Sabtu, 07 September 2013

Antara ada dan tiada


                Aku akan bercerita dan bukan mendongeng, jadi aku tidak akan menggunakan kata ‘pada jaman dahulu kala, dulu nan jauh disana, alkisah’ dan sejenisnya.

                Kali ini aku akan bercerita tentang tiga orang anak manusia yang hidup di dua daratan, dua waktu, di tiga lokasi berbeda. Dan yang mengesankan mereka tak saling kenal, tak pernah bertemu, tapi mereka berusaha untuk saling menyayangi dan menghargai satu sama lain dengan hanya berpegang pada topeng yang melapisi wajah mereka. Aku yakin, tiga manusia ini tidak ada yang mengetahui siapa mereka sebenarnya. Mungkin salah satu dari mereka adalah seorang teroris yang menyamar menjadi anak sekolah berusia 17 tahun. Atau malah seorang narapidana yang menyamar. Dimana saat seluruh barisan barikade polisi sibuk mencarinya, dia malah asik bersantai diatas sofa empuk sambil menikmati segelas martini mewah ditangannya. Menggoyang-goyangkan tangkai gelas dengan jari telunjuk dan  yang ibu jari sebagai penjepitnya. Mungkin juga, salah satu dari mereka adalah seorang manusia yang memiliki daftar list sepanjang empat meter yang berisi nama siapa saja yang mengira dia sebagai laki-laki. Yang mungkin saja, dalam kenyataannya dia adalah seorang perempuan yang senang berbicara tanpa arah, memiliki gangguan jiwa, hiperaktif yang seketika berubah menjadi putri tidur atau manekin, berdaya ingat rendah, dan berpotensi menjadi seorang psykopat.

                Sudah kukatakan mereka tidak pernah bertemu, lalu bagaimana mereka dapat saling menyayangi? “Sebuah kotak ajaib.” Itu rahasia yang ingin kubagikan padamu. Tapi kau terlihat tak bersemangat, kenapa?
                “Cerita ini membosankan!”
                “Yah, aku tahu. Aku bukan seorang pendongeng ulung seperti nenekmu. Tapi aku punya imajinasi yang luar biasa yang tidak dimiliki nenekmu itu.” Anak kecil didepanku hanya cemberut dengan bertopang dagu. Aku tersenyum menang. “Yah, baiklah. Lanjutkan.”

                Si narapidana itu adalah orang yang mempertemukan seorang teroris dan psykopat. Kupikir mereka bertiga adalah senjata yang luar biasa kejam dalam kriminalitas. Bayangkan, jika itu benar-benar terjadi, betapa kerennya itu. Seperti cerita didalam novel-novel atau film tentang kasus pembunuhan, tidak ada seorang penjahat yang membuka semua kartu as mereka meskipun itu pada rekan mereka sendiri.


                “Kau tau apa maksudnya?” dia hanya menggeleng sambil menghabiskan sebungkus besar roti kukus miliknya. “Dasar bodoh! Cobalah sedikit berimajinasi.” Suaraku mengeras tapi tidak membuatnya berkutik sedikitpun.
                “Baiklah, membuka kartu as sama saja membuka senjata rahasia terbesarmu. Dan jika satu orang saja tahu, tidak akan ada yang menjamin orang ketiga dan keempat tidak akan tahu. Jadi mereka masih bermain dengan topeng mereka masing-masing. Apa aku benar?”
                “Memang tidak salah menceritakan imajinasiku padamu.” Seruku semangat dan bangga. Wajahnya datar, mulutnya penuh dengan roti kukus, dan sama saja- tidak bersemangat. Menyebalkan.

                Hidup di dua daratan, dua waktu, dan di tiga lokasi berbeda menjadi satu. Aneh, mereka dengan mudahnya saling akrab, hanya dengan kata ‘Hallo’. Aku hanya bisa berimajinasi dengan kehidupan tokoh-tokoh  yang ada di kepalaku. Di dalam imajinasiku, mereka adalah orang-orang asing yang turun dari pesawat luar angkasa seperti di film Armagedon. Lalu pulang dengan kuda putih dengan baju ksatria dan putr
“Tunggu! Apakah mungkin seorang teroris, narapidana, dan psykopat itu adalah seorang ksatria dan putri, yang baru saja menjadi astronot?” potongnya ditengah-tengah aku bercerita.
                Aku memutar kedua bola mataku seolah mencari sesuatu untuk melakban mulutnya. Aku tidak suka kalau ceritaku dipotong. “Mungkin.” Jawabku menggantung. Ekspresi wajahnya masih menungguku untuk melanjutkan ucapanku yang memang sengaja aku gantung, agar dia berpikir.
                “Apa? Apa maksudnya dengan kata ‘mungkin’?”
                “Aku kan sudah bilang. Mereka semua menggunakan topeng! Jadi kurasa mungkin. Aku belum mengatakan berapa topeng yang mereka gunankan. Jadi dengarkan ceritaku sampai selesai.”           

                                                                                                           ***
                Dan disini, aku akan mulai membuka satu demi satu penjelasan tentang mereka, terutama tentang sebutan mereka. Si teroris bernama asli Nova, psykopat bernama Insan, dan yang terakhir Si narapidana. Dia satu-satunya laki-laki di tim itu, bernama Dedy yang entah kenapa Si psykopat itu lebih senang memanggilnya dengan ‘hentai-niichan’ daripada panggilan yang lebih wajar.

                “Kau tahu, dia adalah alien!!” ucapku menggebu-gebu. Anak kecil itu hanya memandangku dengan mulut terlakban dan tangan terikat di kursi.  Matanya seperti berkata, “Tolong ambilkan permen lolipop itu.”
                Dalam imajinasiku, lanjutku bercerita. Laki-laki itu bukan berusia 24 tahun melainkan 240 tahun. Dia selalu berganti-ganti wajah dan merubah penampilannya. Karna menurut pemikiranku dia bukan seorang narapidana melainkan alien yang ditinggal oleh teman-temannya yang kembali ke palnet Tertwitus. Jauh disana, membentuk titik kecil bercahaya di langit hitam, yang kurasa mirip dengan telaga yang bercampur lumpur dan oli bekas.
                “Sementara Nova dan Insan?” celetuk anak kecil itu lagi. Permen lolipop itu memang bisa menenangkannya, kini dia tidak banyak protes dengan imajinasiku tapi lebih menggali informasi dan kelanjutannya. Tapi tetap saja dia selalu menemukan pertanyaan yang membuatku kesal. Pertanyaan yang sama dan terus berulang.
                “Tunggu! Kubilang tunggu! Untuk kesekian kali, aku sedang bercerita bukan mendongeng. Dan disini aku akan berimajinasi dengan semua tokoh yang aku miliki. Kau bisa diam sekarang?”
                “Ya. Lanjutkan!” jawabnya asal, yang sangat menyebalkan.
Nova, gadis dengan ramput poni menutupi keningnya, panjang, dan terurai sepundak. Lesung pipinya yang dalam, semua itu mengaburkan kebenaran kalau dia adalah teroris.
                Selanjutnya, Si psykopat. Manusia yang sejak kecil sudah terjebak dalam dunia imajinasi, bermain dengan topeng dan tongkat sihirnya. Menghidupkan manusia dalam pikirannya, menciptakan satu tokoh yang tidak pernah ada menjadi ada. Dalam topengnya, dia menari, bernyanyi, dan berteater. Kebohongan. “Selamat pagi,” ucapnya ketika mereka bertemu di dalam kotak ajaib. “Aku adalah apa yang aku yakini! Dan apa yang aku yakini adalah apa yang aku impikan!” itulah kata-kata yang dia gunakan untuk membuat benteng pertahanan saat peluru-peluru menyerangnya. Menembus jantung, keluar, dan terhubung dalam garis merah segar yang seketika berlalu dalam putih.

                                                                                                           ***

                Di medan perang mereka bertiga akhirnya bertemu. Dalam atribun penonton, mereka bertiga duduk untuk menunggu giliran. Senjata mereka letakan disela-sela kaki yang menyilang. “Musim semi sepertinya tidak datang.”

                “Bukan tidak datang, tapi memang tidak pernah akan datang!” kata Nova kesal kearah Insan yang hanya meringis tak peduli. Rekan mereka yang satu ini memang memiliki kebiasaan suka membuat kedua rekannya merasa dongkol. Manusia itu tertawa renyah, tanpa beban, di depan wajah merah terbakar milik Nova. Nova menggertakan giginya yang kuat. Sedangkan laki-laki itu hanya duduk, menyilangkan tangannya di depan dada, tak mau ambil pusing. Udara musim panas terasa lebih panas daripada musim panas yang sebenarnya. “Kau bilang apa barusan?”
                “Musim panas.”
                “Tapi ini negara dengan dua musim. Mana ada yang namanya musim panas?!”
                “Baiklah. Musim kemarau kalau begitu.” Sahut Insan cuek.
Dug!
Insan mengernyit kesakitan, mengerang sambil memegangi ujung kepalanya yang sakit akibat pukulan dari laki-laki yang daritadi hanya duduk sebagai pendengar. “Hey!! Apa yang kau lakukan?!!”
                “Memukul kepalamu. Sudahlah, diam. Berhenti mengkhayal.”
                “Niichan!! Aku bukan sedang berkhayal tapi ini kenyataan!” protes Insan tetap berkeras pada pemikirannya sendiri. “Kubilang berhenti! Atau kubunuh kau!!” Ancamnya sambil menodongkan pedang. Nova terkekeh. Meletakan kedua tangannya didepan mulut.
                “Ya, baiklah.” Cibirnya setengah merengut

                “Kenapa kau berhenti bercerita?” Aku menghela nafas, meneguk segelas air yang volumenya sudah bertambah gara-gara bongkahan es yang sudah kembali mencair. “Tunggulah sayang. Aku masih bingung dengan kelanjutan cerita ini. Setelah mereka bertemu di medan perang, haruskah mereka ikut bertarung juga?”
                “Kurasa, itu perlu.” Jawabnya tanpa berpikir sedetikpun. Aku menghabiskan lumatan roti kukus di dalam mulutku dan kembali bercerita.

                Mereka bertiga masih duduk di atribun penonton. Dedy memainkan pedangnya, seolah ingin menghunuskan mata pedang itu ke suatu objek tapi entah apa. Disisi lain, Nova melempar bumerangnya lalu menangkapnya lagi hanya dalam hitungan detik. Mengulangnya beberapa kali ke arah pohon besar yang mulai meranggas. Sementara, Insan yang duduk diantara mereka berdua malah asik tidur. Rasa kesalnya tadi membuatnya lelah dan akhirnya tertidur. Mendekap anak busur dan sekantong tas anak panahnya, berbahan kayu yang didapatkannya dari bangsa Inggris kuno. Katanya, ia tidak suka dengan anak panah yang sudah dimodifikasi dengan tulang-tulang seperti yang ia lihat dulu. Anak panah milik masyarakat Asia kuno.
                Nova dan Dedy, anggota tim yang paling tua, berdikusi. Menyusun rencana penyerangan jika tokoh utama dan rekan-rekannya yang sekarang sedang bertempur di bawah membutuhkan bantuan mereka bertiga.
                “Dedy-nii,” panggil Nova seperti biasa. Laki-laki itu hanya berdeham pelan. Kembali berlagak hebat dengan pedangnya. Menggerakan ujung pedangnya ke segala arah, sampai beberapa helai rambut Insan menjadi korban. Nova terpekik. “Apa yang kau lakukan Dedy-nii? Kau bisa dipanahnya, kalau sampai dia tahu rambutnya kau potong.”
                “Tenanglah. Kalau itu alasananya, mari kita buat dia tidak menyadarinya. Dan, apa kau lupa? Dia sedang tertidur. Tidur yang sangat lelap. Dia tidak akan tahu, kecuali ada yang memberitahunya atau dia menghitung jumlah rambutnya atau mengukur panjang setiap helai rambut dikepalanya.” Katanya pelan setengah berbisik. Tangan kirinya yang bebas mengelus kepala Insan yang masih tetap terjaga yang terlihat mirip dengan orang mati
                Gadis itu mengerang lalu meregangkan badannya lebar-lebar. Merasakan otot-otot badannya yang tadi kaku kini sudah lebih santai. Ia memutar pandangannya ke kanan dan berbalik ke kiri, “Ada apa?” tanyanya dengan wajah bingung. Dua temannya masih saja saling pandang, dengan ekspresi penjahat yang tertangkap basah. Insan mengangkat bahu lalu bangkit, berdiri dihadapan mereka yang masih diam membisu.
                “Hey, kalian!! Ada apa?”
Dedy menggeleng pelan, “Tidak ada apa-apa. Memangnya ada apa?” Insan memiringkan kepalanya kearah Nova, dan seperti dikomando Nova langsung mengangkat kedua tangannya sambil dikibaskan. “Aku tidak tahu. Jangan tanya aku Aiko-nee.

                “Aiko-nee? Siapa dia?” garpu yang sebenarnya akan kugunakan untuk menggulung lilitan mie dan kumasukan ke mulutku, beralih seketika keatas kepala anak kecil yang daritadi tidak berhenti mengeluarkan pertanyaan tidak penting.
                “Aduuh!!” teriaknya. Permen lolipopnya loncat keluar dari sarang penyamun.
                “Aku baru akan menjelaskan siapa Aiko-nee itu. Bersabarlah!”
                “Aku tidak bisa bersabar. Jadi beritahu aku dulu, baru kau lanjutkan ceritamu. Cepatlah!” Aku mengalah. “Baiklah. Aiko-nee adalah nama panggilan buat Insan. Nova lebih sering memanggilnya Aiko-nee daripada Insan-nee. Kau puas sekarang?!” Dia mengangguk. Tapi aku tak mengerti apa itu artinya ia mengerti atau hanya pura-pura mengerti. Secara daya tangkapnya terlalu minim untuk hal-hal tertentu.

                Insan menghela nafas lalu mengangkat tas anak panah dan busurnya, memasukan melalui atas kepalanya, dan kemudian tali selebar empat sentimeter menyilang di dadanya. “Ayo berangkat!! Kita bertarung!!” Ajaknya dengan nada memerintah. Melompat dari tepi pembatas atribun, yang kemudian disusul kedua rekannya dengan perasaan lega. “Untung dia tidak tahu.” Gumam tersangka.

                                                                                                           ***
                Formasi penyerangan sudah mereka siapkan. Berdiri ditengah-tengah puluhan aliansi. Bersamaan dengan dentuman keras, berasapkan putih yang menyebar, mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Pasukan yang berada disekitar mereka, menutup area mata dengan lengan mereka, mencegah debu dan asap mengaburkan pandangan mereka disuasana genting seperti sekarang.  Rasa heran, penasaran, dan penuh tanda tanya tergambar jelas diraut wajah para pasukan yang sudah kehabisan kekuatan, badan mereka terlihat begitu terluka parah. Sayatan dimana-mana, luka bakar, dan hancurnya beberapa bagian tubuh. Menjijikan.
                “Siapa mereka?” ucap salah satu dari mereka begitu saja.
                “Ya, siapa mereka?” pasukan lain ikut menanyakan pertanyaan yang sama.
                “Apa yang mereka lakukan?”
                “Apa mereka juga lawan kita? Sialan!!
                “Kurasa bukan.” Timpal orang disebelahnya. Selesai dengan pose pendaratannya, Nova membalik badannya, tersenyum sambil mengangkat bumerang ditangan kanannya.
                “Tenang. Kita ada dipihak kalian.”
Tanda tanya semakin besar melayang-layang diatas kepala para pasukan. Tiga orang aneh yang bukan berasal dari dunia mereka tiba-tiba datang, membuat kekacauan, dan sekarang tiga orang itu mengatakan bahwa mereka berada dipihak para aliansi. Apakah ini lelucon?
                “Siapa kalian sebenarnya?!!” gertak salah satu pasukan berbadan paling besar dan tinggi, lebih tepatnya dia adalah monster daripada manusia. Postur tubuhnya sama sekali bukan mencerminkan bahwa dia adalah seorang manusia. Matanya terlalu menjorok ke dalam, tidak sipit, malah terlalu besar. Rambutnya terurai panjang meskipun dia laki-laki- bukan hal aneh, bekas luka yang melekat erat dikening dan pipinya seperti menunjukan bahwa dia memang petarung sejati. Tiba-tiba, Insan menepuk kedua tangannya beberapa kali. Dedy dan Nova seolah mempunyai pemikiran yang sama, bahwa kedatangan mereka yang awalnya ingin terlihat keren hancur seketika karna ketololan rekan satu tim mereka.
                “Jika kalian yang meminta, baiklah. Perkenalkan kita adalah tim---”
Dug!
                “Aduhh!!” kali ini meskipun itu akan membuat tim mereka dilihat seperti tim bodoh, Dedy terpaksa memukul kepala Insan karna tidak ingin perempuan itu mengatakan siapa mereka sebenarnya. Insan menggosok-gosok kepalanya beberapa kali, dan dalam seketika raut wajah tiga orang bodoh itu berubah serius. Mereka siap bertempur.
                “Baiklah, kalau kalian sudah selesai. Ayo bertarung!!” Nova berlari lebih dulu, meninggalkan Dedy dan Insan. Insan mengambil satu anak panahnya dari balik punggungnya, mengalirkan kekuatannya lalu melepaskan ke arah musuh dalam satu kali gerakan. Suara ledakan, membuat Nova berhenti, menoleh ke arah ledakan itu, lalu berputar kebelakang. Ia tersenyum kecil dan kembali pada misinya. Menyerang titik barat.

                Jam menunjukan pukul sebelas malam, dan anak kecil itu masih saja sibuk dengan lolipopnya. Setiap lolipop itu habis, dengan sigapnya ia memasukan satu lolipop kembali ke sarang penyamun. Aku pernah berpikir sekilas, apa gigi-gigi kecilnya itu tidak rusak? Aku juga tidak pernah melihatnya pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi. Jadi kapan dia menggosok gigi?
                Kuteguk secangkir kopi pahit, lumayanlah untuk menahan kantukku. Karna entah ceritaku yang terlalu bagus atau memang anak ini ingin mengerjaiku, dia terus memakasku mnyelesaikan cerita ini baru aku diperbolehkan tidur. “Selesaikan ceritamu atau kubuat tidurmu tidak nyenyak!!” Ancamnya beberapa jam lalu. Bukannya aku kalah dengan anak kecil, tapi jika belajar dari pengalaman, anak ini tidak pernah mengingkari dan bermain dengan perkataannya. Jika dia sudah berkata seperti itu, kemungkinan besar, kejadian itu pasti akan terjadi.
                Kuregangkan badanku, meluruskan kaki di sofa panjang. Sebenarnya ini adalah posisi yang sangat pas untuk istirahat tapi apa daya, anak ini mengawasiku 24 jam nonstop dari balik meja kaca pendek. Aku membasahi bibirku dan kembali bercerita.

                Pertarungan di medan perang sudah berlangsung beberapa hari dan kekuatan mereka juga semakin menurun. Pikiran yang kalang kabut, panik, bingung, gelisah, luka dimana-mana, semakin membuat daya konsentrasi mereka menurun.  “Ini harus berakhir!!”
                “Ya, kau benar. Tapi itu tidak akan mudah. Lihatlah sekelilingmu!!” Nova memutar pandanganya kesemua arah, retina matanya seakan tak sanggup melihat banyaknya orang-orang yang mati, terluka parah, atau sedang dalam pengobatan. Lalu, pandangannya berhenti pada perempuan yang diam mematung, dengan busur yang lengkap dengan anak panah diposisinya. Tapi dia tidak sedang ingin menembakkan senjatanya, melainkan berusaha menghindarinya. “Aiko-nee?” Gumam Nova.
                “Apa yang kau lihat?! Fokus dengan apa yang ada di depanmu!!” Bentak Dedy yang juga mulai kelelahan. Nafasnya terengah-engah, dadanya kembang kempis. Rasa penasaran sungguh menghantui Nova, membuat kakinya berlari ke arah manusia yang dalam sekejap berubah menjadi patung.
                “Apa yang kau lakukan disini Aiko-nee?” selidik Nova, tersadar dengan suara itu, Insan hanya tersenyum kecil, “Aku melihat sesuatu yang indah ditengah pertarungan ini.”
                “Apa yang kau lihat?! Cepat katakan, Aiko-nee!!”
                “Nova-chan, kau lihat empat orang yang tengah bertarung didepan.” Nova hanya menangguk, belum begitu mengerti dengan arah pembicaraan. “Lalu?”
                “Perhatikan dengan baik-baik. Dia, orang yang memegang pedang. Bukankah dia sangat tampan dan keren. Dia juga terlihat cerdas. Astaga, kalau tahu akan bertemu dengan orang seperti dia, dari awal aku akan langsung turun untuk perang.” Novapun mengikuti instruksi Insan untuk mengamati empat orang itu dengan hati-hati. Menyipitkan matanya untuk menghalau sinar matahari. Dan tiba-tiba ia terbelalak, mulutnya menganga lebar yang seketika ditutupnya dengan tangan kanannya.  Kau benar!! Aku setuju denganmu Aiko-nee. Aku melihat laki-laki yang sangat ceria berdiri dibaris paling depan. Dan tunggu,"
                “Aiko-nee, apakah dua orang itu memiliki ikatan? Wajah mereka begitu mirip. Laki-laki yang paling depan dan orang yang mengenakan jubah disampingnya itu.”
                “Kurasa begitu. Nova-chan, kita berdua sangat beruntung!!”
Dug! Dug!
                “Apa yang kalian berdua lakukan? Ini perang! Apa kalian ingin mati?!! Hahh!” Kepalanya mulai berdenyut-denyut setiap dua perempuan ini menjadi kompak. Dia masih tidak keberatan jika yang bermasalah hanya salah satu dari mereka, tapi jika mereka berdua sudah bekerja sama, itu sangat menyebalkan. Insan tersenyum simpul, melirik Dedy dengan lirikan tajam. “Niichan lebih baik kau diam, ini urusan perempuan. Aku maklum kalau kakak merasa iri karna disini tidak ada sesuatu yang indah. Sementara kami menemukan sesuatu yang indah itu di depan sana.”
                “Aku setuju dengan Aiko-nee. Dedy-nii, kau hanya iri kan?” ledek Nova.
                “Untuk apa aku mencari sesuatu yang indah itu, kalau setiap hari aku bisa menemukannya,” memutar pedangnya kebelakang. Satu musuh yang tiba-tiba muncul tergeletak dengan kepala terpotong. “aku menemukan itu di diri kalian berdua.” Lanjutnya. Insan terkekeh setelahnya dan disusul Nova. Hanya dalam hitungan detik, Dedy merasa sudah melakukan kesalahan besar berbicara seperti itu. Wajahnya merah padam. Kerutan di keningnya bertambah dalam bercampur dengan kekesalan akan perang ini.

                                                                                                           ***

                “Kau lihat dimana Insan sekarang?” tanya Dedy pada Nova, mereka berdua masih dalam kondisi siaga meskipun sedang beristirahat. “Seperti kau tidak paham dengan kebiasaannya. Carilah pohon paling tinggi dan kau akan menemukannya.” Dedy memutar kepalanya, menyebarkan semua pandangannya, mencari dimana kira-kira letak pohon paling tinggi.
                “Apakah disana?” Nova hanya mengangguk, menegak teh hangat yang baru saja dibuatnya.
                “Apa dia tidak takut atau khawatir jika musuh menemukannya dalam keadaan tertidur dan membunuhnya?” Nova terkekeh. “Dedy-nii, ternyata ingatanmu memang buruk ya. Kau lupa atau hanya pura-pura lupa untuk menguji daya ingatku? Dia selalu berkata, saat aku tidur kau dan niichan akan menjagaku. Jika kau yang tidur, aku dan niichan yang menjagamu. Tapi jika niichan yang tidur, maka kita akan berpesta, menghabiskan makanan miliknya.”
                “Ya. Kau benar!” balasnya acuh tak acuh.

                “Hey, anak kecil. Aku sungguh mengantuk!! Cerita ini aku lanjutkan besok ya?”
                “Tidak bisa!!” ia melempar tiga lolipop sekaligus dan berhasil dengan mulus mendarap di keningku. Memasang wajah menyeramkan seperti seonggok daging yang jika salah menyentuh akan mengeluarkan suara yang menyakitkan telinga. Aku pergi, menaiki enam anak tangga menuju lantai dua. Menyusuri lorong selebar empat meter. Kamar itu selalu sama, selalu gelap dan terkunci. Terakhir kuingat, sekitar tiga tahun lalu, kamar itu menyala, dan sesorang yang istimewa keluar dari sana, tersenyum padaku dan mengucapkan ‘selamat pagi’. Tapi itu sudah lama sekali. Dan digantikan dengan pintu disebelahnya yang senantiasa terbuka, milik siapa lagi kalau bukan milik anak kecil yang masih setia menungguku dibawah. Dia adik orang istimewa itu.
                Aku memejamkan mataku, terus berjalan melewati pintu kayu putih menuju kamarku di ujung lorong. Mengambil selimut tebal dan kembali duduk dihadapan mr. lollipop.

                Mereka bertiga kembali ke medan perang. “Nova-chan, kau tahu, aku ingin sekali berada dibaris paling depan.”
                “Apa kau gila Aiko-nee? Barisan paling depan adalah barisan untuk tokoh utama.”
                “Nah karna itu, aku ingin dekat dengan salah satu tokoh utama itu. Apa kau tidak ingin?” Insan menggoda Nova. Pertanyaan itu langsung berhasil menghipnotis Nova dan merasakan keinginan yang sama dengannya. “Sebenarnya aku juga ingin, tapi itu tetap tidak bisa.”
                “Yah, baiklah. Tapi aku tetap akan mencoba maju sampai baris paling depan. Setidaknya berada dibelakang meraka.” Insan langsung bergerak. Ia benar-benar nekat dengan keinginannya. Karna merasa khawatir sekaligus ingin, Novapun mengikuti pergerakan Insan meskipun lebih hati-hati.
                Diseberang, Dedy masih sibuk dengan pasukan musuh yang semakin lama semakin banyak. Terus membelah seperti alien. Saat itu dia berharap ada kawanan predator datang membantu mereka. Karna menurut film AVP yang ia tonton sebelum ikut perang, alien akan kalah dengan senjata milik predator. Konsentrasinya terbelah. Disisi pertama dia harus konsentrai penuh dengan musuh didepannya, tapi disisi lain dia tidak bisa memungkir perasaan khawatir saat melihat Nova dan Insan terus bergerak ke baris paling depan. Terlebih ia tahu apa alasannya. Dua tokoh utama. “Dasar orang-orang itu!!” geramnya, dan kesalnya yang semakin menjadi dilampiaskan pada musuh-musuh itu.

                “Aiko-nee!!!” Teriak Nova keras. Perempuan yang tadi berlari di depannya kini tergeletak berlemur darah. Tubuhnya tertusuk lima pedang sekaligus. Sekuat tenaga, Nova dan Dedy berusaha mendekat. Begitu pula dua tokoh utama, karna mereka terlalu penasaran. Mereka belum pernah melihat tim ini sebelumnya. Dan entah kenapa itu terasa penting untuk dua tokoh utama itu.
                “Apa yang terjadi?” sergah Dedy cepat.
                “Aiko-nee melawan lima samurai itu sendirian, dan ia lupa membentengi dirinya dengan kekuatannya seperti biasanya. Jadi pedang-pedang itu mengenai beberapa organ vitalnya. Apa yang harus kita lakukan Dedy-nii?” Laki-laki itu terlihat berpikir keras, mengacak-acak rambutnya lalu memutuskan sesuatu, “Kita lempar dia ke luar medan perang!”
                “Kau gila Dedy-nii!! Bagaimana bisa kita membiarkan Aiko-nee begitu saja dengan luka parah sebanyak ini? Tidak bisakah kita mencari seseorang yang ahli dalam medis?”
                “Apa kau lupa? Dia membenci ahli medis disini. Itu alasan yang selalu ia katakan setiap kita mengajaknya untuk bertempur.”
                “Tapi ini beda!! Sekarang dia berada antara hidup dan mati!!” protes Nova dengan airmata yang terus mengalir, mencabut satu persatu pedang dari badan Insan yang sudah tidak sadarkan diri. Dedy berhenti dan memilih untuk tidak membalas ucapakan nova karna ia tidak ingin menambah kepanikan di dalam pikiran Nova. “Cepat sembuhkan dia!!” ucap seseorang pada perempuan di sampingnya. Perempuan berambut pendek bermata hijau itu segera duduk mendekat pada Insan dan mengalirkan kekuatan medisnya. “Apapun yang terjadi, kau harus menyembuhkan dia!! Aku ingin bicara dengan orang ini setelah pertarungan menyebalkan ini berakhir.” Ucapnya lagi dengan suara lebih keras. Nova terbelalak melihat siapa orang yang baru saja mengatakan hal itu, dan siapa orang yang tiba-tiba muncul dari belakang pundak laki-laki yang berdiri disamping tubuh Insan.
                Tangan kanannya memegang pedang sama seperti Dedy-nii, tapi pedang itu terlihat jauh lebih kuat. Banyak robekan dipakaiannya. Mata phonix-nya yang dalam dengan bola mata hitam gelap, segelap rambutnya. “Biarkan dia dirawat olehnya. Ayo kembali dan selesaikan pertarungan ini.” Ajak laki-laki yang tadi tiba-tiba muncul. Dia sedikit lebih pendek dari laki-laki bermata hitam tadi.
                “Dia yang dibicarakan Aiko-nee. Laki-laki berpedang itu, memang terlihat tampan, sangat tampan malah. Apalagi jika dilihat dari jarak sedekat ini. Tapi untukku, dia, laki-laki bermata biru dengan senyum ceria itu yang lebih menawan.” Gumamnya pelan. Perlahan berdiri, matanya sedikitpun tak berkedip. “Berhati-hatilah dan jaga temanmu baik-baik.” Bisik laki-laki bermata biru didekat telinga Nova sebelum pergi menyusul temannya. Dedy-nii yang sedaritadi diacuhkan dalam bagian ini, memilih untuk pergi dan kembali bertarung, meninggalkan Nova yang berjaga, Insan yang sedang dalam penyembuhan, dan seorang perempuan yang diyakininya adalah orang yang dibenci Insan- sedang mengobatinya.

                “Ahh... akhirnya selesai juga!!” kuhabiskan sisa kopiku. Dari balik cangkir, mataku menangkap sosok anak kecil itu terlihat lebih menggemaskan jika sedang tertidur. Kulihat jam diponselku, “Pukul dua dini hari. Pantas saja.” Sepertinya dia memang sudah mengantuk daritadi sama sepertiku tapi ia masih ingin mendengarkan ceritaku. Yah meski pada akhirnya dia juga tertidur
                Kuturunkan kakiku dari atas sofa. Sedikit membungkuk dan berjalan ke jalan yang sama, enam anak tangga, lorong koridor, pintu ke dua. Lalu membaringkan malaikat kecil yang membuatku bisa merasakan kehadiran orang itu di rumah ini. Menutup tubuh kecilnya yang seolah tidak pernah merasa kelelahan setiap harinya dan kudaratkan satu kecupan di keningnya, “Selamat tidur, Rei-kun.”

Clik!!

 

                                                                                                           *****

1 komentar:

Insan Gumelar Ciptaning Gusti mengatakan...

Makasih udah berkunjung Tiara..
Baca postingan yang lain juga ya :D