Jumat, 28 Maret 2014

Tukang PHP di PHP-in

Jangan buat aku untuk terus berharap. Beri aku kepastian, jujur aku lelah menunggumu yang tidak pasti.

            “Kamu mau jadi pacar aku?” ungkap Hujan tiba-tiba sesaat setelah Lizzie meletakan segelas es jeruk diantara mereka. Ekspresi wajah Lizzie sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan atau rasa tersanjung melainkan kebingungan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau sahabatnya akan bicara seperti itu. Selama ini ia memang tahu kalau Hujan, laki-laki bertubuh atletis itu sedang berusaha untuk menyatakan perasaannya tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinyalah orang itu.
            “Hha?” respon Lizzie yang sama sekali tidak menolong.
            “Jangan bilang ‘hha’ Lizzie. Aku tanya, apa kamu mau jadi pacar aku?” ulang Hujan tidak menyerah.
Matanya menatap tajam mata Lizzie yang cokelat. Gadis itu menarik nafas panjang, ia tersadarkan bahwa ia harus segera memberi jawaban agar sahabatnya berhenti berharap padanya. Gadis itu menggeleng pelan. “Enggak,” jawab Lizzie seolah tidak berperasaan. Tangan Hujan yang semula menjulur ke depan, perlahan ia tarik kembali. Ia mencoba menenangkan pikirannya sebelum meminta alasan dari penolakan yang barusan ia dapatkan.
            “Hujan, maaf. Aku tahu mungkin aku terlihat seperti pembunuh berdarah dingin. Tanpa ada kata-kata manis, aku langsung nolak kamu gitu aja. Tapi aku pikir ini yang terbaik. Aku enggak mau bilang iya, padahal aku sama sekali enggak mau terikat sama hubungan rumit itu.”
            “Tapi Lizzie?” ia tercekat. Suaranya menghilang ketika ia mencoba memaksakan cintanya, tapi ia tahu itu salah dan itu bukanlah dirinya.
            “Aku belum mau pacaran. Aku masih mau fokus sama kuliahku dulu.”

            Hujan mengacak-acak rambutnya sendiri di atap gedung, terlentang menatap langit sore yang masih cukup bisa dinikmati. Bayang-bayang penolakan itu masih terus terlintas di benaknya setiap ia bertemu atau memikirkan Lizzie. Memang benar, Lizzie sama sekali tidak mengubah sikapnya. Dimata Hujan, Lizzie masih tetap menjadi Lizzie yang dulu. Lizzie sahabatnya yang belum tahu bagaimana isi hatinya. Tapi terkadang sikap itulah yang membuat Hujan merasa bahwa Lizzie adalah orang yang kejam. Terkadang Hujan berharap Lizzie lebih baik menjauhinya daripada tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa, karena sikap itulah yang membuat Hujan merasa bersalah.
            “Hallo, iya apa Lizz?” seru Hujan malas. “Ya,” lanjut Hujan lalu mematikan ponselnya. Memang selalu begini, ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan Lizzie.
                                                                            ***

            Acara ulang tahun Niara lebih lama dan lebih ramai daripada acara pergantian tahun lalu. Lizzie mengeluarkan stup rambutan dari kulkas. Gelas-gelas piala dengan cepatnya menghilang dari meja kaca.
            Hujan mendekat. “Buat kamu,” katanya kemudian. Tanpa dikomando Lizzie melempar senyumannya yang  manis. “Makasih. Enggak biasanya kamu enggak bareng Tito?”
            “Bareng kok, tapi sekarang dia lagi ngobrol sama kak Dion.”
            “Kak Dion senior ekskul?” Lizzie memperjelas. Hujan hanya mengangguk, sibuk dengan minuman miliknya sampai lupa gadis itu masih mengajaknya bicara.
            “Aaargh!!” Hujan mengerang tiba-tiba. Stup miliknya tumpah, tabrakan anak kecil berbaju merah itu cukup kuat sampai-sampai ia harus mundur selangkah agar tubuhnya kembali seimbang, tapi hal itu tidak berhasil menjaga minumannya tetap tenang di dalam gelas. Lizzie berlari ke belakang, mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada laki-laki yang tampak lebih keren dengan pakaian casualnya malam ini.
            Dua empat lima, rumah Niara sudah jauh lebih sepi, hanya enam orang termasuk si empunya rumah yang tersisa. Orang tua Lizzie sama sekali tidak khawatir kalau anak semata wayang mereka pulang sampai dini hari karena ada empat laki-laki yang bisa dipercaya untuk melindungi Lizzie.
            “Lizzie kemana? Sudah pulang?” tebak Dion.  Yoza melirik kakak senior yang berdiri tepat disampingnya lalu menggeleng pelan.
            “Belum kok kak. Ehh, bukannya tadi kakak dari kamar mandi ya?” sela Niara
            “Iya, memangnya kenapa?”
            “Lizzie ‘kan ada di dapur lagi bikin popcorn.” Dion menoleh ke arah dapur seolah mencari sosok Lizzie di balik buffet tinggi yang berdiri kokoh membatasi dua ruang yang berbeda. Tanpa sadar kakinya bergerak, memutar tubuh bagian atasnya.
            “Kak Dion mau kemana? Ke dapur? Enggak perlu kali kak, udah ada Hujan kok. Kakak disini aja, main game bareng kita,” kata Niara seraya menarik lengan kiri Dion, membawanya duduk di karpet biru yang penuh dengan bungkus makanan.
            Permainan video game tak lagi seseru sebelum Yoza bercerita. Cerita penolakan Lizzie terhadap Hujan membuat atmosfir berubah, terutama atmosfir di sekitar Dion– benar-benar berubah. “Lu beneran? Asal nguap aja kali lu ya?!” Tito Si anak Jakarta sama sekali tak percaya. Selama ini yang ia tahu Lizzie juga menyukai Hujan, kedekatan merekalah yang membuat laki-laki ini berpikir demikian.
            “Serius. Enggak percaya? Silahkan tanya sendiri,” balasnya keras kepala. Dion merasa sedikit lega, setidaknya kekhawatirannya setelah mendengar pengakuan itu tidak terjadi. Ada sedikit celah yang bisa ia buat dan ia harap celah itu bisa semakin melebar.
           
            Tiga porsi mie ayam super pedas sudah tersaji dengan menggoda di hadapan Hujan, Dion dan Tito. Tito menepuk pundak Hujan, memberinya dukungan setelah mengetahui rencana Hujan yang sempat membuatnya terkejut. Tapi ia paham, beginilah kenyataannya. Cinta memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, tapi kalau tidak berani mengambil sebuah resiko jangan pernah berharap akan menemukan cinta. Dion menyesap kopi moka miliknya. Kuping cangkir diremasnya. Ada rasa ia ingin memberontak, mengatakan jangan dan jangan pernah, tapi ia tidak punya alasan yang kuat untuk itu. Melihat segurat senyum yang terukir di wajah Hujan membuat aliran darahnya meninggi, kepalanya seketika pening dan ia ingin muntah.

            “Kak.. Kak Dion.. Kak!!” teriak Niara keras tepat di telinga Dion yang sedikit tertutupi oleh rambut hitam miliknya. Dion melonjak.
            “Apa?” sergah Dion dengan suara yang lebih tinggi. Tito, Yoza dan dua temannya yang sudah kembali dari misi mereka di dapur sedikit tersentak. Mereka bingung, tiba-tiba saja suara Dion berubah tinggi hanya karena panggilan Niara. Sejenak kemudian, Dion menarik nafas panjang. Ia balik menatap mata-mata yang tengah memandangnya aneh.
            “Maaf. Aku melamun. Ada apa?” tanyanya setengah hati. Lizzie dan yang lainnya hanya saling pandang. Ia merasa ada suatu hal yang tengah kakak seniornya pikirkan dan ia yakin itu adalah hal yang rumit. Lizzie memperhatikan Dion dengan penuh tanda tanya kekhawatiran.
                                                                            ***

Kenangan indah dirimu begitu banyak, sampai-sampai melupakanmu saja begitu sulit kulakukan.
           
            Sudah beberapa hari setelah ulang tahun Niara dan sudah beberapa hari pula sikap Dion sedikit berubah, laki-laki tenang itu kini mudah terbawa emosi. Mereka semua berpikir itu mungkin bagian dari efek kuliahnya, tapi tidak dengan Lizzie. Dion yang sekarang bukan seperti Dion yang ia kenal. Siapa kamu?, pikirnya.
            Duduk termenung dalam dekapan angin yang semilir menyentuh lembut rambutnya. Gelombang yang tak begitu jelas namun ada di tengah aliran sungai itu menggambarkan amarahnya. Ia marah dan mengutuk dirinya sendiri. Ia marah karena sampai sekarang ia hanya mampu berucap tapi tak ada satupun hal yang bisa ia lakukan. Ia lelah dengan dirinya sendiri yang terus menunggu. Ia lelah dengan dirinya yang tak pernah pasti dengan jalan yang ia pilih. Bahkan untuk memegang teguh keputusannya pun kadang ia goyah. Ia menggeleng. Menghantamkan beberapa pukulan pada rumput bergoyang yang tak bersalah. Jemarinya mengepal kuat memunculkan urat-urat nadi di pergelangan tangannya yang kuat. “Bodoh!!!”
            “Siapa yang bodoh kak?” Dion menoleh cepat, sudut matanya menangkap gadis berkerudung cokelat dengan sebungkus kentang goreng berdiri tak jauh dari tempatnya. “Lizzie?”
            “Iya,” sahutnya santai. “Siapa yang bodoh kak? Kakak? Kalo itu aku sudah tahu dari dulu,” tambahnya seenaknya. Dion menarik kembali pandangannya ke hamparan air yang masih memantulkan cahaya matahari sore. Perasaan aneh Lizzie semakin kuat saat ia berada di samping Dion.  Laki-laki ini masih terus memeluk kedua kakinya, diam membisu dan hanya fokus pada satu titik di ujung matanya.
            “Tidak semua orang bisa bersikap seperti patung yang berdiri tegak tanpa satupun ekspresi. Tidak semua orang bisa menyembunyikan perasaan mereka. Ada kalanya perasaan itu harus dibagi kepada orang lain, entah itu suka ataupun duka.”  Suara Lizzie terdengar begitu bijak di telinga Dion. Hatinya mengakui kalau Lizzie tidak hanya peduli pada satu orang, dia selalu peduli pada semua orang dan itulah yang membuat Dion marah. Dan lagi, kini Dion sudah menemukan jawaban dari alasan kenapa dia mudah emosi belakangan ini, alasannya adalah ia cemburu.
            “Lizz, nanti malam sibuk enggak? Kalo enggak, ikut kakak mau?” tanyanya kikuk.
            “Kemana? Sama anak-anak juga?”
Dion menggeleng keras. “Enggak. Cuman kita berdua.” Tiba-tiba senyum kecil kembali tersungging di wajah Dion.

            Niara clingukan, kepalanya bergerak cepat ke seluruh penjuru arah namun yang ia cari belum ketemu juga. Desahan berat yang ia keluarkan membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa teman di sekitarnya. Hujan hanya melirik sekilas lalu kembali berkutat dengan susunan puzzle yang selalu tidak bisa ia selesaikan sendiri. Hujan memang sangat lemah kalau harus mengingat pola-pola tertentu. Meskipun sudah berulang kali menyusunnya bersama Lizzie, tapi tetap saja ia merasa kesulitan.
            Tanpa permisi hujan turun dengan lebatnya, menciptakan kembang api-kembang api tak bercahaya di lapangan basket yang kosong. Tribun-tribun yang berdiam mengelilingi sisi lapangan semakin sepi seiring perginya Niara dan Tito serta membisunya Hujan. Hujan memandang hujan itulah yang terjadi sekarang. Menikmati setiap pantulan air yang membentuk pola gelombang tertentu, membawanya pada mesin waktu dan menjelajahi halaman-halaman yang sudah ia lewati bersama Lizzie. Hujan kali ini mengingatkannya pada saat mereka berdua bermain di tengah guyuran hujan lebat yang pada akhirnya membuat Lizzie harus rela terbungkus jaket tebal dan mengonsumsi obat-obatan dalam beberapa hari. Ia mengingat dengan jelas saat pundaknya membawa beban yang cukup berat dengan kedua lengannya terselip di antara kedua lutut yang menggantung. Lalu karena pergelangan kaki Hujan tidak cukup kuat untuk menyeimbangkan tubuhnya lagi, mereka berdua pun jatuh.
            “Aaaa…..” Gadis itu mengerang kesakitan. Ia memijat-mijat lengan atasnya sendiri. Mulutnya yang cemberut membuat wajahnya terlihat lucu di mata Hujan. Bukannya segera menolong Lizzie, Hujan justru asik menertawakan sikap Lizzie yang seperti anak kecil.
            “Yahh, kok sudah enggak hujan lagi?” keluh Lizzie. Ia menengadah. Menatap langit yang perlahan mulai berhasil ditembus oleh garis-garis sinar yang menghancurkan lapisan awan tebal. “Memangnya kenapa? Malah bagus kan?” Lizzie tersenyum dengan mencurigakan, membuat Hujan tanpa sadar menaikan sebelah alisnya.

            Hujan tersadar, hujan sudah benar-benar berhenti. Sama persis seperti apa yang ia pikirkan. Hujan mendongakkan kepalanya, memerhatikan burung-burung yang berterbangan, lalu beberapa saat setelah itu ia baru menarik pandangannya kembali ke bumi dan pergi.
                                                                            ***

            “Lizz, kemarin aku dengar kamu habis nolak Hujan, itu sungguh?”
            “Ya,” jawab Lizzie tegas. Dion merasa ada yang aneh dengan Lizzie akhir-akhir ini, dia terlalu terbuka dengan semua pikirannya. Terlalu polos untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan padanya. Tapi itu lebih baik daripada berusaha menutupi segalanya. Mereka berdua duduk saling berhadapan seperti seseorang yang akan melakukan interview pekerjaan namun bedanya tidak ada percakapan yang terjadi. Semuanya diam. Lizzie menatap lurus mata Dion tapi pandangan itu kosong dan Dion bisa melihatnya. “Kamu mau jadi pacarku?” Akhirnya Dion mengeluarkan pertanyaan itu juga.
            “Maaf, enggak.” Terlalu cepat jawaban itu keluar. Terlalu cepat sampai Dion tidak bisa menafsirkan apa maksudnya. Apakah dari tadi Lizzie sedang membaca pikirannya? Menebak apa yang akan Dion katakan atau meprediksikan kemungkinan apa yang akan terjadi setelah ini.  Gadis ini, apa iya dia punya intuisi?, tanya Dion pada dirinya sendiri. Lizzie mengangkat nampan yang berisi ikan lezat tergeletak tak bernyawa lebih dekat dengannya. Mengambil beberapa bagian dagingnya dengan garpu.
            “Kak, kamu ngajak aku kesini bukan cuman buat makan kan?” Suara datar itu menarik Dion dari dunianya sendiri. Dion memijat-mijat keningnya beberapa kali, sementara Lizzie dengan santainya masih terus menikmati kelezatan daging dari ikan tak berdosa itu. Laki-laki itu tertawa, membuatnya lebih diperhatikan oleh Lizzie untuk sesaat.
            “Kenapa?”
            “Seharusnya aku yang tanya kenapa? Kenapa semudah itu kamu bilang ‘enggak’?”
Lizzie meletakan sendok dan garpunya, menyilangkan kedua tangannya dengan rapi di depan dada. “Ohh, mudah saja. Semua itu karena aku mau serius kuliah. Hanya itu.”
            “Apa ini alasan yang sama kamu menolak Hujan?” Lizzie mengangguk mantap. Sebenarnya jauh di lubuk hati Lizzie, ia sendiri merasa khawatir dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia sendiri tidak tahu apakah keputusannya ini akan membuat semua tetap baik-baik saja atau justru akan ada hal buruk yang akan terjadi.
            “Ahh iya kak, kita ke sini sungguhan cuman buat makan?” Ada rasa penasaran yang besar di dalam pertanyaannya barusan, Dion kembali tertawa.
            “Aku pikir kamu punya intuisi yang hebat, tapi ternyata aku salah. Ya jelas bukan hanya untuk makan, untuk apa aku mengajakmu kemari kalau hanya untuk makan?”
            “Anda membuat saya semakin penasaran,” sahut Lizzie formal.
Dion menggerak-gerakan kedua tangannya cepat sambil tertawa lebar. “Enggak-enggak, kita ke sini memang cuman buat makan kok.” Lizzie mendengus kesal. Bibir bagian bawahnya sedikit ia majukan ke depan seperti bebek. Menyakitkan, tapi mungkin memang ini yang terbaik. “Terbaik,” gumam Dion.
                                                                            ***

            Yoza, Niara dan Tito masih terus meruntuki Lizzie, memberikan gadis berkerudung itu ribuan petuah karena kebodohan yang baru saja ia lakukan. Meskipun Lizzie sendiri tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Mungkin memang dia sedingin es tapi itu lebih baik dari pada ia harus membakar semua hal yang ada disekitarnya jika ia tidak bisa menjaga apa yang ia miliki.
            “Aku benar-benar tidak percaya kamu bisa menolak dua orang sekaligus.”
            “Dan setelah itu kamu masih bersikap terlalu peduli dengan mereka semua?” Tito menambahi. Mendengar teman-temannya saling menambahi kalimat satu sama lain, yang bisa Lizzie lakukan hanya melipat kedua lengannya, menyandarkan punggungnya dalam kursi lurus tanpa memasang ekspresi apapun.
            “Kamu itu tukang PHP Lizz!” hardik Niara.
            “Kamu tolak Hujan apa karena kamu enggak mau merusak persahabatan kalian?” tebak Tito yang mulai kesal dengan sikap Lizzie yang tenang. Lizzie melepas lipatan tangannya, menarik dirinya lebih dekat dengan meja. “Kita saling menjaga perasaan bukan karena kita adalah sahabat. Tapi kita sahabat karena kita saling menjaga perasaan satu sama lain.”
            “Lizzie, kata-katamu itu,” seru Yoza  tak percaya, “aku enggak percaya kamu bisa bicara seperti itu?”
            “Hha? Jangankan kalian, aku juga enggak percaya.”

            Novel. Mahasiswa berambut lumayan gondrong, tidak pernah melepaskan kamera dari lehernya dan selalu mengenakan celana panjang training. Dari balik bukunya, Lizzie memperhatikan pemuda itu. Matanya bereaksi cepat setiap Novel melakukan gerakan dalam diamnya.  Dion dengan cepat menyadari tingkah Lizzie yang akhir-akhir ini seperti mata-mata bagian intelegensi. Dion tidak menyukai itu. Sebagian diri Dion menentang keras. Kenapa harus Novel? Kenapa laki-laki itu?
            Dion dan Hujan, laki-laki yang kini duduk tidak jauh dari tempat Lizzie, sama-sama mengerti. Tidak akan ada yang berubah dan tidak akan ada gunanya memaksakan perasaan mereka pada seseorang yang jelas-jelas tidak memberi mereka ekspentasi lebih.
            “Kamu lagi mata-matain Novel ya?” selidik Dion yang membuat Lizzie gelagapan. Namun dalam sekejap gadis itu merubah sikapnya. Ia terlihat lebih tenang dan dapat mengendalikan segalanya. “Hhuh.. Mungkin. Kak Dion kenal?” Matanya terlihat lebih antusias. “Iya, dia Novel, teman dekatku dari SMA. Kenapa?”
            “Enggak, aku cuman merasa dia mirip seperti seseorang, tapi..”
            “Siapa?” potong Dion.
             Nawapaiboon, artis Thailand,” aku Lizzie cenggegesan.
            “Hha?”

            Mungkin sudah hampir ke sepuluh kalinya Niara menghela nafas, sesekali membetulkan poninya yang berantakan akibat hempasan karbon dioksida dari mulutnya. Tito dan  Yoza melempar pandangan yang serupa pada Niara. Wajahnya lusuh, ada yang ia pikirkan sendiri. Tidak biasanya dia diam, perempuan cerewet ini hanya akan diam saat ia punya masalah atau sakit.
            “Hheh!” Yoza menggerakan sumpit dengan ujung ibu jari dan telunjuknya ke kepala Niara, bermaksud membuyarkan semua pikiran tak jelasnya. Mata Niara menyipit. Menatap dengan perasaan dongkol pada salah satu teman yang tengah senyum-senyum sambil menikmati sebotol teh. Ia tidak mau ambil pusing. Dia benar-benar tidak ingin mengeluarkan banyak energi sekarang.
            “Kamu kenapa?” tanya Tito perhatian
            “Apa kalian enggak ngerasa aneh gitu? Lizzie itu sudah nolak dua cowok.”
            “Terus? Kita juga sudah pernah bahas masalah ini kan? Terus kenapa sekarang harus dibahas lagi?”
            “Masalahnya, sekarang aku sering lihat dia jadi spy. Dia kayak ssecret admirer gitu. Cari-cari semua informasi tentang kak Novel, anak fotografi tahun kedua,” Niara memastikan kedua temannya masih mendengarkan ceritanya, setelah ia merasa yakin baru ia kembali bercerita, “sementara kak Novel itu sendiri sudah punya pacar. Lizzie seperti dapat karma gitulah. Tapi jujur, aku juga kasihan sama Lizzie sih.”
            “Kamu tahu banyak ya? Jangan-jangan kamu juga salah satu secret admirernya kak Novel-Novel itu ya?”
            “Enak aja!” tukas Niara cepat. “Lizzie yang cerita sendiri sama aku. Tapi kalo aku tanya alasannya dia nolak, dianya enggak pernah mau cerita–”
            “Tukang PHP yang di PHP-in. Lizzie.. Lizzie..” keluh Yoza menghentikan cerita Niara yang menurutnya sudah terlalu panjang seperti rel kereta dan terlalu dalam mengurusi masalah pribadi orang lain.
                                                                           

SELESAI…
             

Tidak ada komentar: