Senin, 03 Maret 2014

Opposite



Baru seminggu yang lalu usiaku berubah menjadi 24 tahun dan aku masih saja harus menghirup oksigen lalu menghembuskannya. Dimalam pergantian usiaku, ada satu permohonan yang selalu ku ucapkan berulang kali. Aku ingin tinggal di sebuah rumah dengan kondisi yang lebih menyenangkan. Terkadang aku harus membobol uang tabunganku sendiri, hanya untuk kabur setiap kepala dan telingaku sakit. Atau pergi ke tempat perkumpulan orang-orang yang kurasa jauh tidak normal dariku.
             Segelas kopi pekat yang masih menguap berdiri tegak sendirian di tengah meja kotak tak bertaplak. Minuman kesukaanku yang bisa membuatku berpikir lebih cepat. Meskipun begitu, aku masih belum bisa menghentikan air mata orang itu. Air mata yang selalu membuat darah tinggiku naik. Yah, tinggal dengan seorang psycopat memang merepotkan.

                                                                                                     ***
             Hari-hari berjalan seperti biasa. Terulang dan terulang lagi dengan peristiwa yang serupa. Penuh tangis air mata, canda tawa, bahkan kemurkaan. Membosankan. Pekerjaanku saat ini cukup bisa meringankan tanggungan ibu dan kakakku. Sebagai sekertaris sebuah perusahan iklan. Dari kami bertiga, pekerjaankulah yang berpenghasilan paling tinggi dan itu membuatku cukup tenang. Setidaknya kalau sampai ada sesuatu, mereka masih aman bersamaku. Atau saat laki-laki tua itu berulah lagi, aku masih mampu mengatasinya.
             Hari minggu ini, aku membantu ibuku membuat kue untuk mengisi etalase-etalase yang mulai kosong. Sikapku berubah seketika setiap aku berada di dapur bersama dengan ibuku. Selalu mengulang kesalahan yang sama seperti waktu kecil, lalu ibu hanya tersenyum dan mengatakan, “Bukan begitu. Bukan begitu caranya.” Seandainya aku bisa mengulang masa kecilku, aku ingin selalu menjadi anak kecil.
             “Tara, selalu bersikap manislah. Kamu terlihat lebih dewasa saat itu.” Katanya sambil mengaduk-aduk adonan dengan mixer putih.
             “Aku akan berusaha.” Kulirik sekilas wajahnya yang cantik itu mulai berkeriput. Ujung-ujung matanya tidak sekencang dulu, apalagi kelopaknya. Meskipun begitu dia masih membanting tulang untuk kelanjutan hidup kami.
             Raungan knalpot sepeda motor tua itu masih saja kencang dan menyakitkan telinga. “Masih ingat rumah?” cibirku kesal dalam nada pelan. Ibu meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke depan. Saat masih kecil aku pasti ikut meninggalkan pekerjaanku dan berjalan di belakang ibu. Aku tidak mau ibu di marahi karna terlambat membukakan pintu. Saat itu aku selalu berpikir, ayah tidak akan memukul ibu kalau aku atau kakakku ada disana. Tapi ternyata tidak. Tulang tangan yang kelihatan jelas menyembul di kulit, masih saja kuat memukul.
             Rumah semakin kosong. Terkadang aku selalu menyimpan semua kekesalanku dalam pikiran yang sudah over capacity atau membuangnya di tengah kerumunan para orang gila yang dengan senang memasukan berbagai macam serbuk ke dalam pembuluh darah mereka. Di situlah aku bisa menjadi pembohong besar. Berpura-pura menggunakan barang-barang mahal itu dan akhirnya sakaw, lalu berteriak-teriak meluapkan masalah tanpa ada orang yang peduli dan yang lebih parah lagi, mereka akan memberiku tepuk tangan yang keras sesaat setelah aku selesai berteriak.
             Aku senang berada di tengah-tengah mereka. Aku bisa mempunyai banyak teman yang berlatar belakang dengan masalah yang berbeda. Tapi selama aku disini, sekalipun aku belum pernah menegak alkohol apalagi ikut menyuntik. Berbagai alasan akan kucari, agar aku terlihat mengikuti mereka.
             “Tara, ibu dimana?”
             “Di dalam. Kak, apa kamu bahagia?” Tanyaku pelan. Dia menatapku ragu. Dari dulu, aku selalu menceritakan semua kepadanya. Tapi setahun lalu dia menikah, meninggalkanku dengan ibu sendirian bersama orang asing yang kuharapkan segera menghilang.
             “Kalau kamu ingin tahu rasanya, menikahlah. Usiamu sudah 24 tahun, usia itu udah cukup untuk menikah.” Jawabnya lalu melepas sepatunya dan masuk kedalam.
             Semalam suntuk kuhabiskan dengan segelas kopi dan alunan musik di teras depan. Suara jangkrik-jangkrik sawah masih memecah malam. “Menikah?” Gumamku. Aku terkikik sendiri. Umurku yang semakin tua tak menjadi masalah bagiku untuk tidak segera menikah. Bukan karna belum ada calon pendamping tapi aku belum bisa membiarkan ibuku hidup berdua dengan ayah. Membayangkannya saja, sudah membuatku takut.
             Ayah bukan tipe pemukul dan melakukan KDRT seperti yang banyak orang pikirkan. Tapi lebih sebagai parasit rumah. Bagiku dan Kinan dia bukan ayah. Orang tua kami hanya ibu. Kami sudah kehilangan sosok ayah dimata kami, apalagi saat kami berdua melihat laki-laki itu membawa pedang dan mengarahkannya pada ibu. Lalu menggedor-gedor pintu tempat persembunyiannya. Daya ingatku masih cukup kuat untuk mengingatkan bagaimana rasa ketakutanku dalam dekapan Kinan.
                                                                                                     ***
             Rasa lelahku menguap ketika mataku membulat. Kemarahanku mencapai titik terakhir. Sepatu high heels yang menyiksa dan tas kulempar ke sofa. Semetara pintu kubanting keras. Dengan rok spanku, aku berlari mendekat dan kulindungi kepala ibu dari hantaman piring kosong. Dan akhirnya pelipisku berdarah. Dalam hitungan detik, laki-laki itu memelukku, mengatakan bahwa dia tidak sengaja dan meminta maaf. Persetan! Aku ingin membalas menghantamnya, tapi ibu memegang lenganku kuat.
             “Jangan Tara, Ibu mohon.” Mendengar permintaannya, aku selalu tidak bisa berkutik dan terus menerima penderitaan ini selama dia masih menghembuskan nafas. Ibu membopongku meninggalkan ruang tamu. Menekan saklar listrik, lampu bulan itu menyala menggantikan kegelapan yang semula menguasai.
             “Bu, apa yang dia lakukan lagi?” Tanyaku disela-sela ibu mengobati lukaku.
             “Bukan apa-apa sayang. Mungkin cara ibu yang salah, atau mungkin ayahmu sedang banyak pikiran.” Yang membuatku tidak tahan adalah sikap ibu yang terus menerus membelanya. Memaafkannya.
             “Terlalu mencintai seseorang terkadang membuat kita buta. Buta betapa terlukanya kita saat bersama orang yang rasa cintanya harus dipertanyakan lagi.” Sindirku. Aku berharap ibu akan memprotesku dan membantah argumenku barusan, tapi ibu hanya tersenyum dan meneruskan mengobati luka-lukaku yang sempat berhenti.
             Meskipun aku sangat membenci sosoknya dan tak begitu yakin dengan rasa sayangnya. Aku masih ingin merasakan hal yang tak pernah aku dapatkan seperti anak perempuan lainnya. Seperti diajak jalan-jalan berdua sambil diceritakan sesuatu yang berharga, nasehat-nasehat ringan atau apalah. Dibelikan se-cup es krim atau saat pulang kerja dibawakan sebungkus makanan lalu menikmatinya bersama. Hal sederhana yang sangat aku inginkan. Bukan lupa tapi memang belum pernah kulakukan bersama manusia yang mengaku dirinya sebagai ayah.
             Saat datang ke acara pemakaman ayah Tora, pacarku. Aku melihatnya sangat sedih dan hancur meskipun belum sampai meneteskan air mata.
             “Aku begitu dekat dengannya. Apa aku bisa menjadi sosok seperti dia? Apa aku bisa mendapatkan kasih sayangnya lagi?” Tanyanya padaku saat itu. Aku hanya diam dan menatap pusara ayahnya. Pikiranku melayang, Apa nanti aku akan sesedih dan sehancur Tora saat dia meninggal? Atau saat itu aku akan berpura-pura sedih di depan ibu dan berpesta setelahnya?
             Seminggu setelah itu, saat hari ulang tahunku. Tora melamarku.dengan cincin berlian yang mengkilau. Aku melayang seketika. Meskipun dia tahu kehidupanku, keluargaku, dan kebiasaanku datang ke tempat itu setiap kepalaku suntuk berat, tapi dia bersiteguh tetap ingin menjadikanku istrinya. Tapi aku harus menghancurkan keinginan terbesarnya. Ya, aku menolaknya. “Kenapa?” Desaknya sambil mencengkram pundakku kuat.
             “Aku belum bisa meninggalkan ibuku.” Balasku tegas.
             “Kita bisa membawa ibumu tinggal bersama kita. Jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya bukan?”
             “Beri aku waktu. Aku akan bicara dengan ibu.” Bagiku Tora adalah laki-laki baik hati dan selalu memahamiku apapun pilihanku.
                                                                                                     ***
             Sebulan lalu di usia ke 25 tahunku. Aku dan Tora resmi menikah di Gereja tempat dulu ayah dan ibu menikah. Aku bahagia tapi tak sepenuhnya. Karna aku terpaksa meninggalkan ibu berdua dengan ayah, orang yang sama sekali tak bisa kupercaya. Orang yang hanya mementingkan diri sendiri.
             “Pergilah dan tinggallah dengan suamimu. Sekarang kamu milikinya. Berbakti padanya. Ibu yakin Tora bisa menjadi suami yang baik untukmu.”
             “Ibu, aku mohon tinggallah denganku. Aku khawatir dengan ibu.”
             “Ibu akan baik-baik saja.” Ucapnya lembut sambil menghapus air mataku yang sudah lama tak pernah keluar.
             Tora mencoba memahamiku yang lebih sering tinggal bersama ibuku ketimbang dirinya. Dia tahu betul perasaan cemasku setiap pulang kerja dan belum mengecek kondisi ibu. Kinan tidak bisa selalu menjenguknya karna dia ikut suaminya yang bekerja di luar kota. Jadi sebagai anaknya, hanya aku yang bisa.
             Seminggu penuh aku tinggal serumah dengan ibu dan seseorang yang mengaku sebagai ayah. Aku perhatikan kondisi ibu semakin lama semakin menurun. Diusia 50 tahunnya dia masih terus bekerja sebagai guru dan menjaga toko kuenya. Keesokan harinya, aku dihantui rasa cemas yang kelewat batas, jadi kuputuskan untuk mengantar ibu ke rumah sakit. Dugaanku tepat, ibu sakit. Diabetesnya sudah akut. Mendengar pemberitahuan dokter membuatku menelan ludah pun berat. Aku memapah ibu keluar rumah sakit dan mencari taksi. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun dia tidak peduli. Sebesar itukah rasa cinta ibu padanya?, batinku.
             Di dalam taksi, ibu menggenggam dan bersandar dipundakku sambil berkata, “Saat ibu akan pergi nanti, tolong kalian berempat datang menemui ibu dengan seikat bunga lily putih.”
             “Kami?”
             “Iya. Kamu dan Kinan serta suami-suami kalian. Berjanjilah Tara.”
             “Iya aku janji. Tapi itu tidak akan aku lakukan dalam waktu dekat ini. Akan aku lakukan saat usia ibu sudah 100 tahun.” Tandasku.
             Lalu setelah sampai di rumah, tanpa menunggu izin dari ibu, aku menulis surat permohonan cuti dan syukurnya itu di terima. Aku ingin ibu fokus dengan penyakitnya yang kurasa semakin lama semakin memburuk. Toko kuepun terpaksa ditutup karna ibu belum bisa membuat kue lagi. Kalau ingin bergantung denganku, aku yakin dalam sebentar usaha yang sudah ia rintis dari nol itu akan bangkrut.
             “Makanlah meskipun hanya sesuap.” Paksaku sambil terus menyodorkan sendok ke dekat mulutnya.
             “Bagaimana dengan ayahmu? Apa kamu juga membawakan makanan untuknya?” Suasana hatiku seketika buruk setiap ibu lebih mencemaskan psycopat itu daripada kesehatannya yang jelas-jelas buruk.
             “Nanti akan kubelikan dia makanan, asal ibu mau makan sekarang. Jadi ayo buka mulut ibu.” Tapi entah jadi atau tidak aku membelikannya makanan. Bagiku itu hanya sebuah alasan.
                                                                                                     ***
             Kinan dan Bima, suaminya, datang ke rumahku. Bima beralasan ingin bertemu Tora ada urusan bisnis. Satu jam berlalu, mereka berdua mengajakku dan Tora berkunjung ke rumah ibu dan aku langsung menyetujuinya. Aku dan Kinan duduk di kursi belakang, bersama mendengarkan dua laki-laki yang melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terhenti.
             “Stop!!” ucap Kinan tiba-tiba. Bima menginjak pedal rem dalam-dalam, membuat kami berempat hampir terjungkal ke depan. Ia buru-buru keluar dan menyeberang, beberapa saat kemudian pintu kanan mobil kembali terbuka. Ditangannya ada seikat bunga lily putih yang segar.
             “Lily putih?”
             “Iya. Aku ingin membawakan ibu bunga kesukaannya.” Sahutnya santai. Perjalanan kami berlanjut. Aku membenarkan posisi dudukku yang seakan mulai tidak nyaman. Bibir bawah kugigit sampai aku merasa ada rasa asin di mulutku. Hujan membasahi kaca jendela semakin membuat pikiranku kalut dan penuh kemungkinan buruk yang sangat tidak aku harapkan.
             Di kamarku dan Kinan dulu, ibu berbaring untuk terakhir kalinya. Memeluk boneka-boneka kesayangan kami sewaktu kecil yang masih tertata rapi di ranjang. Sekilas itu terlihat seperti sedang memeluk kami berdua dan menemani kami tidur. Wajah berkerut yang semula menahan sakit batin kini bisa tersenyum dan melepas semua tekanan hidupnya. Ada rasa terima kasihku pada Tuhan saat itu. Setidaknya beban dan masalahnya sudah berakhir. Air mata kesedihan itu tidak akan pernah menetes lagi. Meskipun itu berarti aku tidak akan pernah bisa melihat malaikatku lagi.
             Kinan, kakakku, dia sudah berhambur di tubuh ibu yang membeku. Menggoncang-goncangkannya sambil terus berteriak dengan isak tangis yang keras. Sementara aku masih terpaku di samping pintu dan terus menatapnya dari jauh. Tora merangkul pindakku. Menguatkanku dan siap menangkap saat kakiku sudah tidak kuat untuk berdiri.
             Laki-laki itu baru saja datang, menerobos masuk dan berdiri di depan ranjang. Menatap tubuhnya yang kaku beberapa saat. Aku kehilangan energiku untuk menyeretnya keluar dan menjauhkannya dari ibu. Tapi mungkin ibu akan memarahiku dari surga. Aku yakin ibu juga ingin melihat orang yang sangat dicintainya meski dengan mata yang sudah menutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi.
             “Aku akan mengurus pemakamannya.” Katanya sebelum melangkah pergi.
             “Tidak perlu. Biar aku yang melakukannya, karna aku adalah anaknya.” Tolakku.
             “Tapi aku masih suaminya dan aku masih ayahmu Tara.” Untuk pertama kalinya dia bicara denganku. Seandainya ibu bisa mendengar itu, aku rasa ibu akan tersenyum.
             “Mungkin ibu masih menganggapmu suaminya. Tapi bagiku, sejak lahir aku tidak pernah memiliki seorang ayah. Mungkin kamu seorang ayah, tapi bagiku kamu hanya seseorang yang mengaku sebagai ayah. Jadi silahkan pergi. Silahkan datang saat pemakaman, itupun kalau kamu masih mencintai wanita ini.” Kataku dengan suara yang berubah berat dan semakin lama semakin hilang tertahan ditenggorokan.
             Kini tinggal aku dan Tora dalam kamar penuh kenangan ini. Tora memaksa untuk tidak keluar, dia terlalu takut untuk mengambil resiko meninggalkanku sendiri dalam kondisi seperti ini. Seluruh perhatianku tertumbuk pada ibuku, sama sekali tidak memperdulikan keberadaanya.
             “Apa ibu masih mencintai dia?”
             “Sampai kapanpun ibu akan mencintai ayahmu. Tara, ibu ingin saat pemakaman ibu nanti, ibu mohon tolong ijinkan ayahmu datang. Meskipun sebenarnya kamu sangat ingin melarangnya tapi ibu mohon tolong ijinkan ayahmu datang. Ibu ingin saat terakhir ibu melihat dunia, ibu ditemani keluarga besar ibu.”
             Kenangan itu membuat dadaku seketika terasa sesak, sakit, dan marah. Bahkan air mata ini tidak mampu menjelaskannya.                                                                            
                                                                                                     ***
             Hari berikutnya, kami berlima termasuk laki-laki itu sudah berpakaian hitam dan mengantar ibu ke Gereja lalu pergi ke pemakaman. Peti ibu baru saja menyentuh dasar permukaan tanah dan mulai di pendam tanah kembali. Seikat lilly miliku belum kusandarkan dipusara ibu seperti milik Kinan.
             Perlahan satu demi satu orang pulang, termasuk Kinan, Bima dan orang itu. Sementara aku baru duduk mendekat. Ku cium nama yang terukir di salib lalu menyandarkan seikat bunga lilly putih kesukaan ibu.
             “Ibu, aku sudah menepati janjiku. Aku sudah membawakan seikat bunga lilly begitupun Kinan. Aku juga sudah membiarkan ….”
             “Aku juga sudah membiarkan a..a..ayah datang. Jadi tolong tepati janji ibu untuk bahagia di sana bersama Tuhan.” Lanjutku. Kuusap berkali-kali nama ibu sebelum pergi. Tora terus memapahku karna aku rasa sebentar lagi aku akan ambruk. Aku benar-benar linglung. Ibu benar, Tora adalah suami yang baik.

****

Tidak ada komentar: