John tersenyum. “Menurutku pelakunya adalah orang yang
sama.” Musim panas di Abbeville kali ini jauh lebih membakar. John berdiri di pinggir
jendela, mengamati lalu lintas di bawah. Sementara Peter, detektif muda itu
jauh lebih bersemangat ketimbang Nick– laki-laki berumur sekitar 40 tahun yang sedang jongkok di samping
tim forensik.
“Luar
biasa.” Seru Nick menepuk pundak David, ketua tim forensik.
John
berpaling, “Kau menemukan sesuatu?”
“Perhatikan,
sepertinya pelaku sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Dia sangat teliti
saat memotong otot-otot tendon. Seperti korban sebelumnya, pelaku membuat
korban pingsan, membunuhnya dan baru memotong kaki kanan tepat dilutut.” John
berdiri, memutari kursi santai kebelakang meja komputer. Bercak darah belum
dibersihkan. Bau amis bercampur dengan asap rokok dan suhu yang panas sangat
menyiksa. Sesekali ia menutup hidungnya dengan jari telunjuk atau sapu tangan. “Korban
ditikam tepat di daerah jantung. Cara yang tepat untuk mengakhiri sesuatu
dengan cepat.”
“Ya. Sepertinya
korban tidak menyadari kedatangan pelaku. Bukankah korban adalah seorang
jurnalis lepas?” katanya dengan senyum licik. John seperti melihat dirinya yang
dulu ada pada diri Peter. “Kau lihat! Pelaku sangat pintar. Dia tidak ingin ada
darah di tubuhnya. Jadi kalau prediksiku benar, dia muncul dari belakang,
membekap mulutnya, lalu menusuk jantungnya.” Nick beralih, “Kau benar. Cipratan
darah itu sebagai buktinya.”
David
membawa mayat Steven Payton untuk diotopsi lebih lanjut dan berjanji akan
memberikan hasilnya secepat mungkin pada Nick, lalu pergi. “Sesuatu yang
sebenarnya ada sekarang sudah tidak ada.” seru John tiba-tiba.
Denzel masih
sibuk dengan percobaannya. Di ruang otopsi, ia menghabiskan lebih banyak waktu.
Dia terlalu gila dengan pelajaran biologi terlebih tentang tubuh manusia. Pintu
kayu terdorong pelan, Annie menyusupkan badan kecilnya, mencari laki-laki
berjubah putih yang belum keluar sejak lima jam lalu. “Hey..” Annie mengerjap,
membentur kusen pintu. Matanya membulat seketika, “Bisa kau jauhkan benda itu?”
suaranya bergetar sambil menunjuk pisau di tangan Denzel dengan jarinya yang
panjang.
Denzel
melirik pisau penuh darah ditangannya- meskipun sudah tidak terlalu merah dan
tidak segar. “Ahh, maaf, aku baru saja melakukan pembedahan. Belajar untuk tugas
akhirku.” Annie mengangguk dengan wajah pucatnya. “Ada apa?” tanya Denzel.
“Tidak,
aku hanya ingin memberikanmu ini. Acara ulang tahunku.” Menyerahkan undangan
pestanya. “Aku pasti akan datang.”
“Aku
harap begitu.”
***
Scott
Parker dan Steven Payton- dua nama yang menjadi berita di halaman pertama The Chanticleer. Dua korban pembunuhan sadis. Dibalik meja kerjanya, Nick
menghisap cerutu kuba dan segelas alkohol
lengkap dengan es batunya. Membuka kembali buku catatan dan hasil laporan dari
David beberapa hari lalu. Mempelajari satu persatu yang diharapkannya bisa
menjadi petunjuk. Dia sedang melawan pembunuh yang cerdas. Dua kali pembunuhan
yang dilakukannya, tidak sedikitpun meninggalkan jejak. Semua terlalu rapi,
sangat rapi.
“Apa kau
tidak ingin berdansa?” celetuk Selina dengan senyuman ringan dibibirnya. Annie
menoleh ke balutan perban dikaki kanannya, lalu membalas senyuman Selina masam.
“Kau lupa
dengan kakiku?”
“Kalau
begitu pergilah dengannya. Aku tidak ingin sahabatku yang sedang berulang tahun
ini semakin terluka karna memikirkan kakinya yang patah.” Selina melirik kearah
Denzel yang terlihat lebih tampan, berdiri dengan segelas martini di tangannya.
“Kau dengan Denzel. Aku yakin dia bukan laki-laki seperti Samuel yang membuatmu
seperti ini.”
Annie
tersenyum, meraih segelas martini dan berlalu menemui Denzel. Dress hitam
selutut dengan belahan dada tidak terlalu lebar. Otot pundaknya yang kuat
akibat sering menari terlihat jelas, tulang leher dihiasnya dengan kalung
berliontin kecil. Tampak manis. Denzel menoleh. Mulutnya sedikit terbuka tapi
segera ia katupkan saat menyadari Annie semakin mendekat. Mereka pergi ke
beranda lantai dua. Hanya mereka berdua di sana, sementara yang lain sibuk
dengan hidangan pesta di dalam.
“Selamat
ulang tahun.” Kecanggungan yang sempat menyergap mereka berdua berlahan mulai
hilang, begitupun jarak diantara mereka. Annie menoleh dan tersenyum sekilas,
lalu kembali menatap jalan setapak di bawah. “Terima kasih kau sudah datang,”
“Aku
sudah bilang akan datang.” Wajah yang awalnya ceria perlahan berubah sedih.
Denzel tidak tahan melihatnya. Ia ingin menghukum orang yang sudah membuat
gadis yang diam-diam dicintainya menderita. Denzel meletakan gelasnya di pinggir.
Wajah gadis itu memanas ketika kedua lengan Denzel melingkar di pinggangnya.
Denzel memeluknya. Dagu laki-laki itu menyentuh lembut kepala bagian atas
Annie.
“Maaf.
Aku hanya tidak ingin kau bersedih saat ini.” Samar-samar Annie tersenyum,
“Tidak.
Seharusnya aku berterima kasih padamu karena sudah mengkhawatirkanku.” Balasnya
dengan suaranya yang lebih dalam. Bagaimana
bisa aku tidak mengkhawatirkan orang yang aku cintai.
***
Pagi sepertinya
datang lebih awal. Si pembunuh sudah menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang
tidak terlalu penting beberapa hari lalu. Di rumah tua yang lebih pantas
disebut sebagai markas rahasianya, ia menyusun strategi selanjutnya. Daftar
nama korban selanjutnya sudah disiapkan.
Aku akan membuat ini lebih cepat.
Membaca The Chanticleer sekilas, memastikan media masih membutuhkan bantuannya untuk melariskan
koran-koran mereka. Tangan kanannya sibuk menyusun petunjuk baru. Petunjuk yang
sama seperti yang dia gunakan pada saat pembunuhan pertama selesai. Kali ini ia
hanya menulis angka 6– untuk dikirimkan hari ini. Dan deretan angka yang lebih
banyak, dua hari dari sekarang.
***
Baru kali ini Annie melihat
ayahnya begitu kesal saat menangani sebuah kasus. Bukan seperti biasanya. John–
seorang kepala polisi yang bisa membedakan mana pekerjaan dan keluarga–
tiba-tiba mencampuradukan begitu saja. Annie dan Selina hanya duduk sambil
terus menatap orang di seberang mereka dengan cemas. “Bukan tentang tindakan kriminal
ini sadis atau bukan. Yang jadi permasalahannya adalah pelaku berusaha
mempermainkan kami. Dan menggunakan nyawa manusia sebagai alatnya.”
“Apa benar yang ditulis di koran
kalau pembunuh itu memotong kaki kanannya?” John berdeham. Merebahkan
punggungnya ke sofa sambil sesekali menekan tulang hidungnya yang tiba-tiba terasa
sakit. “Dia sangat ahli. Pembunuh yang cerdas.” Ponselnya berdering, Peter
Magee- nama yang muncul di layar ponsel. “Halo..”
“Bisakah Anda datang kemari sekarang?
Ada yang ingin kami diskusikan dengan Anda, Kepala Polisi.” Lalu panggilan
putus begitu saja seolah memang tidak ada hal yang perlu dikatakan lagi. John
beranjak, meraih kunci mobil di atas meja dan segera pergi.
Detektif tua itu mulai menjelaskan
bahwa beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 2 Agustus, ia menerima surat
yang berisi angka 6. Sama seperti surat yang dia terima 2 hari setelah
pembunuhan Scott Parker, korban pertama. Nick mengeluarkan kedua surat yang
sempat dibuangnya karna menganggap itu hanya keisengan anak kecil. Tapi setelah
terjadi pembunuhan kedua, Nick berusaha mendapatkan kedua kertas itu lagi dan
untungnya berhasil.
Ia melanjutkan, ia membuka buku
catatannya. Peter dan John terperangah melihat susunan angka yang sama sekali
tidak mereka mengerti. Nick batuk sekali, entah itu karna tenggorokannya yang
memang gatal atau hanya untuk menarik perhatian kedua orang di depannya lagi.
Ia menjelaskan bahwa itu adalah susunan yang bisa dibuatnya dari angka
1920522514. John mengambil catatan itu, membawanya lebih dekat dengannya.
Sedangkan Peter mengambil secarik kertas, menuliskan deretan angka dan mulai
memisahkan dengan garis. Setelah beberapa saat berkutat, Akhirnya Peter
mengeluarkan suara, “Apa kau juga menemukan susunan angka 19 – 20 – 5 – 22 – 5
– 14?”
“Kau hebat bocah. Nick juga
menulis susunan itu di baris paling bawah sendiri. Steven.” Ucap John kagum. “Sepertinya
keparat itu mempunya motif khusus. Apa kalian sadar bahwa nama korban selalu
berinisial S dan P sebagai nama keluarga mereka. Selain itu kaki kanan yang
selalu dipotong di bagian lutut tepat di otot tendon mereka dan …”
“Tanggal lahir dan jenis kelamin
mereka. 31 Oktober, laki-laki.” Sambar Nick cepat.
“Ini jelas bukan suatu kebetulan
tapi suatu kesengajaan.” Meskipun mereka sudah menemukan petunjuk, rasa kesal
Nick terlihat jelas. Dia berpikir akan mendapatkan kombinasi angka yang
mengarah pada nama korban selanjutnya hari ini tapi ternyata tidak. Dalam kasus
sebelumnya, si pembunuh mengirim petunjuk sebanyak dua kali. 4 hari sebelum
kejadian sebagai kode kapan dia akan melakukan aksinya dan 2 hari setelah itu
akan mengirim kombinasi nama korbannya.
***
“Dia sudah mengirimnya kemarin.
Pelaku pasti sengaja memasukan surat lewat celah kayu paling belakang, ditambah
ukuran amplop lebih kecil daripada kotak surat Anda. Jadi mungkin Anda tidak
menyadari adanya surat itu kemarin. Tapi karena hari ini tangan Anda merogoh
terlalu dalam, Anda baru sadar ada surat yang terjepit dan itu dari Si
pembunuh.” Jelas Peter. Nick dan John tidak heran dengan kemampuan Peter dalam
menganalisis. Ini semua seperti makanan sehari-harinya padahal ia baru berusia
23 tahun– masih sangat muda.
“Jadi perkiraanku tepat.”
“Ya!” Mereka bertiga menyusun
angka 19112512518 menjadi beberapa kombinasi dengan angka awal 19 yang berarti
huruf S. Suara mesin kontruksi di seberang apartement Nick sedikit mengganggu
konsentrasi mereka. Hanya dalam beberpa menit mesin itu diam dan meraung
kembali bahkan semakin keras.
“Skyler! Itu dia namanya. Dengan
kombinasi 19 – 11 – 25 – 12 – 5 – 18.”
“Nama macam apa itu? Aneh!” Komentarnya.
“Aku tidak peduli. Sekarang kita cari siapa Skyler dengan nama keluarga
berawalan P di Abbeville, Alabama, atau bahkan di Amerika Serikat.” Tukas John
sambil melirik ke arah Peter. Sialan!
Dasar keparat!, umpat John.
Selina mengarahkan mobilnya ke 415 Kirkland Street, 20 menit perjalanan
di bawah cuaca musim panas membuatnya menginjak pedal gas lebih dalam agar
cepat sampai ke Money’s Grill, tempat
Annie menunggu.
Bunga-bunga di dalam pot yang
menggantung, lampu bergaya klasik, pemilihan warna coklat dan kuning terlihat
sederhana tapi menyejukan mata. Tulisan besar The Abbeeville terpampang di pintu masuk. Selina memarkir mobilnya
dan segera masuk ke dalam. “Sudah lama?” sapa Selina setelahnya.
“Aku tadi ada janji dengan Denzel,
tapi sepertinya dia terlalu sibuk dengan ujian akhirnya jadi aku memintamu
menemaniku. Maaf.”
“Uhm.. Apa kau menyukainya?”
Menarik kursi ke belakang lalu duduk.
“Maksudmu Denzel? Kurasa iya.
Entahlah. Aku masih takut. Aku takut kebodohanku yang dengan mudahnya percaya
dengan Sam, laki-laki berengsek itu terulang lagi. Meskipun begitu aku berharap
dialah orangnya.”
“Apa kau pernah merasakan
bagaimana hidup sendirian?” Annie diam, terus menatap mata Selina yang sorotnya
tiba-tiba berubah dari balik cangkir.
“Merasa sendirian itu menyakitkan.
Tidak akan pernah kau bisa bercerita tentang perasaanmu. Tapi saat kau bertemu
seseorang yang menyayangimu, kau akan melindunginya. Karna kau memiliki
perasaan sayang yang terlalu besar kepada orang yang sudah membebaskanmu dari
kesepian.”
“Uhm.. Aku tidak mengerti
maksudmu.”
“Kaulah orang. Kau sudah
menyelamatkanku dari kesepian. Mengangkatku sebagai saudaramu. Dan itu sebabnya
aku tidak ingin kau terluka.”
***
Virginia, 2000
“Hey Selina apa yang kau lakukan
di luar?” Gadis kecil itu menoleh ke belakang, mengacungkan pisau lipat
miliknya. “Tidak ada Bu, aku hanya sedang menghukum tikus yang masuk ke kamarku
kemarin malam.” Akunya ringan.
“Kau melakukan itu lagi? Hentikan
sekarang juga! Atau Ibu akan menghukummu! Selina dengarkan Ibu!” Dia tidak
peduli dan terus memotong ekor tikus menjadi bagian-bagian kecil yang rapi.
Salju yang putih perlahan berubah menjadi merah. Setelah tikus– yang melakukan
kesalahan karna masuk ke kamar dan mengigit kakinya– itu tergeletak dengan
bagian tubuh terpotong-potong, Selina tersenyum puas lalu meninggalkannya
begitu saja, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras.
Abbeville, sekarang
Tidak ada uap sama
sekali di mulutnya. Tidak seperti tiga belas tahun lalu saat ia memotong ekor
tikus di bawah salju yang turun dengan lebat. Lengkap dengan peralatannya, stun gun, kawat dan pisau daging yang
sangat tajam sebagai andalannya. Tapi ada satu alat tambahan yang dia simpan di
balik bajunya, Glock 17 kaliber 9mm.
Di depan pintu 321 Brookhaven, apartemen kelas menengah di 180 State Rd, dia berdiri, memencet
tombol bell beberapa kali. Korban
membuka pintu. Laki-laki tinggi, tegap, bermata biru itu berdiri di hadapannya
dengan wajah menunggu. “Ada paket untuk Anda. Bisa tolong Anda terima dulu
paket ini, saya ingin mengambil tanda terima di dalam tas saya.” Tanpa
sedikitpun curiga, Skyler Preston mengikuti perkataan petugas di depannya.
Selina melempar topinya di atas
ranjang besar. Setelah menyetrumnya dengan stun
gun, ia menyeret korban itu ke kamar mandi lalu menenggelamkannya di bak
mandi. Kulit dan matanya mulai membiru. Perasaan aneh menyerang pikiran Selina,
ia pun memutuskan untuk mengakhiri nyawa pelajar itu dengan kawat yang sudah ia
siapkan. Hanya dalam beberapa menit, jantungnya berhenti berdegub. Saatnya
pisau untuk beraksi. Di samping bak mandi, Selina mulai merobek kulit, lalu
mulai dengan otot-otot tendon seperti biasanya.
Hampir selesai tapi seketika pisau
di tanganya terlempar ke ujung kamar mandi. Pundaknya berdarah. Meskipun sempat
membalas dengan mengeluarkan pistol, tapi karena pundaknya terluka, arah
tembaknya pun tidak tepat sasaran. John melawan perasaannya saat menarik
pelatuk ke arah Selina. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri
adalah pembunuh yang sempat disebutnya sebagai keparat. Emosinya memuncak. Untuk
kedua kalinya John melepaskan peluru dari revolver 38 miliknya ke badan Selina.
Dua detektif dan polisi yang lain mengamankan tubuh Skyler, pelajar SMA yang
sudah tidak bernyawa.
Tidak ada perubahan raut wajah
yang terlihat. Seolah ia tahu ini akan terjadi hari ini. Yang bisa John temukan
dibalik matanya yang mulai tertutup karna banyak kehilangan darah hanya
kesedihan, kesepihan, dan kemarahan yang dia simpan sendiri.
“Kau cerdas. Terkadang orang-orang
cerdas menyamarkan fakta kalau mereka cerdas. Dan kau menunjukan dengan cara
yang salah tapi brilian.” Selina menyeringai pelan mendengan ucapan John.
“Aku senang. Setidaknya aku bisa
membunuh orang yang melukai Annie sebanyak tiga kali– Samuel Pierre, meskipun
yang ketiga tidak terlalu sempurna. Terima kasih Ayah.” John menurunkan
tanganya, menjatuhkan pistolnya begitu saja setelah mendengan Selina
mengucapkan kata ‘ayah’ untuk pertama kali setelah lima tahun Selina diadobsinya.
“Akan sempurna jika kau tidak
memberikan petunjuk.”
Nick menepuk pundak John pelan. Gadis
itu terlihat seolah tersenyum, meskipun tidak ada detak jantung yang bisa John
rasakan dalam pelukannya.
***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar