*****
Semenjak
aku tinggal bersama keluargaku di kota baru, semuanya terlihat berubah. Kakak
laki-lakiku, sebut saja namanya Toni. Baru saja dia lulus SMA dan ingin
melanjutkan sekolah di kota ini. Alhasil aku harus ikut pindah sekolah. Ini
sudah kepindahanku yang ke empat kalinya dan aku harus selalu memulai
beradaptasi kembali. Hal yang menyebalkan. Tahun ini aku selesai menempuh
sekolah dasarku. Satu-satunya hal yang sangat kuinginkan untuk cepat terjadi
adalah hari kelulusanku. Aku ingin hari itu cepat datang dan aku bisa
mengatakan selamat tinggal pada cecurut di sekolahku.
Satu
jam lagi, denting jam malam pasti akan kembali bersuara. Aku bisa menebaknya,
laki-laki itu akan kembali dengan botol-botol ditangannya. Aku bosan mendengar
suara teriakan yang menyakitkan telinga. Meraung-raung seperti mobil ambulan
yang melaju kencang di depan rumahku tempo hari.
*****
“Gea.. Cepat turun sayang. Ayah bawa es
krim kesukaanmu.” Panggil ibuku dari lantai dasar. Kuselipkan pita warna biru dan
kututup seperti biasa. Telapak kakiku terasa dingin saat menyentuh satu persatu
anak tangga. Boneka beruang kutenteng lemas, lalu duduk di meja makan sebelah
ayah.
“Ibu, apa kakak belum pulang?” Tanyaku
pelan. Di balik taplak meja, tanganku meremas leher boneka yang jika itu
mahkluk hidup kupikir mungkin akan mati. Aku masih berusia dua belas tahun,
tapi aku mengerti apa yang terjadi di rumah sederhana ini.
“Ibu…?” Aku mengulang.
“Gea, sudah jangan bicarakan dia,
ibumu bisa sedih. Ayo makan es krimnya.” Potong ayah sambil menyodorkan es krim
vanilla yang memang sudah berhasil menggodaku. Kulepas cengkraman tanganku dari
leher beruang, lalu kusambar cepat semangkok kecil es krim kesukaanku. Sambil
menikmati es krim, sudut mataku berhasil mencuri air muka ibu yang begitu
sedih.
“Gea, besok sudah mulai sekolah lagi
kan?” Aku menggangguk pelan.
“Kalau sudah selesai makan es krimnya,
sikat gigi dan cepat pergi itdur.”
“Baik bu.” Jawabku setengah menunduk
ke mangkok yang isinya sudah semakin menghilang. Satu suap lagi, dan saat
suapan itu masuk ke mulutku, hilang sudah alasanku untuk tetap bertahan di meja
makan bersama ayah dan ibu.
“Selamat malam ayah, selamat malam
ibu.”
***
“Ayo aku antar ke sekolah. hari ini
aku free.” Ajaknya dari atas motor
bercat hitam kombinasi silver. Aku cepat-cepat berlari dan duduk di belakangnya.
Sudah lama hal ini tidak pernah terjadi. “Kakak, tadi malam kakak pulang jam
berapa?” Aku membungkuk lalu mengaitkan jemariku di perut kak Toni. Jalan sepi
ini selalu dianggapnya seperti arena balam motor.
Di depan gerbang sekolah baruku, aku
senang, aku merasa kejadian kelam di sekolah lamaku tidak akan terulang lagi di
sini. Contohnya hari ini, aku diantarkan ke sekolah seperti mereka. Aku senang.
“Ge, nanti mau aku jemput apa enggak?
Dan ingat, nanti di rumah kamu harus cerita pengalaman hari pertama kamu
sekolah. mengerti?” Aku tersenyum lebar, berlari dan kutinggalkan kak Toni di
gerbang sekolah.
Aku duduk di bangku paling belakang,
deret pertama. Aku lebih suka duduk di belakang, karna tidak akan ada yang bisa
menertawaiku seperti saat aku di bangku depan. Pelajaran pertama, Bahasa
Indonesia. Kami harus maju dan menceritakan tentang seseorang yang menjadi
motivator dalam hidup. Satu katapun aku belum membuatnya. Saat giliranku maju,
Bu Mariska memberiku kesempatan ke dua, lusa. Ini baru hari pertamaku di
sekolah, tapi aku sudah bisa merasakan ada hal buruk yang akan terjadi kalau
sampai aku tidak maju. Jadi ku putuskan untuk maju.
Empat jam kemudian, bel berdentang mengakhiri
pelajaran. Bekal makan siangku, nasi dan gulungan telur seperti biasa, lengkap
dengan sambal. Di atas balkon sekolah, aku duduk sendiri. menikmati langit
cerah dan hembusan angin yang kencang. Duduk menyila dan kulahap habis bekalku.
“Hi Gea, aku boleh duduk disini?” Seru
gadis berpita merah dengan kacamata tebalnya. Aku menggangguk sambil melempar
senyum tipisku.
“Kenapa enggak makan di kelas aja?” tanyanya
lagi. Aku hanya menggeleng.
“Kamu sendiri kenapa makan disini?”
selidikku balik.
“Aku bosan makan di kelas. Selama
berjam-jam yang aku lihat cuman buku, bolpen, papan, dan itu-itu mulu. Aku mau
yang beda, kalau kamu?”
“Aku lebih suka sendirian, karna aku
sudah terbiasa sendiri.”
“Kamu mau jadi temen aku?” Ucapnya
polos. Aku diam, aku merasa seperti ada sesuatu yang merasuki tubuhku.
“Asal kamu sungguh mau menjadi temanku.
Seseorang yang ingin berteman bukan karna kasihan.” Jawabku dingin. Dia
tersenyum, dan berkata, “Tenang aja, aku bisa jadi temen baikmu kok.” Dan
tiba-tiba dia berbagi sepotong kornet sapi denganku. Aku sulit percaya dengan
kata-kata manis itu. Kata-kata yang selalu membuatku sakit, akhirnya.
***
Untuk kesekian kalinya, kak Toni
melanggar janjinya. Saat gerbang sekolah mulai ditutup, berdasarkan ingatanku
saja aku berjalan pulang. Entah aku bisa sampai rumah dengan selamat atau
kejadian saat aku duduk di bangku kelas 4 itu akan terulang lagi atau tidak.
Aku berjalan lurus dan mengulang jalan yang kulalui tadi bersama kakak.
Akhirnya sampai. Aku merapat dipagar
besi tua, kugerak-gerakan engsel kunci yang mulai terbalut kerak, berwarna
oranye kecoklatan. Keringat mengucur deras dan membasahi bagian punggung
seragamku. Secepat kilat aku berlari ke dalam, tapi kakiku terhenti tepat di
depan pintu. Pertengkaran itu terjadi lagi. Dari balik tirai jendela yang
sedikit terbuka, aku mengintip pertengkaran apalagi yang terjadi. “Astaga
kakak!!” Jeritku. Aku memutar ke balik tembok. Meringkuk di depan rumah sambil
memeluk perutku yang sudah melilit. Pertengkaran itu seperti angin lalu buatku,
masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri.
“Aku ingin cepat dewasa dan bisa pergi
dari neraka ini. Tapi itu masih lama.” Gumamku. Memainkan ikat sepatu, yang
kuikat lalu kulepaskan lagi. Rasa kantuk yang menyergap akhirnya memaksaku
membuka pintu. Aku harap saat aku masuk, pertengkaran itu berhenti, setidaknya
saat aku lewat dan menghilang di lantai atas. Tapi nyatanya, pertengkaran itu
terus berlanjut. Aku melirik ke arah ibu yang duduk dengan wajah ditutupi oleh
kedua tangan lembutnya.
*****
Bisakah
sehari saja aku hidup layaknya orang lain? Mempunyai keluarga yang bahagia.
Mereka selalu mengganggapku anak kecil yang mudah dibohongi hanya dengan es
krim vanilla. Aku tahu dia selalu membohongiku. Berlagak manis di depanku, agar
aku terus diam dan berhenti mengintrogasinya. Tapi aku juga punya telinga dan
mata. Pertengkaran itu sering membuatku ingin menyiram mereka dengan air
mendidih.
*****
Aku menelentangkan kedua tanganku
diatas ranjang. Kutumbukkan pandanganku di lampu yang menempel di langit-langit
kamar. Pikiranku melayang kembali ke apa yang aku lihat, tubuh kak Toni. Aku
yakin se-yakin-yakinnya, dia pasti berkelahi lagi. Aku sering memergoki kak
Toni menyuntikan sesuatu ke tangannya, meminum minuman botol yang aromanya
membuatku ingin muntah atau menghisap berbatang-batang rokok di dalam kamarnya.
Dan saat dia sadar aku melihatnya, dia pasti buru-buru menarikku masuk lalu
memintaku merahasiakan ini semua. Ia menghentikan kegiatannya semula dan
mendekapku. Kadang ia pun menangis saat memohon padaku. Dan bodohnya aku, aku
selalu mengiyakan semua permintaan kak Toni. Aku takut saat itu kak Toni akan
membunuhku kalau aku berkata tidak. “Oh Tuhan…” kataku sambil menarik selimut.
***
“Gea…”. Aku menoleh. Franda?, pikirku. Mematung di tengah
lapangan upacara, menunggu gadis kutu buku itu sejajar denganku. Mungkin
bawaannya yang setumpuk, membuat dia lebih lambat dari keong.
“Selamat pagi Gea.” Sapanya renyah.
“Selamat pagi.” Sahutku enteng dan
membantunya membawa sekantong buku paket.
“Apa ini semua bukumu?” Dia menggeleng
lemas.
“Bukan. Ini milik Bobby dan Gisel.”
Aku tersentak. Tuhan, aku baru sadar ternyata orang yang memanfaat teman itu
masih ada. Di tambah kami ini masih SD. Mungkin otak mereka sudah di cuci oleh
adegan-adegan murahan di televisi. Menurutku saat ini, Franda adalah gadis yang
manis, baik hati dan pintar. Sayangnya, dia tidak bisa tegas dengan hidupnya. Dia
sama denganku. Aku juga belum bisa tegas dengan hidupku sendiri saat dirumah. Apa
itu karna kami masih kecil?
Buku matematikaku penuh dengan
coretan, bukan hitungan melainkan tulisan kekesalanku. Kekesalan yang bertambah
saat seseorang dari arah depan melempar penggaris mika ke kepalaku. Penggaris
itu jatuh di samping sepatu putihku, kuambil dan kuletakkan di bangku. Aku
kembali berkutat dengan coretan-coretan tak jelas.
“Anak baru, kembalikan penggarisku!!”
teriak anak perempuan yang penampilannya mirip tante-tante girang. Terlalu
heboh untuk ukuran anak sekolah dasar. Kulirikkan mataku tajam. Kupikir dia
akan diam seperti mantan teman sekelasku lainnya, tapi tidak. Dia berjalan ke arahku,
menghentakkan sepatu ke lantai keramik, seolah hentakkan itu bisa membelah
bumi. “Kembalikan penggarisku!!” Semburnya lagi. Kukembalikan tapi sebelumnya
sudah kupatahkan menjadi dua. Dari raut mukanya, aku yakin dia pasti murka
dengan tindakanku barusan, tapi peduli setan. Pertengkaran penggaris ini
berhenti saat seorang guru masuk dan memulai peajaran. Yah, aku tahu mungkin
sebentar lagi aku akan di pindahkan lagi. Sudah makanan sehari-hari.
Aku sudah duduk hampir satu jam lebih
di depan meja Bu Mariska. Tetap pada pendirianku, aku mengatubkan mulutku rapat-rapat
dan tetap fokus dengan gelang hitam pemberian kak Toni tempo hari. “Gea, tolong
jawab. Ibu yakin kamu melakukan semua ini pasti ada alasannya. Jadi apa
alasanmu?” Aku melirik Gisel yang duduk di kursi guru, dua meja dariku. Aku
bersandar dan terus menutup mulutku.
“Bu laporin aja ke ayahnya atau ke
kakaknya yang berandal itu.” Teriak Gisel. Kemarahanku menggelegak, bangkit dan
kulempar buku tebal yang ada di atas meja. Mungkin kalau aku menjadi salah satu
pemain basket, timku pasti menang, karna lemparanku selalu tepat sasaran.
“Apa maksudmu nak?” tanya Bu Mariska
memastikan, setelah mendiamkanku.
“Iya bu, ayah saya bekerja sebagai
kepala penjaga di penjara tempat kakak dia ditahan. Aku dengar karna terlibat
tawuran antar kelompok geng motor.” Sindirinya tajam
“Lalu? Ada masalahnya sama kamu kalau
kakakku terlibat tawuran?” protesku cepat.
“Jelaslah. Buah itu jatuh enggak jauh
dari pohon. Kalau kakaknya brutal gitu pasti keluarganya juga atau
jangan-jangan ayahmu enggak bisa didik anak ya?” Aku tersenyum, Bu Mariska
menarik tanganku dan menahannya agar tidak melempar benda lagi.
“Lalu? Apa bedanya kamu denganku? Apa
orang tuamu enggak bisa mengajarkan putrinya bicara lebih sopan, wahai anak
orang ter-hor-mat?” Aku berhasil menyekak mulutnya. “Bu Mariska, itu alasan
saya mendorong dia dan memukul dia dikelas tadi. Mulutnya sama seperti sampah
yang harus dihancurkan.” Aku kembali melirik Gisel yang terpaku, “Aku bisa menerima
semua ledekan tentangku. Tapi aku enggak akan terima kalau kak Toni, apalagi
ayah dan ibu yang dihina. Permisi.” Tanpa menunggu ijin dari Bu Mariska, aku
berjalan ke arah pintu dan pergi.
***
“Ibu, apa ayah sudah enggak sayang
kakak lagi?” kataku pelan di dapur. Ibu menyelesaikan mencuci piring lalu duduk
di sampingku. “Kamu ngomong apa Gea? Ayah sangat sayang sama kamu dan Toni.
Mungkin ayah terlalu keras sama Toni, jadinya dia berontak seperti sekarang.”
“Gea, percaya atau enggak. Setiap
malam, ayah selalu bersedih melihat tingkah kakakmu setelah masuk SMA sampai
sekarang. Dia selalu berdoa, agar kak Toni kembali seperti dulu, menjadi anak
laki-laki yang dibanggakan ayah.” Lanjut ibu. Aku menunduk menatap susu hangat
yang masih menguap. Ku dorong kursi kebelakang, “Bu, aku ke kamar dulu. Aku
sudah mengantuk.”
Melewati ruang keluarga yang aku rasa
semakin lama semakin terasa dingin. Aku pun sudah lupa kapan terakhir kami
berempat bisa duduk bersama di ruang keluarga. Aku menoleh ke belakang saat
akan menaiki tangga, kak Toni masuk dalam kondisi mabuk, lalu disusul ayah
dibelakang. Pintu dibanting ayah keras. Aku ingin saat ini juga hujan badai
datang lalu kilat menyambarku, agar aku bisa mati dan tidak pernah mendengar
suara-suara yang semakin lama semakin meninggi. Aku melanjutkan langkahku yang
tertunda.
Pintu kamar ku banting keras. Ku
rampas guci kecil pemberian ayah lalu ke lempar ke arah jendela. Buku usang itu
terbuka, kuambil bulpen dan mulai mencoretkan sesuatu.
*****
Aku
sudah muak dan overdosis dengan semua ini. Tuhan jika aku bisa, aku juga ingin
melakukan semua hal yang aku inginkan agar bisa melupakan semua kejadian hari
ini. Apa aku perlu memasukan cairan itu ke pembuluh darahku atau aku harus
menghancurkan paru-paruku dengan asap menyengat itu?
Tapi
itu hal bodoh yang tidak akan pernah aku lakukan. Cukup aku melihat airmata itu
keluar akibat ulah kakak. Aku tak mau, ibu menangis karna ulahku juga.
Satu-satunya alasan yang membuat aku mau minta maaf sambil bersimpuh di depan
anak itu cuman karna aku tak mau ayah apalagi ibu tahu aku memiliki masalah di
sekolah.
Tuhan,
sampai aku umur berapa, aku baru bisa bertemu dengan seorang teman yang
bener-bener setia. Bukan teman yang akhirnya lari saat tahu aku adalah adik
dari seorang laki-laki yang sering keluar masuk penjara. Emosiku pasti muncul
kalau tatapan penuh sudut pandang yang menyebalkan itu tertangkap mataku. Ingin
ku patahkan lehernya mirip boneka beruangku.
*****
“Ge..” Suara yang ku kenal menyusup
dari balik pintu yang terbuka. Buru-buru kututup da kumasukan ke lemari kecil
di samping ranjang.
“Kak Toni?” Laki-laki itu masuk dan
duduk disampingku.
“Ge, kamu belum cerita hari pertamamu
disekolah. Sekarang aku mau nagih janjimu.” Kak Toni duduk disebelahku,
menarikku dalam pelukannya.
“Apa masih perlu aku cerita?” Cibirku.
Kak Toni mengetuk-ngetuk dahiku dengan telunjuknya. “Jelaslah. Aku ingin tahu
ada yang mengganggumu atau enggak?”
“Enggak ada yang istimewa. Semuanya
sama seperti cerita-ceritaku sebelumnya.”
“Maksudmu?”
“Dihari pertama aku mendapat teman dan
dihari kedua sampai seterusnya mereka menghilang. Hari ini, mungkin hari ke lima puluhku
sekolah disana dan dihari ini sudah ada korban. Aku mendorong dan memukulnya.
Anak perempuan manja yang mengatakan kita keluarga brandalan.” Jelasku santai
sambil memainkan kuku-kuku tangan.
“Jangan seperti aku. Ayah dan ibu
menaruh impian besar padamu.”
“Terlambat. Perkelahian, pertengkaran,
cacian itu makanan sehari-hariku. Jadi enggak akan menutup kemungkinan aku akan
seperti itu.”
“Apa yang kamu bilang? Aku menyuruhmu
jangan seperti aku!!” bentaknya.
“Tapi bagaimana bisa aku hidup normal
kalau keluargaku saja enggak normal? Kebrutalan kakak selalu berdampak ke aku.
Semua temanku takut berteman denganku dan mengatakan aku ini adik dari seorang
penjahat. Telingaku sudah cukup kebal dengan semua cacian itu dari aku kelas 3
SD, jadi kakak bisa tenang dan teruskan ulah kakak.” Aku melepaskan rangkulan
kak Toni, lalu berjalan pergi ke luar.
Matahari sudah lama tenggelam. Dingin
malam menyerengai dibalik tirai-tirai tipis yang sedikit terbuka. “Mungkin aku
akan disegani kalau aku bisa tampak lebih dewasa dari mereka?” ucapku di teras
belakang. Mengacak-acak rambutku sendiri yang terkuncir asal. Mendongakan
kepala dan memandang jauh bintang-bintang yang terlihat agak kusam karna langit
yang tak sebegitu cerah. Bulanpun tak tampak sedikitpun, apalagi pelangi lunar.
Aku terkekeh sendiri.
“Ayah boleh duduk disini?” Aku menarik
kembali pendanganku ke bumi.
“Ayah? Silahkan.”
“Apa kamu lagi kesal? Ada masalah
disekolah?” Aku menggeleng lalu bersandar di pundak ayah. Aku rasa pundak ini
sedikit berubah, kokohnya tak seperti dulu lagi. Kurangkul lengan ayah dan
bergelayut manja. Aku selalu ingin menjadi seorang anak kecil saat bersama
ayah, tapi keinginan itu lenyap saat pertarungan itu terjadi.
“Yah, apa ayah sayang kakak? Sayang
meskipun tingkah kakak …”
“Ayah adalah seorang ayah. Bagaimana
pun kelakuan Toni, dia adalah anak ayah, kakak kamu. Ya, sebisa mungkin ayah
akan terus berusaha menarik Toni ke jalannya yang dulu.”
“Yah, aku pernah mengira bahwa ayah
dan kakak saling menyimpan dendam atau perasaan benci satu dengan lainnya.
Maaf.”
“Gea.. Gea.. Kamu itu mikir apa? Mana
mungkin ayah begitu. Selamanya ayah akan sayang kamu, ibumu, dan kakakmu Toni.
Yah, meskipun ayah kecewa.” Sahutnya pelan. Aku bisa melihat wajahnya yang
mulai keriput itu lusuh bercampur sedih saat membahas kakak. Tapi aku senang,
setidaknya kakak dan ayah sebenarnya saling menyayangi.
***
Pagi hariku disambut perang dunia lagi
dan lagi, bahkan berkali-kali. Kulirik jam beker diatas meja, ini baru jam 5
pagi, tapi mereka. Kutarik selimutku lagi lalu menutup telingaku dengan bantal.
Beberapa saat kemudian semua itu kucampakan dan aku berlari ke pinggir tangga.
Ini pertama kalinya aku melihat dan mendengar ibuku berteriak marah. Sosok
anggun itu seketika berubah bak ratu sihir yang murka dengan Cinderella.
Disudut meja aku melihat seonggok tas besar. Aku yakin itu tas kak Toni. Aku bangkit dan berjalan pelan diantar
mereka, masih dengan baju tidurku lengkap dengan sandal berbentuk beruang.
“Apa kakak mau pergi?” tanyaku
tiba-tiba. Tiga manusia dewasa itu seketika menoleh ke arahku. “Gea naik ke atas!!”
Perintah Toni dengan suara kerasnya. Aku hanya bergidik. Ini kali pertamanaya
kak Toni membentakku. Seumur-umur meski dia berulah dengan sisi kerasnya, tapi
saat bersamaku dia berubah menjadi kakak baik hati. Itu alasannya kenapa aku
sulit menghindar dan jauh darinya apalagi sampai mengatakan apa yang selalu aku
katakan ke semua orang saat aku kesal.
“Aku tanya, apa kakak mau pergi? Aku
hanya ingin tahu itu.”
“Iya. Toni memang mau pergi dari rumah
ini.” Potong ibu yang semakin membuatku kaget. “Apa setelah kak Toni pergi
perang dirumah ini akan berhenti? Apa aku bisa kembali menemukan keluargaku?
Dan apa setelah kak Toni pergi dari sini aku bisa menemukan teman sejatiku? Dan
aku enggak akan memukul teman sekelasku lagi?”
Koreksiku. Hatiku sedikit lega, aku bisa mengatakan semuanya. Mengatakan
kalau aku pernah memukul temanku, aku anak yang sama sekali tidak pernah punya
teman disekolah dan aku orang yang paling tersiksa dengan perang dunia ini. Ibu
berlari ke tempatku, mendekapku erat. Airmatanya mulai membashi punggungku.
Sementara aku, setetes airmatapun tak keluar.
***
Kursiku dipindahkan menjauh dari yang
lain. Menempel di dinding dan semakin jauh dari papan. Saat ada guru yang
bertanya, satu kelas kompak menjawab itu semua keinginanku. Ya meskipun Franda
hanya diam karna terlalu takut dengan mereka dan kasihan denganku, mungkin. Mungkin
ini juga kesalahanku yang selalu mengangguk setiap ditanya guru. Pelajaran
berlangsung. Ku obrak-abrik isi kotak pensil dan kutemukan cutter kecil. Aku selalu
ingin mengutuk sudut pandang yang menjijikan itu, ku ukir kecil dipojok
mejaku. Ukiran yang sempat membuatku kesakitan karna jari tengahku tergores.
Berjalan lesu meninggalkan kelas saat
jam istirahat berbunyi. Duduk di tempat yang sama, anak perempuan itu duduk
disana. “Franda?” Panggilku. Dia buru-buru
berdiri seperti menghindar. “Maaf kalau aku ganggu kamu, duduk saja
lagi. Balkon ini masih luas.” Aku berbalik. “Gea..” teriaknya seketika. Saat
aku berbalik, dia sudah ada persis dibelakangku.
“Ada apa?”
“Aku minta maaf, bukan maksudku
seperti itu ke kamu. Aku cuman takut sama Gisel. Dari sebelum kamu pindah
kesini, aku selalu dijahili oleh Gisel, jadi aku takut kalau bantah
perkataannya dia.” Jawabnya.
“Oo..” Responku singkat. Sesuai
dugaanku, anak ini memang takut dengan Gisel. Tapi aku tak peduli. Yang
mengganggu pikiranku saat ini adalah apakah kak Toni sungguh akan pergi dari
rumah? Atau berhasil di halangi ayah atau ibu?
“Aaaaa…” Jeritku kesal. Franda
menatapku aneh.
Sepulang sekolah, aku berbelok di
perempatan jalan. Aku berjalan menuju kotak telepon di samping toko pakaian. Kumasukan
satu koin dan kutekan tujuh digit nomer yang sangat kuhafal. “Hallo, apa Toni
ada?” ucapku dari balik gagang telepon umum. Mulut kututup dengan dasi sekolah,
ya seperti apa yang aku lihat di televisi.
“Toni sedang tidak ada. Ada yang bisa
dibantu?” Mendengar itu, gagang telepon langsung aku gantung seperti semula.
Airmata yang membeku akhirnya mencair. Berjalan lesu pulang. Sebenarnya aku
malas pulang ke rumah tapi sepulang sekolah aku tidak punya tujuan lain selain
pulang ke rumah. Rumah? Aku tidak yakin itu bisa disebut rumah.
“Aku pulang.” seruku pelan. Tidak ada
sambutan seperti biasa. Ku campakan tasku di sofa ruang tamu dan melesat ke
kamar kak Toni.
“Kakak.” Teriakku bersamaan pintu yang
terbuka. Tulangku seperti terlepas dari sendi-sendinya. Kakiku seolah lumpuh
mendapati kamar ini kosong. Pintu lemari masih terbuka dan sama kosongnya. Aku
harap ada yang memapahku kembali ke kamar karna jujur, aku tak kuat berjalan
saat ini.
*****
Semakin
bertambahnya umurku, semakin bertambah pula kejijikanku dengan semua ini. Aku
mengutuk sundut pandang yang seolah menyingkirkanku, menjauhkanku dari
kehidupan dan mengganggapku seperti adik seorang manusia yang kapan saja bisa
berubah menjadi monster yang menakutkan.
Ingin
aku restart ulang pola pikir mereka
yang selalu menilai orang dari sudut pandang mereka sendiri. Apa mereka pernah
berpikir tentang apa yang aku rasakan? Aku rasa tidak, tidak akan pernah. Tapi
saat aku sadar, aku senang dengan sudut pandang itu. Aku pikir mereka selalu
memerhatikanku bahkan keluargaku. Sindiran dan cacian mereka cukup sebagai
angin lalu tak berbekas, bahkan setitik. Itu yang aku mengerti.
*****
***
Untuk pertama kalinya, saat matahari
menyingsing dan menembus tirai jendela kamarku. Telingaku damai, setidaknya di rumah.
Ku jejalkan kakiku di sandal beruang. Ternyata kak Toni sudah pergi saat aku
tidur semalam. Itu yang aku tahu dari ibu. Yah, setidaknya kehidupanku sedikit
membaik. Aku tidak akan mendengar suara-suara yang melengking. Tapi aku juga tidak
akan pernah melihat sosok kak Toni lagi.
Hari minggu ini, aku pergi dengan ayah
ke pet shop. Ku pilih satu anak
anjing dan ku beri nama dia Lucky. Entahlah, aku tidak peduli apa yang terjadi
nanti di sekolah. Apa mereka akan tetap memperlakukanku seperti adik monster
atau berhenti karna bosan?
“Sebelum pergi Toni bilang sama ayah,
dia sudah membaca semua isi diarimu tadi malam. Itu alasan dia pergi, dia
sangat menyayangimu.” Bisik ayah saat aku memberi makan Lucky.
******
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar