Senin, 03 Maret 2014

No Life No Story



*****
          Semenjak aku tinggal bersama keluargaku di kota baru, semuanya terlihat berubah. Kakak laki-lakiku, sebut saja namanya Toni. Baru saja dia lulus SMA dan ingin melanjutkan sekolah di kota ini. Alhasil aku harus ikut pindah sekolah. Ini sudah kepindahanku yang ke empat kalinya dan aku harus selalu memulai beradaptasi kembali. Hal yang menyebalkan. Tahun ini aku selesai menempuh sekolah dasarku. Satu-satunya hal yang sangat kuinginkan untuk cepat terjadi adalah hari kelulusanku. Aku ingin hari itu cepat datang dan aku bisa mengatakan selamat tinggal pada cecurut di sekolahku.
          Satu jam lagi, denting jam malam pasti akan kembali bersuara. Aku bisa menebaknya, laki-laki itu akan kembali dengan botol-botol ditangannya. Aku bosan mendengar suara teriakan yang menyakitkan telinga. Meraung-raung seperti mobil ambulan yang melaju kencang di depan rumahku tempo hari.
*****

          “Gea.. Cepat turun sayang. Ayah bawa es krim kesukaanmu.” Panggil ibuku dari lantai dasar. Kuselipkan pita warna biru dan kututup seperti biasa. Telapak kakiku terasa dingin saat menyentuh satu persatu anak tangga. Boneka beruang kutenteng lemas, lalu duduk di meja makan sebelah ayah.
          “Ibu, apa kakak belum pulang?” Tanyaku pelan. Di balik taplak meja, tanganku meremas leher boneka yang jika itu mahkluk hidup kupikir mungkin akan mati. Aku masih berusia dua belas tahun, tapi aku mengerti apa yang terjadi di rumah sederhana ini.
          “Ibu…?” Aku mengulang.
          “Gea, sudah jangan bicarakan dia, ibumu bisa sedih. Ayo makan es krimnya.” Potong ayah sambil menyodorkan es krim vanilla yang memang sudah berhasil menggodaku. Kulepas cengkraman tanganku dari leher beruang, lalu kusambar cepat semangkok kecil es krim kesukaanku. Sambil menikmati es krim, sudut mataku berhasil mencuri air muka ibu yang begitu sedih.
          “Gea, besok sudah mulai sekolah lagi kan?” Aku menggangguk pelan.
          “Kalau sudah selesai makan es krimnya, sikat gigi dan cepat pergi itdur.”
          “Baik bu.” Jawabku setengah menunduk ke mangkok yang isinya sudah semakin menghilang. Satu suap lagi, dan saat suapan itu masuk ke mulutku, hilang sudah alasanku untuk tetap bertahan di meja makan bersama ayah dan ibu.
          “Selamat malam ayah, selamat malam ibu.”
                                                                            ***
          “Ayo aku antar ke sekolah. hari ini aku free.” Ajaknya dari atas motor bercat hitam kombinasi silver. Aku cepat-cepat berlari dan duduk di belakangnya. Sudah lama hal ini tidak pernah terjadi. “Kakak, tadi malam kakak pulang jam berapa?” Aku membungkuk lalu mengaitkan jemariku di perut kak Toni. Jalan sepi ini selalu dianggapnya seperti arena balam motor.
          Di depan gerbang sekolah baruku, aku senang, aku merasa kejadian kelam di sekolah lamaku tidak akan terulang lagi di sini. Contohnya hari ini, aku diantarkan ke sekolah seperti mereka. Aku senang.
          “Ge, nanti mau aku jemput apa enggak? Dan ingat, nanti di rumah kamu harus cerita pengalaman hari pertama kamu sekolah. mengerti?” Aku tersenyum lebar, berlari dan kutinggalkan kak Toni di gerbang sekolah.
          Aku duduk di bangku paling belakang, deret pertama. Aku lebih suka duduk di belakang, karna tidak akan ada yang bisa menertawaiku seperti saat aku di bangku depan. Pelajaran pertama, Bahasa Indonesia. Kami harus maju dan menceritakan tentang seseorang yang menjadi motivator dalam hidup. Satu katapun aku belum membuatnya. Saat giliranku maju, Bu Mariska memberiku kesempatan ke dua, lusa. Ini baru hari pertamaku di sekolah, tapi aku sudah bisa merasakan ada hal buruk yang akan terjadi kalau sampai aku tidak maju. Jadi ku putuskan untuk maju.
          Empat jam kemudian, bel berdentang mengakhiri pelajaran. Bekal makan siangku, nasi dan gulungan telur seperti biasa, lengkap dengan sambal. Di atas balkon sekolah, aku duduk sendiri. menikmati langit cerah dan hembusan angin yang kencang. Duduk menyila dan kulahap habis bekalku.
          “Hi Gea, aku boleh duduk disini?” Seru gadis berpita merah dengan kacamata tebalnya. Aku menggangguk sambil melempar senyum tipisku.
          “Kenapa enggak makan di kelas aja?” tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng.
          “Kamu sendiri kenapa makan disini?” selidikku balik.
          “Aku bosan makan di kelas. Selama berjam-jam yang aku lihat cuman buku, bolpen, papan, dan itu-itu mulu. Aku mau yang beda, kalau kamu?”
          “Aku lebih suka sendirian, karna aku sudah terbiasa sendiri.”
          “Kamu mau jadi temen aku?” Ucapnya polos. Aku diam, aku merasa seperti ada sesuatu yang merasuki tubuhku.
          “Asal kamu sungguh mau menjadi temanku. Seseorang yang ingin berteman bukan karna kasihan.” Jawabku dingin. Dia tersenyum, dan berkata, “Tenang aja, aku bisa jadi temen baikmu kok.” Dan tiba-tiba dia berbagi sepotong kornet sapi denganku. Aku sulit percaya dengan kata-kata manis itu. Kata-kata yang selalu membuatku sakit, akhirnya.
                                                                            ***
          Untuk kesekian kalinya, kak Toni melanggar janjinya. Saat gerbang sekolah mulai ditutup, berdasarkan ingatanku saja aku berjalan pulang. Entah aku bisa sampai rumah dengan selamat atau kejadian saat aku duduk di bangku kelas 4 itu akan terulang lagi atau tidak. Aku berjalan lurus dan mengulang jalan yang kulalui tadi bersama kakak.
          Akhirnya sampai. Aku merapat dipagar besi tua, kugerak-gerakan engsel kunci yang mulai terbalut kerak, berwarna oranye kecoklatan. Keringat mengucur deras dan membasahi bagian punggung seragamku. Secepat kilat aku berlari ke dalam, tapi kakiku terhenti tepat di depan pintu. Pertengkaran itu terjadi lagi. Dari balik tirai jendela yang sedikit terbuka, aku mengintip pertengkaran apalagi yang terjadi. “Astaga kakak!!” Jeritku. Aku memutar ke balik tembok. Meringkuk di depan rumah sambil memeluk perutku yang sudah melilit. Pertengkaran itu seperti angin lalu buatku, masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri.
          “Aku ingin cepat dewasa dan bisa pergi dari neraka ini. Tapi itu masih lama.” Gumamku. Memainkan ikat sepatu, yang kuikat lalu kulepaskan lagi. Rasa kantuk yang menyergap akhirnya memaksaku membuka pintu. Aku harap saat aku masuk, pertengkaran itu berhenti, setidaknya saat aku lewat dan menghilang di lantai atas. Tapi nyatanya, pertengkaran itu terus berlanjut. Aku melirik ke arah ibu yang duduk dengan wajah ditutupi oleh kedua tangan lembutnya.
*****
          Bisakah sehari saja aku hidup layaknya orang lain? Mempunyai keluarga yang bahagia. Mereka selalu mengganggapku anak kecil yang mudah dibohongi hanya dengan es krim vanilla. Aku tahu dia selalu membohongiku. Berlagak manis di depanku, agar aku terus diam dan berhenti mengintrogasinya. Tapi aku juga punya telinga dan mata. Pertengkaran itu sering membuatku ingin menyiram mereka dengan air mendidih.
*****
          Aku menelentangkan kedua tanganku diatas ranjang. Kutumbukkan pandanganku di lampu yang menempel di langit-langit kamar. Pikiranku melayang kembali ke apa yang aku lihat, tubuh kak Toni. Aku yakin se-yakin-yakinnya, dia pasti berkelahi lagi. Aku sering memergoki kak Toni menyuntikan sesuatu ke tangannya, meminum minuman botol yang aromanya membuatku ingin muntah atau menghisap berbatang-batang rokok di dalam kamarnya. Dan saat dia sadar aku melihatnya, dia pasti buru-buru menarikku masuk lalu memintaku merahasiakan ini semua. Ia menghentikan kegiatannya semula dan mendekapku. Kadang ia pun menangis saat memohon padaku. Dan bodohnya aku, aku selalu mengiyakan semua permintaan kak Toni. Aku takut saat itu kak Toni akan membunuhku kalau aku berkata tidak. “Oh Tuhan…” kataku sambil menarik selimut.
                                                                            ***
          “Gea…”. Aku menoleh. Franda?, pikirku. Mematung di tengah lapangan upacara, menunggu gadis kutu buku itu sejajar denganku. Mungkin bawaannya yang setumpuk, membuat dia lebih lambat dari keong.
          “Selamat pagi Gea.” Sapanya renyah.
          “Selamat pagi.” Sahutku enteng dan membantunya membawa sekantong buku paket.
          “Apa ini semua bukumu?” Dia menggeleng lemas.
          “Bukan. Ini milik Bobby dan Gisel.” Aku tersentak. Tuhan, aku baru sadar ternyata orang yang memanfaat teman itu masih ada. Di tambah kami ini masih SD. Mungkin otak mereka sudah di cuci oleh adegan-adegan murahan di televisi. Menurutku saat ini, Franda adalah gadis yang manis, baik hati dan pintar. Sayangnya, dia tidak bisa tegas dengan hidupnya. Dia sama denganku. Aku juga belum bisa tegas dengan hidupku sendiri saat dirumah. Apa itu karna kami masih kecil?
          Buku matematikaku penuh dengan coretan, bukan hitungan melainkan tulisan kekesalanku. Kekesalan yang bertambah saat seseorang dari arah depan melempar penggaris mika ke kepalaku. Penggaris itu jatuh di samping sepatu putihku, kuambil dan kuletakkan di bangku. Aku kembali berkutat dengan coretan-coretan tak jelas.
          “Anak baru, kembalikan penggarisku!!” teriak anak perempuan yang penampilannya mirip tante-tante girang. Terlalu heboh untuk ukuran anak sekolah dasar. Kulirikkan mataku tajam. Kupikir dia akan diam seperti mantan teman sekelasku lainnya, tapi tidak. Dia berjalan ke arahku, menghentakkan sepatu ke lantai keramik, seolah hentakkan itu bisa membelah bumi. “Kembalikan penggarisku!!” Semburnya lagi. Kukembalikan tapi sebelumnya sudah kupatahkan menjadi dua. Dari raut mukanya, aku yakin dia pasti murka dengan tindakanku barusan, tapi peduli setan. Pertengkaran penggaris ini berhenti saat seorang guru masuk dan memulai peajaran. Yah, aku tahu mungkin sebentar lagi aku akan di pindahkan lagi. Sudah makanan sehari-hari.
          Aku sudah duduk hampir satu jam lebih di depan meja Bu Mariska. Tetap pada pendirianku, aku mengatubkan mulutku rapat-rapat dan tetap fokus dengan gelang hitam pemberian kak Toni tempo hari. “Gea, tolong jawab. Ibu yakin kamu melakukan semua ini pasti ada alasannya. Jadi apa alasanmu?” Aku melirik Gisel yang duduk di kursi guru, dua meja dariku. Aku bersandar dan terus menutup mulutku.
          “Bu laporin aja ke ayahnya atau ke kakaknya yang berandal itu.” Teriak Gisel. Kemarahanku menggelegak, bangkit dan kulempar buku tebal yang ada di atas meja. Mungkin kalau aku menjadi salah satu pemain basket, timku pasti menang, karna lemparanku selalu tepat sasaran.
          “Apa maksudmu nak?” tanya Bu Mariska memastikan, setelah mendiamkanku.
          “Iya bu, ayah saya bekerja sebagai kepala penjaga di penjara tempat kakak dia ditahan. Aku dengar karna terlibat tawuran antar kelompok geng motor.” Sindirinya tajam
          “Lalu? Ada masalahnya sama kamu kalau kakakku terlibat tawuran?” protesku cepat.
          “Jelaslah. Buah itu jatuh enggak jauh dari pohon. Kalau kakaknya brutal gitu pasti keluarganya juga atau jangan-jangan ayahmu enggak bisa didik anak ya?” Aku tersenyum, Bu Mariska menarik tanganku dan menahannya agar tidak melempar benda lagi.
          “Lalu? Apa bedanya kamu denganku? Apa orang tuamu enggak bisa mengajarkan putrinya bicara lebih sopan, wahai anak orang ter-hor-mat?” Aku berhasil menyekak mulutnya. “Bu Mariska, itu alasan saya mendorong dia dan memukul dia dikelas tadi. Mulutnya sama seperti sampah yang harus dihancurkan.” Aku kembali melirik Gisel yang terpaku, “Aku bisa menerima semua ledekan tentangku. Tapi aku enggak akan terima kalau kak Toni, apalagi ayah dan ibu yang dihina. Permisi.” Tanpa menunggu ijin dari Bu Mariska, aku berjalan ke arah pintu dan pergi.
                                                                            ***
          “Ibu, apa ayah sudah enggak sayang kakak lagi?” kataku pelan di dapur. Ibu menyelesaikan mencuci piring lalu duduk di sampingku. “Kamu ngomong apa Gea? Ayah sangat sayang sama kamu dan Toni. Mungkin ayah terlalu keras sama Toni, jadinya dia berontak seperti sekarang.”
          “Gea, percaya atau enggak. Setiap malam, ayah selalu bersedih melihat tingkah kakakmu setelah masuk SMA sampai sekarang. Dia selalu berdoa, agar kak Toni kembali seperti dulu, menjadi anak laki-laki yang dibanggakan ayah.” Lanjut ibu. Aku menunduk menatap susu hangat yang masih menguap. Ku dorong kursi kebelakang, “Bu, aku ke kamar dulu. Aku sudah mengantuk.”
          Melewati ruang keluarga yang aku rasa semakin lama semakin terasa dingin. Aku pun sudah lupa kapan terakhir kami berempat bisa duduk bersama di ruang keluarga. Aku menoleh ke belakang saat akan menaiki tangga, kak Toni masuk dalam kondisi mabuk, lalu disusul ayah dibelakang. Pintu dibanting ayah keras. Aku ingin saat ini juga hujan badai datang lalu kilat menyambarku, agar aku bisa mati dan tidak pernah mendengar suara-suara yang semakin lama semakin meninggi. Aku melanjutkan langkahku yang tertunda.
          Pintu kamar ku banting keras. Ku rampas guci kecil pemberian ayah lalu ke lempar ke arah jendela. Buku usang itu terbuka, kuambil bulpen dan mulai mencoretkan sesuatu.
*****
          Aku sudah muak dan overdosis dengan semua ini. Tuhan jika aku bisa, aku juga ingin melakukan semua hal yang aku inginkan agar bisa melupakan semua kejadian hari ini. Apa aku perlu memasukan cairan itu ke pembuluh darahku atau aku harus menghancurkan paru-paruku dengan asap menyengat itu?
          Tapi itu hal bodoh yang tidak akan pernah aku lakukan. Cukup aku melihat airmata itu keluar akibat ulah kakak. Aku tak mau, ibu menangis karna ulahku juga. Satu-satunya alasan yang membuat aku mau minta maaf sambil bersimpuh di depan anak itu cuman karna aku tak mau ayah apalagi ibu tahu aku memiliki masalah di sekolah.
          Tuhan, sampai aku umur berapa, aku baru bisa bertemu dengan seorang teman yang bener-bener setia. Bukan teman yang akhirnya lari saat tahu aku adalah adik dari seorang laki-laki yang sering keluar masuk penjara. Emosiku pasti muncul kalau tatapan penuh sudut pandang yang menyebalkan itu tertangkap mataku. Ingin ku patahkan lehernya mirip boneka beruangku.
*****
          “Ge..” Suara yang ku kenal menyusup dari balik pintu yang terbuka. Buru-buru kututup da kumasukan ke lemari kecil di samping ranjang.
          “Kak Toni?” Laki-laki itu masuk dan duduk disampingku.
          “Ge, kamu belum cerita hari pertamamu disekolah. Sekarang aku mau nagih janjimu.” Kak Toni duduk disebelahku, menarikku dalam pelukannya.
          “Apa masih perlu aku cerita?” Cibirku. Kak Toni mengetuk-ngetuk dahiku dengan telunjuknya. “Jelaslah. Aku ingin tahu ada yang mengganggumu atau enggak?”
          “Enggak ada yang istimewa. Semuanya sama seperti cerita-ceritaku sebelumnya.”
          “Maksudmu?”
          “Dihari pertama aku mendapat teman dan dihari kedua sampai seterusnya mereka menghilang.  Hari ini, mungkin hari ke lima puluhku sekolah disana dan dihari ini sudah ada korban. Aku mendorong dan memukulnya. Anak perempuan manja yang mengatakan kita keluarga brandalan.” Jelasku santai sambil memainkan kuku-kuku tangan.
          “Jangan seperti aku. Ayah dan ibu menaruh impian besar padamu.”
          “Terlambat. Perkelahian, pertengkaran, cacian itu makanan sehari-hariku. Jadi enggak akan menutup kemungkinan aku akan seperti itu.”
          “Apa yang kamu bilang? Aku menyuruhmu jangan seperti aku!!” bentaknya.
          “Tapi bagaimana bisa aku hidup normal kalau keluargaku saja enggak normal? Kebrutalan kakak selalu berdampak ke aku. Semua temanku takut berteman denganku dan mengatakan aku ini adik dari seorang penjahat. Telingaku sudah cukup kebal dengan semua cacian itu dari aku kelas 3 SD, jadi kakak bisa tenang dan teruskan ulah kakak.” Aku melepaskan rangkulan kak Toni, lalu berjalan pergi ke luar.
          Matahari sudah lama tenggelam. Dingin malam menyerengai dibalik tirai-tirai tipis yang sedikit terbuka. “Mungkin aku akan disegani kalau aku bisa tampak lebih dewasa dari mereka?” ucapku di teras belakang. Mengacak-acak rambutku sendiri yang terkuncir asal. Mendongakan kepala dan memandang jauh bintang-bintang yang terlihat agak kusam karna langit yang tak sebegitu cerah. Bulanpun tak tampak sedikitpun, apalagi pelangi lunar. Aku terkekeh sendiri.
          “Ayah boleh duduk disini?” Aku menarik kembali pendanganku ke bumi.
          “Ayah? Silahkan.”
          “Apa kamu lagi kesal? Ada masalah disekolah?” Aku menggeleng lalu bersandar di pundak ayah. Aku rasa pundak ini sedikit berubah, kokohnya tak seperti dulu lagi. Kurangkul lengan ayah dan bergelayut manja. Aku selalu ingin menjadi seorang anak kecil saat bersama ayah, tapi keinginan itu lenyap saat pertarungan itu terjadi.
          “Yah, apa ayah sayang kakak? Sayang meskipun tingkah kakak …”
          “Ayah adalah seorang ayah. Bagaimana pun kelakuan Toni, dia adalah anak ayah, kakak kamu. Ya, sebisa mungkin ayah akan terus berusaha menarik Toni ke jalannya yang dulu.”
          “Yah, aku pernah mengira bahwa ayah dan kakak saling menyimpan dendam atau perasaan benci satu dengan lainnya. Maaf.”
          “Gea.. Gea.. Kamu itu mikir apa? Mana mungkin ayah begitu. Selamanya ayah akan sayang kamu, ibumu, dan kakakmu Toni. Yah, meskipun ayah kecewa.” Sahutnya pelan. Aku bisa melihat wajahnya yang mulai keriput itu lusuh bercampur sedih saat membahas kakak. Tapi aku senang, setidaknya kakak dan ayah sebenarnya saling menyayangi.
                                                                            ***
          Pagi hariku disambut perang dunia lagi dan lagi, bahkan berkali-kali. Kulirik jam beker diatas meja, ini baru jam 5 pagi, tapi mereka. Kutarik selimutku lagi lalu menutup telingaku dengan bantal. Beberapa saat kemudian semua itu kucampakan dan aku berlari ke pinggir tangga. Ini pertama kalinya aku melihat dan mendengar ibuku berteriak marah. Sosok anggun itu seketika berubah bak ratu sihir yang murka dengan Cinderella. Disudut meja aku melihat seonggok tas besar. Aku yakin itu tas kak Toni.  Aku bangkit dan berjalan pelan diantar mereka, masih dengan baju tidurku lengkap dengan sandal berbentuk beruang.
          “Apa kakak mau pergi?” tanyaku tiba-tiba. Tiga manusia dewasa itu seketika menoleh ke arahku. “Gea naik ke atas!!” Perintah Toni dengan suara kerasnya. Aku hanya bergidik. Ini kali pertamanaya kak Toni membentakku. Seumur-umur meski dia berulah dengan sisi kerasnya, tapi saat bersamaku dia berubah menjadi kakak baik hati. Itu alasannya kenapa aku sulit menghindar dan jauh darinya apalagi sampai mengatakan apa yang selalu aku katakan ke semua orang saat aku kesal.
          “Aku tanya, apa kakak mau pergi? Aku hanya ingin tahu itu.”
          “Iya. Toni memang mau pergi dari rumah ini.” Potong ibu yang semakin membuatku kaget. “Apa setelah kak Toni pergi perang dirumah ini akan berhenti? Apa aku bisa kembali menemukan keluargaku? Dan apa setelah kak Toni pergi dari sini aku bisa menemukan teman sejatiku? Dan aku enggak akan memukul teman sekelasku lagi?”  Koreksiku. Hatiku sedikit lega, aku bisa mengatakan semuanya. Mengatakan kalau aku pernah memukul temanku, aku anak yang sama sekali tidak pernah punya teman disekolah dan aku orang yang paling tersiksa dengan perang dunia ini. Ibu berlari ke tempatku, mendekapku erat. Airmatanya mulai membashi punggungku. Sementara aku, setetes airmatapun tak keluar.
                                                                            ***
          Kursiku dipindahkan menjauh dari yang lain. Menempel di dinding dan semakin jauh dari papan. Saat ada guru yang bertanya, satu kelas kompak menjawab itu semua keinginanku. Ya meskipun Franda hanya diam karna terlalu takut dengan mereka dan kasihan denganku, mungkin. Mungkin ini juga kesalahanku yang selalu mengangguk setiap ditanya guru. Pelajaran berlangsung. Ku obrak-abrik isi kotak pensil dan kutemukan cutter kecil. Aku selalu ingin mengutuk sudut pandang yang menjijikan itu, ku ukir kecil dipojok mejaku. Ukiran yang sempat membuatku kesakitan karna jari tengahku tergores.
          Berjalan lesu meninggalkan kelas saat jam istirahat berbunyi. Duduk di tempat yang sama, anak perempuan itu duduk disana. “Franda?” Panggilku. Dia buru-buru  berdiri seperti menghindar. “Maaf kalau aku ganggu kamu, duduk saja lagi. Balkon ini masih luas.” Aku berbalik. “Gea..” teriaknya seketika. Saat aku berbalik, dia sudah ada persis dibelakangku.
          “Ada apa?”
          “Aku minta maaf, bukan maksudku seperti itu ke kamu. Aku cuman takut sama Gisel. Dari sebelum kamu pindah kesini, aku selalu dijahili oleh Gisel, jadi aku takut kalau bantah perkataannya dia.” Jawabnya.
          “Oo..” Responku singkat. Sesuai dugaanku, anak ini memang takut dengan Gisel. Tapi aku tak peduli. Yang mengganggu pikiranku saat ini adalah apakah kak Toni sungguh akan pergi dari rumah? Atau berhasil di halangi ayah atau ibu?
          “Aaaaa…” Jeritku kesal. Franda menatapku aneh.
          Sepulang sekolah, aku berbelok di perempatan jalan. Aku berjalan menuju kotak telepon di samping toko pakaian. Kumasukan satu koin dan kutekan tujuh digit nomer yang sangat kuhafal. “Hallo, apa Toni ada?” ucapku dari balik gagang telepon umum. Mulut kututup dengan dasi sekolah, ya seperti apa yang aku lihat di televisi.
          “Toni sedang tidak ada. Ada yang bisa dibantu?” Mendengar itu, gagang telepon langsung aku gantung seperti semula. Airmata yang membeku akhirnya mencair. Berjalan lesu pulang. Sebenarnya aku malas pulang ke rumah tapi sepulang sekolah aku tidak punya tujuan lain selain pulang ke rumah. Rumah? Aku tidak yakin itu bisa disebut rumah.
          “Aku pulang.” seruku pelan. Tidak ada sambutan seperti biasa. Ku campakan tasku di sofa ruang tamu dan melesat ke kamar kak Toni.
          “Kakak.” Teriakku bersamaan pintu yang terbuka. Tulangku seperti terlepas dari sendi-sendinya. Kakiku seolah lumpuh mendapati kamar ini kosong. Pintu lemari masih terbuka dan sama kosongnya. Aku harap ada yang memapahku kembali ke kamar karna jujur, aku tak kuat berjalan saat ini.
*****
          Semakin bertambahnya umurku, semakin bertambah pula kejijikanku dengan semua ini. Aku mengutuk sundut pandang yang seolah menyingkirkanku, menjauhkanku dari kehidupan dan mengganggapku seperti adik seorang manusia yang kapan saja bisa berubah menjadi monster yang menakutkan.
          Ingin aku restart ulang pola pikir mereka yang selalu menilai orang dari sudut pandang mereka sendiri. Apa mereka pernah berpikir tentang apa yang aku rasakan? Aku rasa tidak, tidak akan pernah. Tapi saat aku sadar, aku senang dengan sudut pandang itu. Aku pikir mereka selalu memerhatikanku bahkan keluargaku. Sindiran dan cacian mereka cukup sebagai angin lalu tak berbekas, bahkan setitik. Itu yang aku mengerti.
*****
                                                                            ***
          Untuk pertama kalinya, saat matahari menyingsing dan menembus tirai jendela kamarku. Telingaku damai, setidaknya di rumah. Ku jejalkan kakiku di sandal beruang. Ternyata kak Toni sudah pergi saat aku tidur semalam. Itu yang aku tahu dari ibu. Yah, setidaknya kehidupanku sedikit membaik. Aku tidak akan mendengar suara-suara yang melengking. Tapi aku juga tidak akan pernah melihat sosok kak Toni lagi.
          Hari minggu ini, aku pergi dengan ayah ke pet shop. Ku pilih satu anak anjing dan ku beri nama dia Lucky. Entahlah, aku tidak peduli apa yang terjadi nanti di sekolah. Apa mereka akan tetap memperlakukanku seperti adik monster atau berhenti karna bosan?
          “Sebelum pergi Toni bilang sama ayah, dia sudah membaca semua isi diarimu tadi malam. Itu alasan dia pergi, dia sangat menyayangimu.” Bisik ayah saat aku memberi makan Lucky.
******

END

Tidak ada komentar: