Minggu, 06 April 2014

Melodies Of Life



            Visby Hawking mengangkat ketiga jemarinya dari tuts di nada terakhir dengan anggun. Suara riuh tepuk tangan menggema. Begitu pula laki-laki yang duduk di tribun paling atas. Hanya tiga tepukan yang ia buat. Ia selalu tertarik dengan manusia yang tengah tersenyum bahagia di bawah. Akhir-akhir ini Karen merasakan tekanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Tekanan yang selalu diciptakan sahabatnya saat dia menemukan sesuatu yang menarik. Saat ditanya kenapa, Elvas Klausner selalu membentuk garis lengkung di wajahnya. Ekspresinya menunjukan seolah tidak akan terjadi apa-apa, dan ia tidak sedang membuat rencana apa-apa. Namun, saat ia beranjak dan membelakangi Karen, salah satu sudut bibirnya tertarik dengan maksud tersembunyi.

            “Hei..” Perempuan itu menoleh, melambaikan tangannya sambil melempar senyumannya. Laki-laki bermata biru itu pun membalas sapaannya. Dari sela-sela pundak penonton, Elvas menghentikan langkah kakinya, ia menangkap suatu perasaan aneh yang membuatnya tiba-tiba merasa mual. Suara gemeretakan gerahamnya yang kuat, mengiringi langkah kakinya kembali.
            “Hei.. Apa kau datang untuk melihat pertunjukanku?”
            “Tentu. Tidak mungkin aku melewatkan pertunjukan hebat seperti ini.”
           “Kau terlalu banyak membual. Ayo pergi.” Laki-laki bermata biru itu menggandeng jemari Visby erat. Dari tempat Karen berdiri pun terlihat sangat jelas. Lehernya berputar ke arah Elvas yang semakin menjauh, lalu kembali pada perempuan yang berhasil mengeluarkan aura Elvas yang telah lama ia tekan. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Klausner?
                                                                            ***
            Piano hitam itu kembali bersuara setelah lama membisu. Perlahan, jari telunjuk sebelah kanan diikuti ketiga jari sebelah kiri mulai memijat tuts-tuts piano tua itu. Merangkai nada-nada menjadi sebuah alunan yang mengantarnya pada masa lalu. Seluruh jemarinya kini bermain seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Matanya tertutup menikmati alunan nada yang dimainkan. Otaknya memutar ulang kejadian sekitar sepuluh tahun lalu saat ia sedang duduk berdua dengan seorang gadis kecil. Tawa, senyuman, sorot mata, dan jari-jari kecilnya masih terekam dengan jelas.
            Elvas berdiri, menjatuhkan dirinya ke kursi santai. Tangan kanannya yang mengantung, bergerak mengayun-ayunkan selembar foto hitam putih. “Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku malam-malam begini.” Sahut Elvas santai. Foto yang sedari tadi dipegangnya, seketika berubah menjadi bulatan kasar seperti buah jeruk kusut yang gagal berkembang. “Hn.. Aku ke sana sekarang.”

            Bola matanya berputar. Karen mengumpat menyaksikan kisah romansa ala negeri dongeng. Tangan kanannya yang putih pucat, sibuk merogoh saku jaket kulit miliknya. Tepukan pelan mendarat di pundaknya, Karen memutar tubuhnya ke belakang. Sosok laki-laki bertubuh atletis itu sudah berdiri dengan sorot mata tajam seperti biasanya. Karen menggerakan dagunya sekilas.  Menunjukkan titik dengan lirikan matanya. Lalu kembali pada manusia di sebelahnya. Sial. Laki-laki itu. Dasar bajingan, umpat Elvas dalam hati.                              ***
            Minggu terakhir musim gugur di Bakersfield sudah menyapa. Dr. James Tomson memeriksa setumpuk kertas berisi data pemeriksaan. Kaca mata yang merosot ke ujung hidung ia naikan. Suara ketukan pintu menghentikan pekerjaannya sesaat.
            “Selamat siang Tuan Klausner.” Sapa James. Elvas memutar kursi, menyembunyikan kedua kakinya di balik meja kaca besar. James mengerti, ia langsung mengeluarkan amplop cokelat dan menyerahkannya pada pasiennya. Lalu diam menunggu respon.
            “ALS?” Sorot mata Elvas mengecil.
            Amyotrophic Lateral Scierois. Penyakit ini termasuk penyakit langka. Kematian pada penderita ALS justru bukan karena kelumpuhan anggota gerak, melainkan pada sel saraf otot pernafasan.” James melepaskan kaca matanya, memijat tulang hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit. “Ada satu cara penyembuhan yang mungkin bisa kita lakukan, tapi presentasi keberhasilannya masih sangat kecil. Apalagi secara medis Anda hanya memiliki sisa waktu setengah tahun dari empat tahun.” Elvas menghembuskan nafasnya, “Apa itu?”
            “Suntikan pada tulang sumsum.” Jawab James jujur.

            Ia melumat permen karetnya selagi menunggu Henry Parker masuk ke apartement. Segala informasi tentang semua kejahatan Henry sudah tersimpan rapi di otaknya. Setelah Elvas memberi kode untuk bergerak, Karen yang memang spesialis dalam membuka kunci berkode rumit, maju lebih dulu. Elvas dan beberapa polisi bergerak di sisi lain. Sebagian lagi berjaga di setiap pintu masuk dan lift. Klik! Karen tersenyum puas. Ia memang percaya dan bangga akan kemampuan koordinasi tangan, telinga, dan otaknya. “Ayo!!”
            Visby melotot, mengerang, dan berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang menyatukannya dengan kursi kayu besar. Matanya yang hitam tersadarkan dari sosok yang selama ini ia pandang sempurna. Laki-laki yang dipikirnya sempurna ternyata adalah pembunuh sadis incaran polisi. Tubuhnya gemetar sangat kuat. Laki-laki itu mengintip dari celah-celah tirai jendela. Memastikan apakah firasat buruknya benar atau tidak. Telinga anjing, mata elang, dan tangan pesulap menjadi senjatanya untuk membunuh, yang sebenarnya hanya untuk menghilangkan rasa bosannya. “Jangan bergerak!!” Sergah Kepala Polisi. Sepersekian detik, sebagian senjata mulai diturunkan. Hanya ada perempuan yang tengah ketakutan. Elvas bergerak menuju Visby, namun seketika berbelok dan melepaskan timah panasnya. Glock 17 berdentum keras. Para polisi pun bersiaga, membuka tirai lebar-lebar. Manusia yang tengah tersenyum seperti dewa akan menyelamatkan hidupnya, tengah berdiri di balik kaca dengan darah memenuhi kemeja putih yang ia kenakan. Laki-laki itu dengan santainya melepaskan kedua kakinya dari pijakan. Melambaikan tangan dan hilang seketika. Dia benar-benar terjun bebas. “Cepat kejar!! Periksa di lobi!!” Perintah Kepala Polisi seketika. “Terima kasih atas bantuan Anda. Permisi dan selamat malam.” Karen membuka tirai itu sekali lagi. Raut wajahnya menunjukan ada yang belum beres.
                                                                            ***
            Baru sepuluh menit yang lalu, badai salju menyerang Bakersfield, kota kecil yang hanya berjarak tiga jam dari Los Angels. Pertunjukan musik untuk acara amal kali ini sangat istimewa baginya. Meninggalkan tulisan besar yang membentang dari sisi jalan satu ke sisi jalan lainnya. “Kau yakin akan pergi ke Los Angels?”
            “Ya. Sesekali menonton pertunjukan musik apa salahnya? Kau tahu, selama hidupku, baru kali ini aku datang ke acara amal.” Jawabnya santai.
            Salju turun dengan anggun. Sepatu boots miliknya tenggelam dalam tebalnya salju. Memasuki arena pertunjukan, Karen mengapit lengan Elvas seperti biasa. Jaket tebal, syal, baju berlapis, topi hangat, bahkan sarung tangan pun tak mampu menghalau dinginnya cuaca yang menyergap. Ribuan penonton sudah memenuhi kursi di tribun. Mereka berdua duduk di posisi paling atas. Karen mengamati wajah Elvas, begitu pucat namun terlihat hangat. Ia sadar, ketika Elvas mengatakan dia tidak pernah datang ke acara amal adalah bohong. Lima tahun lalu, saat usia mereka lima belas tahun, mereka berdua juga pernah datang ke acara amal yang diadakan oleh para pengurus Gereja. Satu persatu pemusik mulai bermain. Lagu Heaven Knows milik Rick Price sebagai lagu kelima mengalun melalui tuts-tuts piano, setelah laki-laki yang menyanyikan lagu Nothing's Gonna Change My Love For You turun dari panggung. Elvas melirik Karen yang sibuk bersenandung. Ia tersenyum lalu beranjak diam-diam. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu Kelly Karen, gumamnya.
            “Para hadirin sekalian, beri tepuk tangan yang meriah untuk pianist kita, Elvas Hawking.” Seru pria berdasi kupu-kupu. Visby membuat kesalahan di nada terakhir, ia tidak menekan tuts dengan benar. Seseorang yang ditunggunya, sekarang berdiri di hadapannya dengan tersenyum. Selesai dengan lagunya, Hawking bersaudara melakukan duet piano seperti saat mereka berusia sepuluh tahun. Lagu Goodbye – Air Supply menjadi pilihan mereka sebagai lagu penutup acara amal hari ini.
                                                                            ***
“Bisa kita bertemu di Applebee’s sekarang?”
Strawberry cheesecake dan Chocolate mousse tersaji dengan menggoda di meja. Karen menyendok hidangan yang ia pesan. Musim gugur sudah kembali, meninggalkan musim salju tahun lalu. “Aku tidak menyangka kau adalah adik Elvas. Mrs. Hawking, apa kau mengetahui tentang semua ini?” Selidik Karen dengan nada lembut. Visby menunduk, menyendok potongan strawberry dengan sedikit krim.
“Sama sekali tidak. Aku bertemu dengannya hanya dua kali. Di apartement dan di acara amal. Tapi saat melihat permainannya, aku yakin dia adalah kakakku.” Pikiran Karen kembali, saat ia meminta penjelasan atas pertunjukan yang baru dibuat oleh laki-laki yang diam-diam dicintainya. Tapi tak satupun jawaban yang ia dapatkan selain senyuman dan pelukan. Empat bulan lalu, keputusan operasi yang ia ambil membawanya pada ketenangan. Karen memasukan beberapa suap krim cokelat dengan potongan oreo ke dalam mulutnya sebelum ia pergi. “Aku mendapatkan kabar, bahwa mantan pacarmu, Henry Parker belum lenyap. Dia memang monster, jadi berhati-hatilah.” Tambahnya di ambang pintu.
Visby menghabiskan Strawberry cheesecake miliknya. Tinggal sebutir blueberry yang belum ia lahap. Namun ia tunda. Bukan hanya Karen, namun dirinya pun merasakan hal yang sama. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada laki-laki yang kini sudah terbujur kaku di dalam peti. Tapi sekali lagi, hanya senyuman bahkan tawa yang ia tunjukan. Bukan penjelasan seperti yang diharapkan. Saat Karen mengatakan Henry Parker masih hidup, tubuhnya sama sekali tidak gemetar seperti saat ia ditangkap. Di panggung itulah. Di balik piano hitam megah, tubuhnya bergetar hebat melihat kakaknya berdiri dan tersenyum padanya. Dan apa alasanmu menghilang sepuluh tahun lalu? Tolong beri aku jawaban, keluhnya penuh kekecewaan.
When I see you smile at me, oh yeah… Baby there's nothing in this world that could ever do…  What a touch of your hand can do…  It's like nothing that I ever knew…
Samar-samar mulai berputar lagu milik Bad English. Visby memandang ke luar kaca. Guguran daun memenuhi setiap sisi jalan. Helaian daun yang tertiup angin seakan mengajaknya untuk terus bergerak mengikuti arus waktu yang pada saatnya juga akan berhenti. Visby meletakkan beberapa lembar uang kertas di dekat gelas miliknya. Berjalan keluar, meninggalkan dentingan lonceng di pintu. [ ]

 *Story of My Third Anthology*
                                                                           

Tidak ada komentar: