Visby Hawking mengangkat ketiga
jemarinya dari tuts di nada terakhir
dengan anggun. Suara riuh tepuk tangan menggema. Begitu pula laki-laki yang
duduk di tribun paling atas. Hanya tiga tepukan yang ia buat. Ia selalu
tertarik dengan manusia yang tengah tersenyum bahagia di bawah. Akhir-akhir ini
Karen merasakan tekanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Tekanan yang selalu diciptakan
sahabatnya saat dia menemukan sesuatu yang menarik. Saat ditanya kenapa, Elvas Klausner
selalu membentuk garis lengkung di wajahnya. Ekspresinya menunjukan seolah
tidak akan terjadi apa-apa, dan ia tidak sedang membuat rencana apa-apa. Namun,
saat ia beranjak dan membelakangi Karen, salah satu sudut bibirnya tertarik
dengan maksud tersembunyi.
“Hei..” Perempuan itu menoleh, melambaikan
tangannya sambil melempar senyumannya. Laki-laki bermata biru itu pun membalas
sapaannya. Dari sela-sela pundak penonton, Elvas menghentikan langkah kakinya,
ia menangkap suatu perasaan aneh yang membuatnya tiba-tiba merasa mual. Suara
gemeretakan gerahamnya yang kuat, mengiringi langkah kakinya kembali.
“Hei.. Apa kau datang untuk melihat
pertunjukanku?”
“Tentu. Tidak mungkin aku melewatkan
pertunjukan hebat seperti ini.”
“Kau terlalu banyak membual. Ayo
pergi.” Laki-laki bermata biru itu menggandeng jemari Visby erat. Dari tempat
Karen berdiri pun terlihat sangat jelas. Lehernya berputar ke arah Elvas yang
semakin menjauh, lalu kembali pada perempuan yang berhasil mengeluarkan aura Elvas
yang telah lama ia tekan. Apa yang
sebenarnya kau rencanakan, Klausner?
***
Piano hitam itu kembali bersuara
setelah lama membisu. Perlahan, jari telunjuk sebelah kanan diikuti ketiga jari
sebelah kiri mulai memijat tuts-tuts
piano tua itu. Merangkai nada-nada menjadi sebuah alunan yang mengantarnya pada
masa lalu. Seluruh jemarinya kini bermain seperti yang pernah mereka lakukan
dulu. Matanya tertutup menikmati alunan nada yang dimainkan. Otaknya memutar
ulang kejadian sekitar sepuluh tahun lalu saat ia sedang duduk berdua dengan seorang
gadis kecil. Tawa, senyuman, sorot mata, dan jari-jari kecilnya masih terekam dengan
jelas.
Elvas berdiri, menjatuhkan dirinya
ke kursi santai. Tangan kanannya yang mengantung, bergerak mengayun-ayunkan selembar
foto hitam putih. “Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku malam-malam
begini.” Sahut Elvas santai. Foto yang sedari tadi dipegangnya, seketika
berubah menjadi bulatan kasar seperti buah jeruk kusut yang gagal berkembang. “Hn..
Aku ke sana sekarang.”
Bola matanya berputar. Karen
mengumpat menyaksikan kisah romansa ala negeri dongeng. Tangan kanannya yang
putih pucat, sibuk merogoh saku jaket kulit miliknya. Tepukan pelan mendarat di
pundaknya, Karen memutar tubuhnya ke belakang. Sosok laki-laki bertubuh atletis
itu sudah berdiri dengan sorot mata tajam seperti biasanya. Karen menggerakan
dagunya sekilas. Menunjukkan titik
dengan lirikan matanya. Lalu kembali pada manusia di sebelahnya. Sial. Laki-laki itu. Dasar bajingan, umpat
Elvas dalam hati. ***
Minggu terakhir musim gugur di Bakersfield
sudah menyapa. Dr. James Tomson memeriksa setumpuk kertas berisi data
pemeriksaan. Kaca mata yang merosot ke ujung hidung ia naikan. Suara ketukan
pintu menghentikan pekerjaannya sesaat.
“Selamat siang Tuan Klausner.” Sapa
James. Elvas memutar kursi, menyembunyikan kedua kakinya di balik meja kaca
besar. James mengerti, ia langsung mengeluarkan amplop cokelat dan
menyerahkannya pada pasiennya. Lalu diam menunggu respon.
“ALS?” Sorot mata Elvas mengecil.
“Amyotrophic Lateral Scierois. Penyakit ini termasuk penyakit
langka. Kematian pada penderita ALS justru bukan karena kelumpuhan anggota
gerak, melainkan pada sel saraf otot pernafasan.” James melepaskan kaca
matanya, memijat tulang hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit. “Ada satu cara
penyembuhan yang mungkin bisa kita lakukan, tapi presentasi keberhasilannya
masih sangat kecil. Apalagi secara medis Anda hanya memiliki sisa waktu
setengah tahun dari empat tahun.” Elvas menghembuskan nafasnya, “Apa itu?”
“Suntikan
pada tulang sumsum.” Jawab James jujur.
Ia
melumat permen karetnya selagi menunggu Henry Parker masuk ke apartement.
Segala informasi tentang semua kejahatan Henry sudah tersimpan rapi di otaknya.
Setelah Elvas memberi kode untuk bergerak, Karen yang memang spesialis dalam
membuka kunci berkode rumit, maju lebih dulu. Elvas dan beberapa polisi
bergerak di sisi lain. Sebagian lagi berjaga di setiap pintu masuk dan lift. Klik! Karen tersenyum puas. Ia memang
percaya dan bangga akan kemampuan koordinasi tangan, telinga, dan otaknya.
“Ayo!!”
Visby
melotot, mengerang, dan berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang
menyatukannya dengan kursi kayu besar. Matanya yang hitam tersadarkan dari
sosok yang selama ini ia pandang sempurna. Laki-laki yang dipikirnya sempurna ternyata
adalah pembunuh sadis incaran polisi. Tubuhnya gemetar sangat kuat. Laki-laki
itu mengintip dari celah-celah tirai jendela. Memastikan apakah firasat buruknya
benar atau tidak. Telinga anjing, mata elang, dan tangan pesulap menjadi
senjatanya untuk membunuh, yang sebenarnya hanya untuk menghilangkan rasa
bosannya. “Jangan bergerak!!” Sergah Kepala Polisi. Sepersekian detik, sebagian
senjata mulai diturunkan. Hanya ada perempuan yang tengah ketakutan. Elvas
bergerak menuju Visby, namun seketika berbelok dan melepaskan timah panasnya. Glock 17 berdentum keras. Para polisi pun bersiaga,
membuka tirai lebar-lebar. Manusia yang tengah tersenyum seperti dewa akan
menyelamatkan hidupnya, tengah berdiri di balik kaca dengan darah memenuhi
kemeja putih yang ia kenakan. Laki-laki itu dengan santainya melepaskan kedua
kakinya dari pijakan. Melambaikan tangan dan hilang seketika. Dia benar-benar
terjun bebas. “Cepat kejar!! Periksa di lobi!!” Perintah Kepala Polisi
seketika. “Terima kasih atas bantuan Anda. Permisi dan selamat
malam.” Karen membuka tirai itu sekali lagi. Raut wajahnya menunjukan ada yang belum
beres.
***
Baru
sepuluh menit yang lalu, badai salju menyerang Bakersfield, kota kecil yang
hanya berjarak tiga jam dari Los Angels. Pertunjukan musik untuk acara amal
kali ini sangat istimewa baginya. Meninggalkan tulisan besar yang membentang
dari sisi jalan satu ke sisi jalan lainnya. “Kau yakin akan pergi ke Los
Angels?”
“Ya.
Sesekali menonton pertunjukan musik apa salahnya? Kau tahu, selama hidupku,
baru kali ini aku datang ke acara amal.” Jawabnya santai.
Salju
turun dengan anggun. Sepatu boots miliknya
tenggelam dalam tebalnya salju. Memasuki arena pertunjukan, Karen mengapit
lengan Elvas seperti biasa. Jaket tebal, syal, baju berlapis, topi hangat,
bahkan sarung tangan pun tak mampu menghalau dinginnya cuaca yang menyergap. Ribuan
penonton sudah memenuhi kursi di tribun. Mereka berdua duduk di posisi paling
atas. Karen mengamati wajah Elvas, begitu pucat namun terlihat hangat. Ia
sadar, ketika Elvas mengatakan dia tidak pernah datang ke acara amal adalah
bohong. Lima tahun lalu, saat usia mereka lima belas tahun, mereka berdua juga
pernah datang ke acara amal yang diadakan oleh para pengurus Gereja. Satu
persatu pemusik mulai bermain. Lagu Heaven
Knows milik Rick Price sebagai
lagu kelima mengalun melalui tuts-tuts
piano, setelah laki-laki yang menyanyikan lagu Nothing's Gonna Change My Love For You turun dari panggung. Elvas
melirik Karen yang sibuk bersenandung. Ia tersenyum lalu beranjak diam-diam. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu
Kelly Karen, gumamnya.
“Para
hadirin sekalian, beri tepuk tangan yang meriah untuk pianist kita, Elvas Hawking.” Seru pria berdasi kupu-kupu. Visby membuat
kesalahan di nada terakhir, ia tidak menekan tuts dengan benar. Seseorang yang ditunggunya, sekarang berdiri di
hadapannya dengan tersenyum. Selesai dengan lagunya, Hawking bersaudara
melakukan duet piano seperti saat mereka berusia sepuluh tahun. Lagu Goodbye – Air Supply menjadi pilihan
mereka sebagai lagu penutup acara amal hari ini.
***
“Bisa kita bertemu di Applebee’s sekarang?”
Strawberry cheesecake
dan Chocolate mousse tersaji dengan menggoda di meja. Karen menyendok hidangan
yang ia pesan. Musim gugur sudah kembali, meninggalkan musim salju tahun lalu. “Aku
tidak menyangka kau adalah adik Elvas. Mrs. Hawking, apa kau mengetahui tentang
semua ini?” Selidik Karen dengan nada lembut. Visby menunduk, menyendok
potongan strawberry dengan sedikit krim.
“Sama sekali tidak. Aku bertemu
dengannya hanya dua kali. Di apartement dan di acara amal. Tapi saat melihat
permainannya, aku yakin dia adalah kakakku.” Pikiran Karen kembali, saat ia
meminta penjelasan atas pertunjukan yang baru dibuat oleh laki-laki yang
diam-diam dicintainya. Tapi tak satupun jawaban yang ia dapatkan selain
senyuman dan pelukan. Empat bulan lalu, keputusan operasi yang ia ambil
membawanya pada ketenangan. Karen memasukan beberapa suap krim cokelat dengan
potongan oreo ke dalam mulutnya sebelum ia pergi. “Aku mendapatkan kabar, bahwa
mantan pacarmu, Henry Parker belum lenyap. Dia memang monster, jadi berhati-hatilah.”
Tambahnya di ambang pintu.
Visby menghabiskan Strawberry cheesecake miliknya. Tinggal
sebutir blueberry yang belum ia lahap. Namun ia tunda. Bukan hanya Karen, namun
dirinya pun merasakan hal yang sama. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia
tanyakan pada laki-laki yang kini sudah terbujur kaku di dalam peti. Tapi
sekali lagi, hanya senyuman bahkan tawa yang ia tunjukan. Bukan penjelasan
seperti yang diharapkan. Saat Karen mengatakan Henry Parker masih hidup,
tubuhnya sama sekali tidak gemetar seperti saat ia ditangkap. Di panggung
itulah. Di balik piano hitam megah, tubuhnya bergetar hebat melihat kakaknya
berdiri dan tersenyum padanya. Dan apa
alasanmu menghilang sepuluh tahun lalu? Tolong beri aku jawaban, keluhnya
penuh kekecewaan.
When I see you smile at
me, oh yeah… Baby there's nothing in this world that could ever do… What a touch of your hand can do… It's like nothing that I ever knew…
Samar-samar
mulai berputar lagu milik Bad English.
Visby memandang ke luar kaca. Guguran daun memenuhi setiap sisi jalan. Helaian
daun yang tertiup angin seakan mengajaknya untuk terus bergerak mengikuti arus
waktu yang pada saatnya juga akan berhenti. Visby meletakkan beberapa lembar
uang kertas di dekat gelas miliknya. Berjalan keluar, meninggalkan dentingan
lonceng di pintu. [ ]
*Story of My Third Anthology*
*Story of My Third Anthology*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar