Kugeser
piring berisi potongan pizza ke
seberang meja. Wajahnya terlihat sedikit muram. Ada kecemasan dan kesedihan
yang bercampur, sangat menggetirkan. Tangan kujulurkan ke depan, meraih lalu
menggenggamnya. Aku ingin dia menyadari bahwa aku ada di dekatnya. Aku ada
untuk selalu bersamanya. Kami telah bersama sejak empat tahun lalu dan aku
ingin itu untuk selamanya. Masih ditambah, orang tua kami yang sudah saling
menyetujui. Menatap tajam matanya yang sendu membuatku semakin yakin ada
sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Boleh aku tahu ada apa?” seruku pelan. Dia
balik menatap mataku. Sorot dingin matanya menyergap, masuk, dan menjalar ke
tubuhku. Ada apa?
Ia
menarik tangannya dan berbalik menggenggamku. Seulas senyumam tersungging
lembut di bibirnya. Meskipun aku yakin itu hanya untuk menenangkanku, aku cukup
lega setidaknya dia masih bisa tersenyum. “Bukan hal rumit. Hanya masalah kecil
yang sebentar lagi juga akan selesai. Semua akan baik-baik saja.” Suaranya
terdengar lebih berat.
“Apa
kau yakin?” selidikku lebih dalam. Ia
berdeham dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Malam kali ini mungkin
cukup cerah. Terlihat jelas dari langit yang tidak berawan. Penuh bintang dan
bulan akan purnama. Cukup! Aku tidak ingin malam ini menjadi malam yang
diselubungi kesedihan, aku ingin malam ini seperti malam-malam sebelumnya-
bahagia. Aku dorong kursi sedikit ke belakang, beranjak, dan menariknya keluar.
Menuruni anak tangga dari lantai dua menuju pintu keluar di lantai dasar.
“Tinggal sepuluh menit lagi,” kugenggam erat tangannya lalu menambahkan “bisa
kita beli kembang api sekarang? Aku ingin setelah mengucapkan permohonan, kita
bermain kembang api seperti biasa.”
Ia
mendesah, “Kau masih saja seperti anak kecil. Ingat, kau itu sudah dewasa bukan
anak kecil lagi.” Ia memiringkan wajahnya ke arahku, sepuluh detik kemudian dia
kembali berdesah seolah menyerah. Menganggukkan kepalanya sambil setengah
tersenyum. Aku berharap ditempat ini, aku
bisa meminta sebuah permohonan sebelum genggamanmu terlepas, ucapku dalam
hati.
***
Hujan turun di tahun baru? Sudah
biasa. Kutempelkan tanganku di kaca jendela, dingin. Rasa dingin yang sama
seperti yang kurasakan kemarin. Bukan seperti biasanya, dia berbeda. Dering
ponsel membuyarkan lamunanku seketika. Berderap ke atas ranjang.
“Raka? Hallo..” sahutku pelan.
“Ya, baiklah… Tidak perlu, kita
bertemu disana saja… Ya, aku bisa sendiri.” Aku harap dia sudah kembali menjadi
dirinya yang dulu, menjadi laki-laki yang cerita dan penuh tawa. Aku takut-
terlalu takut saat melihat sikapnya yang berubah pendiam.
Sudah cukup lama aku berdiri
mematung disini, tapi belum ada satupun angkot yang lewat. Apa perlu aku naik
becak? Tapi tidak mungkin, tempatnya cukup jauh untuk itu. Tapi…
“Angkot!!” teriakku seketika sambil
menjulurkan tangan dan menggerak-gerakannya. Lampu lighting berkedip-kedip ke arah kiri. Aku tersenyum lega. Ini
Jember! Ini bukan Jakarta. Tapi kenapa jalan macet total? Berkali-kali aku
melirik jam di pergelangan tangan
kiriku. Bukan karna aku takut dia marah, bahkan aku belum pernah melihatnya
marah. Aku hanya takut membuatnya khawatir. Hanya itu.
“Maaf aku terlambat.” Ucapku
buru-buru. Dia berdiri dari tempatnya, berjalan ke arahku lalu menarikku.
Mungkin dia tahu kalau saat ini aku sedikit takut berada lebih dekat dengannya.
“Sudahlah, sekarang kau ingin makan
apa?” serunya pelan.
Terimakasih
Tuhan, batinku.
“Aku sudah makan tadi. Aku ingin
makan es krim.” Alisnya terangkat sekilas menanggapi keinginanku yang aku rasa
aneh– memang aneh. “Kau yakin? Saat ini hujan.”
“Salah sendiri, kau yang mengajakku ke
tempat ini. Kaukan tahu kalau aku tidak suka makan di food court seperti ini. Ya, kecuali untuk makan es krim.” Sahutku
puas.
“Baiklah. Terserah kau saja.”
Wajahnya sudah kembali. Setidaknya sekarang lebih baik daripada kemarin.
Kuku-kuku panjangku bermusik diatas meja. Food
court kali ini lebih sepi dari biasanya, apa karna hujan? Entahlah. Tak
sampai sepuluh menit pesanan kami berdua datang. Aku sudah tidak sabar untuk
menyantapnya. Es krim memang selalu berhasil menggodaku dengan mudah. “Ra, apa
kau masih suka dengan komik?” Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya dan terus
berkutat dengan hidangan lezat di depanku.
“Mau kesana?”
“Boleh, kalau kau tidak keberatan.”
Mendengar itu aku buru-buru menghabiskan es krim yang sudah mulai mencari. Aku
membalas senyumannya. Capucinno hangat miliknya sama sekali tidak diteguknya.
Ia malah sibuk memeperhatikan semua yang aku lakukan. Sungguh membuatku risih.
Langit mulai berubah cerah. Kepulan
awan hitam beranjak menghilang. Tercuci bersih oleh guyuran hujan. Dengan
sepeda motor miliknya, Raka memboncengku ke tempat penyewaan komik. Dalam
benakku sudah tersusun daftar komik apa saja yang akan aku pinjam. Aku harap
semua komik itu ada.
Aku selalu berkhayal memiliki komik
sebanyak yang aku lihat sekarang. Rak-rak tinggi, berderet panjang menyamping,
semuanya penuh dengan komik. Aku mulai mencari komik sesuai yang ada di
benakku. Hanya dalam hitungan menit, sekitar dua puluh komik sudah berpindah
dari rak ke gendonganku. Aku melempar senyuman ke Raka yang setia menungguku di
samping rak dekat pintu. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan
sikapnya akhir-akhir ini, seolah menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
“Ka, kamu kenapa? Kamu sakit?” Komik
yang sudah kupilih, kuletakan diatas meja kasir, baru kemudian aku
menghampirinya. Wajahnya memang pucat, tapi dia selalu membantah kalau itu
akibat dia kehujanan.
“Sudah jangan pedulikan aku. Kalau
kau sudah selesai, ikut aku.” Aku berbalik, memunggunginya. Kutarik nafasku
panjang, menunggu perempuan di hadapanku selesai mencatat. Selesai dengan semua
itu, Raka menarikku keluar. Tapi aku seketika membatalkan ajakkannya. Aku ingin
dia ke dokter sekarang. Aku terlalu khawatir dengan kondisinya. Tapi
pertengkaran malah muncul diantara kami. Dia bersikeras untuk tetap pergi,
sementara aku terlalu egois untuk membawanya ke rumah sakit.
“Rumah sakit!!” bentakku. Dia
mengerjap melihatku berkata sekeras itu. Orang-orang yang berada disekitar
kami, seketika menoleh. Dia menghela nafas, menyalakan mesin motornya, aku
masih berdiri ditempat, tidak langsung naik seperti biasa.
“Ayo, aku menyerah.” Serunya setengah
hati. Aku tersenyum menang. Naik, kupeluk erat pinggangnya. Aku bisa mencium
aroma parfume yang ia pakai.
***
Kita
tidak pernah tahu apa yang akan keluar dari mulut mereka suatu saat nanti. Aku
harap perjalanan kita masih panjang. Meskipun aku tahu, aku tidak ingin kau
tahu bahwa aku sudah tahu. Aku tidak ingin kau terluka dan sedih lebih dari
ini. jadi maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja dan
akan terus baik-baik saja.
“Ra,”
suara panggilan itu memecah lamunanku. Sekarang dia sedang berjalan ke arahku.
Duduk di kursi tinggi di dekat dapur. Aku menunggunya.
“apa kau sudah tahu semuanya? Bahwa
aku–” lanjutnya. Ia mengalihkan pandangannya ke cangkir kopi yang baru saja ku
sodorkan. Sebenarnya aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini, tapi aku tidak
ingin memulainya lebih dulu. Biarlah dia berpikir aku tidak tahu.
“Apa?”
“Kanker otak.” Aku membulatkan mata,
menutup mulutku yang terbuka dengan kedua telapak tangan yang kutumpuk. Aku
berakting terkejut sebisaku. Memasang ekspresi seolah baru saja mendapatkan
kabar terburuk dalam hidup. Aku harap itu bisa menyakinkannya bahwa aku tidak
tahu. “Sudahlah kau masih amatir. Latihanmu belum sempurna.” Sindirnya. Aku
mngernyit.
“Kau pandai kalau disuruh
mengerjaiku, tapi sayang kau tidak pernah bisa menutupi rasa khawatir dari
sorot matamu. Jadi kalau tebakkanku benar, kau sudah tahu sejak awal?”
“Demi Tuhan, aku juga ingin
menolaknya. Aku hanya terlalu yakin bahwa semua yang aku dengar itu hanya
kebohongan. Aku terlalu yakin bahwa Raka masih baik-baik saja. Maaf.” Akuku.
Keheningan terjadi diantara kami. Bahkan suara tetesan air dari keran terdengar
sangat jelas. Laki-laki itu menyilangkan tangannya sambil bersandar. Membuka
mata dan menatapku.
“Dan terima kasih untuk semua. Aku
tahu, waktu juga akan berpaling ketika kita mulai kehilangan keyakinan. Karna
buatku kemalangan yang paling menyedihkan adalah saat kita kehilangan keyakinan
pada diri kita sendiri. Iya kan?” Dia menyunggingkan satu senyuman yang begitu
melegakan untukku. Pengobatan itu akan ia lanjutkan dan kini, keyakinanku
semakin kuat bahwa dia akan sembuh. Akan kembali menjadi Raka yang sehat dan
dia akan baik-baik saja.
***
Setelah dua minggu kepergiannya,
belum juga ada kabar sedikitpun. Mungkin dia memiliki alasan dan setidaknya
sekarang aku bisa lebih fokus dengan pekerjaan sambilanku sebagai seorang
editor. Sudah cukup lama aku meninggalkan pekerjaanku. Ya, meskipun aku hanya
seorang editor lepas, aku masih punya beberapa tanggungan yang harus segera
kuselesaikan sebelum pemiliknya menuntutku ke meja hijau.
“Ara, apa belum ada kabar dari
Raka?” Aku menggeleng lemas dan kembali menatap layar monitor tanpa melakukan
apapun, hanya menatap.
“Kau masih muda, kau masih cantik,
apa kau tidak berniat mencari laki-laki baru? Ibu lihat setelah kepergian Raka,
kau terlihat lebih murung.” Aku terkesiap mendengar pernyataan ibu barusan.
Kenapa tiba-tiba ibu berkata seperti itu? Setahuku ibu sangat menyukai Raka.
Aku tidak yakin kalau ibu orang seperti itu. Aku tertawa sekedar basa-basi.
“Ibu bercanda kan? Dia baru pergi
dua minggu, dia pergi juga untuk berobat bukan untuk meninggalkanku. Jadi Ibu
tenang saja.”
“Jangan salah paham. Ibu bukan seperti
apa yang kau pikirkan. Kau anak satu-satunya yang kami punya setelah kematian
Gina. Ibu hanya ingin kau segera lulus dan menjadi dokter seperti cita-cita
Gina. Ibu tidak ingin kau terlalu berharap pada Raka yang kita tidak tahu apa
yang akan terjadi dengannya nanti.” Jelasnya yang jujur membuatku kesal.
Sesaat pandanganku terpaku pada foto
gadis manis dalam pigora yang tergantung di samping lampu dinding. Gina– dia
kakakku. Lima tahun lalu dia meninggal, tepat sehari sebelum acara wisudanya.
Dia terlalu baik hati. Dia terlalu ingin melihat orang lain bahagia tanpa
peduli dengan kesehatannya sendiri. Terlalu bahagia saat mendengar banyak
harapan yang ditaruh di pundaknya, ketika ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi
seorang dokter. Aku bukan dia yang terlahir seperti malaikat. Aku bukan dia
yang selalu tersenyum saat terluka. Dan aku bukan dia yang selalu bahagia
dengan keputusan orang lain. Nilai akademiku jauh dibawahnya. Oleh karna itu,
aku lebih memilih untuk menjadi seorang editor karna itu hobiku. Tapi saat itu,
saat pemilihan jurusan kuliah, aku dihadapkan dengan pilihan yang mau tidak mau
harus aku ambil. Aku terlanjur berjanji padanya untuk menjadi dokter. Aku
terlanjur berjanji. Ya, terlanjur.
***
Malam sudah melebihi batas puncak.
Sementara aku masih saja duduk bersila di tengah-tengah lapangan basket di
alun-alun kota. Menatap bintang yang tidak terlalu jelas karna cahaya lampu
yang terang. Deretan pohon yang melingkari sekeliling alun-alun, membuat tempat
ini cukup nyaman apalagi saat malam. Ya setidaknya baterai ponselku juga masih
cukup banyak, jadi aku tidak benar-benar kesepian. Sudah sekitar pukul dua pagi
tapi belum ada sedikitpun niat untuk meluruskan kaki dan berjalan pulang.
Rumahku memang cukup dekat dari sini dan ini sudah biasa kulakukan saat pikiran
suntuk datang.
“Ara? Kamu Ara kan?” Sapa seseorang
yang sudah berdiri di sampingku. Sejak kapan? Aku mendongak sambil menyipitkan
mata.
“Siapa? Apa aku mengenalmu?”
“Aku Rendy. Apa kau lupa? Aku teman
lesmu dulu.” Sejenak aku kembali menatap silangan kakiku. Menutar memori ke
belakang, sekitar setahun lalu saat kelas tiga SMA.
“Sudah ingat?” celetuknya.
“Ahh.. Aku ingat. Iya, kau Rendy
Bima kan? Malam-malam begini apa yang kau lakukan disini?”
“Seharusnya aku yang tanya padamu,”
Ia duduk di sebelahku, meluruskan kaki dan menarik tangannya sedikit ke
belakang sebagai penyangga, “apa yang kau lakukan malam-malam disini sendirian?
Ini sudah pukul dua lewat, tidak baik.”
Jadi
perempuan jangan suka keluyuran sendirian, apa lagi ini sudah terlalu larut.
Tidak baik. Kau bisa mendapatkan masalah nanti.
Udara
yang kutarik dan baru saja kuhembuskan terasa berat. Desahan yang cukup berat
dan pasti terdengar sangat jelas mengingat saat ini suasana sangat sepi.
“Seandainya kau memiliki seseorang
yang sangat penting dalam hidupmu dan sekarang sedang sakit parah lalu orang
tuamu menyuruh agar kau melupakannya, apa yang akan kau lakukan?” Seulas
senyuman tersungging di bibirnya. Menatap langit sepertiku, berdesah lalu
berkata, “Berharap dan akhirnya kecewa itu menyakitkan, tapi hidup tanpa
harapan itu menyedihkan.”
Karna
buatku kemalangan yang paling menyedihkan adalah saat kita kehilangan keyakinan
pada diri kita sendiri.
Aku
tersentak mendengar jawaban Rendy, pikiranku melayang kembali ke belakang.
Kata-kata mereka berdua sekilas memiliki arti yang sama. “Maksudmu?” tanyaku
kikuk.
“Saat kau memiliki sebuah keinginan
yang besar, kau pasti berdoa dan berharap kan? Tapi terkadang harapan dan
kenyataan itu berbeda. Tapi itu jauh lebih baik daripada hidup tanpa sebuah
harapan. Jadi, berdoa dan berharaplah dia akan sembuh lalu kembali. Harapanmu
akan membawamu pada keyakinan.” Serunya bijak lalu melanjutkan,
“Jadi, apa kau yakin dia akan
sembuh?”
“Tentu.”
“Baiklah. Kau harus terus yakin
bahwa dia memang akan sembuh.” Ia tersenyum simpul. Astaga bahkan senyum mereka juga mirip, pikirku. Apa otakku memang
mulai rusak dan melihat semua hal menjadi mirip dengannya atau memang Rendy
mirip dengan Raka?
***
Secangkir
kopi mungkin bisa sedikit menenangkanku, meskipun aku ragu akan itu. Sudah
hampir tiga bulan, apa iya dia tidak ada niat untuk memberiku kabar? Atau
jangan-jangan sudah terjadi sesuatu disana? Ahh tidak, seperti kata Rendy, aku
harus yakin bahwa Raka akan sembuh dan kembali.
“Ara? Kau kuliah disini juga?” Aku
tersentak. Mataku membulat mendapati sosok Rendy yang mencondongkan tubuhnya ke
arahku.
“Hah? Aa i-iya, aku kuliah disini.”
“Jurusan apa?”
“Dokter umum lalu spesialis.
Spesialis kanker.” Aku mencoba melengkapi perkataanku sebelum ia bertanya lebih
lanjut seperti kebanyakan orang. “Kau sendiri? Ambil multimedia?” sambungku.
“Ya. Kau tahu sendiri aku suka
dengan dunia komputer.” Bagiku dia teman yang menyenangkan. Mudah bergaul,
dapat memahami perasaan orang lain dan bisa dengan cepat mengalihkan
pembicaraan yang kurang mengenakkan seperti saat ini. Sepertinya dia tahu kalau
aku sedang kurang berniat untuk mengobrol, jadi dia memilih pergi dengan alasan
ada jam kuliah padahal semua jam kuliah kosong. Terima kasih.
Aku sudah duduk dan menatap layar
laptop cukup lama. Matahari sudah meninggi, bayangan tiang pun semakin
menyusut. Tapi belum ada satupun pesan masuk ke ponselku. Apa kau baik-baik
saja? Aku masih akan menunggu selama cangkir plastik ini belum kosong. Dan aku
yakin. Aku yakin– seyakin-yakinnya, kau pasti memiliki sebuah alasan untuk
melakukan ini semua.
Mendorong kursi sedikit kebelakang,
beranjak. Kutenteng tas laptop di tangan kiri sementara tangan kanan membawa
cangkir plastik kopi. Jantungku berdegup kencang. Tertegun dan seolah tak mampu
bergerak. Mataku terbelalak lebar. Senyuman itu– senyuman yang menenangkan itu
bisa kulihat lagi. Saat aku sadar, aku sudah berada dalam dekapannya. Tubuhku
dipeluknya erat, seerat-eratnya sampai nafasku seperti tercekat.
“Akhirnya aku bisa memelukmu lagi.
Aku terlalu merindukanmu, kau tahu itu?” bisiknya lembut. Jujur aku ingin
membalas dekapannya, tapi kondisi tanganku yang penuh dengan barang bawaan
menghalangiku melakukan itu.
Kami duduk di taman belakang kampus.
Dia memandangku dengan tatapan menggoda, membuatku salah tingkah dihadapannya
dan tentunya malu.
“Jadi tidak ada sambutan istimewa
untuk kedatanganku?” sindir Raka sambil merangkul dan mengguncang-guncangku
pelan. Aku memberenggut. “Salah sendiri kau tidak membalas pesanku meskipun
hanya sekali.” Dia melepas rangkulannya, mengaitkan jemari dan terpaku beberapa
detik.
“Bukan karna apa, aku hanya takut
kehilangan kenangan menyenangkan itu karna penyakitku. Aku selalu berharap itu
tidak akan terjadi.”
“Maksudmu?”
“Kalau aku membalas atau mengangkat
teleponmu, aku akan buru-buru kembali dan meninggalkan serentet pemeriksaan dan
pengobatan yang melelahkan. Lalu, mungkin saja aku akan kehilangan kenangan
berharga itu. Aku tidak ingin itu terjadi. Apa kau mengerti sekarang?” Aku
mengangguk beberapa kali lalu ambruk dipundaknya. Rasanya hangat. Taman ini
memang lebih menyenangkan kalau bersamanya daripada sendirian seperti beberapa
waktu lalu. Dan aku lebih bahagia saat bersamanya terlebih setelah kanker itu
hilang.
“Kalau kau ingin pergi, pergilah
saat aku menutup mata. Tapi aku mohon, cepatlah kembali saat aku akan membuka
mata. Aku ingin selalu melihat senyumanmu.”
***
Bukan seperti biasanya dia sudah
berdiri di depan pintu pagi buta seperti ini. Apa aku yang salah melihat jam?
Tidak. Ini memang baru pukul setengah lima pagi, itupun belum sepenuhnya
setengah lima– masih kurang sepuluh menit tepatnya. Aku berderap ke beranda
rumah, membukakan pintu dengan wajah kusut. Tidak ada sedikitpun niat untuk
menyentuh air karna dinginnya yang luar biasa.
“Ada apa pagi-pagi datang kemari?
Kau tidak salah minum obat kan? Atau jangan-jangan ada kesalahan saat operasi
jadi kau tidak bisa membaca jam sekarang?” ledekku garing.
“Cepat ganti baju dan ikut aku.
Sebelum apa yang ingin aku tunjukkan hilang. Jadi cepatlah.” Pikiranku masih
mencerna perkataan Raka, aku berbalik dan terus memikirkannya bahkan saat aku
ganti baju. Tapi nihil.
Duduk di jok belakang motornya dan
pergi. Jaket tebal sama sekali tidak berguna saat hempasan angin yang semakin
dingin menuju daerah Rembangan. Sebuah kawasan perbukitan yang kerap dijadikan
tempat liburan. Jujur aku juga belum pernah kemari karna jalannya yang terlalu
curam dan melikuk tajam.
Sekitar pukul lima lewat, aku dan
Raka sudah berdiri di tepi bukit. Meskipun ini bukan puncak bukit tapi ini
sudah cukup tinggi.
“Mau lihat apa?” tanyaku penasaran.
“Tunggu dan lihat saja. Sebentar
lagi.” Balasnya puas. Aku menyerah dan mengikutinya untuk tetap berdiri di sana
meskipun kakiku mulai membeku karna dingin yang begitu menyiksa.
“Sudah muncul.” Celetuknya. Aku
menoleh ke arahnya sekilas lalu kembali lurus ke depan. Astaga, demi Tuhan. Ternyata ini yang ingin dia tunjukkan– sunrise,
batinku. Aku tercengang. Sudah jelas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Terlalu
indah. Meskipun singkat tapi ini mengesankan.
“Jangan selalu mengatakan kata takut. Apapun
yang terjadi dan apapun yang kau dapatkan nantinya, senang atau sedih, hadapi.
Jadilah perempuan yang tegar dan kuat. Jangan selalu takut. Ketakutan hanya
akan membawamu dalam penderitaan. Dan aku tidak ingin kau menderita.” Serunya
tiba-tiba.
***
Aku sudah hidup selama 23 tahun tapi
aku baru mengerti sekarang. Semua pilihan pasti akan beresiko akhirnya. Entah
itu menyenangkan atau menyedihkan. Aku pun tidak tahu ini memang jalan hidupnya
atau resiko dari pilihan yang aku paksakan. Tapi apakah aku seratus persen
bersalah? Kurasa tidak. Aku hanya berusaha tanpa berpikir tentang akibat
terburuknya. Bodoh.
09 April. Delapan dan tiga tahun
lalu, dua orang yang sangat berharga untukku pergi ke tempat yang jauh. Pergi
dengan penyakit yang sama dan tanggal yang sama. Apakah ini takdir? Apakah aku
akan selalu kehilangan orang-orang karna penyakit ganas itu? Kenapa bukan aku
yang menyimpan penyakit itu, kenapa harus mereka?
Kedua pusara itu sudah merumput
hijau. Di bawah langit yang menggelap, aku berdoa, aku harap ini adalah yang
terakhir kalinya. “Gin, kau pernah mengatakan bahwa segalanya yang pergi dari
dunia bukanlah pergi selamanya, mereka hanya berpergian, berlibur ke tempat
yang berbeda, menjalani perjalanan yang panjang dan akhirnya akan kembali
bersama kita. Itu yang kau katakan saat aku kehilangan Dotty.”
“Kau bohong Gin. Aku menunggu Dotty,
kau dan Raka sudah lama, tapi kenapa kalian belum juga kembali? Kapan aku bisa
bertemu dengan kalian lagi? Aku merindukan kalian. Sangat merindukan kalian.”
Lanjutku.
***
Jangan
selalu takut. Ketakutan hanya akan membawamu dalam penderitaan. Dan aku tidak
ingin kau menderita.
Didalam
kereta menuju kampus baru di luar kota, aku teringat perkataannya. Aku tidak
akan takut lagi. Aku akan menjadi dokter dan menyembuhkan semua orang yang
menyimpan penyakit seperti kalian. Karna aku tahu bagaimana rasanya kehilangan
orang-orang berharga dalam sekejap. Hembusan angin yang dingin, kerap
menyadarkanku bahwa pelangi masih jauh. Tapi meskipun begitu aku percaya,
setelah kepergian hujan pasti akan datang pelangi sebagai gantinya. Aku percaya
itu.
zzz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar