya saling akrab, hanya dengan kata ‘Hallo’. Aku hanya bisa berimajinasi dengan
kehidupan tokoh-tokoh yang ada di kepalaku. Di dalam imajinasiku, mereka adalah orang-orang
asing yang turun dari pesawat luar angkasa seperti di film Armagedon. Lalu
pulang dengan kuda putih dengan baju ksatria dan putr
“Tunggu! Apakah
mungkin seorang teroris, narapidana, dan psykopat itu adalah seorang ksatria
dan putri, yang baru saja menjadi astronot?” potongnya
ditengah-tengah aku bercerita.
Aku
memutar kedua bola mataku seolah mencari sesuatu untuk melakban mulutnya. Aku
tidak suka kalau ceritaku dipotong. “Mungkin.” Jawabku menggantung. Ekspresi
wajahnya masih menungguku untuk melanjutkan ucapanku yang memang sengaja aku
gantung, agar dia berpikir.
“Apa?
Apa maksudnya dengan kata ‘mungkin’?”
“Aku
kan sudah bilang. Mereka semua menggunakan topeng! Jadi kurasa mungkin. Aku
belum mengatakan berapa topeng yang mereka gunankan. Jadi dengarkan ceritaku
sampai selesai.”
***
Dan disini, aku akan mulai
membuka satu demi satu penjelasan tentang mereka, terutama tentang sebutan mereka.
Si teroris bernama asli Nova, psykopat bernama Insan, dan yang terakhir Si
narapidana. Dia satu-satunya laki-laki di tim itu, bernama Dedy yang entah kenapa Si psykopat
itu lebih senang memanggilnya dengan ‘hentai-niichan’ daripada panggilan yang lebih wajar.
“Kau tahu,
dia adalah alien!!” ucapku menggebu-gebu. Anak kecil itu hanya memandangku
dengan mulut terlakban dan tangan terikat di kursi. Matanya seperti berkata, “Tolong ambilkan
permen lolipop itu.”
Dalam imajinasiku, lanjutku
bercerita. Laki-laki itu bukan berusia 24 tahun melainkan 240 tahun. Dia selalu
berganti-ganti wajah dan merubah penampilannya. Karna menurut pemikiranku dia
bukan seorang narapidana melainkan alien yang ditinggal oleh teman-temannya
yang kembali ke palnet Tertwitus. Jauh
disana, membentuk titik kecil bercahaya di langit hitam, yang kurasa mirip
dengan telaga yang bercampur lumpur dan oli bekas.
“Sementara Nova dan Insan?”
celetuk anak kecil itu lagi. Permen lolipop itu memang bisa
menenangkannya, kini dia tidak banyak protes dengan imajinasiku tapi lebih menggali
informasi dan kelanjutannya. Tapi tetap
saja dia selalu menemukan pertanyaan yang membuatku kesal. Pertanyaan yang sama
dan terus berulang.
“Tunggu! Kubilang tunggu! Untuk
kesekian kali, aku sedang bercerita bukan mendongeng. Dan disini aku akan
berimajinasi dengan semua tokoh yang aku miliki. Kau bisa diam sekarang?”
“Ya. Lanjutkan!” jawabnya asal,
yang sangat menyebalkan.
Nova,
gadis dengan ramput poni menutupi keningnya, panjang, dan terurai sepundak. Lesung pipinya yang dalam, semua itu mengaburkan kebenaran kalau dia
adalah teroris.
Selanjutnya, Si psykopat. Manusia yang sejak kecil sudah
terjebak dalam dunia imajinasi, bermain dengan topeng dan tongkat sihirnya.
Menghidupkan manusia dalam pikirannya, menciptakan satu tokoh yang tidak pernah
ada menjadi ada. Dalam topengnya, dia menari,
bernyanyi, dan berteater. Kebohongan. “Selamat pagi,” ucapnya ketika mereka
bertemu di dalam kotak ajaib. “Aku adalah apa yang aku
yakini! Dan apa yang aku yakini adalah apa yang aku impikan!” itulah kata-kata
yang dia gunakan untuk membuat benteng pertahanan saat peluru-peluru
menyerangnya. Menembus jantung, keluar, dan terhubung dalam garis merah segar
yang seketika berlalu dalam putih.
***
Di medan perang
mereka bertiga akhirnya bertemu. Dalam atribun penonton, mereka bertiga duduk untuk
menunggu giliran. Senjata mereka letakan disela-sela kaki yang menyilang.
“Musim semi sepertinya tidak datang.”
“Bukan tidak datang, tapi memang
tidak pernah akan datang!” kata Nova kesal kearah Insan yang hanya meringis tak
peduli. Rekan mereka yang satu ini memang memiliki kebiasaan suka membuat kedua rekannya merasa dongkol. Manusia itu tertawa renyah, tanpa
beban, di depan wajah merah terbakar milik Nova. Nova
menggertakan giginya yang kuat. Sedangkan
laki-laki itu hanya duduk, menyilangkan tangannya di depan dada, tak mau ambil pusing. Udara musim
panas terasa lebih panas daripada musim panas yang sebenarnya. “Kau bilang apa
barusan?”
“Musim panas.”
“Tapi ini negara dengan dua
musim. Mana ada yang namanya musim panas?!”
“Baiklah. Musim kemarau kalau
begitu.” Sahut Insan cuek.
Dug!
Insan
mengernyit kesakitan, mengerang sambil memegangi ujung kepalanya yang sakit akibat pukulan dari
laki-laki yang daritadi hanya duduk sebagai pendengar. “Hey!! Apa yang kau
lakukan?!!”
“Memukul kepalamu. Sudahlah,
diam. Berhenti mengkhayal.”
“Niichan!! Aku bukan sedang
berkhayal tapi ini kenyataan!” protes Insan tetap berkeras pada pemikirannya
sendiri. “Kubilang berhenti! Atau kubunuh kau!!” Ancamnya sambil menodongkan
pedang. Nova terkekeh. Meletakan kedua tangannya didepan mulut.
“Ya, baiklah.” Cibirnya setengah merengut
“Kenapa kau berhenti bercerita?”
Aku menghela nafas, meneguk segelas air yang volumenya sudah bertambah
gara-gara bongkahan es yang sudah kembali mencair. “Tunggulah sayang. Aku masih bingung dengan
kelanjutan cerita ini. Setelah mereka bertemu di medan
perang, haruskah mereka ikut bertarung juga?”
“Kurasa, itu perlu.” Jawabnya
tanpa berpikir sedetikpun. Aku menghabiskan lumatan roti kukus di dalam mulutku dan kembali bercerita.
Mereka bertiga masih duduk di
atribun penonton. Dedy memainkan pedangnya, seolah ingin menghunuskan mata
pedang itu ke suatu objek tapi entah apa. Disisi
lain, Nova melempar bumerangnya lalu menangkapnya lagi hanya dalam hitungan detik. Mengulangnya beberapa
kali ke arah pohon besar yang mulai meranggas.
Sementara, Insan yang duduk diantara mereka berdua malah asik tidur. Rasa
kesalnya tadi membuatnya lelah dan akhirnya tertidur.
Mendekap anak busur dan sekantong tas anak panahnya, berbahan kayu yang
didapatkannya dari bangsa Inggris kuno. Katanya, ia tidak suka dengan anak
panah yang sudah dimodifikasi dengan tulang-tulang seperti yang ia lihat dulu.
Anak panah milik masyarakat Asia kuno.
Nova dan Dedy, anggota tim yang
paling tua, berdikusi. Menyusun rencana penyerangan jika tokoh utama dan rekan-rekannya
yang sekarang sedang bertempur di bawah membutuhkan bantuan mereka bertiga.
“Dedy-nii,” panggil Nova seperti biasa. Laki-laki
itu hanya berdeham pelan. Kembali berlagak hebat dengan pedangnya. Menggerakan
ujung pedangnya ke segala arah, sampai beberapa helai rambut
Insan menjadi korban. Nova terpekik. “Apa yang kau lakukan Dedy-nii? Kau bisa
dipanahnya, kalau sampai dia tahu rambutnya kau potong.”
“Tenanglah. Kalau itu alasananya, mari kita buat dia
tidak menyadarinya. Dan, apa kau lupa? Dia sedang tertidur. Tidur yang sangat
lelap. Dia tidak akan tahu, kecuali ada yang memberitahunya atau dia menghitung
jumlah rambutnya atau mengukur panjang setiap helai rambut dikepalanya.”
Katanya pelan setengah berbisik. Tangan kirinya yang bebas mengelus kepala Insan yang masih tetap
terjaga yang terlihat mirip dengan orang mati
Gadis itu mengerang lalu
meregangkan badannya lebar-lebar. Merasakan otot-otot badannya yang
tadi kaku kini sudah lebih santai. Ia memutar pandangannya ke kanan dan
berbalik ke kiri, “Ada apa?” tanyanya dengan wajah bingung. Dua temannya masih saja saling pandang,
dengan ekspresi penjahat yang tertangkap basah. Insan mengangkat bahu lalu
bangkit, berdiri dihadapan mereka yang masih diam membisu.
“Hey, kalian!! Ada apa?”
Dedy
menggeleng pelan, “Tidak ada apa-apa. Memangnya ada apa?” Insan memiringkan
kepalanya kearah Nova, dan seperti dikomando Nova langsung mengangkat kedua tangannya
sambil dikibaskan. “Aku tidak tahu. Jangan tanya aku Aiko-nee.”
“Aiko-nee? Siapa dia?” garpu
yang sebenarnya akan kugunakan untuk menggulung lilitan mie
dan kumasukan ke mulutku, beralih seketika keatas kepala anak kecil yang daritadi tidak berhenti mengeluarkan
pertanyaan tidak penting.
“Aduuh!!” teriaknya. Permen
lolipopnya loncat keluar dari sarang penyamun.
“Aku baru akan menjelaskan siapa
Aiko-nee itu. Bersabarlah!”
“Aku tidak bisa bersabar. Jadi
beritahu aku dulu, baru kau lanjutkan ceritamu. Cepatlah!” Aku
mengalah. “Baiklah. Aiko-nee adalah nama panggilan buat Insan. Nova lebih
sering memanggilnya Aiko-nee daripada Insan-nee. Kau puas sekarang?!” Dia mengangguk. Tapi aku tak mengerti apa itu artinya ia mengerti atau hanya pura-pura mengerti.
Secara daya tangkapnya terlalu minim untuk hal-hal tertentu.
Insan menghela nafas lalu
mengangkat tas anak panah dan busurnya, memasukan melalui atas kepalanya, dan kemudian tali selebar empat sentimeter menyilang di dadanya. “Ayo berangkat!! Kita bertarung!!”
Ajaknya dengan nada memerintah. Melompat dari tepi pembatas atribun, yang
kemudian disusul kedua rekannya dengan perasaan lega. “Untung dia tidak tahu.”
Gumam tersangka.
***
Formasi penyerangan sudah mereka
siapkan. Berdiri ditengah-tengah puluhan aliansi. Bersamaan dengan dentuman
keras, berasapkan putih yang menyebar, mereka bertiga menjadi pusat perhatian.
Pasukan yang berada disekitar mereka, menutup area mata dengan lengan mereka,
mencegah debu dan asap mengaburkan pandangan mereka disuasana genting seperti
sekarang. Rasa heran, penasaran, dan
penuh tanda tanya tergambar jelas diraut wajah para pasukan yang sudah
kehabisan kekuatan, badan mereka terlihat begitu terluka parah. Sayatan dimana-mana, luka bakar, dan hancurnya beberapa bagian
tubuh. Menjijikan.
“Siapa mereka?” ucap salah satu
dari mereka begitu saja.
“Ya, siapa mereka?” pasukan lain
ikut menanyakan pertanyaan yang sama.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Apa mereka juga lawan kita? Sialan!!”
“Kurasa bukan.” Timpal orang disebelahnya.
Selesai dengan pose pendaratannya, Nova membalik badannya, tersenyum sambil
mengangkat bumerang ditangan kanannya.
“Tenang. Kita ada dipihak
kalian.”
Tanda
tanya semakin besar melayang-layang diatas kepala para pasukan. Tiga orang aneh
yang bukan berasal dari dunia mereka tiba-tiba
datang, membuat kekacauan, dan sekarang tiga orang itu mengatakan bahwa mereka
berada dipihak para aliansi. Apakah ini lelucon?
“Siapa kalian sebenarnya?!!” gertak salah satu
pasukan berbadan paling besar dan tinggi, lebih tepatnya dia adalah monster
daripada manusia. Postur tubuhnya sama sekali bukan mencerminkan bahwa dia
adalah seorang manusia. Matanya terlalu menjorok ke dalam, tidak sipit, malah terlalu besar.
Rambutnya terurai panjang meskipun dia laki-laki- bukan hal aneh, bekas luka
yang melekat erat dikening dan pipinya seperti menunjukan bahwa dia memang
petarung sejati. Tiba-tiba, Insan menepuk kedua tangannya beberapa kali. Dedy
dan Nova seolah mempunyai pemikiran
yang sama, bahwa kedatangan mereka yang awalnya ingin terlihat keren hancur seketika karna
ketololan rekan satu tim mereka.
“Jika kalian yang meminta,
baiklah. Perkenalkan kita adalah tim---”
Dug!
“Aduhh!!” kali ini meskipun itu
akan membuat tim mereka dilihat seperti tim bodoh, Dedy terpaksa memukul kepala
Insan karna tidak ingin perempuan itu mengatakan siapa mereka sebenarnya. Insan
menggosok-gosok kepalanya beberapa kali, dan dalam
seketika raut wajah tiga orang bodoh itu berubah serius. Mereka siap bertempur.
“Baiklah, kalau kalian sudah selesai.
Ayo bertarung!!” Nova berlari lebih dulu, meninggalkan Dedy dan Insan. Insan
mengambil satu anak panahnya dari balik punggungnya, mengalirkan kekuatannya
lalu melepaskan ke arah musuh dalam satu kali gerakan. Suara
ledakan, membuat Nova berhenti, menoleh ke arah ledakan itu, lalu berputar kebelakang.
Ia tersenyum kecil dan kembali pada misinya. Menyerang titik barat.
Jam menunjukan pukul sebelas malam, dan anak kecil itu masih saja
sibuk dengan lolipopnya. Setiap lolipop itu habis,
dengan sigapnya ia memasukan satu lolipop kembali ke sarang penyamun. Aku pernah berpikir sekilas, apa gigi-gigi
kecilnya itu tidak rusak? Aku juga tidak pernah melihatnya pergi ke kamar mandi
untuk gosok gigi. Jadi kapan dia menggosok gigi?
Kuteguk secangkir kopi pahit,
lumayanlah untuk menahan kantukku. Karna entah ceritaku yang terlalu bagus atau
memang anak ini ingin mengerjaiku, dia terus memakasku mnyelesaikan cerita ini
baru aku diperbolehkan tidur. “Selesaikan ceritamu atau kubuat tidurmu tidak
nyenyak!!” Ancamnya beberapa jam lalu. Bukannya aku kalah dengan anak kecil,
tapi jika belajar dari pengalaman, anak ini tidak pernah mengingkari dan bermain dengan perkataannya. Jika dia sudah berkata seperti
itu, kemungkinan besar, kejadian itu pasti akan terjadi.
Kuregangkan badanku, meluruskan
kaki di sofa panjang. Sebenarnya ini adalah posisi
yang sangat pas untuk istirahat tapi apa daya, anak ini mengawasiku 24 jam
nonstop dari balik meja kaca pendek. Aku membasahi bibirku dan kembali
bercerita.
Pertarungan di medan perang
sudah berlangsung beberapa hari dan kekuatan mereka juga semakin menurun.
Pikiran yang kalang kabut, panik, bingung, gelisah, luka dimana-mana, semakin
membuat daya konsentrasi mereka menurun. “Ini harus berakhir!!”
“Ya, kau benar. Tapi itu tidak
akan mudah. Lihatlah sekelilingmu!!” Nova memutar pandanganya kesemua arah,
retina matanya seakan tak sanggup melihat banyaknya
orang-orang yang mati, terluka parah, atau sedang dalam pengobatan. Lalu,
pandangannya berhenti pada perempuan yang diam mematung,
dengan busur yang lengkap dengan anak panah
diposisinya. Tapi dia tidak sedang ingin menembakkan senjatanya, melainkan
berusaha menghindarinya. “Aiko-nee?” Gumam Nova.
“Apa yang kau lihat?! Fokus
dengan apa yang ada di depanmu!!” Bentak Dedy yang juga mulai kelelahan. Nafasnya
terengah-engah, dadanya kembang kempis. Rasa penasaran sungguh menghantui Nova,
membuat kakinya berlari ke arah manusia yang dalam sekejap
berubah menjadi patung.
“Apa yang kau lakukan disini
Aiko-nee?” selidik Nova, tersadar dengan suara itu, Insan hanya tersenyum
kecil, “Aku melihat sesuatu yang indah ditengah pertarungan ini.”
“Apa yang kau lihat?! Cepat katakan,
Aiko-nee!!”
“Nova-chan, kau lihat empat
orang yang tengah bertarung didepan.” Nova hanya menangguk, belum begitu
mengerti dengan arah pembicaraan. “Lalu?”
“Perhatikan dengan baik-baik.
Dia, orang yang memegang pedang. Bukankah dia sangat tampan dan keren. Dia juga
terlihat cerdas. Astaga, kalau tahu akan bertemu dengan
orang seperti dia, dari awal aku akan langsung turun untuk perang.” Novapun
mengikuti instruksi Insan untuk mengamati empat orang itu dengan hati-hati. Menyipitkan matanya
untuk menghalau sinar matahari. Dan tiba-tiba ia terbelalak, mulutnya menganga lebar yang seketika ditutupnya dengan tangan kanannya. “Kau benar!!
Aku setuju denganmu Aiko-nee. Aku melihat laki-laki yang sangat ceria berdiri
dibaris paling depan. Dan tunggu,"
“Aiko-nee, apakah dua orang itu
memiliki ikatan? Wajah mereka begitu mirip. Laki-laki yang paling depan dan
orang yang mengenakan jubah disampingnya itu.”
“Kurasa begitu. Nova-chan, kita
berdua sangat beruntung!!”
Dug!
Dug!
“Apa yang kalian berdua lakukan?
Ini perang! Apa kalian ingin mati?!! Hahh!” Kepalanya mulai berdenyut-denyut
setiap dua perempuan ini menjadi kompak. Dia
masih tidak keberatan jika yang bermasalah hanya salah satu dari mereka, tapi
jika mereka berdua sudah bekerja sama, itu sangat menyebalkan. Insan tersenyum simpul, melirik
Dedy dengan lirikan tajam. “Niichan lebih baik kau diam, ini urusan perempuan. Aku maklum kalau
kakak merasa iri karna disini tidak ada sesuatu yang indah. Sementara kami menemukan sesuatu yang indah itu di depan sana.”
“Aku setuju dengan Aiko-nee.
Dedy-nii, kau hanya iri kan?” ledek Nova.
“Untuk apa aku mencari sesuatu
yang indah itu, kalau setiap hari aku bisa
menemukannya,” memutar pedangnya kebelakang. Satu musuh yang tiba-tiba muncul
tergeletak dengan kepala terpotong. “aku menemukan itu di diri kalian berdua.” Lanjutnya. Insan terkekeh
setelahnya dan disusul Nova. Hanya dalam hitungan detik, Dedy merasa sudah
melakukan kesalahan besar berbicara seperti itu. Wajahnya merah padam. Kerutan
di keningnya bertambah dalam bercampur dengan
kekesalan akan perang ini.
***
“Kau lihat dimana Insan
sekarang?” tanya Dedy pada Nova, mereka berdua masih dalam kondisi siaga
meskipun sedang beristirahat. “Seperti kau tidak paham dengan kebiasaannya.
Carilah pohon paling tinggi dan kau akan menemukannya.” Dedy
memutar kepalanya, menyebarkan semua pandangannya, mencari
dimana kira-kira letak pohon paling tinggi.
“Apakah disana?” Nova hanya
mengangguk, menegak teh hangat yang baru saja
dibuatnya.
“Apa dia tidak takut atau
khawatir jika musuh menemukannya dalam keadaan tertidur dan membunuhnya?” Nova terkekeh. “Dedy-nii, ternyata ingatanmu memang
buruk ya. Kau lupa atau hanya pura-pura lupa untuk menguji daya ingatku? Dia
selalu berkata, ‘saat aku tidur kau dan niichan
akan menjagaku. Jika kau yang tidur, aku dan niichan yang menjagamu. Tapi jika
niichan yang tidur, maka kita akan berpesta, menghabiskan
makanan miliknya’.”
“Ya. Kau benar!” balasnya acuh
tak acuh.
“Hey, anak kecil. Aku sungguh
mengantuk!! Cerita ini aku lanjutkan besok ya?”
“Tidak bisa!!” ia melempar tiga lolipop sekaligus dan berhasil dengan
mulus mendarap di keningku. Memasang
wajah menyeramkan seperti seonggok daging yang jika salah menyentuh akan
mengeluarkan suara yang menyakitkan telinga. Aku pergi, menaiki enam anak
tangga menuju lantai dua. Menyusuri lorong selebar empat meter. Kamar itu
selalu sama, selalu gelap dan terkunci. Terakhir kuingat, sekitar tiga tahun
lalu, kamar itu menyala, dan
sesorang yang istimewa keluar dari sana, tersenyum padaku dan mengucapkan
‘selamat pagi’. Tapi itu sudah lama sekali. Dan digantikan dengan pintu
disebelahnya yang senantiasa terbuka, milik siapa lagi kalau bukan milik anak
kecil yang masih setia menungguku dibawah. Dia adik orang istimewa itu.
Aku memejamkan mataku, terus
berjalan melewati pintu kayu putih menuju kamarku di ujung lorong. Mengambil selimut tebal dan kembali duduk
dihadapan mr. lollipop.
Mereka bertiga kembali ke medan
perang. “Nova-chan, kau tahu, aku ingin sekali berada dibaris paling depan.”
“Apa kau gila Aiko-nee? Barisan
paling depan adalah barisan untuk tokoh utama.”
“Nah karna itu, aku ingin dekat
dengan salah satu tokoh utama itu. Apa kau tidak ingin?” Insan menggoda Nova.
Pertanyaan itu langsung berhasil menghipnotis
Nova dan merasakan keinginan yang sama dengannya.
“Sebenarnya aku juga ingin, tapi itu tetap tidak bisa.”
“Yah, baiklah. Tapi aku tetap akan mencoba maju sampai baris paling depan.
Setidaknya berada dibelakang meraka.” Insan langsung bergerak. Ia benar-benar
nekat dengan keinginannya. Karna merasa khawatir
sekaligus ingin, Novapun mengikuti pergerakan Insan meskipun lebih hati-hati.
Diseberang, Dedy masih sibuk
dengan pasukan musuh yang semakin lama semakin banyak. Terus membelah seperti
alien. Saat itu dia berharap ada kawanan predator datang membantu mereka. Karna menurut film AVP
yang ia tonton sebelum ikut perang, alien akan kalah dengan senjata milik
predator. Konsentrasinya terbelah. Disisi pertama dia harus konsentrai penuh
dengan musuh didepannya, tapi disisi lain dia tidak bisa memungkir perasaan
khawatir saat melihat Nova dan Insan terus bergerak ke baris paling depan.
Terlebih ia tahu apa alasannya. Dua tokoh utama. “Dasar orang-orang itu!!”
geramnya, dan kesalnya yang semakin menjadi dilampiaskan pada
musuh-musuh itu.
“Aiko-nee!!!” Teriak Nova keras.
Perempuan yang tadi berlari di depannya kini tergeletak berlemur
darah. Tubuhnya tertusuk lima pedang sekaligus. Sekuat tenaga, Nova dan Dedy
berusaha mendekat. Begitu pula dua tokoh utama, karna mereka terlalu penasaran.
Mereka belum pernah melihat tim ini
sebelumnya. Dan entah kenapa itu terasa penting untuk dua tokoh utama itu.
“Apa yang terjadi?” sergah Dedy
cepat.
“Aiko-nee melawan lima samurai
itu sendirian, dan ia lupa membentengi dirinya dengan kekuatannya seperti
biasanya. Jadi pedang-pedang itu mengenai beberapa organ vitalnya. Apa yang
harus kita lakukan Dedy-nii?” Laki-laki itu terlihat berpikir keras,
mengacak-acak rambutnya lalu memutuskan sesuatu, “Kita lempar dia ke luar medan
perang!”
“Kau gila Dedy-nii!! Bagaimana
bisa kita membiarkan Aiko-nee begitu saja dengan luka parah sebanyak ini? Tidak
bisakah kita mencari seseorang yang ahli dalam medis?”
“Apa kau lupa? Dia membenci ahli
medis disini. Itu alasan yang selalu ia katakan setiap kita mengajaknya untuk
bertempur.”
“Tapi ini beda!! Sekarang dia
berada antara hidup dan mati!!” protes Nova dengan airmata yang terus mengalir,
mencabut satu persatu pedang dari badan Insan yang sudah tidak sadarkan diri.
Dedy berhenti dan memilih untuk tidak membalas ucapakan nova karna ia tidak
ingin menambah kepanikan di dalam pikiran Nova. “Cepat
sembuhkan dia!!” ucap seseorang pada perempuan di sampingnya.
Perempuan berambut pendek bermata hijau itu segera duduk mendekat pada Insan
dan mengalirkan kekuatan medisnya. “Apapun yang terjadi, kau harus menyembuhkan
dia!! Aku ingin bicara dengan orang ini setelah
pertarungan menyebalkan ini berakhir.” Ucapnya lagi dengan suara lebih keras.
Nova terbelalak melihat siapa orang yang baru saja mengatakan hal itu, dan
siapa orang yang tiba-tiba muncul dari belakang pundak laki-laki yang berdiri
disamping tubuh Insan.
Tangan kanannya memegang pedang
sama seperti Dedy-nii, tapi pedang itu terlihat jauh lebih kuat. Banyak
robekan dipakaiannya. Mata phonix-nya
yang dalam dengan bola mata hitam gelap, segelap rambutnya. “Biarkan dia
dirawat olehnya. Ayo kembali dan selesaikan pertarungan ini.” Ajak laki-laki yang tadi tiba-tiba muncul. Dia
sedikit lebih pendek dari laki-laki bermata hitam tadi.
“Dia yang dibicarakan Aiko-nee.
Laki-laki berpedang itu, memang terlihat tampan, sangat tampan malah. Apalagi
jika dilihat dari jarak sedekat ini. Tapi untukku, dia, laki-laki bermata biru
dengan senyum ceria itu yang lebih menawan.” Gumamnya pelan. Perlahan berdiri,
matanya sedikitpun tak berkedip. “Berhati-hatilah dan jaga temanmu baik-baik.”
Bisik laki-laki bermata biru didekat telinga Nova sebelum pergi menyusul
temannya. Dedy-nii yang sedaritadi diacuhkan dalam bagian ini, memilih untuk
pergi dan kembali bertarung, meninggalkan Nova yang berjaga, Insan yang sedang
dalam penyembuhan, dan seorang perempuan yang diyakininya adalah orang yang
dibenci Insan- sedang mengobatinya.
“Ahh... akhirnya selesai juga!!” kuhabiskan sisa
kopiku. Dari balik cangkir, mataku menangkap sosok anak kecil itu terlihat
lebih menggemaskan jika sedang tertidur. Kulihat jam diponselku, “Pukul dua dini hari. Pantas saja.” Sepertinya dia
memang sudah mengantuk daritadi sama sepertiku tapi ia masih ingin mendengarkan
ceritaku. Yah meski pada akhirnya dia juga tertidur
Kuturunkan kakiku dari atas
sofa. Sedikit membungkuk dan berjalan ke jalan yang sama, enam anak tangga,
lorong koridor, pintu ke dua. Lalu membaringkan malaikat kecil yang
membuatku bisa merasakan kehadiran orang itu di rumah ini. Menutup tubuh kecilnya yang seolah tidak
pernah merasa kelelahan setiap harinya dan kudaratkan satu kecupan di keningnya, “Selamat tidur, Rei-kun.”
Clik!!
*****
1 komentar:
Makasih udah berkunjung Tiara..
Baca postingan yang lain juga ya :D
Posting Komentar