Senin, 03 Maret 2014

Nightmare in Summer



John tersenyum. “Menurutku pelakunya adalah orang yang sama.” Musim panas di Abbeville kali ini jauh lebih membakar. John berdiri di pinggir jendela, mengamati lalu lintas di bawah. Sementara Peter, detektif muda itu jauh lebih bersemangat ketimbang Nick laki-laki berumur sekitar 40 tahun yang sedang jongkok di samping tim forensik.
              “Luar biasa.” Seru Nick menepuk pundak David, ketua tim forensik.
              John berpaling, “Kau menemukan sesuatu?”
              “Perhatikan, sepertinya pelaku sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Dia sangat teliti saat memotong otot-otot tendon. Seperti korban sebelumnya, pelaku membuat korban pingsan, membunuhnya dan baru memotong kaki kanan tepat dilutut.” John berdiri, memutari kursi santai kebelakang meja komputer. Bercak darah belum dibersihkan. Bau amis bercampur dengan asap rokok dan suhu yang panas sangat menyiksa. Sesekali ia menutup hidungnya dengan jari telunjuk atau sapu tangan. “Korban ditikam tepat di daerah jantung. Cara yang tepat untuk mengakhiri sesuatu dengan cepat.”

              “Ya. Sepertinya korban tidak menyadari kedatangan pelaku. Bukankah korban adalah seorang jurnalis lepas?” katanya dengan senyum licik. John seperti melihat dirinya yang dulu ada pada diri Peter. “Kau lihat! Pelaku sangat pintar. Dia tidak ingin ada darah di tubuhnya. Jadi kalau prediksiku benar, dia muncul dari belakang, membekap mulutnya, lalu menusuk jantungnya.” Nick beralih, “Kau benar. Cipratan darah itu sebagai buktinya.”
              David membawa mayat Steven Payton untuk diotopsi lebih lanjut dan berjanji akan memberikan hasilnya secepat mungkin pada Nick, lalu pergi. “Sesuatu yang sebenarnya ada sekarang sudah tidak ada.” seru John tiba-tiba.

              Denzel masih sibuk dengan percobaannya. Di ruang otopsi, ia menghabiskan lebih banyak waktu. Dia terlalu gila dengan pelajaran biologi terlebih tentang tubuh manusia. Pintu kayu terdorong pelan, Annie menyusupkan badan kecilnya, mencari laki-laki berjubah putih yang belum keluar sejak lima jam lalu. “Hey..” Annie mengerjap, membentur kusen pintu. Matanya membulat seketika, “Bisa kau jauhkan benda itu?” suaranya bergetar sambil menunjuk pisau di tangan Denzel dengan jarinya yang panjang.
              Denzel melirik pisau penuh darah ditangannya- meskipun sudah tidak terlalu merah dan tidak segar. “Ahh, maaf, aku baru saja melakukan pembedahan. Belajar untuk tugas akhirku.” Annie mengangguk dengan wajah pucatnya. “Ada apa?” tanya Denzel.
              “Tidak, aku hanya ingin memberikanmu ini. Acara ulang tahunku.” Menyerahkan undangan pestanya. “Aku pasti akan datang.”
              “Aku harap begitu.”
                                                                  ***
              Scott Parker dan Steven Payton- dua nama yang menjadi berita di halaman pertama The Chanticleer. Dua korban pembunuhan sadis. Dibalik meja kerjanya, Nick menghisap cerutu kuba dan segelas alkohol lengkap dengan es batunya. Membuka kembali buku catatan dan hasil laporan dari David beberapa hari lalu. Mempelajari satu persatu yang diharapkannya bisa menjadi petunjuk. Dia sedang melawan pembunuh yang cerdas. Dua kali pembunuhan yang dilakukannya, tidak sedikitpun meninggalkan jejak. Semua terlalu rapi, sangat rapi.

              “Apa kau tidak ingin berdansa?” celetuk Selina dengan senyuman ringan dibibirnya. Annie menoleh ke balutan perban dikaki kanannya, lalu membalas senyuman Selina masam.
              “Kau lupa dengan kakiku?”
              “Kalau begitu pergilah dengannya. Aku tidak ingin sahabatku yang sedang berulang tahun ini semakin terluka karna memikirkan kakinya yang patah.” Selina melirik kearah Denzel yang terlihat lebih tampan, berdiri dengan segelas martini di tangannya. “Kau dengan Denzel. Aku yakin dia bukan laki-laki seperti Samuel yang membuatmu seperti ini.”
              Annie tersenyum, meraih segelas martini dan berlalu menemui Denzel. Dress hitam selutut dengan belahan dada tidak terlalu lebar. Otot pundaknya yang kuat akibat sering menari terlihat jelas, tulang leher dihiasnya dengan kalung berliontin kecil. Tampak manis. Denzel menoleh. Mulutnya sedikit terbuka tapi segera ia katupkan saat menyadari Annie semakin mendekat. Mereka pergi ke beranda lantai dua. Hanya mereka berdua di sana, sementara yang lain sibuk dengan hidangan pesta di dalam.
              “Selamat ulang tahun.” Kecanggungan yang sempat menyergap mereka berdua berlahan mulai hilang, begitupun jarak diantara mereka. Annie menoleh dan tersenyum sekilas, lalu kembali menatap jalan setapak di bawah. “Terima kasih kau sudah datang,”
              “Aku sudah bilang akan datang.” Wajah yang awalnya ceria perlahan berubah sedih. Denzel tidak tahan melihatnya. Ia ingin menghukum orang yang sudah membuat gadis yang diam-diam dicintainya menderita. Denzel meletakan gelasnya di pinggir. Wajah gadis itu memanas ketika kedua lengan Denzel melingkar di pinggangnya. Denzel memeluknya. Dagu laki-laki itu menyentuh lembut kepala bagian atas Annie.
              “Maaf. Aku hanya tidak ingin kau bersedih saat ini.” Samar-samar Annie tersenyum,
              “Tidak. Seharusnya aku berterima kasih padamu karena sudah mengkhawatirkanku.” Balasnya dengan suaranya yang lebih dalam. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan orang yang aku cintai.
                                                                  ***
              Pagi sepertinya datang lebih awal. Si pembunuh sudah menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting beberapa hari lalu. Di rumah tua yang lebih pantas disebut sebagai markas rahasianya, ia menyusun strategi selanjutnya. Daftar nama korban selanjutnya sudah disiapkan.
              Aku akan membuat ini lebih cepat.
              Membaca The Chanticleer sekilas, memastikan media masih membutuhkan bantuannya untuk melariskan koran-koran mereka. Tangan kanannya sibuk menyusun petunjuk baru. Petunjuk yang sama seperti yang dia gunakan pada saat pembunuhan pertama selesai. Kali ini ia hanya menulis angka 6– untuk dikirimkan hari ini. Dan deretan angka yang lebih banyak, dua hari dari sekarang.
                                                                  ***
              Baru kali ini Annie melihat ayahnya begitu kesal saat menangani sebuah kasus. Bukan seperti biasanya. John­– seorang kepala polisi yang bisa membedakan mana pekerjaan dan keluarga– tiba-tiba mencampuradukan begitu saja. Annie dan Selina hanya duduk sambil terus menatap orang di seberang mereka dengan cemas. “Bukan tentang tindakan kriminal ini sadis atau bukan. Yang jadi permasalahannya adalah pelaku berusaha mempermainkan kami. Dan menggunakan nyawa manusia sebagai alatnya.”
              “Apa benar yang ditulis di koran kalau pembunuh itu memotong kaki kanannya?” John berdeham. Merebahkan punggungnya ke sofa sambil sesekali menekan tulang hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit. “Dia sangat ahli. Pembunuh yang cerdas.” Ponselnya berdering, Peter Magee- nama yang muncul di layar ponsel. “Halo..”
              “Bisakah Anda datang kemari sekarang? Ada yang ingin kami diskusikan dengan Anda, Kepala Polisi.” Lalu panggilan putus begitu saja seolah memang tidak ada hal yang perlu dikatakan lagi. John beranjak, meraih kunci mobil di atas meja dan segera pergi.

              Detektif tua itu mulai menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 2 Agustus, ia menerima surat yang berisi angka 6. Sama seperti surat yang dia terima 2 hari setelah pembunuhan Scott Parker, korban pertama. Nick mengeluarkan kedua surat yang sempat dibuangnya karna menganggap itu hanya keisengan anak kecil. Tapi setelah terjadi pembunuhan kedua, Nick berusaha mendapatkan kedua kertas itu lagi dan untungnya berhasil.
              Ia melanjutkan, ia membuka buku catatannya. Peter dan John terperangah melihat susunan angka yang sama sekali tidak mereka mengerti. Nick batuk sekali, entah itu karna tenggorokannya yang memang gatal atau hanya untuk menarik perhatian kedua orang di depannya lagi. Ia menjelaskan bahwa itu adalah susunan yang bisa dibuatnya dari angka 1920522514. John mengambil catatan itu, membawanya lebih dekat dengannya. Sedangkan Peter mengambil secarik kertas, menuliskan deretan angka dan mulai memisahkan dengan garis. Setelah beberapa saat berkutat, Akhirnya Peter mengeluarkan suara, “Apa kau juga menemukan susunan angka 19 – 20 – 5 – 22 – 5 – 14?”
              “Kau hebat bocah. Nick juga menulis susunan itu di baris paling bawah sendiri. Steven.” Ucap John kagum. “Sepertinya keparat itu mempunya motif khusus. Apa kalian sadar bahwa nama korban selalu berinisial S dan P sebagai nama keluarga mereka. Selain itu kaki kanan yang selalu dipotong di bagian lutut tepat di otot tendon mereka dan …”
              “Tanggal lahir dan jenis kelamin mereka. 31 Oktober, laki-laki.” Sambar Nick cepat.
              “Ini jelas bukan suatu kebetulan tapi suatu kesengajaan.” Meskipun mereka sudah menemukan petunjuk, rasa kesal Nick terlihat jelas. Dia berpikir akan mendapatkan kombinasi angka yang mengarah pada nama korban selanjutnya hari ini tapi ternyata tidak. Dalam kasus sebelumnya, si pembunuh mengirim petunjuk sebanyak dua kali. 4 hari sebelum kejadian sebagai kode kapan dia akan melakukan aksinya dan 2 hari setelah itu akan mengirim kombinasi nama korbannya.
                                                                  ***
              “Dia sudah mengirimnya kemarin. Pelaku pasti sengaja memasukan surat lewat celah kayu paling belakang, ditambah ukuran amplop lebih kecil daripada kotak surat Anda. Jadi mungkin Anda tidak menyadari adanya surat itu kemarin. Tapi karena hari ini tangan Anda merogoh terlalu dalam, Anda baru sadar ada surat yang terjepit dan itu dari Si pembunuh.” Jelas Peter. Nick dan John tidak heran dengan kemampuan Peter dalam menganalisis. Ini semua seperti makanan sehari-harinya padahal ia baru berusia 23 tahun– masih sangat muda.
              “Jadi perkiraanku tepat.”
              “Ya!” Mereka bertiga menyusun angka 19112512518 menjadi beberapa kombinasi dengan angka awal 19 yang berarti huruf S. Suara mesin kontruksi di seberang apartement Nick sedikit mengganggu konsentrasi mereka. Hanya dalam beberpa menit mesin itu diam dan meraung kembali bahkan semakin keras.
              “Skyler! Itu dia namanya. Dengan kombinasi 19 – 11 – 25 – 12 – 5 – 18.”
              “Nama macam apa itu? Aneh!” Komentarnya. “Aku tidak peduli. Sekarang kita cari siapa Skyler dengan nama keluarga berawalan P di Abbeville, Alabama, atau bahkan di Amerika Serikat.” Tukas John sambil melirik ke arah Peter. Sialan! Dasar keparat!, umpat John.

              Selina mengarahkan mobilnya ke 415 Kirkland Street, 20 menit perjalanan di bawah cuaca musim panas membuatnya menginjak pedal gas lebih dalam agar cepat sampai ke Money’s Grill, tempat Annie menunggu.
              Bunga-bunga di dalam pot yang menggantung, lampu bergaya klasik, pemilihan warna coklat dan kuning terlihat sederhana tapi menyejukan mata. Tulisan besar The Abbeeville terpampang di pintu masuk. Selina memarkir mobilnya dan segera masuk ke dalam. “Sudah lama?” sapa Selina setelahnya.
              “Aku tadi ada janji dengan Denzel, tapi sepertinya dia terlalu sibuk dengan ujian akhirnya jadi aku memintamu menemaniku. Maaf.”
              “Uhm.. Apa kau menyukainya?” Menarik kursi ke belakang lalu duduk.
              “Maksudmu Denzel? Kurasa iya. Entahlah. Aku masih takut. Aku takut kebodohanku yang dengan mudahnya percaya dengan Sam, laki-laki berengsek itu terulang lagi. Meskipun begitu aku berharap dialah orangnya.”
              “Apa kau pernah merasakan bagaimana hidup sendirian?” Annie diam, terus menatap mata Selina yang sorotnya tiba-tiba berubah dari balik cangkir.
              “Merasa sendirian itu menyakitkan. Tidak akan pernah kau bisa bercerita tentang perasaanmu. Tapi saat kau bertemu seseorang yang menyayangimu, kau akan melindunginya. Karna kau memiliki perasaan sayang yang terlalu besar kepada orang yang sudah membebaskanmu dari kesepian.”
              “Uhm.. Aku tidak mengerti maksudmu.”
              “Kaulah orang. Kau sudah menyelamatkanku dari kesepian. Mengangkatku sebagai saudaramu. Dan itu sebabnya aku tidak ingin kau terluka.”
                                                                  ***
Virginia, 2000
              “Hey Selina apa yang kau lakukan di luar?” Gadis kecil itu menoleh ke belakang, mengacungkan pisau lipat miliknya. “Tidak ada Bu, aku hanya sedang menghukum tikus yang masuk ke kamarku kemarin malam.” Akunya ringan.
              “Kau melakukan itu lagi? Hentikan sekarang juga! Atau Ibu akan menghukummu! Selina dengarkan Ibu!” Dia tidak peduli dan terus memotong ekor tikus menjadi bagian-bagian kecil yang rapi. Salju yang putih perlahan berubah menjadi merah. Setelah tikus– yang melakukan kesalahan karna masuk ke kamar dan mengigit kakinya– itu tergeletak dengan bagian tubuh terpotong-potong, Selina tersenyum puas lalu meninggalkannya begitu saja, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras.

Abbeville, sekarang
              Tidak ada uap sama sekali di mulutnya. Tidak seperti tiga belas tahun lalu saat ia memotong ekor tikus di bawah salju yang turun dengan lebat. Lengkap dengan peralatannya, stun gun, kawat dan pisau daging yang sangat tajam sebagai andalannya. Tapi ada satu alat tambahan yang dia simpan di balik bajunya, Glock 17 kaliber 9mm.
              Di depan pintu 321 Brookhaven, apartemen kelas menengah di 180 State Rd, dia berdiri, memencet tombol bell beberapa kali. Korban membuka pintu. Laki-laki tinggi, tegap, bermata biru itu berdiri di hadapannya dengan wajah menunggu. “Ada paket untuk Anda. Bisa tolong Anda terima dulu paket ini, saya ingin mengambil tanda terima di dalam tas saya.” Tanpa sedikitpun curiga, Skyler Preston mengikuti perkataan petugas di depannya.
              Selina melempar topinya di atas ranjang besar. Setelah menyetrumnya dengan stun gun, ia menyeret korban itu ke kamar mandi lalu menenggelamkannya di bak mandi. Kulit dan matanya mulai membiru. Perasaan aneh menyerang pikiran Selina, ia pun memutuskan untuk mengakhiri nyawa pelajar itu dengan kawat yang sudah ia siapkan. Hanya dalam beberapa menit, jantungnya berhenti berdegub. Saatnya pisau untuk beraksi. Di samping bak mandi, Selina mulai merobek kulit, lalu mulai dengan otot-otot tendon seperti biasanya.
              Hampir selesai tapi seketika pisau di tanganya terlempar ke ujung kamar mandi. Pundaknya berdarah. Meskipun sempat membalas dengan mengeluarkan pistol, tapi karena pundaknya terluka, arah tembaknya pun tidak tepat sasaran. John melawan perasaannya saat menarik pelatuk ke arah Selina. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri adalah pembunuh yang sempat disebutnya sebagai keparat. Emosinya memuncak. Untuk kedua kalinya John melepaskan peluru dari revolver 38 miliknya ke badan Selina. Dua detektif dan polisi yang lain mengamankan tubuh Skyler, pelajar SMA yang sudah tidak bernyawa.
              Tidak ada perubahan raut wajah yang terlihat. Seolah ia tahu ini akan terjadi hari ini. Yang bisa John temukan dibalik matanya yang mulai tertutup karna banyak kehilangan darah hanya kesedihan, kesepihan, dan kemarahan yang dia simpan sendiri.
              “Kau cerdas. Terkadang orang-orang cerdas menyamarkan fakta kalau mereka cerdas. Dan kau menunjukan dengan cara yang salah tapi brilian.” Selina menyeringai pelan mendengan ucapan John.
              “Aku senang. Setidaknya aku bisa membunuh orang yang melukai Annie sebanyak tiga kali– Samuel Pierre, meskipun yang ketiga tidak terlalu sempurna. Terima kasih Ayah.” John menurunkan tanganya, menjatuhkan pistolnya begitu saja setelah mendengan Selina mengucapkan kata ‘ayah’ untuk pertama kali setelah lima tahun Selina diadobsinya.
              “Akan sempurna jika kau tidak memberikan petunjuk.”
              Nick menepuk pundak John pelan. Gadis itu terlihat seolah tersenyum, meskipun tidak ada detak jantung yang bisa John rasakan dalam pelukannya.
***The End***

Tidak ada komentar: