Senin, 03 Maret 2014

April Sky in Jember City



Kugeser piring berisi potongan pizza ke seberang meja. Wajahnya terlihat sedikit muram. Ada kecemasan dan kesedihan yang bercampur, sangat menggetirkan. Tangan kujulurkan ke depan, meraih lalu menggenggamnya. Aku ingin dia menyadari bahwa aku ada di dekatnya. Aku ada untuk selalu bersamanya. Kami telah bersama sejak empat tahun lalu dan aku ingin itu untuk selamanya. Masih ditambah, orang tua kami yang sudah saling menyetujui. Menatap tajam matanya yang sendu membuatku semakin yakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Boleh aku tahu ada apa?” seruku pelan. Dia balik menatap mataku. Sorot dingin matanya menyergap, masuk, dan menjalar ke tubuhku. Ada apa?

Ia menarik tangannya dan berbalik menggenggamku. Seulas senyumam tersungging lembut di bibirnya. Meskipun aku yakin itu hanya untuk menenangkanku, aku cukup lega setidaknya dia masih bisa tersenyum. “Bukan hal rumit. Hanya masalah kecil yang sebentar lagi juga akan selesai. Semua akan baik-baik saja.” Suaranya terdengar lebih berat.
“Apa kau yakin?” selidikku lebih dalam.  Ia berdeham dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Malam kali ini mungkin cukup cerah. Terlihat jelas dari langit yang tidak berawan. Penuh bintang dan bulan akan purnama. Cukup! Aku tidak ingin malam ini menjadi malam yang diselubungi kesedihan, aku ingin malam ini seperti malam-malam sebelumnya- bahagia. Aku dorong kursi sedikit ke belakang, beranjak, dan menariknya keluar. Menuruni anak tangga dari lantai dua menuju pintu keluar di lantai dasar. “Tinggal sepuluh menit lagi,” kugenggam erat tangannya lalu menambahkan “bisa kita beli kembang api sekarang? Aku ingin setelah mengucapkan permohonan, kita bermain kembang api seperti biasa.”
Ia mendesah, “Kau masih saja seperti anak kecil. Ingat, kau itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi.” Ia memiringkan wajahnya ke arahku, sepuluh detik kemudian dia kembali berdesah seolah menyerah. Menganggukkan kepalanya sambil setengah tersenyum. Aku berharap ditempat ini, aku bisa meminta sebuah permohonan sebelum genggamanmu terlepas, ucapku dalam hati.
***
            Hujan turun di tahun baru? Sudah biasa. Kutempelkan tanganku di kaca jendela, dingin. Rasa dingin yang sama seperti yang kurasakan kemarin. Bukan seperti biasanya, dia berbeda. Dering ponsel membuyarkan lamunanku seketika. Berderap ke atas ranjang.
            “Raka? Hallo..” sahutku pelan.
            “Ya, baiklah… Tidak perlu, kita bertemu disana saja… Ya, aku bisa sendiri.” Aku harap dia sudah kembali menjadi dirinya yang dulu, menjadi laki-laki yang cerita dan penuh tawa. Aku takut- terlalu takut saat melihat sikapnya yang berubah pendiam.
            Sudah cukup lama aku berdiri mematung disini, tapi belum ada satupun angkot yang lewat. Apa perlu aku naik becak? Tapi tidak mungkin, tempatnya cukup jauh untuk itu. Tapi…
            “Angkot!!” teriakku seketika sambil menjulurkan tangan dan menggerak-gerakannya. Lampu lighting berkedip-kedip ke arah kiri. Aku tersenyum lega. Ini Jember! Ini bukan Jakarta. Tapi kenapa jalan macet total? Berkali-kali aku melirik jam di  pergelangan tangan kiriku. Bukan karna aku takut dia marah, bahkan aku belum pernah melihatnya marah. Aku hanya takut membuatnya khawatir. Hanya itu.
            “Maaf aku terlambat.” Ucapku buru-buru. Dia berdiri dari tempatnya, berjalan ke arahku lalu menarikku. Mungkin dia tahu kalau saat ini aku sedikit takut berada lebih dekat dengannya.
            “Sudahlah, sekarang kau ingin makan apa?” serunya pelan.
            Terimakasih Tuhan, batinku.
            “Aku sudah makan tadi. Aku ingin makan es krim.” Alisnya terangkat sekilas menanggapi keinginanku yang aku rasa aneh– memang aneh. “Kau yakin? Saat ini hujan.”
            “Salah sendiri, kau yang mengajakku ke tempat ini. Kaukan tahu kalau aku tidak suka makan di food court seperti ini. Ya, kecuali untuk makan es krim.” Sahutku puas.
            “Baiklah. Terserah kau saja.” Wajahnya sudah kembali. Setidaknya sekarang lebih baik daripada kemarin. Kuku-kuku panjangku bermusik diatas meja. Food court kali ini lebih sepi dari biasanya, apa karna hujan? Entahlah. Tak sampai sepuluh menit pesanan kami berdua datang. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Es krim memang selalu berhasil menggodaku dengan mudah. “Ra, apa kau masih suka dengan komik?” Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya dan terus berkutat dengan hidangan lezat di depanku.
            “Mau kesana?”
            “Boleh, kalau kau tidak keberatan.” Mendengar itu aku buru-buru menghabiskan es krim yang sudah mulai mencari. Aku membalas senyumannya. Capucinno hangat miliknya sama sekali tidak diteguknya. Ia malah sibuk memeperhatikan semua yang aku lakukan. Sungguh membuatku risih.
            Langit mulai berubah cerah. Kepulan awan hitam beranjak menghilang. Tercuci bersih oleh guyuran hujan. Dengan sepeda motor miliknya, Raka memboncengku ke tempat penyewaan komik. Dalam benakku sudah tersusun daftar komik apa saja yang akan aku pinjam. Aku harap semua komik itu ada.
            Aku selalu berkhayal memiliki komik sebanyak yang aku lihat sekarang. Rak-rak tinggi, berderet panjang menyamping, semuanya penuh dengan komik. Aku mulai mencari komik sesuai yang ada di benakku. Hanya dalam hitungan menit, sekitar dua puluh komik sudah berpindah dari rak ke gendonganku. Aku melempar senyuman ke Raka yang setia menungguku di samping rak dekat pintu. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan sikapnya akhir-akhir ini, seolah menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
            “Ka, kamu kenapa? Kamu sakit?” Komik yang sudah kupilih, kuletakan diatas meja kasir, baru kemudian aku menghampirinya. Wajahnya memang pucat, tapi dia selalu membantah kalau itu akibat dia kehujanan.
            “Sudah jangan pedulikan aku. Kalau kau sudah selesai, ikut aku.” Aku berbalik, memunggunginya. Kutarik nafasku panjang, menunggu perempuan di hadapanku selesai mencatat. Selesai dengan semua itu, Raka menarikku keluar. Tapi aku seketika membatalkan ajakkannya. Aku ingin dia ke dokter sekarang. Aku terlalu khawatir dengan kondisinya. Tapi pertengkaran malah muncul diantara kami. Dia bersikeras untuk tetap pergi, sementara aku terlalu egois untuk membawanya ke rumah sakit.
            “Rumah sakit!!” bentakku. Dia mengerjap melihatku berkata sekeras itu. Orang-orang yang berada disekitar kami, seketika menoleh. Dia menghela nafas, menyalakan mesin motornya, aku masih berdiri ditempat, tidak langsung naik seperti biasa.
            “Ayo, aku menyerah.” Serunya setengah hati. Aku tersenyum menang. Naik, kupeluk erat pinggangnya. Aku bisa mencium aroma parfume yang ia pakai.
***
            Kita tidak pernah tahu apa yang akan keluar dari mulut mereka suatu saat nanti. Aku harap perjalanan kita masih panjang. Meskipun aku tahu, aku tidak ingin kau tahu bahwa aku sudah tahu. Aku tidak ingin kau terluka dan sedih lebih dari ini. jadi maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja.
            “Ra,” suara panggilan itu memecah lamunanku. Sekarang dia sedang berjalan ke arahku. Duduk di kursi tinggi di dekat dapur. Aku menunggunya.
            “apa kau sudah tahu semuanya? Bahwa aku–” lanjutnya. Ia mengalihkan pandangannya ke cangkir kopi yang baru saja ku sodorkan. Sebenarnya aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini, tapi aku tidak ingin memulainya lebih dulu. Biarlah dia berpikir aku tidak tahu.
            “Apa?”
            “Kanker otak.” Aku membulatkan mata, menutup mulutku yang terbuka dengan kedua telapak tangan yang kutumpuk. Aku berakting terkejut sebisaku. Memasang ekspresi seolah baru saja mendapatkan kabar terburuk dalam hidup. Aku harap itu bisa menyakinkannya bahwa aku tidak tahu. “Sudahlah kau masih amatir. Latihanmu belum sempurna.” Sindirnya. Aku mngernyit.
            “Kau pandai kalau disuruh mengerjaiku, tapi sayang kau tidak pernah bisa menutupi rasa khawatir dari sorot matamu. Jadi kalau tebakkanku benar, kau sudah tahu sejak awal?”
            “Demi Tuhan, aku juga ingin menolaknya. Aku hanya terlalu yakin bahwa semua yang aku dengar itu hanya kebohongan. Aku terlalu yakin bahwa Raka masih baik-baik saja. Maaf.” Akuku. Keheningan terjadi diantara kami. Bahkan suara tetesan air dari keran terdengar sangat jelas. Laki-laki itu menyilangkan tangannya sambil bersandar. Membuka mata dan menatapku.
            “Dan terima kasih untuk semua. Aku tahu, waktu juga akan berpaling ketika kita mulai kehilangan keyakinan. Karna buatku kemalangan yang paling menyedihkan adalah saat kita kehilangan keyakinan pada diri kita sendiri. Iya kan?” Dia menyunggingkan satu senyuman yang begitu melegakan untukku. Pengobatan itu akan ia lanjutkan dan kini, keyakinanku semakin kuat bahwa dia akan sembuh. Akan kembali menjadi Raka yang sehat dan dia akan baik-baik saja.
***
            Setelah dua minggu kepergiannya, belum juga ada kabar sedikitpun. Mungkin dia memiliki alasan dan setidaknya sekarang aku bisa lebih fokus dengan pekerjaan sambilanku sebagai seorang editor. Sudah cukup lama aku meninggalkan pekerjaanku. Ya, meskipun aku hanya seorang editor lepas, aku masih punya beberapa tanggungan yang harus segera kuselesaikan sebelum pemiliknya menuntutku ke meja hijau.
            “Ara, apa belum ada kabar dari Raka?” Aku menggeleng lemas dan kembali menatap layar monitor tanpa melakukan apapun, hanya menatap.
            “Kau masih muda, kau masih cantik, apa kau tidak berniat mencari laki-laki baru? Ibu lihat setelah kepergian Raka, kau terlihat lebih murung.” Aku terkesiap mendengar pernyataan ibu barusan. Kenapa tiba-tiba ibu berkata seperti itu? Setahuku ibu sangat menyukai Raka. Aku tidak yakin kalau ibu orang seperti itu. Aku tertawa sekedar basa-basi.
            “Ibu bercanda kan? Dia baru pergi dua minggu, dia pergi juga untuk berobat bukan untuk meninggalkanku. Jadi Ibu tenang saja.”
            “Jangan salah paham. Ibu bukan seperti apa yang kau pikirkan. Kau anak satu-satunya yang kami punya setelah kematian Gina. Ibu hanya ingin kau segera lulus dan menjadi dokter seperti cita-cita Gina. Ibu tidak ingin kau terlalu berharap pada Raka yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya nanti.” Jelasnya yang jujur membuatku kesal.
            Sesaat pandanganku terpaku pada foto gadis manis dalam pigora yang tergantung di samping lampu dinding. Gina– dia kakakku. Lima tahun lalu dia meninggal, tepat sehari sebelum acara wisudanya. Dia terlalu baik hati. Dia terlalu ingin melihat orang lain bahagia tanpa peduli dengan kesehatannya sendiri. Terlalu bahagia saat mendengar banyak harapan yang ditaruh di pundaknya, ketika ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang dokter. Aku bukan dia yang terlahir seperti malaikat. Aku bukan dia yang selalu tersenyum saat terluka. Dan aku bukan dia yang selalu bahagia dengan keputusan orang lain. Nilai akademiku jauh dibawahnya. Oleh karna itu, aku lebih memilih untuk menjadi seorang editor karna itu hobiku. Tapi saat itu, saat pemilihan jurusan kuliah, aku dihadapkan dengan pilihan yang mau tidak mau harus aku ambil. Aku terlanjur berjanji padanya untuk menjadi dokter. Aku terlanjur berjanji. Ya, terlanjur.
***
            Malam sudah melebihi batas puncak. Sementara aku masih saja duduk bersila di tengah-tengah lapangan basket di alun-alun kota. Menatap bintang yang tidak terlalu jelas karna cahaya lampu yang terang. Deretan pohon yang melingkari sekeliling alun-alun, membuat tempat ini cukup nyaman apalagi saat malam. Ya setidaknya baterai ponselku juga masih cukup banyak, jadi aku tidak benar-benar kesepian. Sudah sekitar pukul dua pagi tapi belum ada sedikitpun niat untuk meluruskan kaki dan berjalan pulang. Rumahku memang cukup dekat dari sini dan ini sudah biasa kulakukan saat pikiran suntuk datang.
            “Ara? Kamu Ara kan?” Sapa seseorang yang sudah berdiri di sampingku. Sejak kapan? Aku mendongak sambil menyipitkan mata.
            “Siapa? Apa aku mengenalmu?”
            “Aku Rendy. Apa kau lupa? Aku teman lesmu dulu.” Sejenak aku kembali menatap silangan kakiku. Menutar memori ke belakang, sekitar setahun lalu saat kelas tiga SMA.
            “Sudah ingat?” celetuknya.
            “Ahh.. Aku ingat. Iya, kau Rendy Bima kan? Malam-malam begini apa yang kau lakukan disini?”
            “Seharusnya aku yang tanya padamu,” Ia duduk di sebelahku, meluruskan kaki dan menarik tangannya sedikit ke belakang sebagai penyangga, “apa yang kau lakukan malam-malam disini sendirian? Ini sudah pukul dua lewat, tidak baik.”
            Jadi perempuan jangan suka keluyuran sendirian, apa lagi ini sudah terlalu larut. Tidak baik. Kau bisa mendapatkan masalah nanti.
            Udara yang kutarik dan baru saja kuhembuskan terasa berat. Desahan yang cukup berat dan pasti terdengar sangat jelas mengingat saat ini suasana sangat sepi.
            “Seandainya kau memiliki seseorang yang sangat penting dalam hidupmu dan sekarang sedang sakit parah lalu orang tuamu menyuruh agar kau melupakannya, apa yang akan kau lakukan?” Seulas senyuman tersungging di bibirnya. Menatap langit sepertiku, berdesah lalu berkata, “Berharap dan akhirnya kecewa itu menyakitkan, tapi hidup tanpa harapan itu menyedihkan.”
            Karna buatku kemalangan yang paling menyedihkan adalah saat kita kehilangan keyakinan pada diri kita sendiri.
            Aku tersentak mendengar jawaban Rendy, pikiranku melayang kembali ke belakang. Kata-kata mereka berdua sekilas memiliki arti yang sama. “Maksudmu?” tanyaku kikuk.
            “Saat kau memiliki sebuah keinginan yang besar, kau pasti berdoa dan berharap kan? Tapi terkadang harapan dan kenyataan itu berbeda. Tapi itu jauh lebih baik daripada hidup tanpa sebuah harapan. Jadi, berdoa dan berharaplah dia akan sembuh lalu kembali. Harapanmu akan membawamu pada keyakinan.” Serunya bijak lalu melanjutkan,
            “Jadi, apa kau yakin dia akan sembuh?”
            “Tentu.”
            “Baiklah. Kau harus terus yakin bahwa dia memang akan sembuh.” Ia tersenyum simpul. Astaga bahkan senyum mereka juga mirip, pikirku. Apa otakku memang mulai rusak dan melihat semua hal menjadi mirip dengannya atau memang Rendy mirip dengan Raka?
***
            Secangkir kopi mungkin bisa sedikit menenangkanku, meskipun aku ragu akan itu. Sudah hampir tiga bulan, apa iya dia tidak ada niat untuk memberiku kabar? Atau jangan-jangan sudah terjadi sesuatu disana? Ahh tidak, seperti kata Rendy, aku harus yakin bahwa Raka akan sembuh dan kembali.
            “Ara? Kau kuliah disini juga?” Aku tersentak. Mataku membulat mendapati sosok Rendy yang mencondongkan tubuhnya ke arahku.
            “Hah? Aa i-iya, aku kuliah disini.”
            “Jurusan apa?”
            “Dokter umum lalu spesialis. Spesialis kanker.” Aku mencoba melengkapi perkataanku sebelum ia bertanya lebih lanjut seperti kebanyakan orang. “Kau sendiri? Ambil multimedia?” sambungku.
            “Ya. Kau tahu sendiri aku suka dengan dunia komputer.” Bagiku dia teman yang menyenangkan. Mudah bergaul, dapat memahami perasaan orang lain dan bisa dengan cepat mengalihkan pembicaraan yang kurang mengenakkan seperti saat ini. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang kurang berniat untuk mengobrol, jadi dia memilih pergi dengan alasan ada jam kuliah padahal semua jam kuliah kosong. Terima kasih.
            Aku sudah duduk dan menatap layar laptop cukup lama. Matahari sudah meninggi, bayangan tiang pun semakin menyusut. Tapi belum ada satupun pesan masuk ke ponselku. Apa kau baik-baik saja? Aku masih akan menunggu selama cangkir plastik ini belum kosong. Dan aku yakin. Aku yakin– seyakin-yakinnya, kau pasti memiliki sebuah alasan untuk melakukan ini semua.
            Mendorong kursi sedikit kebelakang, beranjak. Kutenteng tas laptop di tangan kiri sementara tangan kanan membawa cangkir plastik kopi. Jantungku berdegup kencang. Tertegun dan seolah tak mampu bergerak. Mataku terbelalak lebar. Senyuman itu– senyuman yang menenangkan itu bisa kulihat lagi. Saat aku sadar, aku sudah berada dalam dekapannya. Tubuhku dipeluknya erat, seerat-eratnya sampai nafasku seperti tercekat.
            “Akhirnya aku bisa memelukmu lagi. Aku terlalu merindukanmu, kau tahu itu?” bisiknya lembut. Jujur aku ingin membalas dekapannya, tapi kondisi tanganku yang penuh dengan barang bawaan menghalangiku melakukan itu.
            Kami duduk di taman belakang kampus. Dia memandangku dengan tatapan menggoda, membuatku salah tingkah dihadapannya dan tentunya malu.
            “Jadi tidak ada sambutan istimewa untuk kedatanganku?” sindir Raka sambil merangkul dan mengguncang-guncangku pelan. Aku memberenggut. “Salah sendiri kau tidak membalas pesanku meskipun hanya sekali.” Dia melepas rangkulannya, mengaitkan jemari dan terpaku beberapa detik.
            “Bukan karna apa, aku hanya takut kehilangan kenangan menyenangkan itu karna penyakitku. Aku selalu berharap itu tidak akan terjadi.”
            “Maksudmu?”
            “Kalau aku membalas atau mengangkat teleponmu, aku akan buru-buru kembali dan meninggalkan serentet pemeriksaan dan pengobatan yang melelahkan. Lalu, mungkin saja aku akan kehilangan kenangan berharga itu. Aku tidak ingin itu terjadi. Apa kau mengerti sekarang?” Aku mengangguk beberapa kali lalu ambruk dipundaknya. Rasanya hangat. Taman ini memang lebih menyenangkan kalau bersamanya daripada sendirian seperti beberapa waktu lalu. Dan aku lebih bahagia saat bersamanya terlebih setelah kanker itu hilang.
            “Kalau kau ingin pergi, pergilah saat aku menutup mata. Tapi aku mohon, cepatlah kembali saat aku akan membuka mata. Aku ingin selalu melihat senyumanmu.”
***
            Bukan seperti biasanya dia sudah berdiri di depan pintu pagi buta seperti ini. Apa aku yang salah melihat jam? Tidak. Ini memang baru pukul setengah lima pagi, itupun belum sepenuhnya setengah lima– masih kurang sepuluh menit tepatnya. Aku berderap ke beranda rumah, membukakan pintu dengan wajah kusut. Tidak ada sedikitpun niat untuk menyentuh air karna dinginnya yang luar biasa.
            “Ada apa pagi-pagi datang kemari? Kau tidak salah minum obat kan? Atau jangan-jangan ada kesalahan saat operasi jadi kau tidak bisa membaca jam sekarang?” ledekku garing.
            “Cepat ganti baju dan ikut aku. Sebelum apa yang ingin aku tunjukkan hilang. Jadi cepatlah.” Pikiranku masih mencerna perkataan Raka, aku berbalik dan terus memikirkannya bahkan saat aku ganti baju. Tapi nihil.
            Duduk di jok belakang motornya dan pergi. Jaket tebal sama sekali tidak berguna saat hempasan angin yang semakin dingin menuju daerah Rembangan. Sebuah kawasan perbukitan yang kerap dijadikan tempat liburan. Jujur aku juga belum pernah kemari karna jalannya yang terlalu curam dan melikuk tajam.
            Sekitar pukul lima lewat, aku dan Raka sudah berdiri di tepi bukit. Meskipun ini bukan puncak bukit tapi ini sudah cukup tinggi.
            “Mau lihat apa?” tanyaku penasaran.
            “Tunggu dan lihat saja. Sebentar lagi.” Balasnya puas. Aku menyerah dan mengikutinya untuk tetap berdiri di sana meskipun kakiku mulai membeku karna dingin yang begitu menyiksa.
            “Sudah muncul.” Celetuknya. Aku menoleh ke arahnya sekilas lalu kembali lurus ke depan. Astaga, demi Tuhan. Ternyata ini yang ingin dia tunjukkan– sunrise, batinku. Aku tercengang. Sudah jelas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Terlalu indah. Meskipun singkat tapi ini mengesankan.
             “Jangan selalu mengatakan kata takut. Apapun yang terjadi dan apapun yang kau dapatkan nantinya, senang atau sedih, hadapi. Jadilah perempuan yang tegar dan kuat. Jangan selalu takut. Ketakutan hanya akan membawamu dalam penderitaan. Dan aku tidak ingin kau menderita.” Serunya tiba-tiba.
***
            Aku sudah hidup selama 23 tahun tapi aku baru mengerti sekarang. Semua pilihan pasti akan beresiko akhirnya. Entah itu menyenangkan atau menyedihkan. Aku pun tidak tahu ini memang jalan hidupnya atau resiko dari pilihan yang aku paksakan. Tapi apakah aku seratus persen bersalah? Kurasa tidak. Aku hanya berusaha tanpa berpikir tentang akibat terburuknya. Bodoh.
            09 April. Delapan dan tiga tahun lalu, dua orang yang sangat berharga untukku pergi ke tempat yang jauh. Pergi dengan penyakit yang sama dan tanggal yang sama. Apakah ini takdir? Apakah aku akan selalu kehilangan orang-orang karna penyakit ganas itu? Kenapa bukan aku yang menyimpan penyakit itu, kenapa harus mereka?
            Kedua pusara itu sudah merumput hijau. Di bawah langit yang menggelap, aku berdoa, aku harap ini adalah yang terakhir kalinya. “Gin, kau pernah mengatakan bahwa segalanya yang pergi dari dunia bukanlah pergi selamanya, mereka hanya berpergian, berlibur ke tempat yang berbeda, menjalani perjalanan yang panjang dan akhirnya akan kembali bersama kita. Itu yang kau katakan saat aku kehilangan Dotty.”
            “Kau bohong Gin. Aku menunggu Dotty, kau dan Raka sudah lama, tapi kenapa kalian belum juga kembali? Kapan aku bisa bertemu dengan kalian lagi? Aku merindukan kalian. Sangat merindukan kalian.” Lanjutku.
***
            Jangan selalu takut. Ketakutan hanya akan membawamu dalam penderitaan. Dan aku tidak ingin kau menderita.
            Didalam kereta menuju kampus baru di luar kota, aku teringat perkataannya. Aku tidak akan takut lagi. Aku akan menjadi dokter dan menyembuhkan semua orang yang menyimpan penyakit seperti kalian. Karna aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang-orang berharga dalam sekejap. Hembusan angin yang dingin, kerap menyadarkanku bahwa pelangi masih jauh. Tapi meskipun begitu aku percaya, setelah kepergian hujan pasti akan datang pelangi sebagai gantinya. Aku percaya itu.

zzz

Tidak ada komentar: