Sabtu, 12 Oktober 2013

Antara Ada dan Tiada (Bagian dua)


Aku melihat anak kecil itu baru bangun dari lelap tidurnya semalam. Dia berbeda saat matahari sudah berada dipuncak langit. Wajahnya lusuh dengan bekas liur yang membentuk garis lurus di sudut bibir. Ia menguap, membuka mulutnya lebar-lebar.

            “Hey!!” pekikku. Tanpa merasa bersalah dia membuka mulutnya di depanku yang tengah menikmati es buah sambil menonton dvd kesukaanku.

            “Ada apa?” balasnya dengan wajah datar. Aku memutar bola mataku. Memang susah mengurus anak kecil ini sendirian. Terlebih dia masih belum mengakuiku sebagai kakak angkatnya semenjak kakaknya meninggal. Baginya aku hanya pelayan, seorang pengasuh sekaligus pembantu yang harus menyediakan semua permintaannya. Sarapan, makan siang, makan malam, sekolah, dan membereskan semua mainan yang ia geletakan begitu saja setelah lelah bermain.
            Aku menggiringnya ke kamar mandi. Dia menurut dengan tetap menenteng bola plastiknya. Melepas pakaian dan melemparkannya begitu saja dilantai sepanjang koridor. “Hey jangan buang bajumu disini!! Kalau kau ingin, buang saja di tong sampah!!” gerutuku. Dia menoleh sambil tertawa, dan aku yakin dia pasti sengaja membuang celana dalam.


            “Hey!!” teriakku lagi. Dia berlari sambil tertawa. Kukejar larinya yang cepat. Pintu kamar mandi ditutupnya tapi lupa ia kunci. Aku masuk dengan wajah menyeramkan. Alis kutautkan ditengah. Ia diam, seolah mengerti maksudku yang bersandar di pinggir pintu.

            “Ya, baiklah.” Perlahan, anak kecil itu masuk ke dalam bath tub. Merendam tubuhnya yang gempal tertutup daging.

            “Baiklah, mandi yang benar. Aku akan menyiapkan makan siang untukmu.” Seruku sambil tersenyum meninggalkan. Aku menyayangi anak itu layaknya adik kandungku sendiri. Mungkin aku memang memikul sebuah janji yang terasa berat. Aku sudah berjanji untuk menjaganya sampai kapanku. Dan kurasa aku menikmatinya. Anak itu hanya merasakan kehilangan yang sangat besar. Membuatnya tidak percaya dengan orang asing, meskipun terkadang ia membisikiku sebuah rahasia yang bahkan tidak pernah ia ceritakan pada kakak kandungnya sendiri.

            Kuletakkan piring berisi tumis kacang dengan sosis berbentuk bunga diatas meja. Ia menarik tangannya keluar melalui lubang dibajunya. Aku tersenyum simpul melihatnya baru selesai mandi. Sepertinya dia mulai menurut dengan perintahku.

            “Makan apa?” tanyanya kemudian setelah duduk dikursi yang menghadap televisi. “Kau melihat film itu lagi? Apa kau tidak bosan? Aku saja bosan.” Celetuknya dingin. Aku menghela nafasku, membatalkan pemikiran yang kubuat.

            “Kalau kau bosan, jangan duduk sana. Dengan begitu kau tidak perlu melihat film yang sedang kutonton kan?” komenku tidak mau kalah. “Dan, aku ingin bertanya hal yang sama. Kenapa kau tidak pernah bosan dengan tumis kacang sosis buatanku? Apa karna masakanku itu lezat?”

            Chigau.”[1]

            “Lalu?”

            “Karna dari semua masakanmu, hanya ini yang bisa kumakan.” Sahutnya enteng.  Sendok sayur kupukulkan ke kepalanya. Ia mengernyit kesakitan dengan batuk-batuk karna tersedak. “Jangan suka menghina, kalau kau tidak bisa melakukan hal yang sama atau lebih dari hal yang kau hina itu. Itu tidak baik.” Kataku meninggalkannya pergi.

***

            Badanku sudah bekerja keras hari ini, melakukan rutinitas yang kurasa semakin hari semakin bertambah. Kuhabiskan satu cangkir teh melati diberanda belakang. Menikmati tetesan hujan dengan uap aroma terapi yang membumbung tinggi didalam genggamanku. Aku meyukainya. Terasa damai.

            “Hey kau!”

            “Panggil aku kakak!” balasku dongkol. Anak itu selalu saja memanggilku dengan kata ‘kau’, dia pikir umurku masih lima tahun seperti dirinya.  Ia mengangguk. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ia menarik kursi lebih dekat denganku, menggeser cangkir milikku dengan gelas berisi susu cokelat.

            “Ada apa?” tanyaku penasaran

            “Lanjutkan ceritamu yang waktu itu.”

            “Ini baru jam empat sore, tidak salah? Nanti malam saja.” Tolakku.

            “Apa masalahnya? Kau bilang itu cerita bukan dongeng, jadi tidak masalah bukan aku memintanya sekarang?” Anak ini masih saja memanggilku ‘kau’

“Baiklah. Terakhir sampai mana?”

“Aiko-nee pingsan dan akan mati.”

            Aku tidak menyangka dia mengingatnya, pikirku.

 

            Nova kembali melanjutkan pertarungannya. Ia disuruh pergi oleh anggota medis yang sudah diberi amanat untuk menyembuhkan Aiko segera. Tapi Nova sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, ia sangat khawatir dan ingin berada disebelahnya.

            “Awas!!” teriak Dedy. Senjata yang semula akan melukai punggung Nova beralih dipedang miliknya. “Jangan lengah!!” teriaknya. Nova bergitik. Sekelebat bayangan orang yang sepertinya ia kenal, tapi bukan Dedy, Aiko, atau pasukan yang lain. Dia beda. Nova memutar pengelihatannya, melempar semua kefokusannya sambil berusaha melawan siapa yang mendekatinya. “Siapa?” gumamnya.

            Ditempat lain, Insan mulai sadarkan diri, jantungnya mulai berdetak dengan teratur yang sebelumnya sempat sangat mengkhawatirkan. Berawal dari gelap, menuju putih, dan berakhir pada kesamaran melihat medan perang yang masih saja belum selesai.  Ia mendesah. Sebenarnya, dia ingin tersadar saat perang ini sudah selesai karna dia malas harus melawan spora yang tak kunjung selesai. Dia bosan melawan musuh yang sama, dia ingin yang lebih.

            Kesadarannya sudah lebih pulih, bukan lagi samar-samar tapi sudah jelas. Sudah sangat jelas untuk melihat siapa orang yang tengah duduk disebelahnya sambil mengobati semua luka-lukanya.

            “Apa yang kau lakukan?!” protesnya dan berusaha untuk berdiri.

            “Aku orang yang sudah mengobatimu. Lebih baik kau istirahat dulu, jangan langsung ikut berperang.” Dia tertawa sinis, “Aa, terima kasih. Tapi itu memang tugasmu. Dan lagi jangan kau harap aku akan duduk santai disini, sementara kedua temanku sedang berjuang.”

            “Mereka akan mengerti keadaanmu.”

Orang itu berdecak lidah menanggapi ucapan petugas medis dihadapannya. Apa yang ia pedulikan? Tidak ada. Yang ia inginkan hanya ikut bertarung sampai garis depan seperti orang yang terakhir ia amati sebelum ia terluka.

            Para pasukan terus berjatuhan, sementara para musuh terus bertambah banyak. Perbandingan yang tidak seimbang. “Apa yang harus kita lakukan?” kata salah satu dari empat orang digaris paling depan.

            “Kau benar. Dia semakin kuat saja. Sebelum mahluk itu terbentuk dengan sempurna, kita harus sudah bisa menghabisi pengendalinya.”

            “Aku tahu. Tapi teori itu lebih mudah dari prakteknya.” Dua laki-laki yang tadi berhasil mencuri perhatian Aiko dan Nova, sekaligus membuat Dedy kesal, tengah bersiap dengan jurus pertahan kuat milik mereka. Kekuatan abadi berwarna ungu campur hitam dan satunya berwarna oranye campur merah, seperti api, menyelimuti kedua orang itu. Kini seolah monster bertarung dengan monster dan pengendali dengan pengendali.

 

            “Tunggu!!” potongnya seperti biasa.

            “Apa?” Aku meneguk teh milikku sementara anak itu berbicara tentang keganjilan yang ia temukan. “Kemana dua orang lainnya? Kau bilang empat?”

“Sedang liburan di Hawaii.” Sambarku kesal. Ia memberengut, ikut meneguk susu cokelat miliknya.

 

Semua pasukan termasuk mereka berdiri, mengarahkan perhatian mereka pada dua monster yang baru terbentuk. Dengan perisai api yang dimiliki monster berwarna ungu itu, si pengendali melemparkan panahnya yang berhasil membelah pelindung musuh yang selama ini disebutkan sebagai pertahanan terkuat. Lalu, jika sesuai rencana kini giliran monster berwarna oranye yang melakukan tugas. Ia bersama pengendalinya, menyemburkan bola-bola hitam berkekuatan super dahsyat yang bisa menghancurkan semuanya.

Ukuran monster milik musuh mengecil, pengendalinya terluka dibagian dada yang membuatnya sedikit tidak berkonentrasi. Dua laki-laki tua yang tadi bersama mereka, maju ke depan, menggunakan mantra penyegel. Mereka berdua mengucapkan mantra tanpa bersuara, hanya gerakan mulut. Seolah ada rantai besar yang keluar dari balik tanah menuju tempat monster itu berada. Dan dengan cepat rantai-rantai besar itu mengikat buruannya. Menariknya ke tanah, mengambil seluruh kekuatannya sampai seluruh musuh hasil ciptaannya termasuk monster dibelakangnya itu menghilang.

“Sudah selesai.”

***

            “Aiko-nee, bertahanlah. Jangan mati disini!!” Nova menemukan Insan tengah bersandar di bawah pohon dengan luka-luka ditangan dan punggungnya.  Dedy mendekat, “Apa dia terluka lagi?”

            “Entahlah. Tapi sepertinya ini–”

            “Ini luka yang tadi, aku hanya beristirahat–“

Belum selesai berbicara, Nova dan Dedy sudah memotong ucapannya seperti saat ia memotong ucapan Nova. Insan membenarkan posisi tidurnya sambil melirik ke arah Nova dan Dedy yang memasng wajag dongkol bersamaan.

            “Sudah lah aku lelah, ingin isirahat sejenak.”

            “Jangan, kita harus bicara.” Suara yang berbeda, bukan Nova ataupun Dedy. Insan memutar kepalanya, ia terperanjat mendapati matanya melihat sesuatu yang dikatakannya indah. Bajunya sudah lusuh, dengan robek dimana-mana, tapi tetap tidak membuat Insan berkedip sekalipun.

            Ia berdiri, menyamakan ketinggian dengan kedua temannya. “Ada apa?”

            “Hey, lihat!!” celetuk Nova sambil mengankat kedua tangannya. Melihat ada selubuh putih yang membungkus tangan Nova, Insan dan satu rekan timnya itu juga melakukan hal yang sama. Seperti bayangan.

            “Sepertinya kalian akan kembali ke dunia kalian.” Seru laki-laki yang disukai Nova. Nova merona, padahal belum tentu perkataan itu untuknya. Insan mengangguk.

            “Jadi apa yang ingin kau katakan?” selidik Insan merasa waktunya sudah akan habis. Laki-laki itu menggeleng, mengeluarkan bongkahan batu cantik berwarna putih. Mungkin itu prisma, tapi ini berbeda. Ini terlihat lebih indah bahkan sebelum diletakkan di sinar matahari.

            “Ambillah ini, sebagai ucapan terima kasihku. Aku tahu kau bukan dari tempat ini, tapi kau tetap bersedih bertarung bahkan sampai kau terluka. Jadi, terima kasih.”

 

            “Selesai!!” Cangkirku sudah kosong, langitpun sudah menghilangkan kemendungan yang sempat membayangi. Anak itu tersenyum yang aku tidak tahu apa arti dari senyumannya. Aku kehabisan cerita dan aku ingin segera mengakhiri ceritaku, jadi terpaksa ku skip adegan yang sebenarnya ada menjadi tidak ada. Ya, kau tahu, kalau itu tidak kulakukan, seharian aku akan menghabiskan waktu disini dan tidak melakukan hal lainnya.

            Aku beranjak, membawa cangkir kosongku ke dapur. “Jangan lupa segera masuk, sudah malam. Akan kusiapkan air hangat untuk kau mandi.”

            “Ya, kak.” Jawabnya. Aku diam sejenak, mendengarnya memanggilku ‘kak’. Tanpa sadar ujung bibirku tertarik membentuk seulas senyuman.

            Kuletakkan cangkir kosongku di tempat cuci piring lalu menyiapkan air hangat di bath tub. Menunggu air panas mengucur sampai secukupnya sebelum kutambah dengan air dingin, kurogoh kantong celanaku, “Aku masih menyimpannya. Batu itu. Terima kasih.” Gumamku.

 

zzz



[1] Bukan

2 komentar:

Unknown mengatakan...

eyy, cerpen nya retno posting jg jg dong :D

Insan Gumelar Ciptaning Gusti mengatakan...

Hahaha, cerpen yang mana? Dia aja belum bikin cerpen. Yang aku bikinin depan-depannya aja mungkin sudah tenggelam dilaut tuh kertas. Apa yang mau aku post kan?