Baru seminggu yang lalu usiaku berubah menjadi 24 tahun dan
aku masih saja harus menghirup oksigen lalu menghembuskannya. Dimalam
pergantian usiaku, ada satu permohonan yang selalu ku ucapkan berulang kali. Aku
ingin tinggal di sebuah rumah dengan kondisi yang lebih menyenangkan. Terkadang
aku harus membobol uang tabunganku sendiri, hanya untuk kabur setiap kepala dan
telingaku sakit. Atau pergi ke tempat perkumpulan orang-orang yang kurasa jauh tidak
normal dariku.
Segelas
kopi pekat yang masih menguap berdiri tegak sendirian di tengah meja kotak tak
bertaplak. Minuman kesukaanku yang bisa membuatku berpikir lebih cepat.
Meskipun begitu, aku masih belum bisa menghentikan air mata orang itu. Air mata
yang selalu membuat darah tinggiku naik. Yah, tinggal dengan seorang psycopat memang merepotkan.
***
Hari-hari
berjalan seperti biasa. Terulang dan terulang lagi dengan peristiwa yang
serupa. Penuh tangis air mata, canda tawa, bahkan kemurkaan. Membosankan.
Pekerjaanku saat ini cukup bisa meringankan tanggungan ibu dan kakakku. Sebagai
sekertaris sebuah perusahan iklan. Dari kami bertiga, pekerjaankulah yang
berpenghasilan paling tinggi dan itu membuatku cukup tenang. Setidaknya kalau
sampai ada sesuatu, mereka masih aman bersamaku. Atau saat laki-laki tua itu
berulah lagi, aku masih mampu mengatasinya.
Hari
minggu ini, aku membantu ibuku membuat kue untuk mengisi etalase-etalase yang
mulai kosong. Sikapku berubah seketika setiap aku berada di dapur bersama dengan
ibuku. Selalu mengulang kesalahan yang sama seperti waktu kecil, lalu ibu hanya
tersenyum dan mengatakan, “Bukan begitu. Bukan begitu caranya.” Seandainya aku bisa mengulang masa kecilku,
aku ingin selalu menjadi anak kecil.
“Tara,
selalu bersikap manislah. Kamu terlihat lebih dewasa saat itu.” Katanya sambil
mengaduk-aduk adonan dengan mixer
putih.
“Aku akan
berusaha.” Kulirik sekilas wajahnya yang cantik itu mulai berkeriput.
Ujung-ujung matanya tidak sekencang dulu, apalagi kelopaknya. Meskipun begitu
dia masih membanting tulang untuk kelanjutan hidup kami.
Raungan
knalpot sepeda motor tua itu masih saja kencang dan menyakitkan telinga. “Masih
ingat rumah?” cibirku kesal dalam nada pelan. Ibu meninggalkan pekerjaannya dan
pergi ke depan. Saat masih kecil aku pasti ikut meninggalkan pekerjaanku dan
berjalan di belakang ibu. Aku tidak mau ibu di marahi karna terlambat
membukakan pintu. Saat itu aku selalu berpikir, ayah tidak akan memukul ibu
kalau aku atau kakakku ada disana. Tapi ternyata tidak. Tulang tangan yang
kelihatan jelas menyembul di kulit, masih saja kuat memukul.
Rumah semakin
kosong. Terkadang aku selalu menyimpan semua kekesalanku dalam pikiran yang
sudah over capacity atau membuangnya di
tengah kerumunan para orang gila yang dengan senang memasukan berbagai macam
serbuk ke dalam pembuluh darah mereka. Di situlah aku bisa menjadi pembohong
besar. Berpura-pura menggunakan barang-barang mahal itu dan akhirnya sakaw, lalu berteriak-teriak meluapkan
masalah tanpa ada orang yang peduli dan yang lebih parah lagi, mereka akan
memberiku tepuk tangan yang keras sesaat setelah aku selesai berteriak.
Aku senang
berada di tengah-tengah mereka. Aku bisa mempunyai banyak teman yang berlatar belakang
dengan masalah yang berbeda. Tapi selama aku disini, sekalipun aku belum pernah
menegak alkohol apalagi ikut menyuntik. Berbagai alasan akan kucari, agar aku
terlihat mengikuti mereka.
“Tara, ibu
dimana?”
“Di dalam.
Kak, apa kamu bahagia?” Tanyaku pelan. Dia menatapku ragu. Dari dulu, aku selalu
menceritakan semua kepadanya. Tapi setahun lalu dia menikah, meninggalkanku
dengan ibu sendirian bersama orang asing yang kuharapkan segera menghilang.
“Kalau
kamu ingin tahu rasanya, menikahlah. Usiamu sudah 24 tahun, usia itu udah cukup
untuk menikah.” Jawabnya lalu melepas sepatunya dan masuk kedalam.
Semalam
suntuk kuhabiskan dengan segelas kopi dan alunan musik di teras depan. Suara
jangkrik-jangkrik sawah masih memecah malam. “Menikah?” Gumamku. Aku terkikik sendiri.
Umurku yang semakin tua tak menjadi masalah bagiku untuk tidak segera menikah.
Bukan karna belum ada calon pendamping tapi aku belum bisa membiarkan ibuku
hidup berdua dengan ayah. Membayangkannya saja, sudah membuatku takut.
Ayah bukan
tipe pemukul dan melakukan KDRT seperti yang banyak orang pikirkan. Tapi lebih
sebagai parasit rumah. Bagiku dan Kinan dia bukan ayah. Orang tua kami hanya
ibu. Kami sudah kehilangan sosok ayah dimata kami, apalagi saat kami berdua
melihat laki-laki itu membawa pedang dan mengarahkannya pada ibu. Lalu menggedor-gedor
pintu tempat persembunyiannya. Daya ingatku masih cukup kuat untuk mengingatkan
bagaimana rasa ketakutanku dalam dekapan Kinan.
***
Rasa lelahku
menguap ketika mataku membulat. Kemarahanku mencapai titik terakhir. Sepatu high heels yang menyiksa dan tas
kulempar ke sofa. Semetara pintu kubanting keras. Dengan rok spanku, aku berlari mendekat dan
kulindungi kepala ibu dari hantaman piring kosong. Dan akhirnya pelipisku
berdarah. Dalam hitungan detik, laki-laki itu memelukku, mengatakan bahwa dia
tidak sengaja dan meminta maaf. Persetan! Aku ingin membalas menghantamnya,
tapi ibu memegang lenganku kuat.
“Jangan
Tara, Ibu mohon.” Mendengar permintaannya, aku selalu tidak bisa berkutik dan
terus menerima penderitaan ini selama dia masih menghembuskan nafas. Ibu
membopongku meninggalkan ruang tamu. Menekan saklar listrik, lampu bulan itu
menyala menggantikan kegelapan yang semula menguasai.
“Bu, apa
yang dia lakukan lagi?” Tanyaku disela-sela ibu mengobati lukaku.
“Bukan
apa-apa sayang. Mungkin cara ibu yang salah, atau mungkin ayahmu sedang banyak
pikiran.” Yang membuatku tidak tahan adalah sikap ibu yang terus menerus
membelanya. Memaafkannya.
“Terlalu
mencintai seseorang terkadang membuat kita buta. Buta betapa terlukanya kita saat
bersama orang yang rasa cintanya harus dipertanyakan lagi.” Sindirku. Aku
berharap ibu akan memprotesku dan membantah argumenku barusan, tapi ibu hanya
tersenyum dan meneruskan mengobati luka-lukaku yang sempat berhenti.
Meskipun
aku sangat membenci sosoknya dan tak begitu yakin dengan rasa sayangnya. Aku
masih ingin merasakan hal yang tak pernah aku dapatkan seperti anak perempuan
lainnya. Seperti diajak jalan-jalan berdua sambil diceritakan sesuatu yang
berharga, nasehat-nasehat ringan atau apalah. Dibelikan se-cup es krim atau saat pulang kerja dibawakan sebungkus makanan lalu
menikmatinya bersama. Hal sederhana yang sangat aku inginkan. Bukan lupa tapi
memang belum pernah kulakukan bersama manusia yang mengaku dirinya sebagai
ayah.
Saat
datang ke acara pemakaman ayah Tora, pacarku. Aku melihatnya sangat sedih dan
hancur meskipun belum sampai meneteskan air mata.
“Aku
begitu dekat dengannya. Apa aku bisa menjadi sosok seperti dia? Apa aku bisa
mendapatkan kasih sayangnya lagi?” Tanyanya padaku saat itu. Aku hanya diam dan
menatap pusara ayahnya. Pikiranku melayang, Apa
nanti aku akan sesedih dan sehancur Tora saat dia meninggal? Atau saat itu aku akan
berpura-pura sedih di depan ibu dan berpesta setelahnya?
Seminggu
setelah itu, saat hari ulang tahunku. Tora melamarku.dengan cincin berlian yang
mengkilau. Aku melayang seketika. Meskipun dia tahu kehidupanku, keluargaku,
dan kebiasaanku datang ke tempat itu setiap kepalaku suntuk berat, tapi dia bersiteguh
tetap ingin menjadikanku istrinya. Tapi aku harus menghancurkan keinginan
terbesarnya. Ya, aku menolaknya. “Kenapa?” Desaknya sambil mencengkram pundakku
kuat.
“Aku belum
bisa meninggalkan ibuku.” Balasku tegas.
“Kita bisa
membawa ibumu tinggal bersama kita. Jadi tidak ada alasan untuk
mengkhawatirkannya bukan?”
“Beri aku
waktu. Aku akan bicara dengan ibu.” Bagiku Tora adalah laki-laki baik hati dan
selalu memahamiku apapun pilihanku.
***
Sebulan
lalu di usia ke 25 tahunku. Aku dan Tora resmi menikah di Gereja tempat dulu
ayah dan ibu menikah. Aku bahagia tapi tak sepenuhnya. Karna aku terpaksa
meninggalkan ibu berdua dengan ayah, orang yang sama sekali tak bisa kupercaya.
Orang yang hanya mementingkan diri sendiri.
“Pergilah
dan tinggallah dengan suamimu. Sekarang kamu milikinya. Berbakti padanya. Ibu
yakin Tora bisa menjadi suami yang baik untukmu.”
“Ibu, aku
mohon tinggallah denganku. Aku khawatir dengan ibu.”
“Ibu akan
baik-baik saja.” Ucapnya lembut sambil menghapus air mataku yang sudah lama tak
pernah keluar.
Tora
mencoba memahamiku yang lebih sering tinggal bersama ibuku ketimbang dirinya.
Dia tahu betul perasaan cemasku setiap pulang kerja dan belum mengecek kondisi
ibu. Kinan tidak bisa selalu menjenguknya karna dia ikut suaminya yang bekerja
di luar kota. Jadi sebagai anaknya, hanya aku yang bisa.
Seminggu
penuh aku tinggal serumah dengan ibu dan seseorang yang mengaku sebagai ayah.
Aku perhatikan kondisi ibu semakin lama semakin menurun. Diusia 50 tahunnya dia
masih terus bekerja sebagai guru dan menjaga toko kuenya. Keesokan harinya, aku
dihantui rasa cemas yang kelewat batas, jadi kuputuskan untuk mengantar ibu ke rumah
sakit. Dugaanku tepat, ibu sakit. Diabetesnya sudah akut. Mendengar
pemberitahuan dokter membuatku menelan ludah pun berat. Aku memapah ibu keluar
rumah sakit dan mencari taksi. Bahkan
dalam keadaan seperti ini pun dia tidak peduli. Sebesar itukah rasa cinta ibu
padanya?, batinku.
Di dalam
taksi, ibu menggenggam dan bersandar dipundakku sambil berkata, “Saat ibu akan
pergi nanti, tolong kalian berempat datang menemui ibu dengan seikat bunga lily
putih.”
“Kami?”
“Iya. Kamu
dan Kinan serta suami-suami kalian. Berjanjilah Tara.”
“Iya aku
janji. Tapi itu tidak akan aku lakukan dalam waktu dekat ini. Akan aku lakukan
saat usia ibu sudah 100 tahun.” Tandasku.
Lalu
setelah sampai di rumah, tanpa menunggu izin dari ibu, aku menulis surat
permohonan cuti dan syukurnya itu di terima. Aku ingin ibu fokus dengan
penyakitnya yang kurasa semakin lama semakin memburuk. Toko kuepun terpaksa
ditutup karna ibu belum bisa membuat kue lagi. Kalau ingin bergantung denganku,
aku yakin dalam sebentar usaha yang sudah ia rintis dari nol itu akan bangkrut.
“Makanlah
meskipun hanya sesuap.” Paksaku sambil terus menyodorkan sendok ke dekat
mulutnya.
“Bagaimana
dengan ayahmu? Apa kamu juga membawakan makanan untuknya?” Suasana hatiku
seketika buruk setiap ibu lebih mencemaskan psycopat
itu daripada kesehatannya yang jelas-jelas buruk.
“Nanti
akan kubelikan dia makanan, asal ibu mau makan sekarang. Jadi ayo buka mulut
ibu.” Tapi entah jadi atau tidak aku membelikannya makanan. Bagiku itu hanya
sebuah alasan.
***
Kinan dan
Bima, suaminya, datang ke rumahku. Bima beralasan ingin bertemu Tora ada urusan
bisnis. Satu jam berlalu, mereka berdua mengajakku dan Tora berkunjung ke rumah
ibu dan aku langsung menyetujuinya. Aku dan Kinan duduk di kursi belakang,
bersama mendengarkan dua laki-laki yang melanjutkan pembicaraan mereka yang
sempat terhenti.
“Stop!!” ucap
Kinan tiba-tiba. Bima menginjak pedal rem dalam-dalam, membuat kami berempat
hampir terjungkal ke depan. Ia buru-buru keluar dan menyeberang, beberapa saat
kemudian pintu kanan mobil kembali terbuka. Ditangannya ada seikat bunga lily
putih yang segar.
“Lily
putih?”
“Iya. Aku
ingin membawakan ibu bunga kesukaannya.” Sahutnya santai. Perjalanan kami
berlanjut. Aku membenarkan posisi dudukku yang seakan mulai tidak nyaman. Bibir
bawah kugigit sampai aku merasa ada rasa asin di mulutku. Hujan membasahi kaca
jendela semakin membuat pikiranku kalut dan penuh kemungkinan buruk yang sangat
tidak aku harapkan.
Di kamarku
dan Kinan dulu, ibu berbaring untuk terakhir kalinya. Memeluk boneka-boneka
kesayangan kami sewaktu kecil yang masih tertata rapi di ranjang. Sekilas itu
terlihat seperti sedang memeluk kami berdua dan menemani kami tidur. Wajah
berkerut yang semula menahan sakit batin kini bisa tersenyum dan melepas semua
tekanan hidupnya. Ada rasa terima kasihku pada Tuhan saat itu. Setidaknya beban
dan masalahnya sudah berakhir. Air mata kesedihan itu tidak akan pernah menetes
lagi. Meskipun itu berarti aku tidak akan pernah bisa melihat malaikatku lagi.
Kinan,
kakakku, dia sudah berhambur di tubuh ibu yang membeku.
Menggoncang-goncangkannya sambil terus berteriak dengan isak tangis yang keras.
Sementara aku masih terpaku di samping pintu dan terus menatapnya dari jauh.
Tora merangkul pindakku. Menguatkanku dan siap menangkap saat kakiku sudah tidak
kuat untuk berdiri.
Laki-laki
itu baru saja datang, menerobos masuk dan berdiri di depan ranjang. Menatap
tubuhnya yang kaku beberapa saat. Aku kehilangan energiku untuk menyeretnya
keluar dan menjauhkannya dari ibu. Tapi mungkin ibu akan memarahiku dari surga.
Aku yakin ibu juga ingin melihat orang yang sangat dicintainya meski dengan
mata yang sudah menutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi.
“Aku akan
mengurus pemakamannya.” Katanya sebelum melangkah pergi.
“Tidak
perlu. Biar aku yang melakukannya, karna aku adalah anaknya.” Tolakku.
“Tapi aku
masih suaminya dan aku masih ayahmu Tara.” Untuk pertama kalinya dia bicara
denganku. Seandainya ibu bisa mendengar itu, aku rasa ibu akan tersenyum.
“Mungkin
ibu masih menganggapmu suaminya. Tapi bagiku, sejak lahir aku tidak pernah memiliki
seorang ayah. Mungkin kamu seorang ayah, tapi bagiku kamu hanya seseorang yang
mengaku sebagai ayah. Jadi silahkan pergi. Silahkan datang saat pemakaman,
itupun kalau kamu masih mencintai wanita ini.” Kataku dengan suara yang berubah
berat dan semakin lama semakin hilang tertahan ditenggorokan.
Kini
tinggal aku dan Tora dalam kamar penuh kenangan ini. Tora memaksa untuk tidak
keluar, dia terlalu takut untuk mengambil resiko meninggalkanku sendiri dalam
kondisi seperti ini. Seluruh perhatianku tertumbuk pada ibuku, sama sekali
tidak memperdulikan keberadaanya.
“Apa ibu masih mencintai dia?”
“Sampai kapanpun ibu akan mencintai
ayahmu. Tara, ibu ingin saat pemakaman ibu nanti, ibu mohon tolong ijinkan
ayahmu datang. Meskipun sebenarnya kamu sangat ingin melarangnya tapi ibu mohon
tolong ijinkan ayahmu datang. Ibu ingin saat terakhir ibu melihat dunia, ibu
ditemani keluarga besar ibu.”
Kenangan
itu membuat dadaku seketika terasa sesak, sakit, dan marah. Bahkan air mata ini
tidak mampu menjelaskannya.
***
Hari
berikutnya, kami berlima termasuk laki-laki itu sudah berpakaian hitam dan
mengantar ibu ke Gereja lalu pergi ke pemakaman. Peti ibu baru saja menyentuh
dasar permukaan tanah dan mulai di pendam tanah kembali. Seikat lilly miliku
belum kusandarkan dipusara ibu seperti milik Kinan.
Perlahan
satu demi satu orang pulang, termasuk Kinan, Bima dan orang itu. Sementara aku
baru duduk mendekat. Ku cium nama yang terukir di salib lalu menyandarkan
seikat bunga lilly putih kesukaan ibu.
“Ibu, aku
sudah menepati janjiku. Aku sudah membawakan seikat bunga lilly begitupun
Kinan. Aku juga sudah membiarkan ….”
“Aku juga
sudah membiarkan a..a..ayah datang. Jadi tolong tepati janji ibu untuk bahagia
di sana bersama Tuhan.” Lanjutku. Kuusap berkali-kali nama ibu sebelum pergi.
Tora terus memapahku karna aku rasa sebentar lagi aku akan ambruk. Aku
benar-benar linglung. Ibu benar, Tora
adalah suami yang baik.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar