Aku masih
diam tak bergerak. Tidak ada yang kulakukan sampai bel pelajaran pertama
bergema melalui speaker kelas. Aku
adalah orang yang bisa dibilang sangat menghemat energi. Aku tidak suka
melakukan sesuatu yang kurasa tidak akan menguntungkanku, kecuali ada sesuatu
yang berbeda yang mampu menarik perhatianku. Biasanya aku akan memilih untuk
tidur atau membuat kerangka kasar di kertas yang kutemukan di laci meja.
Sebenarnya aku
cukup penasaran dengan desas-desus yang tengah menyebar di sekitarku sejak
beberapa hari lalu. Aku hanya mendengarkan tanpa ikut berkumpul, menempelkan
keningku pada tangan yang terlipat di atas meja.
“Selamat
pagi,” sapa guru senior di sekolahku. Aku mengangkat kepalaku pelan. Melihat
ada satu murid yang mengekor padanya. Dia berkaca mata, tinggi sekitar 165
sampai 170 sentimeter dan berlesung pipi disebelah kiri.
Anak baru. Jelas dalam
pikiranku dia adalah anak baru yang dari kemarin menjadi tokoh utama dalam
perbincangan banak siswa, tapi disisi lain otakku mengatakan bahwa aku pernah
bertemu dengannya. Dia duduk dibangku yang sebelumnya tak berpenghuni, empat
bangku sebelah kiri dariku.
“Buka
bukunya halaman tujuh puluh lima,” perintah manusia dengan spidol warna-warninya di depan. Aku membuka bukuku, tapi sejujurnya
konsetrasiku sama sekali bukan untuk memahami setiap kalimat yang berjejer. Aku
masih memikirkan siapa anak baru itu, apakah benar aku pernah bertemu
dengannya? Bahkan namanya begitu familiar
ditelingaku. Andhika Martini Awan dengan nama panggilannya Awan. Seperti nama teman
SD-ku.
“Benar! Dia
Awan,” kataku seketika saat namaku disebut. Anak satu kelas menertawaiku
habis-habisan, aku hanya menggulum bibir bawahku dengan tampang dongkol. Bu
Wati mulai mengomel dengan suara pelannya. Setengah menunduk kutolehkan
kepalaku ke arahnya, dia hanya diam, menumbukkan semua pandangannya pada papan
putih dengan coretan warna-warni.
***
Setiap
ditanya tentang masa-masa paling indah, kebanyakan orang akan bilang bahwa masa
SMA adalah yang paling menyenangkan. Tapi buatku, masa SMA adalah masa nomer
dua yang paling menyenangkan. Kau tahu kenapa? Karna masa paling menyenangkan
buatku adalah saat duduk di bangku sekolah dasar. Saat kita masih dibilang anak
ingusan, anak bawang atau anak bau kencur. Tapi ingatkah, saat-saat seperti itu
adalah saat-saat dimana kau bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan yang
lainnya, bebas bermain, bebas bereksplorasi dan bebas mengatakan apa saja yang
ada dalam benak kalian. Menurutku itulah alasannya.
Aku tidak
pernah menganggap diriku pintar ataupun bodoh. Aku juga tidak pernah berpikir
bahwa aku akan kalah dari mereka. Karna aku yakin setiap manusia mempunyai
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
“Pinjam
ya?” Ia mengangkat steples dari kotak pensilku. Membuyarkan semua pikiran tak
jelas juntrungannya. Tapi baguslah, sebelum pikiran itu semakin jauh.
“Ya,
silahkan.” Diam-diam aku mengamati wajahnya. Aku hanya memastikan tentang teori
yang kubuat beberapa bulan lalu, tepatnya saat pertama kali menjadi muris kelas
tiga, saat pertama kali dia datang.
“Kamu dulu
sekolah di SDN Kepatihan 23 bukan?” tanyaku penasaran. Dia mengembalikan
steples itu pada tempatnya, lalu mengangguk.
“Iya,
kenapa?”
“Dari kelas
D?” Dia mengangguk lagi. Dan terjawab sudah semuanya, memang dia orangnya.
Apakah dunia memang sesempit ini? Dari jutaan tempat, sekolah, kenapa harus
disini? Di sekolah ini. “Aa, aku ingat. Kamu sahabatnya Desi kan? Murid kesayangannya
Bu Maria?”
Kenapa harus Desi yang dia ingat?, gerutuku
dalam hati.
“Ya.”
“Wan,
kantin!” Ajak Bayu yang lebih dulu meninggalkan kelas. Setelah mengucapkan
terima kasih, dia berlari mengejar Bayu. Aku terpekik, saat pundak kirinya
menabrak pintu.
Delapan
tahun lalu, aku pernah menyukai seseorang. Bedanya dia anak dari kelas D
sementara aku dari kelas B. Kalau dipikir-pikir apa yang dulu aku suka darinya.
Selalu tersenyum bahkan tertawa sendiri setiap dia lewat atau saat aku bisa
melihatnya dari seberang lapangan upacara. Semasa SD aku sangat suka dengan
pelajaran olahraga, karena jam olahraga kelas kami itu bersamaan. Tapi..
Badanku
tidak seindah gitar mexico, tidak setinggi model, tidak seputih artis-artis
Jepang yang selalu kulihat di televisi. Aku juga tidak secantik dan sepintar
putri Indonesia. Jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk mengenalnya lebih
lanjut. Bahkan teman sekelasku banyak yang menyukainya. Saingan itu terlalu
menguras energiku. Terlebih lagi, salah satu orang itu adalah sahabatku
sendiri, Desi. Itu semua salahku. Salahku karena aku memilih untuk diam. Cinta
monyet. Benarkan? Hahh!
“Tapi
sekarang, apa juga disebut cinta monyet?” celetukku pelan.
“Apa San?” tanya
Sera seolah memperjelas apa yang baru saja dia dengar.
“Hhe?
Bukan,” balasku sambil menggeleng. Mungkin aku akan mengulangi kesalahan yang
sama. Untuk kali ini aku juga tidak akan menceritakan semuanya pada dia dan
mereka, tiga sahabatku yang lain. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar dan
sepertinya sampai beberapa bulan ke depan sebelum kelulusan, aku akan merasakan
apa yang sudah lama tidak aku rasakan. Menjadi pengagum. Hanya pengagum. Secret admirer? Memang itulah yang bisa
kulakukan.
***
Aku duduk
diboncengnya saat diundang ke acara ulang tahun temanku, sebut saja dia Lian.
Itu terjadi sudah sekitar tiga bulan yang lalu dan sampai sekarang aku masih
belum mengerti apa maksud dari perkataannya. Entah itu serius atau hanya iseng
belaka. “Kok lewat sini? Lewat jalan yang tadi kan bisa?” tanyaku saat itu,
ketika dia memilih jalan yang lebih jauh dari seharusnya. Aku yakin dia bukan
tidak tahu, karena teman-temanku yang berada di depan sepeda motor miliknya
sudah belok lebih dulu, jadi seharusnya dia juga ikut membelok kan? Entahlah.
Dia batuk
sekali, “Enggak pa-pa, cuman ingin aja,” jawabnya santai. Gara-gara dia memilih
jalan memutar, kami berdua sedikit terlambat dari jam seharusnya. Aku tidak
pernah tahu bagaimana pesta ulang tahun orang kaya yang diadakan di restoran
atau tempat sejenisnya. Yang aku tahu hanyalah pesta ulang tahun yang diadakan
di rumah masing-masing. Cukup sederhana.
Kugantung
helmku disalah satu kaca spion
motornya. Menunggunya selesai mengunci ganda, sekedar berjaga-jaga. Aku
berjalan di sampingnya. Mungkinkah sebenarnya selama delapan tahun ini aku
masih mengharapkannya? Atau kenangan masa kecil itu muncul lagi, membuatku
memberi pupuk dan menyirami kisah yang sudah lama mati itu agar hidup kebali?
“Dasar
payah!!” gumamku.
“Siapa yang
payah?” Aku menoleh, sedikit terkesiap melihat dia sudah melihatku lebih dulu.
Aku tertawa garing, “Aku,” seruku asal. Dia tertawa sekilas dan tersenyum,
memunculkan lesung pipi miliknya.
Di dalam
restoran, sang putri acara sedang berdiri di atas panggung dengan pacar
sekaligus keluarganya. Untung belum terlambat. Artis dalam acara ini mengenakan
gaun putih, rambutnya ditata secantik mungkin. Beginikah acaranya?
Kue ulang tahun persegi
yang memiliki nilai luas yang besar, tengah dipotongnya. Kami semua bertepuk
tangan. Awan berdiri di depan, menyerong jauh dari tempatku berdiri. Tepukan
kedua, kembali kami lakukan saat Lian memberikan kue itu pada ayahnya. Aku
pikir tanganku pasti akan memerah kalau harus selalu tepuk tangan, setiap dia
menyerahkan satu persatu potongan kuenya pada keluarganya yang banyak dan
pacarnya. Jadi kuputuskan untuk tetap bertepuk tangan tapi hanya telapak tangan
yang kugerakan sedangkan pangkal telapak tangan tetap diam, sekilas seperti
engsel pintu.
Setelah kami
menikmati kue-kue yang tadi ia bagikan, kini saatnya game. Aku paling benci saat-saat seperti ini. Mungkin aku sedikit
trauma dengan permainan di pesta ulang tahun karena saat aku duduk di kelas enam
SD, aku diundang ke pesta ulang tahun temanku, Yessy. Dia mengadakan permainan
dan yang kalah harus berkata jujur tentang siapa yang dia sukai. Aku kalah dan
aku berbohong dengan bilang tidak ada, untungnya mereka semua percaya. Tapi
tidak untuk masa kali ini, SMA. Tidak mungkin ada yang percaya kalau aku
mengatakan hal yang sama. Tapi, iya kalau itu permainannya kalau bukan?
“Hahh!!
Entahlah!’gerutuku. Mitha menoleh ke arahku dengan tatapan heran.
“Apanya
yang entahlah? Jangan bilang kamu lagi ngomong sendiri?!” Aku menggeleng, memasang
wajah masam. “Aku lagi bicara sama imajinasiku.” Mitha hanya mengangguk,
memaksakan dirinya untuk mengerti.
Permainan
diumumkan. Kami mengambil nomor di dalam kotak putih. Tidak sesuai harapan, aku
berpasangan dengan Tisa, sahabatku yang pintar tapi sedikit bolot kalau diajak
bicara selain tentang pelajaran. Setiap pasangan diminta menemukan sepuluh
pasang gambar yang sama dalam waktu lima belas menit. Dan seperti biasa, yang
kalah mendapatkan hukuman– merayu orang lain yang dipilih sama pemenang.
Ada firasat
buruk. Jantungku berdegup sangat cepat, dadaku sesak dan tanganku berubah
menjadi dingin. Kejadian seperti ini selalu muncul setiap ada hal buruk yang akan
terjadi, entah apa itu. Hal memalukan, menyakitkan atau lainnya. Aku dan Tisa
mulai berpencar. Waktu terus berjalan seolah tak peduli dengan kami yang
kebingungan. Di tengah-tengah pencarian harta karunku. Aku melihatinya. Dia
santai. Terlalu santai, seakan tidak peduli dengan hukuman. Tapi sebenarnya
memang apa yang harus dipedulikan? Mungkin aku memang hanya takut. Takut.
Aku
menghela nafas lega. Aku berjalan ke sudut ruangan. Disana ada lampu seperti
lampion yang tergantung di batang pohon buatan. Aku ingin mempunyai pohon, ahh
bukan, lampu lampion di kamarku. Sialnya, keinginan itu selalu gagal. Aku
berdiri, bersandar pada dinding. Alunan lagu-lagu barat mengalun berganti.
Selang beberapa menit kemudian, lagu-lagu itu dimatikan. Aku menoleh ke panggung.
Kirana, penyanyi kelas kami berdiri di belakang standing mic. Dia menyanyikan satu lagu ciptaannya sendiri.
Tubuhku
perlahan menegap, melepaskan diri dari topangan tembok putih dengan garis
vertical berwarna marun. Standing mic
itu berganti tuan. Aku tidak pernah menyangka, dia memiliki suara yang merdu. Kalau
tidak salah itu lagu milik Craig David, Insomnia.
Berhubung aku tahu lagu itu, aku mengikuti irama musik dan liriknya sebisaku.
Lagu itu cukup cepat dan mungkin pas untuk pesta yang memang harus cerita.
Kulirik jam di ponselku, sebelas malam. Memainkan ponselku untuk menghilangkan
kebosanan. Aku terpisah dengan mereka. Itu salahku yang tidak ikut saat mereka
mengajak. Lambat laun, suara itu hilang, berganti dengan suara Lian, sang artis
pesta.
“Ayo
pulang,” ajaknya tiba-tiba. Aku mengangguk dan mengekor.
***
Hari
berganti, bergulir dan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Semua
sama saja untukku. Bangun, pergi ke sekolah, pulang. Saat matahari kembali
muncul dari timur, aku mengulang aktivitas yang sama. Bahkan hari ini pun iya,
aku duduk mematung seperti biasa. Belum ada satu pun orang di kelas kecuali
aku. Headset kupasang, kupilih
multimedia yang akan memutarkan lagu-lagu dalam kartu memori, cukup untuk
menghilangkan kesunyian.
“Ada
tugas?” tanyanya sambil berjalan menuju meja. Aku berdeham. “Kimia, halaman enam
puluh, nomer satu sampai delapan,” jawabku datar. Meskipun aku ingin selalu
bicara dengannya, dekat dengannya seperti anak-anak yang lain, tapi aku tidak
bisa. Aku selalu kikuk dan salah tingkah. Aku tidak bisa mengikuti arah
pembicaraannya. Dan aku tidak bisa merubah diriku menjadi tipikal orang yang
mudah bergaul. Seketika keningku seolah tertarik oleh kayu meja. Dug! Aku mengernyit,
mengosok-gosok keningku yang sakit. “Kenapa? Kamu kalau tidur pasti malam ya?”
“Enggak.
Ahh, bukan, tapi bisa jadi. Tergantung sikon
dan mata.”
“Aku
perhatikan, kamu mesti tidur kalau di sekolah. Bahkan waktu pelajaran juga
masih curi-curi buat tidur.” Aku tertawa menanggapi perkataannya yang entah itu
ledekan atau kenyataan.
“Beginilah
kalau orang sibuk. Enggak punya waktu buat tidur.” Dia diam, fokus pada buku
kimia yang baru ia keluarkan dari tas ransel hitamnya. Andai saja aku bisa terang-terangan
memandangnya.
“Sihh,
Awan.. Traktiran di kanin ya.” Goda Rahma sesaat setelah dia masuk kelas. Aku
memasang wajah sok penasaran, “Sama siapa?”
“April,
anak 12 IPA 2.”
“Hehh,
siapa bilang?” protesnya buru-buru. Rahma tertawa cekikikan membuat Awan
memassang wajah masamnya.
“Oo..” Mulutku
membulat. Seolah tidak peduli, itulah gayaku. Sudah berjalan empat bulan sejak
pertama kali dia datang. Perjalanan lama yang kuulang kembali dan menghasilkan
hasil yang sama.
Kutekan
tombol play yang sempat kumatikan
tadi. Kupilih lagu-lagu energik agar aku tak begitu larut dengan keadaan yang
seolah menamparku seperti dulu. Tapi pada akhirnya aku kembali teringat saat
aku duduk di kelas lima akhir. Dia datang bersama teman-temannya yang salah
satunya adalah teman sekelasku, Andri. Dia memberiku sekotak hadiah.
Kotak itu
langsung kuterima begitu saja. Kuucapkan terima kasih sesaat sebelum mereka
berbalik dan pergi. Tapi kau tahu apa isinya, beberapa pasang gelang anak
perempuan pada umumnya. Begitu banyak assesoriss,
warna mencolok dan berbentuk lingkaran besar seperti gelang milik penari di
film Bollywood. Sangat jauh dengan kesukaanku. Sepulang sekolah, kotak itu
kumasukan ke laci meja yang sampai sekarang masih ada beserta tempatnya. Tidak
kusentuh sama sekali.
Sekarang
entahlah. Delapan tahun lalu dan empat bulan lalu. Aku suka dengan orang yang
sama dan berakhir pada cerita yang sama. Dan untuk kedua kalinya aku merasa
sebagai seorang pengecut.
“Mau ikut
ke kantin? Aku mau nembak cewek.”
“Tuh kan, siapa
Wan? April kan?” sambar Rahma menghentikan suaraku. Awan hanya tersenyum,
mengangkat sebelah alisnya.
“Cewek?
Siapa?”
“Sudah, ayo
ikut!!” Dia menarik tanganku. Memaksaku harus keluar dari tengah-tengah kursi
dan meja. Siapa? Kenapa dia semangat banget?
**84**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar