Suatu hari di dunia yang mulai dingin,
aku pernah berpikir dengan otakku yang kurasa mulai berkarat. Awalnya aku pikir
ini berlebihan, tapi kurasa tidak. Aku hanya ingin keluar dari penjara yang
dingin, membuatku susah untuk sekedar memejamkan mata sesaat. Lari dari kejaran
malam dan akhirnya pandanganku jatuh keluar jendela. Aku juga ingin terbang
seperti mereka, mengepakkan sayap dengan sempurna.
Sudah berapa banyak
cahaya pagi yang menembus tirai jendela? Semuanya kuhitung dengan ke sepuluh
jariku. Dan aku lupa sudah berapa ratus kali aku memutarnya. Langit pagi memang
lebih indah daripada langit malam yang penuh bintang. Bintang malam yang
kulihat, apa bisa kembali lagi besok? Kalimat yang indah bukan? Siapa yang tahu
tentang hari esok, akan seperti apakah hari esok? Mungkin aku harus tertawa,
tertawa karna aku telah menghabiskan hari-hari yang aku tidak pernah tahu
seperti apa hari yang kulalui itu.
Saat aku memanggil
suster Kenny dari samping pintu kamarku, dengan hati-hati dia melangkah. Suara
sepatu vantofel semakin keras. Di depan
ruang istirahatku, aku menyerahkan gelas air minum yang sudah kosong dan
beberapa hasil lukisanku.
“Ini hasil lukisanmu
lagi?” Tanyanya padaku. Suaranya lembut. Aku mengira itu jauh lebih lembut dari
salju yang turun tahun lalu. “Iya.”
“Suster, aku ingin kau
mengambilnya lagi. Disini sudah terlalu banyak lukisan. Tapi maaf Suster, dari
awal melukis sampai sekarang, aku belum tahu apa yang aku gambar.” Lanjutku.
Suster Kenny menjauhkan lukisanku dari dadanya. Mengamat-amati dan kemudian
tersenyum.
“Mungkin ini abstrak. Boleh suster
masuk? Suster mau lihat lukisanmu yang lain.” Aku sedikit menyingkir dari
pintu. Suster Kenny masuk, memandang seluruh bagian kamarku. “Jed, kamu simpan
dimana lukisanmu? Kamarmu terlalu rapi untuk itu.”
“Diatas tempat tidur.”
Beberapa saat setelah aku mengatubkan mulutku kembali, pandangan suster Kenny
jelas mengikuti informasiku. Ada rasa kaget yang muncul dan hilang terganti
oleh senyuman lalu meminta ijin untuk pergi– kembali bekerja.
Melodi yang biasa
mengalun dari radio kecilkku, kini sudah menghilang. Bolehkah aku mengutuk rasa
kesepian ini? Bolehkah? Hal itu.. Perasaan itu.. Gejolak itu.. Kemurkaan dari
kumpulan emosi itu sekalipun tak bisa kutunjukan lewat kata-kata yang tersusun
rapi. Tanganku berdarah dan penuh luka. Tanpa ada tangisan. Harapanku, aku
lebih kuat daripada mereka.
***
“Selamat
pagi Jedi. Apa kamu merasa lebih baik hari ini?” Kata suster Kenny dari samping
ranjangku.
“Baik.
Apa aku boleh pulang hari ini?” Aku harap jawaban iya yang kuterima.
“Hmm..
Bagaimana ya? Baiklah, kamu boleh pulang. Tapi jangan lupa minggu depan kembali
kemari ya, hanya sekedar check up
rutin. Janji?” Aku menggangguk.
Kutinggalkan
bagunan itu. Masih sama seperti sebelumnya, pohon itu pun belum juga meninggi.
Aku ragu. Di koridor Rumah Sakit, matahari masih memanggang bumi. Musim gugur
yang berbeda. Aku ingin segera ada salju yang turun agar aku bisa bersembunyi
dibalik salju dan membekukan diri. Kecepatan kakiku masih sama dan aku belum
berniat menambah kecepatannya karna mereka belum datang dan menghujatku.
Telapak tangan yang hangat, kurasa sebentar lagi akan berubah. Genggaman
tangan? Apa itu? Sedetikpun aku tak mengerti. Apakah saat orang yang telah digenggam
tangannya akan bahagia? Bila iya, aku ingin mencobanya.
Sedikit
mendongak. Dedaunan yang gugur begitu menenangkan saat menyentuh wajah. Berdiri
sejenak disini cukup menyenangkan. Tapi mereka sudah datang. Aku sangat malas
melihat pandangan mereka. Tatapan menyedihkan yang ditujukan untukku. Sebegitu
menyedihkannyakah aku? Apa aku harus membunuh mereka? Aku bosan. Aku terlalu
lelah menempuh jalan berbahaya ini sendirian. Aku tidak suka dengan mata-mata
menjijikan itu. Penyakitku? Aku selalu merasakan hal itu berkecambuk setiap aku
teringat penyakitku. Apakah tidak ada pilihan lain selain menjadi seorang
pembunuh?
“Selamat
pagi.” Sapaku sekedarnya. Kutarik sudut bibirku berat. Membentuk huruf ‘U’
lebih besar. “Siapa kamu?” ucapan itu yang aku terima pertama kali dari empat
remaja yang baru saja lewat.
“Bella,
apa yang kamu katakan? Apa kamu mau …” Gadis itu menghentikan ucapannya dan
beralih berbicara denganku. Suaranya sedikit bergetar, berbeda dengan saat dia
bicara dengan temannya.
“Bukan
masalah.” Itu jawabanku atas perkataannya,
“Maaf.
Bella bukan bermaksud seperti itu. Hanya saja dia belum mengenalmu.” Kulanjutkan
jalanku– meninggalkan mereka berempat yang kuperhatikan perlahan bergerak
menjauh dariku. Saat aku yakin kami sudah saling beradu punggung, samar aku
mendengar perkataan mereka. ”Dia orang aneh. Jangan sampai kamu punya masalah
dengannya atau nyawamu taruhannya.” Kurasa suara itu sama dengan suara gadis
yang berkata’ maaf’ tadi.
Gagang
pintu sedikit kutarik ke atas baru kudorong. Lampu belum menyala. Jelas saja,
tidak akan ada orang yang berani masuk kemari selain aku dan suster Kenny.
Cermin itu sudah sulit untuk bercermin. Retakkan membuat bayangan benda menjadi
kacau. Duduk di ranjang sambil mengarah ke cermin. Siapa diriku yang
sebenarnya? Apakah aku seorang monster? Berganti posisi, aku duduk tegap, tanpa
berkedip aku terus melihat diriku yang semakin lama membuatku takut. Ada yang
berbeda dan mengerikan dalam diriku. Benarkah?
Seingatku,
aku meraih gelas kaca dan melemparkannya ke cermin itu lagi. Retakkan semakin
menjadi, tapi aku tidak peduli. Kuhantamkan satu pukulan ke cermin sekali. Atau
tepatnya sekali lagi bukan sekali. Aku lupa, sudah berapa banyak atau memang
ini yang pertama? Tapi kenapa retakan itu sangat banyak? Dan yang mengganggu
pikiranku, setelah aku menjerit sekencang-kencangnya– aku lupa. Saat aku
bangun, gadis itu sudah di depanku.
Gadis yang dipanggil dengan nama Bella tempo hari.
***
“Suster
apa aku boleh bercerita?”
“Silahkan.”
Ujarnya lembut. Aku diam, menunggu suster Kenny selesai menuangkan teh hangat
di cangkir kecilku. Sudah cukup lama hari berganti. Lagi-lagi gelap datang,
tapi mungkin ini lebih baik.
“Suster,
apakah kau tahu awal dari penyakitku ini? Apakah ini turunan?” Aku ingin tahu
sebuah jawaban yang bisa menenangkanku saat emosiku meluap. Suster Kenny
melarangku mengucapkan kata itu, meskipun hanya dalam hati.
“Aku
menemukanmu di bawah pohon willow.
Darah begitu banyak keluar dari perutmu. Saat itu aku pikir kamu adalah korban
perampokan atau sejenisnya. Tapi kurasa bukan. Aku membawamu ke rumah sakit dan
akhirnya aku tahu itu bukan kriminalitas.”
“Lalu
aku siapa? Apa aku punya keluarga?”
“Maaf,
Jed. Aku tidak tahu. Tapi aku rasa, ini bukan penyakit tapi ini efek dari suatu
hal yang pernah terjadi di kehidupanmu sebelum aku menemukanmu. Percayalah Jed,
aku bicara jujur.” Lanjutnya. Gelasku masih menguap dengan jelasnya, sementara
milik suster Kenny sudah setengah kosong. Aku hanya diam, menatap isi gelas itu
lekat-lekat seolah ada hal menarik yang kudapatkan darinya.
“Istirahatlah
Jed, aku akan kembali besok.” Suara sepatunya menipis di turunan tangga. Sungguh
aku ingin mengucapkan satu kata terlarang itu. Di sandaran kusen jendela aku
ingin mengirim sebuah pesan pada malaikat. Ahh bukan, mungkin malaikat juga
malas menemuiku. Aku iri, aku marah, aku kecewa. Dan terlebih aku takut untuk
kembali keluar. Sejak saat itu, sejak
kutemukan Bella dihadapanku, nyaliku ciut untuk keluar saat siang.
Mungkin
saat orang sudah terlelap dalam tidur aku baru berani bermain dengan dunia.
Itupun jika dunia mau bermain denganku. Menggelikan. Ya, saat hari berakhir aku
baru berani membuka mata untuk menatap gelap malam.
“Hey
ada yang mau berteman denganku?” Bisikku di atas balkon kamar.
“Hey,
ada yang bisa mendengar suaraku?” Ulangku. Jangankan suara sahutan, mungkin
hempasan angin yang baru saja menerpa wajahku hanya datang untuk sekedar menghina.
Aku selalu kembali ke duniaku yang menyedihkan. Perasaan yang menyiksa.
Perasaan yang selalu muncul saat keinginan untuk berteriak kepada dunia sangat
besar. Seperti saat ini.
Malam
sudah semakin larut, detik jam 12 baru saja berganti. Kota ini sepi, apa dunia
mulai memihakku? Memihak kesendirianku. Kutendang kaleng kosong yang tergeletak
begitu saja. Suara lonceng berdentang begitu kencang. Aku berhenti dibawah
pohon yang semakin jelas terlihat batang rantingnya. Satu demi satu daun jatuh.
Sebenarnya untuk apa dan demi siapa aku
hidup? Toh aku hanya manusia yang terbuang, kan? Dua laki-laki jahat
mendekatiku. Kenapa hanya orang jahat yang berani mendekatiku? Kemana semua
orang yang mengaku dirinya baik? Terlebih keluargaku.
“Ada
apa?” Hanya itu kata pertama yang terlontar dari mulutku.
“Mau
kami temani?” Tawarnya dengan senyuman aneh.
“Terima
kasih. Saya baik-baik saja meski sendiri. Jadi silahkan anda berdua pergi.” Aku
ini pemberani atau memang akan ada yang melindungiku nanti. Sesentipun aku
tidak bergerak. “Dasar gadis jual mahal! Kenapa kau menolak tawaran kami? Apa
karna kau seorang pembunuh?” Suara teriakkan mereka sangatlah nyaring. Lebih
nyaring dari suara lonceng yang baru saja berhenti berdentang.
“Jangan
mendekat!!!” Teriakku sesaat setelah mereka berdua berada lebih dekat denganku
dari tempat semula, lengkap dengan pisau lipat miliknya. Sekuat tenaga, kudorong
mereka berdua, berlari dan terus berlari. Dari pintu ke pintu kugedor dan
kebanyakkan dari mereka hanya mengintip dari balik tirai jendela dan tidak
membuka pintu. Bagi mereka mungkin aku sama dengan mereka berdua, sama-sama
penjahat yang harus dijauhi.
“Hey
tunggu gadis pembunuh!!” Itu teriakkan salah satu dari orang yang mengejarku.
Hanya itu yang kudengar saat berbelok di tikungan yang aku rasa semakin jauh
dengan rumahku. Nafasku mulai tersengal-sengal. Jika aku kembali, tangga menuju
tali gantungan eksekusi sudah siap menanti. Aku takut tapi aku tidak bergidik
sedikitpun.
“Hey
kita jumpa lagi.” Ucap mereka di depan wajahku tiba-tiba. Aku menjerit dan
mungkin saat itu kesadaranku hilang. Apa yang aku lakukan? Apa yang selanjutnya
terjadi, aku tidak tahu. Aku kembali lupa. Semua terjawab saat aku bangun.
***
Aku
sudah lupa bagaimana pelukan keluarga dan apa itu keluarga. Rasa sakit mungkin
lebih baik dan menyenangkan daripada rasa kesendirian dan perlahan disingkirkan.
Sebuah jawaban yang kucari bagai jarum dalam jerami.
Aku
juga manusia. Apa aku harus selalu bahagia atas kesendirianku? Aku juga ingin
mereka mengerti bahwa aku mulai bosan. Setiap kupejamkan kedua mataku, aku
selalu melihat selingkup manusia yang tertawa sinis dan semakin lama semakin
menjauh.
Tuhan, salahkan jika aku marah dengan mereka
semua. Marah dan menatap mereka dengan perasaan terlarang seperti mereka
menatapku?, keluhku dalam hati.
“Selamat
sore Jedi.” Sapa suster Kenny. Duduk berdua di balkon sambil memandang matahari
tenggelam, begitu sederhana ditambah secangkir teh seperti biasa, sangat
menyenangkan.
“Suster,
kenapa kau terus datang kemari? Di rumah sakit kemarin, aku mendengar bahwa kau
sebenarnya dilarang untuk merawatku. Suster, aku tidak akan melarangmu untuk
menjauhiku. Aku tahu kalau berada di dekatku mungkin kau akan celaka.” Aku kembali
hanya memandang dingin uap dicangkir yang mulai menipis. Suster Kenny mulai
meyakinkanku, sedikit menenangkanku.
Dia
berkata padaku, “Kamu harus meyakini satu hal terpenting di dunia ini. Percayalah
Jed, entah di dunia ini dimana tempatnya, yang jelas ada seseorang yang sedang
menunggumu dan akan menemuimu di waktu yang tepat.” Aku ingin yakin dengan
perkataan suster Kenny tapi hal terkutuk itu membuat keyakinanku gugur
perlahan.
“Suster,
apa kau tahu apa yang aku lakukan tempo hari? Apakah ada seseorang yang
menceritakannya padamu? Ya, tentang aku jelasnya.” Telinga kupasang
lekat-lekat. Terus menunggu sampai suster Kenny mau membuka mulutnya. Aku tak
pernah mengulang pertanyaanku ke dia. Jika dia mau menjawab pertanyaanku dengan
ikhlas, tanpa aku mengulang dia pasti menjawab. Itu yang aku pahami.
“Suster
menyerah. Baiklah akan suster katakan. Ya, sejak kemarin banyak orang yang
membicarakanmu dan aku juga tentunya. Mereka mengatakan bahwa aku sudah gagal
menjadi suster pendampingmu. Tapi itu bukan masalah buatku, karna mereka tidak
pernah mengenalmu, akulah yang tahu bagaimana dirimu.”
“Sedangkan
tentangmu. Kamu mungkin sudah bisa menebak atau merasakannya. Bella dan salah
satu dari orang yang mengejarmu baru saja meninggal. Mereka berdua sama-sama
dirawat rumah sakit tempat tetangga suster bekerja. Bella sempat koma dan
akhirnya meninggal, sementara penjahat itu baru menginap sehari tapi dia langsung
meninggal. Maaf Jed, hanya itu yang suster tahu.” Jelasnya ringkas.
“Jadi
benar aku yang membunuh mereka?”
“Mungkin
tapi kurasa tidak. Dalam masalah Bella, mungkin saat itu kamu lepas kendali,
jiwamu yang lain yang menguasaimu. Rasa itu sudah menguasaimu saat kamu marah
dan akhirnya kamu lampiaskan ke orang yang pertama kali kamu temui, dan itu
Bella. Sedangkan penjahat itu, mungkin kamu ketakutan dan melakukan apa saja
untuk melindungi diri dan kurasa itu wajar.”
“Aku
mau istirahat.” Ucapku pelan. Kursi kayu kudorong sedikit menjauh dari meja.
Aku bangkit dan berjalan lesu ke atas ranjang. Aku tahu suster Kenny masih
duduk disana, sendiri. “Suster Kenny, aku minta maaf. Aku mau istirahat, kalau
suster ingin pulang atau tetap ingin disini terserah.” Ucapku lagi sebelum
menarik selimut.
***
Baiklah
aku mengerti. Di dunia ini aku hanya sekedar barang rongsok, jadi mungkin aku
patut menyimpan perasaan itu selamanya. Saat melihat segerombol pemuda yang
sepertinya baru selesai berkelahi melewati jalan depan rumah, aku sangat
senang. Bukan karna laki-laki yang sepertinya ketua geng itu terlihat manis
tapi karna persahabatan mereka. Tawa mereka bersama begitu menyenangkan.
Seandainya aku bisa. “Hahhh, kata seandainya itu sangat indah tapi memberi
harapan yang terkadang menyakitkan.” Gumamku.
Aku
ingin bergandeng tangan dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Mungkin aku tidak
akan merasakan hal itu, hal yang sangat menyiksa dan menekanku dalam penderitaan
yang menyebalkan. Hanya kesendiriankah pelita dalam gelapku? Aku butuh cahaya
yang dapat membakar perasaan kecewa ini.
Saat
ketakutanku muncul aku hanya bisa diam. Mungkin sekarang aku mengerti hal apa
yang mengganggu pikiran bahkan jiwaku. Jawaban yang kuinginkan sedikit
kutemukan, alasan yang membuatku memiliki perasaan itu. Rasa inginku yang
terlalu besar untuk berada di tengah-tengah mereka, menjadi orang normal, dan
dipandang dengan tatapan hangat layaknya orang lain. Keinginan sederhana tapi
tak pernah kudapatkan itulah alasannya.
Saat
perasaan itu menekanku, diriku yang lain akan muncul. Menghancurkan semuanya,
seperti hewan buas yang mengejar mangsanya– tak terkendali. Baru saat aku
sadar, tanganku penuh luka, darah, dan terlebih manusia yang belum kukenal.
Seperti kata suster Kenny, aku bahkan pernah meninggalkan orang yang sudah aku
aniaya begitu saja. Sebenarnya ada apa dengan jiwaku?
Saat
lampu-lampu rumah sudah mulai dimatikan, aku mencoba keluar layaknya pencuri.
Mengendap-endap saat turun ke pintu dasar. Berjalan sendiri melewati deretan
lampu jalan berwarna kuning. Aku ingin ke rumah suster Kenny.
“Kalau
diriku yang lain datang, aku harap itu di rumah suster Kenny. Karena kalau
sampai ada apa-apa aku bisa dikirim ke penjara.” Gumamku sambil memainkan kuku
tanganku yang mulai panjang.
“Selamat
malam suster.” Kataku setelah suster Kenny membuka pintu. Dia tampak kaget
melihatku ada di depan rumahnya.
“Apa
aku mengganggumu suster?” Wanita berambut pendek itu menggeleng, setengah
tersenyum dan mempersilahkanku masuk dengan ramah.
“Ada
yang ingin kamu ceritakan? Atau sekedar bertanya suatu hal?”
“Suster,
aku mulai mengerti dengan perasaan terlarang itu. Perasaan yang tidak boleh aku
sebutkan namanya, seperti katamu dulu.”
“Lalu?”
suster Kenny membenarkan posisi duduknya lebih serius di depanku. Aku harap
kejiwaanku tidak berubah disini.
“Aku
ingin lepas dari rasa kesendirian. Aku sangat mengerti apa itu kesepian, apa
itu penderitaan. Suster, aku bosan, lelah, bahkan aku sempat mengutuk mereka.
Ahh bukan, bukan mereka yang aku kutuk tapi tatapan mereka, sikap mereka saat
memandangku dan menjauhiku. Mungkin yang ada di otak mereka, aku hanyalah
pembunuh yang berkeliaran dan mengancam nyawa mereka.”
“Bukan
hanya itu, kadang aku merasakan hal yang sama dengan diriku sendiri. aku tidak
suka dengan diriku yang terkurung. Aku selalu marah dengan diriku yang terlahir
dengan kejiwaan ganda seperti ini.” Lanjutku. Suster Kenny menarik punggungnya
dan menyandarkan ke sofa. Keheningan terjadi diantara kami dan entah kenapa
hanya kejadian ini yang aku ingat, sesaat setelah aku mendengar suara lonceng
aku langsung melemparkan cangkir milikku ke kepala suster Kenny. Bukan hanya
itu, aku juga memukulnya bertubi-tubi, menarik rambutnya dan menggeretnya ke dapur.
Aku seolah sadar melakukannya tapi aku tidak bisa menghentikannya. Suster Kenny
memberontak dengan kuat, dia terus berbicara tapi tak ada satu katapun yang
bisa kuingat. “Maafkan aku suster. Aku minta maaf.” Itu kalimat terakhirku saat
melihat suster Kenny terbaring dengan lumuran darah di dekat buffet coklat. Aku
bingung. Aku takut. Saat itu, aku hanya berlari ke pojok samping kulkas tanpa
melakukan apapun.
***
Masa
muda yang penuh keresahan, tak meyakinkan. Berlari dari kehidupan, itu yang
kuinginkan. Tapi, sekalipun tidak akan pernah kehidupan membiarkan aku menang.
Melakukan sesuatu tapi berulang kali selalu gagal dan tatapan menyedihkan itu
yang akan kuterima akhirnya.
Suster
Kenny adalah orang yang baik hati. Dialah satu-satunya orang yang mau
menyayangiku. Bagiku dia lebih berharga dari orang tuaku sendiri. Pesan yang
terakhir kali kuingat setelah kejadian buruk itu, Hidup bukan seperti permainan yang bisa dikembalikan saat kalah. Tidak
peduli betapa sulitnya hidupmu, betapa sedihnya dirimu dan betapa kemalangan
sangat memihakmu. Kamu tidak boleh lari. Yakinlah Jed, kalau kamu mampu
mengalahkan kejamnya waktu.
Aku
mengerti apa yang mereka sembunyikan. Sebuah ketakutan besar saat berpapasan
denganku. Bukankah mereka juga memiliki hati yang sama denganku? Apakah yang
akan mereka rasakan sama denganku? Rasa yang sama jika posisi kami berpindah.
Aku sudah berhenti mencari jawaban. Tapi jujur, sekarang aku belum bisa
memutuskan apa yang akan aku lakukan. Tetap menyimpan perasaan terlarang ini
atau berusaha menerima perlakuan mereka? [ ]
***
“Suster
Kenny, apakah Anda sudah selesai makan siang? Jika sudah, bisa bantu saya
sebentar?”
“Baiklah,
sebentar lagi saya ke ruangan Anda.” Suster Kenny membenarkan seragamnya,
menutup notes coklat dan memasukkannya ke dalam saku seragam. Sementara
potongan koran terbitan bulan lalu masih dibawanya kemana-mana. Sebuah artikel
tentang kematian akibat kecelakaan mobil yang menabrak pohon. Mobil itu terlanjur
menabrak sebelum gadis itu sempat menghindar.
“Kekuatan
terbesar kita adalah memilih. Jed, kamu telah memilih jalan hidupmu. Aku rasa
meskipun kamu menyimpan perasaan itu tapi kamu tidak pernah berniat
menunjukkannya, semua yang kamu lakukan selalu diluar kesadaranmu. Jadi aku
rasa, kamu akan bahagia meskipun cara kepergianmu tragis. Aku akan merindukan
seorang pasien sepertimu Jed.”
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar