Minggu, 30 Maret 2014

Delapan-Empat



            Aku masih diam tak bergerak. Tidak ada yang kulakukan sampai bel pelajaran pertama bergema melalui speaker kelas. Aku adalah orang yang bisa dibilang sangat menghemat energi. Aku tidak suka melakukan sesuatu yang kurasa tidak akan menguntungkanku, kecuali ada sesuatu yang berbeda yang mampu menarik perhatianku. Biasanya aku akan memilih untuk tidur atau membuat kerangka kasar di kertas yang kutemukan di laci meja.
            Sebenarnya aku cukup penasaran dengan desas-desus yang tengah menyebar di sekitarku sejak beberapa hari lalu. Aku hanya mendengarkan tanpa ikut berkumpul, menempelkan keningku pada tangan yang terlipat di atas meja.
            “Selamat pagi,” sapa guru senior di sekolahku. Aku mengangkat kepalaku pelan. Melihat ada satu murid yang mengekor padanya. Dia berkaca mata, tinggi sekitar 165 sampai 170 sentimeter dan berlesung pipi disebelah kiri.
Anak baru. Jelas dalam pikiranku dia adalah anak baru yang dari kemarin menjadi tokoh utama dalam perbincangan banak siswa, tapi disisi lain otakku mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengannya. Dia duduk dibangku yang sebelumnya tak berpenghuni, empat bangku sebelah kiri dariku.
            “Buka bukunya halaman tujuh puluh lima,” perintah manusia dengan spidol warna-warninya di depan. Aku membuka bukuku, tapi sejujurnya konsetrasiku sama sekali bukan untuk memahami setiap kalimat yang berjejer. Aku masih memikirkan siapa anak baru itu, apakah benar aku pernah bertemu dengannya? Bahkan namanya begitu familiar ditelingaku. Andhika Martini Awan dengan nama panggilannya Awan. Seperti nama teman SD-ku.
            “Benar! Dia Awan,” kataku seketika saat namaku disebut. Anak satu kelas menertawaiku habis-habisan, aku hanya menggulum bibir bawahku dengan tampang dongkol. Bu Wati mulai mengomel dengan suara pelannya. Setengah menunduk kutolehkan kepalaku ke arahnya, dia hanya diam, menumbukkan semua pandangannya pada papan putih dengan coretan warna-warni.
                                                                       ***
            Setiap ditanya tentang masa-masa paling indah, kebanyakan orang akan bilang bahwa masa SMA adalah yang paling menyenangkan. Tapi buatku, masa SMA adalah masa nomer dua yang paling menyenangkan. Kau tahu kenapa? Karna masa paling menyenangkan buatku adalah saat duduk di bangku sekolah dasar. Saat kita masih dibilang anak ingusan, anak bawang atau anak bau kencur. Tapi ingatkah, saat-saat seperti itu adalah saat-saat dimana kau bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan yang lainnya, bebas bermain, bebas bereksplorasi dan bebas mengatakan apa saja yang ada dalam benak kalian. Menurutku itulah alasannya.
            Aku tidak pernah menganggap diriku pintar ataupun bodoh. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa aku akan kalah dari mereka. Karna aku yakin setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
            “Pinjam ya?” Ia mengangkat steples dari kotak pensilku. Membuyarkan semua pikiran tak jelas juntrungannya. Tapi baguslah, sebelum pikiran itu semakin jauh.
            “Ya, silahkan.” Diam-diam aku mengamati wajahnya. Aku hanya memastikan tentang teori yang kubuat beberapa bulan lalu, tepatnya saat pertama kali menjadi muris kelas tiga, saat pertama kali dia datang.
            “Kamu dulu sekolah di SDN Kepatihan 23 bukan?” tanyaku penasaran. Dia mengembalikan steples itu pada tempatnya, lalu mengangguk.
            “Iya, kenapa?”
            “Dari kelas D?” Dia mengangguk lagi. Dan terjawab sudah semuanya, memang dia orangnya. Apakah dunia memang sesempit ini? Dari jutaan tempat, sekolah, kenapa harus disini? Di sekolah ini. “Aa, aku ingat. Kamu sahabatnya Desi kan? Murid kesayangannya Bu Maria?”
            Kenapa harus Desi yang dia ingat?, gerutuku dalam hati.
            “Ya.”
            “Wan, kantin!” Ajak Bayu yang lebih dulu meninggalkan kelas. Setelah mengucapkan terima kasih, dia berlari mengejar Bayu. Aku terpekik, saat pundak kirinya menabrak pintu.
            Delapan tahun lalu, aku pernah menyukai seseorang. Bedanya dia anak dari kelas D sementara aku dari kelas B. Kalau dipikir-pikir apa yang dulu aku suka darinya. Selalu tersenyum bahkan tertawa sendiri setiap dia lewat atau saat aku bisa melihatnya dari seberang lapangan upacara. Semasa SD aku sangat suka dengan pelajaran olahraga, karena jam olahraga kelas kami itu bersamaan. Tapi..
            Badanku tidak seindah gitar mexico, tidak setinggi model, tidak seputih artis-artis Jepang yang selalu kulihat di televisi. Aku juga tidak secantik dan sepintar putri Indonesia. Jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk mengenalnya lebih lanjut. Bahkan teman sekelasku banyak yang menyukainya. Saingan itu terlalu menguras energiku. Terlebih lagi, salah satu orang itu adalah sahabatku sendiri, Desi. Itu semua salahku. Salahku karena aku memilih untuk diam. Cinta monyet. Benarkan? Hahh!
            “Tapi sekarang, apa juga disebut cinta monyet?” celetukku pelan.
            “Apa San?” tanya Sera seolah memperjelas apa yang baru saja dia dengar.
            “Hhe? Bukan,” balasku sambil menggeleng. Mungkin aku akan mengulangi kesalahan yang sama. Untuk kali ini aku juga tidak akan menceritakan semuanya pada dia dan mereka, tiga sahabatku yang lain. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar dan sepertinya sampai beberapa bulan ke depan sebelum kelulusan, aku akan merasakan apa yang sudah lama tidak aku rasakan. Menjadi pengagum. Hanya pengagum. Secret admirer? Memang itulah yang bisa kulakukan.
                                                                       ***
            Aku duduk diboncengnya saat diundang ke acara ulang tahun temanku, sebut saja dia Lian. Itu terjadi sudah sekitar tiga bulan yang lalu dan sampai sekarang aku masih belum mengerti apa maksud dari perkataannya. Entah itu serius atau hanya iseng belaka. “Kok lewat sini? Lewat jalan yang tadi kan bisa?” tanyaku saat itu, ketika dia memilih jalan yang lebih jauh dari seharusnya. Aku yakin dia bukan tidak tahu, karena teman-temanku yang berada di depan sepeda motor miliknya sudah belok lebih dulu, jadi seharusnya dia juga ikut membelok kan? Entahlah.
            Dia batuk sekali, “Enggak pa-pa, cuman ingin aja,” jawabnya santai. Gara-gara dia memilih jalan memutar, kami berdua sedikit terlambat dari jam seharusnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana pesta ulang tahun orang kaya yang diadakan di restoran atau tempat sejenisnya. Yang aku tahu hanyalah pesta ulang tahun yang diadakan di rumah masing-masing. Cukup sederhana.
            Kugantung helmku disalah satu kaca spion motornya. Menunggunya selesai mengunci ganda, sekedar berjaga-jaga. Aku berjalan di sampingnya. Mungkinkah sebenarnya selama delapan tahun ini aku masih mengharapkannya? Atau kenangan masa kecil itu muncul lagi, membuatku memberi pupuk dan menyirami kisah yang sudah lama mati itu agar hidup kebali?
            “Dasar payah!!” gumamku.
            “Siapa yang payah?” Aku menoleh, sedikit terkesiap melihat dia sudah melihatku lebih dulu. Aku tertawa garing, “Aku,” seruku asal. Dia tertawa sekilas dan tersenyum, memunculkan lesung pipi miliknya.
            Di dalam restoran, sang putri acara sedang berdiri di atas panggung dengan pacar sekaligus keluarganya. Untung belum terlambat. Artis dalam acara ini mengenakan gaun putih, rambutnya ditata secantik mungkin. Beginikah acaranya?
            Kue ulang tahun persegi yang memiliki nilai luas yang besar, tengah dipotongnya. Kami semua bertepuk tangan. Awan berdiri di depan, menyerong jauh dari tempatku berdiri. Tepukan kedua, kembali kami lakukan saat Lian memberikan kue itu pada ayahnya. Aku pikir tanganku pasti akan memerah kalau harus selalu tepuk tangan, setiap dia menyerahkan satu persatu potongan kuenya pada keluarganya yang banyak dan pacarnya. Jadi kuputuskan untuk tetap bertepuk tangan tapi hanya telapak tangan yang kugerakan sedangkan pangkal telapak tangan tetap diam, sekilas seperti engsel pintu.
            Setelah kami menikmati kue-kue yang tadi ia bagikan, kini saatnya game. Aku paling benci saat-saat seperti ini. Mungkin aku sedikit trauma dengan permainan di pesta ulang tahun karena saat aku duduk di kelas enam SD, aku diundang ke pesta ulang tahun temanku, Yessy. Dia mengadakan permainan dan yang kalah harus berkata jujur tentang siapa yang dia sukai. Aku kalah dan aku berbohong dengan bilang tidak ada, untungnya mereka semua percaya. Tapi tidak untuk masa kali ini, SMA. Tidak mungkin ada yang percaya kalau aku mengatakan hal yang sama. Tapi, iya kalau itu permainannya kalau bukan?
            “Hahh!! Entahlah!’gerutuku. Mitha menoleh ke arahku dengan tatapan heran.
            “Apanya yang entahlah? Jangan bilang kamu lagi ngomong sendiri?!” Aku menggeleng, memasang wajah masam. “Aku lagi bicara sama imajinasiku.” Mitha hanya mengangguk, memaksakan dirinya untuk mengerti.
            Permainan diumumkan. Kami mengambil nomor di dalam kotak putih. Tidak sesuai harapan, aku berpasangan dengan Tisa, sahabatku yang pintar tapi sedikit bolot kalau diajak bicara selain tentang pelajaran. Setiap pasangan diminta menemukan sepuluh pasang gambar yang sama dalam waktu lima belas menit. Dan seperti biasa, yang kalah mendapatkan hukuman– merayu orang lain yang dipilih sama pemenang.
            Ada firasat buruk. Jantungku berdegup sangat cepat, dadaku sesak dan tanganku berubah menjadi dingin. Kejadian seperti ini selalu muncul setiap ada hal buruk yang akan terjadi, entah apa itu. Hal memalukan, menyakitkan atau lainnya. Aku dan Tisa mulai berpencar. Waktu terus berjalan seolah tak peduli dengan kami yang kebingungan. Di tengah-tengah pencarian harta karunku. Aku melihatinya. Dia santai. Terlalu santai, seakan tidak peduli dengan hukuman. Tapi sebenarnya memang apa yang harus dipedulikan? Mungkin aku memang hanya takut. Takut.
            Aku menghela nafas lega. Aku berjalan ke sudut ruangan. Disana ada lampu seperti lampion yang tergantung di batang pohon buatan. Aku ingin mempunyai pohon, ahh bukan, lampu lampion di kamarku. Sialnya, keinginan itu selalu gagal. Aku berdiri, bersandar pada dinding. Alunan lagu-lagu barat mengalun berganti. Selang beberapa menit kemudian, lagu-lagu itu dimatikan. Aku menoleh ke panggung. Kirana, penyanyi kelas kami berdiri di belakang standing mic. Dia menyanyikan satu lagu ciptaannya sendiri.
            Tubuhku perlahan menegap, melepaskan diri dari topangan tembok putih dengan garis vertical berwarna marun. Standing mic itu berganti tuan. Aku tidak pernah menyangka, dia memiliki suara yang merdu. Kalau tidak salah itu lagu milik Craig David, Insomnia. Berhubung aku tahu lagu itu, aku mengikuti irama musik dan liriknya sebisaku. Lagu itu cukup cepat dan mungkin pas untuk pesta yang memang harus cerita. Kulirik jam di ponselku, sebelas malam. Memainkan ponselku untuk menghilangkan kebosanan. Aku terpisah dengan mereka. Itu salahku yang tidak ikut saat mereka mengajak. Lambat laun, suara itu hilang, berganti dengan suara Lian, sang artis pesta.
            “Ayo pulang,” ajaknya tiba-tiba. Aku mengangguk dan mengekor.
                                                                       ***
            Hari berganti, bergulir dan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Semua sama saja untukku. Bangun, pergi ke sekolah, pulang. Saat matahari kembali muncul dari timur, aku mengulang aktivitas yang sama. Bahkan hari ini pun iya, aku duduk mematung seperti biasa. Belum ada satu pun orang di kelas kecuali aku. Headset kupasang, kupilih multimedia yang akan memutarkan lagu-lagu dalam kartu memori, cukup untuk menghilangkan kesunyian.
            “Ada tugas?” tanyanya sambil berjalan menuju meja. Aku berdeham. “Kimia, halaman enam puluh, nomer satu sampai delapan,” jawabku datar. Meskipun aku ingin selalu bicara dengannya, dekat dengannya seperti anak-anak yang lain, tapi aku tidak bisa. Aku selalu kikuk dan salah tingkah. Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya. Dan aku tidak bisa merubah diriku menjadi tipikal orang yang mudah bergaul. Seketika keningku seolah tertarik oleh kayu meja. Dug! Aku mengernyit, mengosok-gosok keningku yang sakit. “Kenapa? Kamu kalau tidur pasti malam ya?”
            “Enggak. Ahh, bukan, tapi bisa jadi. Tergantung sikon dan mata.”
            “Aku perhatikan, kamu mesti tidur kalau di sekolah. Bahkan waktu pelajaran juga masih curi-curi buat tidur.” Aku tertawa menanggapi perkataannya yang entah itu ledekan atau kenyataan.
            “Beginilah kalau orang sibuk. Enggak punya waktu buat tidur.” Dia diam, fokus pada buku kimia yang baru ia keluarkan dari tas ransel hitamnya. Andai saja aku bisa terang-terangan memandangnya.
            “Sihh, Awan.. Traktiran di kanin ya.” Goda Rahma sesaat setelah dia masuk kelas. Aku memasang wajah sok penasaran, “Sama siapa?”
            “April, anak 12 IPA 2.”
            “Hehh, siapa bilang?” protesnya buru-buru. Rahma tertawa cekikikan membuat Awan memassang wajah masamnya.
            “Oo..” Mulutku membulat. Seolah tidak peduli, itulah gayaku. Sudah berjalan empat bulan sejak pertama kali dia datang. Perjalanan lama yang kuulang kembali dan menghasilkan hasil yang sama.
            Kutekan tombol play yang sempat kumatikan tadi. Kupilih lagu-lagu energik agar aku tak begitu larut dengan keadaan yang seolah menamparku seperti dulu. Tapi pada akhirnya aku kembali teringat saat aku duduk di kelas lima akhir. Dia datang bersama teman-temannya yang salah satunya adalah teman sekelasku, Andri. Dia memberiku sekotak hadiah.
            Kotak itu langsung kuterima begitu saja. Kuucapkan terima kasih sesaat sebelum mereka berbalik dan pergi. Tapi kau tahu apa isinya, beberapa pasang gelang anak perempuan pada umumnya. Begitu banyak assesoriss, warna mencolok dan berbentuk lingkaran besar seperti gelang milik penari di film Bollywood. Sangat jauh dengan kesukaanku. Sepulang sekolah, kotak itu kumasukan ke laci meja yang sampai sekarang masih ada beserta tempatnya. Tidak kusentuh sama sekali.
            Sekarang entahlah. Delapan tahun lalu dan empat bulan lalu. Aku suka dengan orang yang sama dan berakhir pada cerita yang sama. Dan untuk kedua kalinya aku merasa sebagai seorang pengecut.
            “Mau ikut ke kantin? Aku mau nembak cewek.”
            “Tuh kan, siapa Wan? April kan?” sambar Rahma menghentikan suaraku. Awan hanya tersenyum, mengangkat sebelah alisnya.
            “Cewek? Siapa?”
            “Sudah, ayo ikut!!” Dia menarik tanganku. Memaksaku harus keluar dari tengah-tengah kursi dan meja. Siapa? Kenapa dia semangat banget?

                                                                       **84**
           

Tidak ada komentar: