Ramdi
mematung. Terpaku dengan rahangnya yang mengeras. Di seberang matanya, lukisan
lusuh tanpa kaca hanya berpigora emas tengah memandangnya tajam. Rahang itu
mengatup keras menahan air mata yang berlomba untuk segera dibebaskan. Ramdi
balik menatap, sama tajamnya. Sambil mengucap kalimat yang membuat bulu roma
berdiri. Berulang kali.
Dalam
panik kebahagiaan, Ramdi melesat keluar dari ruangan berpetak yang ia sebut
rumah. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu menggambarkan perasaannya sekarang,
selain Alhamdulilah. Ia berlari kencang. Laki-laki bertopi kumuh itu terus
berlari. Berlari dan berlari. Disimpannya secarik kertas undian yang menjadi
pusat kebahagiaannya.
Ramdi
masih tak percaya. Koran yang dibelinya dari pedagang asongan. Halaman-halaman
yang ia buka dengan keras. Deretan tulisan yang dicermatinya dengan sorot hewan
buas yang siap menerkam.
“Alhamdulilah!!”
Teriaknya histeris sambil bersujud beralaskan tanah kering berwarna cokelat.
Spontan orang yang ada di dekatnya berdiri, menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa
bang?” Sia-sia. Pertanyaan itu sama sekali sia-sia. Sudah tidak ada sedikit
celah dalam otaknya untuk memerintah mulutnya agar menjawab. Yang ia mau saat
ini hanya pulang. Pulang dan pulang. Ia beranjak. Posisinya yang tidak tepat membuatnya
hampir terjungkal.
“Bang,
korannya belum dibayar?!” cegah laki-laki berkaos abu-abu polos. Ramdi kembali.
Menyerahkan selembar uang dengan nominal melebihi harga satu set Koran. Itu
tidak penting. Sama sekali tidak penting. Dengan cepatnya ia menerobos bangunan
kumuh yang berjarak sekitar satu meter tanpa jalan bebas dari genangan air.
Ramdi tersenyum dalam larinya. Jalan lurus setapak, lengkap dengan sengatan
matahari yang tanpa ampun mengiringi setiap jengkal kakinya melangkah.
“Mak!! Mak!!
Mak!!” panggil Ramdi dengan intonasi suara yang tak bisa digambarkan. Ia
terlalu bahagia. Bahkan untuk mengatur otak, detak jantung, aliran darah agar
kembali normal pun tak sempat.
DUAAARRRR!!!!
Mobil silver
metalik menghancurkan ssemuanya. Ramdi terpental jauh. Menghamburkan semuanya
bagai dandelion yang sudah ditiup. Hanya putih. Putih dan lama-lama hitam. Hitamlah
warna terakhir yang sanggup Ramdi lihat di pelupuk matanya.
***
“Loh kok
kebuka?” seru Mak Ijah heran. Ia segera masuk sambil memanggil nama anak
laki-lakinya. Kosong. Ia terus masuk. Di atas meja kayu yang rapuh, tergeletak
satu buku yang terbuka dengan tulisan yang berhasil membuat kedua alis Mak Ijah
bertaut.
“Kejutan?”
…
*NB: Juara 2 lomba nulis cepat (30 menit)
setelah menonton cuplikan film Mak Ijah Pingin Naik Haji.
Nama Ramdi saya ambil karena saya tidak tahu
nama tokoh sebenarnya.
| Dan ini hadiahnya. Antologi dari ekskul KIR SMPIT Ibnu Sina. |
| Coretan tulisan saya waktu lomba. Bisa disebut sebagai naskah asli. |
Ini cuplikan film yang saya tonton dan menjadi bahan dasar penulisan cerita di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar