Jangan buat aku untuk terus berharap. Beri aku kepastian, jujur
aku lelah menunggumu yang tidak pasti.
“Kamu mau
jadi pacar aku?” ungkap Hujan tiba-tiba sesaat setelah Lizzie meletakan segelas
es jeruk diantara mereka. Ekspresi wajah Lizzie sama sekali tidak menunjukkan
kebahagiaan atau rasa tersanjung melainkan kebingungan. Ia sama sekali tidak
menyangka kalau sahabatnya akan bicara seperti itu. Selama ini ia memang tahu
kalau Hujan, laki-laki bertubuh atletis itu sedang berusaha untuk menyatakan
perasaannya tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinyalah orang itu.
“Hha?” respon Lizzie yang sama sekali
tidak menolong.
“Jangan bilang ‘hha’ Lizzie. Aku
tanya, apa kamu mau jadi pacar aku?” ulang Hujan tidak menyerah.
Matanya
menatap tajam mata Lizzie yang cokelat. Gadis itu menarik nafas panjang, ia
tersadarkan bahwa ia harus segera memberi jawaban agar sahabatnya berhenti
berharap padanya. Gadis itu menggeleng pelan. “Enggak,” jawab Lizzie seolah
tidak berperasaan. Tangan Hujan yang semula menjulur ke depan, perlahan ia
tarik kembali. Ia mencoba menenangkan pikirannya sebelum meminta alasan dari
penolakan yang barusan ia dapatkan.
“Hujan, maaf. Aku tahu mungkin aku terlihat
seperti pembunuh berdarah dingin. Tanpa ada kata-kata manis, aku langsung nolak
kamu gitu aja. Tapi aku pikir ini yang terbaik. Aku enggak mau bilang iya,
padahal aku sama sekali enggak mau terikat sama hubungan rumit itu.”
“Tapi Lizzie?” ia tercekat. Suaranya
menghilang ketika ia mencoba memaksakan cintanya, tapi ia tahu itu salah dan
itu bukanlah dirinya.
“Aku belum mau pacaran. Aku masih
mau fokus sama kuliahku dulu.”
Hujan mengacak-acak rambutnya
sendiri di atap gedung, terlentang menatap langit sore yang masih cukup bisa
dinikmati. Bayang-bayang penolakan itu masih terus terlintas di benaknya setiap
ia bertemu atau memikirkan Lizzie. Memang benar, Lizzie sama sekali tidak
mengubah sikapnya. Dimata Hujan, Lizzie masih tetap menjadi Lizzie yang dulu.
Lizzie sahabatnya yang belum tahu bagaimana isi hatinya. Tapi terkadang sikap
itulah yang membuat Hujan merasa bahwa Lizzie adalah orang yang kejam.
Terkadang Hujan berharap Lizzie lebih baik menjauhinya daripada tetap bersikap
seolah tidak ada apa-apa, karena sikap itulah yang membuat Hujan merasa
bersalah.
“Hallo, iya apa Lizz?” seru Hujan malas.
“Ya,” lanjut Hujan lalu mematikan ponselnya. Memang selalu begini, ia tidak
akan pernah bisa menolak permintaan Lizzie.
***
Acara ulang tahun Niara lebih lama
dan lebih ramai daripada acara pergantian tahun lalu. Lizzie mengeluarkan stup rambutan dari kulkas. Gelas-gelas
piala dengan cepatnya menghilang dari meja kaca.
Hujan mendekat. “Buat kamu,” katanya
kemudian. Tanpa dikomando Lizzie melempar senyumannya yang manis. “Makasih. Enggak biasanya kamu enggak
bareng Tito?”
“Bareng kok, tapi sekarang dia lagi
ngobrol sama kak Dion.”
“Kak Dion senior ekskul?” Lizzie
memperjelas. Hujan hanya mengangguk, sibuk dengan minuman miliknya sampai lupa
gadis itu masih mengajaknya bicara.
“Aaargh!!” Hujan mengerang
tiba-tiba. Stup miliknya tumpah,
tabrakan anak kecil berbaju merah itu cukup kuat sampai-sampai ia harus mundur
selangkah agar tubuhnya kembali seimbang, tapi hal itu tidak berhasil menjaga
minumannya tetap tenang di dalam gelas. Lizzie berlari ke belakang, mengambil
beberapa lembar tisu dan memberikannya pada laki-laki yang tampak lebih keren
dengan pakaian casualnya malam ini.
Dua empat lima, rumah Niara sudah
jauh lebih sepi, hanya enam orang termasuk si empunya rumah yang tersisa. Orang
tua Lizzie sama sekali tidak khawatir kalau anak semata wayang mereka pulang
sampai dini hari karena ada empat laki-laki yang bisa dipercaya untuk
melindungi Lizzie.
“Lizzie kemana? Sudah pulang?” tebak
Dion. Yoza melirik kakak senior yang
berdiri tepat disampingnya lalu menggeleng pelan.
“Belum kok kak. Ehh, bukannya tadi
kakak dari kamar mandi ya?” sela Niara
“Iya, memangnya kenapa?”
“Lizzie ‘kan ada di dapur lagi bikin
popcorn.” Dion menoleh ke arah dapur seolah mencari sosok Lizzie di balik
buffet tinggi yang berdiri kokoh membatasi dua ruang yang berbeda. Tanpa sadar
kakinya bergerak, memutar tubuh bagian atasnya.
“Kak Dion mau kemana? Ke dapur?
Enggak perlu kali kak, udah ada Hujan kok. Kakak disini aja, main game bareng
kita,” kata Niara seraya menarik lengan kiri Dion, membawanya duduk di karpet
biru yang penuh dengan bungkus makanan.
Permainan video game tak lagi seseru
sebelum Yoza bercerita. Cerita penolakan Lizzie terhadap Hujan membuat atmosfir
berubah, terutama atmosfir di sekitar Dion– benar-benar berubah. “Lu beneran?
Asal nguap aja kali lu ya?!” Tito Si anak Jakarta sama sekali tak percaya.
Selama ini yang ia tahu Lizzie juga menyukai Hujan, kedekatan merekalah yang
membuat laki-laki ini berpikir demikian.
“Serius. Enggak percaya? Silahkan
tanya sendiri,” balasnya keras kepala. Dion merasa sedikit lega, setidaknya
kekhawatirannya setelah mendengar pengakuan itu tidak terjadi. Ada sedikit
celah yang bisa ia buat dan ia harap celah itu bisa semakin melebar.
Tiga porsi mie ayam super pedas
sudah tersaji dengan menggoda di hadapan Hujan, Dion dan Tito. Tito menepuk
pundak Hujan, memberinya dukungan setelah mengetahui rencana Hujan yang sempat
membuatnya terkejut. Tapi ia paham, beginilah kenyataannya. Cinta memang bukan
sesuatu yang bisa dipaksakan, tapi kalau tidak berani mengambil sebuah resiko
jangan pernah berharap akan menemukan cinta. Dion menyesap kopi moka miliknya.
Kuping cangkir diremasnya. Ada rasa ia ingin memberontak, mengatakan jangan dan
jangan pernah, tapi ia tidak punya alasan yang kuat untuk itu. Melihat segurat
senyum yang terukir di wajah Hujan membuat aliran darahnya meninggi, kepalanya
seketika pening dan ia ingin muntah.
“Kak.. Kak Dion.. Kak!!” teriak
Niara keras tepat di telinga Dion yang sedikit tertutupi oleh rambut hitam
miliknya. Dion melonjak.
“Apa?” sergah Dion dengan suara yang
lebih tinggi. Tito, Yoza dan dua temannya yang sudah kembali dari misi mereka
di dapur sedikit tersentak. Mereka bingung, tiba-tiba saja suara Dion berubah
tinggi hanya karena panggilan Niara. Sejenak kemudian, Dion menarik nafas
panjang. Ia balik menatap mata-mata yang tengah memandangnya aneh.
“Maaf. Aku melamun. Ada apa?”
tanyanya setengah hati. Lizzie dan yang lainnya hanya saling pandang. Ia merasa
ada suatu hal yang tengah kakak seniornya pikirkan dan ia yakin itu adalah hal
yang rumit. Lizzie memperhatikan Dion dengan penuh tanda tanya kekhawatiran.
***
Kenangan
indah dirimu begitu banyak, sampai-sampai melupakanmu saja begitu sulit kulakukan.
Sudah beberapa hari setelah ulang
tahun Niara dan sudah beberapa hari pula sikap Dion sedikit berubah, laki-laki
tenang itu kini mudah terbawa emosi. Mereka semua berpikir itu mungkin bagian
dari efek kuliahnya, tapi tidak dengan Lizzie. Dion yang sekarang bukan seperti
Dion yang ia kenal. Siapa kamu?,
pikirnya.
Duduk termenung dalam dekapan angin
yang semilir menyentuh lembut rambutnya. Gelombang yang tak begitu jelas namun
ada di tengah aliran sungai itu menggambarkan amarahnya. Ia marah dan mengutuk
dirinya sendiri. Ia marah karena sampai sekarang ia hanya mampu berucap tapi
tak ada satupun hal yang bisa ia lakukan. Ia lelah dengan dirinya sendiri yang
terus menunggu. Ia lelah dengan dirinya yang tak pernah pasti dengan jalan yang
ia pilih. Bahkan untuk memegang teguh keputusannya pun kadang ia goyah. Ia
menggeleng. Menghantamkan beberapa pukulan pada rumput bergoyang yang tak
bersalah. Jemarinya mengepal kuat memunculkan urat-urat nadi di pergelangan
tangannya yang kuat. “Bodoh!!!”
“Siapa yang bodoh kak?” Dion menoleh
cepat, sudut matanya menangkap gadis berkerudung cokelat dengan sebungkus
kentang goreng berdiri tak jauh dari tempatnya. “Lizzie?”
“Iya,” sahutnya santai. “Siapa yang
bodoh kak? Kakak? Kalo itu aku sudah tahu dari dulu,” tambahnya seenaknya. Dion
menarik kembali pandangannya ke hamparan air yang masih memantulkan cahaya
matahari sore. Perasaan aneh Lizzie semakin kuat saat ia berada di samping
Dion. Laki-laki ini masih terus memeluk
kedua kakinya, diam membisu dan hanya fokus pada satu titik di ujung matanya.
“Tidak semua orang bisa bersikap
seperti patung yang berdiri tegak tanpa satupun ekspresi. Tidak semua orang
bisa menyembunyikan perasaan mereka. Ada kalanya perasaan itu harus dibagi
kepada orang lain, entah itu suka ataupun duka.” Suara Lizzie terdengar begitu bijak di
telinga Dion. Hatinya mengakui kalau Lizzie tidak hanya peduli pada satu orang,
dia selalu peduli pada semua orang dan itulah yang membuat Dion marah. Dan lagi,
kini Dion sudah menemukan jawaban dari alasan kenapa dia mudah emosi belakangan
ini, alasannya adalah ia cemburu.
“Lizz, nanti malam sibuk enggak?
Kalo enggak, ikut kakak mau?” tanyanya kikuk.
“Kemana? Sama anak-anak juga?”
Dion
menggeleng keras. “Enggak. Cuman kita berdua.” Tiba-tiba senyum kecil kembali
tersungging di wajah Dion.
Niara clingukan, kepalanya bergerak
cepat ke seluruh penjuru arah namun yang ia cari belum ketemu juga. Desahan
berat yang ia keluarkan membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa teman di sekitarnya.
Hujan hanya melirik sekilas lalu kembali berkutat dengan susunan puzzle yang
selalu tidak bisa ia selesaikan sendiri. Hujan memang sangat lemah kalau harus
mengingat pola-pola tertentu. Meskipun sudah berulang kali menyusunnya bersama
Lizzie, tapi tetap saja ia merasa kesulitan.
Tanpa permisi hujan turun dengan
lebatnya, menciptakan kembang api-kembang api tak bercahaya di lapangan basket
yang kosong. Tribun-tribun yang berdiam mengelilingi sisi lapangan semakin sepi
seiring perginya Niara dan Tito serta membisunya Hujan. Hujan memandang hujan
itulah yang terjadi sekarang. Menikmati setiap pantulan air yang membentuk pola
gelombang tertentu, membawanya pada mesin waktu dan menjelajahi halaman-halaman
yang sudah ia lewati bersama Lizzie. Hujan kali ini mengingatkannya pada saat mereka
berdua bermain di tengah guyuran hujan lebat yang pada akhirnya membuat Lizzie
harus rela terbungkus jaket tebal dan mengonsumsi obat-obatan dalam beberapa
hari. Ia mengingat dengan jelas saat pundaknya membawa beban yang cukup berat
dengan kedua lengannya terselip di antara kedua lutut yang menggantung. Lalu
karena pergelangan kaki Hujan tidak cukup kuat untuk menyeimbangkan tubuhnya
lagi, mereka berdua pun jatuh.
“Aaaa…..” Gadis itu mengerang
kesakitan. Ia memijat-mijat lengan atasnya sendiri. Mulutnya yang cemberut
membuat wajahnya terlihat lucu di mata Hujan. Bukannya segera menolong Lizzie,
Hujan justru asik menertawakan sikap Lizzie yang seperti anak kecil.
“Yahh, kok sudah enggak hujan lagi?”
keluh Lizzie. Ia menengadah. Menatap langit yang perlahan mulai berhasil ditembus
oleh garis-garis sinar yang menghancurkan lapisan awan tebal. “Memangnya
kenapa? Malah bagus kan?” Lizzie tersenyum dengan mencurigakan, membuat Hujan
tanpa sadar menaikan sebelah alisnya.
Hujan tersadar, hujan sudah
benar-benar berhenti. Sama persis seperti apa yang ia pikirkan. Hujan mendongakkan
kepalanya, memerhatikan burung-burung yang berterbangan, lalu beberapa saat
setelah itu ia baru menarik pandangannya kembali ke bumi dan pergi.
***
“Lizz, kemarin aku dengar kamu habis
nolak Hujan, itu sungguh?”
“Ya,” jawab Lizzie tegas. Dion
merasa ada yang aneh dengan Lizzie akhir-akhir ini, dia terlalu terbuka dengan
semua pikirannya. Terlalu polos untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan
padanya. Tapi itu lebih baik daripada berusaha menutupi segalanya. Mereka
berdua duduk saling berhadapan seperti seseorang yang akan melakukan interview
pekerjaan namun bedanya tidak ada percakapan yang terjadi. Semuanya diam.
Lizzie menatap lurus mata Dion tapi pandangan itu kosong dan Dion bisa
melihatnya. “Kamu mau jadi pacarku?” Akhirnya Dion mengeluarkan pertanyaan itu
juga.
“Maaf, enggak.” Terlalu cepat
jawaban itu keluar. Terlalu cepat sampai Dion tidak bisa menafsirkan apa
maksudnya. Apakah dari tadi Lizzie sedang membaca pikirannya? Menebak apa yang
akan Dion katakan atau meprediksikan kemungkinan apa yang akan terjadi setelah
ini. Gadis
ini, apa iya dia punya intuisi?, tanya Dion pada dirinya sendiri. Lizzie
mengangkat nampan yang berisi ikan lezat tergeletak tak bernyawa lebih dekat
dengannya. Mengambil beberapa bagian dagingnya dengan garpu.
“Kak, kamu ngajak aku kesini bukan
cuman buat makan kan?” Suara datar itu menarik Dion dari dunianya sendiri. Dion
memijat-mijat keningnya beberapa kali, sementara Lizzie dengan santainya masih
terus menikmati kelezatan daging dari ikan tak berdosa itu. Laki-laki itu
tertawa, membuatnya lebih diperhatikan oleh Lizzie untuk sesaat.
“Kenapa?”
“Seharusnya aku yang tanya kenapa?
Kenapa semudah itu kamu bilang ‘enggak’?”
Lizzie
meletakan sendok dan garpunya, menyilangkan kedua tangannya dengan rapi di
depan dada. “Ohh, mudah saja. Semua itu karena aku mau serius kuliah. Hanya
itu.”
“Apa ini alasan yang sama kamu
menolak Hujan?” Lizzie mengangguk mantap. Sebenarnya jauh di lubuk hati Lizzie,
ia sendiri merasa khawatir dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia sendiri tidak
tahu apakah keputusannya ini akan membuat semua tetap baik-baik saja atau
justru akan ada hal buruk yang akan terjadi.
“Ahh iya kak, kita ke sini sungguhan
cuman buat makan?” Ada rasa penasaran yang besar di dalam pertanyaannya barusan,
Dion kembali tertawa.
“Aku pikir kamu punya intuisi yang
hebat, tapi ternyata aku salah. Ya jelas bukan hanya untuk makan, untuk apa aku
mengajakmu kemari kalau hanya untuk makan?”
“Anda membuat saya semakin
penasaran,” sahut Lizzie formal.
Dion
menggerak-gerakan kedua tangannya cepat sambil tertawa lebar. “Enggak-enggak,
kita ke sini memang cuman buat makan kok.” Lizzie mendengus kesal. Bibir bagian
bawahnya sedikit ia majukan ke depan seperti bebek. Menyakitkan, tapi mungkin memang ini yang terbaik. “Terbaik,” gumam
Dion.
***
Yoza, Niara dan Tito masih terus
meruntuki Lizzie, memberikan gadis berkerudung itu ribuan petuah karena
kebodohan yang baru saja ia lakukan. Meskipun Lizzie sendiri tidak pernah
berpikir sampai sejauh itu. Mungkin memang dia sedingin es tapi itu lebih baik
dari pada ia harus membakar semua hal yang ada disekitarnya jika ia tidak bisa
menjaga apa yang ia miliki.
“Aku benar-benar tidak percaya kamu
bisa menolak dua orang sekaligus.”
“Dan setelah itu kamu masih bersikap
terlalu peduli dengan mereka semua?” Tito menambahi. Mendengar teman-temannya
saling menambahi kalimat satu sama lain, yang bisa Lizzie lakukan hanya melipat
kedua lengannya, menyandarkan punggungnya dalam kursi lurus tanpa memasang
ekspresi apapun.
“Kamu itu tukang PHP Lizz!” hardik
Niara.
“Kamu tolak Hujan apa karena kamu
enggak mau merusak persahabatan kalian?” tebak Tito yang mulai kesal dengan
sikap Lizzie yang tenang. Lizzie melepas lipatan tangannya, menarik dirinya lebih
dekat dengan meja. “Kita saling menjaga perasaan bukan karena kita adalah
sahabat. Tapi kita sahabat karena kita saling menjaga perasaan satu sama lain.”
“Lizzie, kata-katamu itu,” seru
Yoza tak percaya, “aku enggak percaya
kamu bisa bicara seperti itu?”
“Hha? Jangankan kalian, aku juga
enggak percaya.”
Novel. Mahasiswa berambut lumayan
gondrong, tidak pernah melepaskan kamera dari lehernya dan selalu mengenakan
celana panjang training. Dari balik
bukunya, Lizzie memperhatikan pemuda itu. Matanya bereaksi cepat setiap Novel
melakukan gerakan dalam diamnya. Dion
dengan cepat menyadari tingkah Lizzie yang akhir-akhir ini seperti mata-mata
bagian intelegensi. Dion tidak menyukai itu. Sebagian diri Dion menentang
keras. Kenapa harus Novel? Kenapa
laki-laki itu?
Dion dan
Hujan, laki-laki yang kini duduk tidak jauh dari tempat Lizzie, sama-sama
mengerti. Tidak akan ada yang berubah dan tidak akan ada gunanya memaksakan
perasaan mereka pada seseorang yang jelas-jelas tidak memberi mereka ekspentasi
lebih.
“Kamu lagi mata-matain Novel ya?”
selidik Dion yang membuat Lizzie gelagapan. Namun dalam sekejap gadis itu
merubah sikapnya. Ia terlihat lebih tenang dan dapat mengendalikan segalanya.
“Hhuh.. Mungkin. Kak Dion kenal?” Matanya terlihat lebih antusias. “Iya, dia
Novel, teman dekatku dari SMA. Kenapa?”
“Enggak, aku cuman merasa dia mirip
seperti seseorang, tapi..”
“Siapa?” potong Dion.
“Nawapaiboon, artis Thailand,” aku Lizzie cenggegesan.
“Hha?”
Mungkin
sudah hampir ke sepuluh kalinya Niara menghela nafas, sesekali membetulkan
poninya yang berantakan akibat hempasan karbon dioksida dari mulutnya. Tito
dan Yoza melempar pandangan yang serupa
pada Niara. Wajahnya lusuh, ada yang ia pikirkan sendiri. Tidak biasanya dia
diam, perempuan cerewet ini hanya akan diam saat ia punya masalah atau sakit.
“Hheh!”
Yoza menggerakan sumpit dengan ujung ibu jari dan telunjuknya ke kepala Niara,
bermaksud membuyarkan semua pikiran tak jelasnya. Mata Niara menyipit. Menatap
dengan perasaan dongkol pada salah satu teman yang tengah senyum-senyum sambil
menikmati sebotol teh. Ia tidak mau ambil pusing. Dia benar-benar tidak ingin
mengeluarkan banyak energi sekarang.
“Kamu
kenapa?” tanya Tito perhatian
“Apa
kalian enggak ngerasa aneh gitu? Lizzie itu sudah nolak dua cowok.”
“Terus?
Kita juga sudah pernah bahas masalah ini kan? Terus kenapa sekarang harus
dibahas lagi?”
“Masalahnya,
sekarang aku sering lihat dia jadi spy.
Dia kayak ssecret admirer gitu.
Cari-cari semua informasi tentang kak Novel, anak fotografi tahun kedua,” Niara
memastikan kedua temannya masih mendengarkan ceritanya, setelah ia merasa yakin
baru ia kembali bercerita, “sementara kak Novel itu sendiri sudah punya pacar.
Lizzie seperti dapat karma gitulah. Tapi jujur, aku juga kasihan sama Lizzie
sih.”
“Kamu
tahu banyak ya? Jangan-jangan kamu juga salah satu secret admirernya kak Novel-Novel itu ya?”
“Enak
aja!” tukas Niara cepat. “Lizzie yang cerita sendiri sama aku. Tapi kalo aku
tanya alasannya dia nolak, dianya enggak pernah mau cerita–”
“Tukang
PHP yang di PHP-in. Lizzie.. Lizzie..” keluh Yoza menghentikan cerita Niara
yang menurutnya sudah terlalu panjang seperti rel kereta dan terlalu dalam
mengurusi masalah pribadi orang lain.
SELESAI…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar