Senin, 03 Maret 2014

You’ll Find What You seek

Suatu hari di dunia yang mulai dingin, aku pernah berpikir dengan otakku yang kurasa mulai berkarat. Awalnya aku pikir ini berlebihan, tapi kurasa tidak. Aku hanya ingin keluar dari penjara yang dingin, membuatku susah untuk sekedar memejamkan mata sesaat. Lari dari kejaran malam dan akhirnya pandanganku jatuh keluar jendela. Aku juga ingin terbang seperti mereka, mengepakkan sayap dengan sempurna.
            Sudah berapa banyak cahaya pagi yang menembus tirai jendela? Semuanya kuhitung dengan ke sepuluh jariku. Dan aku lupa sudah berapa ratus kali aku memutarnya. Langit pagi memang lebih indah daripada langit malam yang penuh bintang. Bintang malam yang kulihat, apa bisa kembali lagi besok? Kalimat yang indah bukan? Siapa yang tahu tentang hari esok, akan seperti apakah hari esok? Mungkin aku harus tertawa, tertawa karna aku telah menghabiskan hari-hari yang aku tidak pernah tahu seperti apa hari yang kulalui itu.

            Saat aku memanggil suster Kenny dari samping pintu kamarku, dengan hati-hati dia melangkah. Suara sepatu vantofel semakin keras. Di depan ruang istirahatku, aku menyerahkan gelas air minum yang sudah kosong dan beberapa hasil lukisanku.
            “Ini hasil lukisanmu lagi?” Tanyanya padaku. Suaranya lembut. Aku mengira itu jauh lebih lembut dari salju yang turun tahun lalu. “Iya.”
            “Suster, aku ingin kau mengambilnya lagi. Disini sudah terlalu banyak lukisan. Tapi maaf Suster, dari awal melukis sampai sekarang, aku belum tahu apa yang aku gambar.” Lanjutku. Suster Kenny menjauhkan lukisanku dari dadanya. Mengamat-amati dan kemudian tersenyum.
“Mungkin ini abstrak. Boleh suster masuk? Suster mau lihat lukisanmu yang lain.” Aku sedikit menyingkir dari pintu. Suster Kenny masuk, memandang seluruh bagian kamarku. “Jed, kamu simpan dimana lukisanmu? Kamarmu terlalu rapi untuk itu.”
            “Diatas tempat tidur.” Beberapa saat setelah aku mengatubkan mulutku kembali, pandangan suster Kenny jelas mengikuti informasiku. Ada rasa kaget yang muncul dan hilang terganti oleh senyuman lalu meminta ijin untuk pergi– kembali bekerja.
            Melodi yang biasa mengalun dari radio kecilkku, kini sudah menghilang. Bolehkah aku mengutuk rasa kesepian ini? Bolehkah? Hal itu.. Perasaan itu.. Gejolak itu.. Kemurkaan dari kumpulan emosi itu sekalipun tak bisa kutunjukan lewat kata-kata yang tersusun rapi. Tanganku berdarah dan penuh luka. Tanpa ada tangisan. Harapanku, aku lebih kuat daripada mereka.
                                                                            ***

            “Selamat pagi Jedi. Apa kamu merasa lebih baik hari ini?” Kata suster Kenny dari samping ranjangku.
            “Baik. Apa aku boleh pulang hari ini?” Aku harap jawaban iya yang kuterima.
            “Hmm.. Bagaimana ya? Baiklah, kamu boleh pulang. Tapi jangan lupa minggu depan kembali kemari ya, hanya sekedar check up rutin. Janji?” Aku menggangguk.
            Kutinggalkan bagunan itu. Masih sama seperti sebelumnya, pohon itu pun belum juga meninggi. Aku ragu. Di koridor Rumah Sakit, matahari masih memanggang bumi. Musim gugur yang berbeda. Aku ingin segera ada salju yang turun agar aku bisa bersembunyi dibalik salju dan membekukan diri. Kecepatan kakiku masih sama dan aku belum berniat menambah kecepatannya karna mereka belum datang dan menghujatku. Telapak tangan yang hangat, kurasa sebentar lagi akan berubah. Genggaman tangan? Apa itu? Sedetikpun aku tak mengerti. Apakah saat orang yang telah digenggam tangannya akan bahagia? Bila iya, aku ingin mencobanya.
            Sedikit mendongak. Dedaunan yang gugur begitu menenangkan saat menyentuh wajah. Berdiri sejenak disini cukup menyenangkan. Tapi mereka sudah datang. Aku sangat malas melihat pandangan mereka. Tatapan menyedihkan yang ditujukan untukku. Sebegitu menyedihkannyakah aku? Apa aku harus membunuh mereka? Aku bosan. Aku terlalu lelah menempuh jalan berbahaya ini sendirian. Aku tidak suka dengan mata-mata menjijikan itu. Penyakitku? Aku selalu merasakan hal itu berkecambuk setiap aku teringat penyakitku. Apakah tidak ada pilihan lain selain menjadi seorang pembunuh?
            “Selamat pagi.” Sapaku sekedarnya. Kutarik sudut bibirku berat. Membentuk huruf ‘U’ lebih besar. “Siapa kamu?” ucapan itu yang aku terima pertama kali dari empat remaja yang baru saja lewat.
            “Bella, apa yang kamu katakan? Apa kamu mau …” Gadis itu menghentikan ucapannya dan beralih berbicara denganku. Suaranya sedikit bergetar, berbeda dengan saat dia bicara dengan temannya.
            “Bukan masalah.” Itu jawabanku atas perkataannya,
            “Maaf. Bella bukan bermaksud seperti itu. Hanya saja dia belum mengenalmu.” Kulanjutkan jalanku– meninggalkan mereka berempat yang kuperhatikan perlahan bergerak menjauh dariku. Saat aku yakin kami sudah saling beradu punggung, samar aku mendengar perkataan mereka. ”Dia orang aneh. Jangan sampai kamu punya masalah dengannya atau nyawamu taruhannya.” Kurasa suara itu sama dengan suara gadis yang berkata’ maaf’ tadi.
            Gagang pintu sedikit kutarik ke atas baru kudorong. Lampu belum menyala. Jelas saja, tidak akan ada orang yang berani masuk kemari selain aku dan suster Kenny. Cermin itu sudah sulit untuk bercermin. Retakkan membuat bayangan benda menjadi kacau. Duduk di ranjang sambil mengarah ke cermin. Siapa diriku yang sebenarnya? Apakah aku seorang monster? Berganti posisi, aku duduk tegap, tanpa berkedip aku terus melihat diriku yang semakin lama membuatku takut. Ada yang berbeda dan mengerikan dalam diriku. Benarkah?
            Seingatku, aku meraih gelas kaca dan melemparkannya ke cermin itu lagi. Retakkan semakin menjadi, tapi aku tidak peduli. Kuhantamkan satu pukulan ke cermin sekali. Atau tepatnya sekali lagi bukan sekali. Aku lupa, sudah berapa banyak atau memang ini yang pertama? Tapi kenapa retakan itu sangat banyak? Dan yang mengganggu pikiranku, setelah aku menjerit sekencang-kencangnya– aku lupa. Saat aku bangun, gadis itu sudah di  depanku. Gadis yang dipanggil dengan nama Bella tempo hari.
                                                                            ***
            “Suster apa aku boleh bercerita?”
            “Silahkan.” Ujarnya lembut. Aku diam, menunggu suster Kenny selesai menuangkan teh hangat di cangkir kecilku. Sudah cukup lama hari berganti. Lagi-lagi gelap datang, tapi mungkin ini lebih baik.
            “Suster, apakah kau tahu awal dari penyakitku ini? Apakah ini turunan?” Aku ingin tahu sebuah jawaban yang bisa menenangkanku saat emosiku meluap. Suster Kenny melarangku mengucapkan kata itu, meskipun hanya dalam hati.
            “Aku menemukanmu di bawah pohon willow. Darah begitu banyak keluar dari perutmu. Saat itu aku pikir kamu adalah korban perampokan atau sejenisnya. Tapi kurasa bukan. Aku membawamu ke rumah sakit dan akhirnya aku tahu itu bukan kriminalitas.”
            “Lalu aku siapa? Apa aku punya keluarga?”
            “Maaf, Jed. Aku tidak tahu. Tapi aku rasa, ini bukan penyakit tapi ini efek dari suatu hal yang pernah terjadi di kehidupanmu sebelum aku menemukanmu. Percayalah Jed, aku bicara jujur.” Lanjutnya. Gelasku masih menguap dengan jelasnya, sementara milik suster Kenny sudah setengah kosong. Aku hanya diam, menatap isi gelas itu lekat-lekat seolah ada hal menarik yang kudapatkan darinya.
            “Istirahatlah Jed, aku akan kembali besok.” Suara sepatunya menipis di turunan tangga. Sungguh aku ingin mengucapkan satu kata terlarang itu. Di sandaran kusen jendela aku ingin mengirim sebuah pesan pada malaikat. Ahh bukan, mungkin malaikat juga malas menemuiku. Aku iri, aku marah, aku kecewa. Dan terlebih aku takut untuk kembali keluar.  Sejak saat itu, sejak kutemukan Bella dihadapanku, nyaliku ciut untuk keluar saat siang.
            Mungkin saat orang sudah terlelap dalam tidur aku baru berani bermain dengan dunia. Itupun jika dunia mau bermain denganku. Menggelikan. Ya, saat hari berakhir aku baru berani membuka mata untuk menatap gelap malam.
            “Hey ada yang mau berteman denganku?” Bisikku di atas balkon kamar.
            “Hey, ada yang bisa mendengar suaraku?” Ulangku. Jangankan suara sahutan, mungkin hempasan angin yang baru saja menerpa wajahku hanya datang untuk sekedar menghina. Aku selalu kembali ke duniaku yang menyedihkan. Perasaan yang menyiksa. Perasaan yang selalu muncul saat keinginan untuk berteriak kepada dunia sangat besar. Seperti saat ini.
            Malam sudah semakin larut, detik jam 12 baru saja berganti. Kota ini sepi, apa dunia mulai memihakku? Memihak kesendirianku. Kutendang kaleng kosong yang tergeletak begitu saja. Suara lonceng berdentang begitu kencang. Aku berhenti dibawah pohon yang semakin jelas terlihat batang rantingnya. Satu demi satu daun jatuh. Sebenarnya untuk apa dan demi siapa aku hidup? Toh aku hanya manusia yang terbuang, kan? Dua laki-laki jahat mendekatiku. Kenapa hanya orang jahat yang berani mendekatiku? Kemana semua orang yang mengaku dirinya baik? Terlebih keluargaku.
            “Ada apa?” Hanya itu kata pertama yang terlontar dari mulutku.
            “Mau kami temani?” Tawarnya dengan senyuman aneh.
            “Terima kasih. Saya baik-baik saja meski sendiri. Jadi silahkan anda berdua pergi.” Aku ini pemberani atau memang akan ada yang melindungiku nanti. Sesentipun aku tidak bergerak. “Dasar gadis jual mahal! Kenapa kau menolak tawaran kami? Apa karna kau seorang pembunuh?” Suara teriakkan mereka sangatlah nyaring. Lebih nyaring dari suara lonceng yang baru saja berhenti berdentang.
            “Jangan mendekat!!!” Teriakku sesaat setelah mereka berdua berada lebih dekat denganku dari tempat semula, lengkap dengan pisau lipat miliknya. Sekuat tenaga, kudorong mereka berdua, berlari dan terus berlari. Dari pintu ke pintu kugedor dan kebanyakkan dari mereka hanya mengintip dari balik tirai jendela dan tidak membuka pintu. Bagi mereka mungkin aku sama dengan mereka berdua, sama-sama penjahat yang harus dijauhi.
            “Hey tunggu gadis pembunuh!!” Itu teriakkan salah satu dari orang yang mengejarku. Hanya itu yang kudengar saat berbelok di tikungan yang aku rasa semakin jauh dengan rumahku. Nafasku mulai tersengal-sengal. Jika aku kembali, tangga menuju tali gantungan eksekusi sudah siap menanti. Aku takut tapi aku tidak bergidik sedikitpun.
            “Hey kita jumpa lagi.” Ucap mereka di depan wajahku tiba-tiba. Aku menjerit dan mungkin saat itu kesadaranku hilang. Apa yang aku lakukan? Apa yang selanjutnya terjadi, aku tidak tahu. Aku kembali lupa. Semua terjawab saat aku bangun.
                                                                            ***
            Aku sudah lupa bagaimana pelukan keluarga dan apa itu keluarga. Rasa sakit mungkin lebih baik dan menyenangkan daripada rasa kesendirian dan perlahan disingkirkan. Sebuah jawaban yang kucari bagai jarum dalam jerami.
            Aku juga manusia. Apa aku harus selalu bahagia atas kesendirianku? Aku juga ingin mereka mengerti bahwa aku mulai bosan. Setiap kupejamkan kedua mataku, aku selalu melihat selingkup manusia yang tertawa sinis dan semakin lama semakin menjauh.
            Tuhan, salahkan jika aku marah dengan mereka semua. Marah dan menatap mereka dengan perasaan terlarang seperti mereka menatapku?, keluhku dalam hati.
            “Selamat sore Jedi.” Sapa suster Kenny. Duduk berdua di balkon sambil memandang matahari tenggelam, begitu sederhana ditambah secangkir teh seperti biasa, sangat menyenangkan.
            “Suster, kenapa kau terus datang kemari? Di rumah sakit kemarin, aku mendengar bahwa kau sebenarnya dilarang untuk merawatku. Suster, aku tidak akan melarangmu untuk menjauhiku. Aku tahu kalau berada di dekatku mungkin kau akan celaka.” Aku kembali hanya memandang dingin uap dicangkir yang mulai menipis. Suster Kenny mulai meyakinkanku, sedikit menenangkanku.
            Dia berkata padaku, “Kamu harus meyakini satu hal terpenting di dunia ini. Percayalah Jed, entah di dunia ini dimana tempatnya, yang jelas ada seseorang yang sedang menunggumu dan akan menemuimu di waktu yang tepat.” Aku ingin yakin dengan perkataan suster Kenny tapi hal terkutuk itu membuat keyakinanku gugur perlahan.
            “Suster, apa kau tahu apa yang aku lakukan tempo hari? Apakah ada seseorang yang menceritakannya padamu? Ya, tentang aku jelasnya.” Telinga kupasang lekat-lekat. Terus menunggu sampai suster Kenny mau membuka mulutnya. Aku tak pernah mengulang pertanyaanku ke dia. Jika dia mau menjawab pertanyaanku dengan ikhlas, tanpa aku mengulang dia pasti menjawab. Itu yang aku pahami.
            “Suster menyerah. Baiklah akan suster katakan. Ya, sejak kemarin banyak orang yang membicarakanmu dan aku juga tentunya. Mereka mengatakan bahwa aku sudah gagal menjadi suster pendampingmu. Tapi itu bukan masalah buatku, karna mereka tidak pernah mengenalmu, akulah yang tahu bagaimana dirimu.”
            “Sedangkan tentangmu. Kamu mungkin sudah bisa menebak atau merasakannya. Bella dan salah satu dari orang yang mengejarmu baru saja meninggal. Mereka berdua sama-sama dirawat rumah sakit tempat tetangga suster bekerja. Bella sempat koma dan akhirnya meninggal, sementara penjahat itu baru menginap sehari tapi dia langsung meninggal. Maaf Jed, hanya itu yang suster tahu.” Jelasnya ringkas.
            “Jadi benar aku yang membunuh mereka?”
            “Mungkin tapi kurasa tidak. Dalam masalah Bella, mungkin saat itu kamu lepas kendali, jiwamu yang lain yang menguasaimu. Rasa itu sudah menguasaimu saat kamu marah dan akhirnya kamu lampiaskan ke orang yang pertama kali kamu temui, dan itu Bella. Sedangkan penjahat itu, mungkin kamu ketakutan dan melakukan apa saja untuk melindungi diri dan kurasa itu wajar.”
            “Aku mau istirahat.” Ucapku pelan. Kursi kayu kudorong sedikit menjauh dari meja. Aku bangkit dan berjalan lesu ke atas ranjang. Aku tahu suster Kenny masih duduk disana, sendiri. “Suster Kenny, aku minta maaf. Aku mau istirahat, kalau suster ingin pulang atau tetap ingin disini terserah.” Ucapku lagi sebelum menarik selimut.
                                                                            ***
            Baiklah aku mengerti. Di dunia ini aku hanya sekedar barang rongsok, jadi mungkin aku patut menyimpan perasaan itu selamanya. Saat melihat segerombol pemuda yang sepertinya baru selesai berkelahi melewati jalan depan rumah, aku sangat senang. Bukan karna laki-laki yang sepertinya ketua geng itu terlihat manis tapi karna persahabatan mereka. Tawa mereka bersama begitu menyenangkan. Seandainya aku bisa. “Hahhh, kata seandainya itu sangat indah tapi memberi harapan yang terkadang menyakitkan.” Gumamku.
            Aku ingin bergandeng tangan dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Mungkin aku tidak akan merasakan hal itu, hal yang sangat menyiksa dan menekanku dalam penderitaan yang menyebalkan. Hanya kesendiriankah pelita dalam gelapku? Aku butuh cahaya yang dapat membakar perasaan kecewa ini.
            Saat ketakutanku muncul aku hanya bisa diam. Mungkin sekarang aku mengerti hal apa yang mengganggu pikiran bahkan jiwaku. Jawaban yang kuinginkan sedikit kutemukan, alasan yang membuatku memiliki perasaan itu. Rasa inginku yang terlalu besar untuk berada di tengah-tengah mereka, menjadi orang normal, dan dipandang dengan tatapan hangat layaknya orang lain. Keinginan sederhana tapi tak pernah kudapatkan itulah alasannya.
            Saat perasaan itu menekanku, diriku yang lain akan muncul. Menghancurkan semuanya, seperti hewan buas yang mengejar mangsanya– tak terkendali. Baru saat aku sadar, tanganku penuh luka, darah, dan terlebih manusia yang belum kukenal. Seperti kata suster Kenny, aku bahkan pernah meninggalkan orang yang sudah aku aniaya begitu saja. Sebenarnya ada apa dengan jiwaku?
            Saat lampu-lampu rumah sudah mulai dimatikan, aku mencoba keluar layaknya pencuri. Mengendap-endap saat turun ke pintu dasar. Berjalan sendiri melewati deretan lampu jalan berwarna kuning. Aku ingin ke rumah suster Kenny.
            “Kalau diriku yang lain datang, aku harap itu di rumah suster Kenny. Karena kalau sampai ada apa-apa aku bisa dikirim ke penjara.” Gumamku sambil memainkan kuku tanganku yang mulai panjang.
            “Selamat malam suster.” Kataku setelah suster Kenny membuka pintu. Dia tampak kaget melihatku ada di depan rumahnya.
            “Apa aku mengganggumu suster?” Wanita berambut pendek itu menggeleng, setengah tersenyum dan mempersilahkanku masuk dengan ramah.
            “Ada yang ingin kamu ceritakan? Atau sekedar bertanya suatu hal?”
            “Suster, aku mulai mengerti dengan perasaan terlarang itu. Perasaan yang tidak boleh aku sebutkan namanya, seperti katamu dulu.”
            “Lalu?” suster Kenny membenarkan posisi duduknya lebih serius di depanku. Aku harap kejiwaanku tidak berubah disini.
            “Aku ingin lepas dari rasa kesendirian. Aku sangat mengerti apa itu kesepian, apa itu penderitaan. Suster, aku bosan, lelah, bahkan aku sempat mengutuk mereka. Ahh bukan, bukan mereka yang aku kutuk tapi tatapan mereka, sikap mereka saat memandangku dan menjauhiku. Mungkin yang ada di otak mereka, aku hanyalah pembunuh yang berkeliaran dan mengancam nyawa mereka.”
            “Bukan hanya itu, kadang aku merasakan hal yang sama dengan diriku sendiri. aku tidak suka dengan diriku yang terkurung. Aku selalu marah dengan diriku yang terlahir dengan kejiwaan ganda seperti ini.” Lanjutku. Suster Kenny menarik punggungnya dan menyandarkan ke sofa. Keheningan terjadi diantara kami dan entah kenapa hanya kejadian ini yang aku ingat, sesaat setelah aku mendengar suara lonceng aku langsung melemparkan cangkir milikku ke kepala suster Kenny. Bukan hanya itu, aku juga memukulnya bertubi-tubi, menarik rambutnya dan menggeretnya ke dapur. Aku seolah sadar melakukannya tapi aku tidak bisa menghentikannya. Suster Kenny memberontak dengan kuat, dia terus berbicara tapi tak ada satu katapun yang bisa kuingat. “Maafkan aku suster. Aku minta maaf.” Itu kalimat terakhirku saat melihat suster Kenny terbaring dengan lumuran darah di dekat buffet coklat. Aku bingung. Aku takut. Saat itu, aku hanya berlari ke pojok samping kulkas tanpa melakukan apapun.
                                                                            ***
            Masa muda yang penuh keresahan, tak meyakinkan. Berlari dari kehidupan, itu yang kuinginkan. Tapi, sekalipun tidak akan pernah kehidupan membiarkan aku menang. Melakukan sesuatu tapi berulang kali selalu gagal dan tatapan menyedihkan itu yang akan kuterima akhirnya.
            Suster Kenny adalah orang yang baik hati. Dialah satu-satunya orang yang mau menyayangiku. Bagiku dia lebih berharga dari orang tuaku sendiri. Pesan yang terakhir kali kuingat setelah kejadian buruk itu, Hidup bukan seperti permainan yang bisa dikembalikan saat kalah. Tidak peduli betapa sulitnya hidupmu, betapa sedihnya dirimu dan betapa kemalangan sangat memihakmu. Kamu tidak boleh lari. Yakinlah Jed, kalau kamu mampu mengalahkan kejamnya waktu.
            Aku mengerti apa yang mereka sembunyikan. Sebuah ketakutan besar saat berpapasan denganku. Bukankah mereka juga memiliki hati yang sama denganku? Apakah yang akan mereka rasakan sama denganku? Rasa yang sama jika posisi kami berpindah. Aku sudah berhenti mencari jawaban. Tapi jujur, sekarang aku belum bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan. Tetap menyimpan perasaan terlarang ini atau berusaha menerima perlakuan mereka? [ ]
                                                                            ***
            “Suster Kenny, apakah Anda sudah selesai makan siang? Jika sudah, bisa bantu saya sebentar?”
            “Baiklah, sebentar lagi saya ke ruangan Anda.” Suster Kenny membenarkan seragamnya, menutup notes coklat dan memasukkannya ke dalam saku seragam. Sementara potongan koran terbitan bulan lalu masih dibawanya kemana-mana. Sebuah artikel tentang kematian akibat kecelakaan mobil yang menabrak pohon. Mobil itu terlanjur menabrak sebelum gadis itu sempat menghindar.
            “Kekuatan terbesar kita adalah memilih. Jed, kamu telah memilih jalan hidupmu. Aku rasa meskipun kamu menyimpan perasaan itu tapi kamu tidak pernah berniat menunjukkannya, semua yang kamu lakukan selalu diluar kesadaranmu. Jadi aku rasa, kamu akan bahagia meskipun cara kepergianmu tragis. Aku akan merindukan seorang pasien sepertimu Jed.”

*******
           


Tidak ada komentar: