Minggu, 30 Maret 2014

Ikatan Dalam Tiupan Harmoni

Seandainya semua orang dapat memahami orang lain hanya dengan saling pandang, untuk apa ada perasaan dan perkataan?

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa masa muda hanyalah sebuah kebohongan belaka. Menciptakan perkumpulan hanya untuk menikmati masa muda, tapi mereka yang hanya melakukan itu akan mengundang banyak masalah. Kegagalan, kebohongan, rahasia dan bahkan hal-hal baik yang menyelubungi. Dan semua itu mengarah pada kesimpulan bahwa kita harus memiliki teman. Maka orang yang tidak memiliki teman, akan menjalani masa muda yang lebih sulit, kan?
 

            “Lusyyyy!!” teriak Manda dari ujung tangga di lantai bawah, sementara Lusy berdiri mematung di ujung tangga lainnya. Mulutnya bergerak-gerak, memutar benda kecil di dalamnya. Lalu dalam seketika, raut wajahnya berubah. Ia memincingkan matanya saat melihat seseorang di belakang Manda yang tengah berjalan santai. Laki-laki itu menjejalkan kedua tangannya di saku celana dan headphone yang menutupi kedua telinganya. Lusy, murid kelas 3-B yang terkenal dengan keisengan sekaligus sikap pedulinya yang besar, kini merasa terganggu, bukan hanya terganggu tapi lebih dengan merasa tidak bisa menjadi dirinya yang seperti biasa setelah kehadiran Rama, laki-laki yang berjalan semakin dekat dengannya.
            “Ke sini sebentar!” Tarik Lusy seketika. Manda yang postur tubuhnya sedikit lebih mungil dari pada Lusy, hampir saja terjerembab sebelum kembali menyeimbangkan tubuhnya.
            “Ada apa?” selidik Manda penasaran. Lusy mengambil botol minum dari ranselnya dan saat Rama lewat persis di depannya, menunjukkan punggungnya yang bidang terbalut seragam warna putih dengan hiasan kotak-kotak cokelat di bagian lengan.
            “Rama!” panggil Lusy dan sejurus kemudian, wajah Rama basah. Manda menghilang. Bersembunyi di balik dinding. Ia merasa seolah akan ada bendera perang dingin yang dikibarkan Rama. Rama mengusap air di wajahnya. Menatap Lusy dengan sorot mata biasa. Tidak ada kemarahan yang tersirat hanya seperti sebuah kemakluman. Lalu berbalik dan masuk ke dalam kelas.
            “Wah, gila kau Lus. Maksudmu itu apa?” Lusy hanya mengangkat bahu. Memperhatikan Rama dari celah pintu yang terbuka. Botol minum yang dari tadi dibawanya, melayang dan mendarat dengan sempurna di kepala Pak Marko, musuh bebuyutan Lusy.
            “Kau lagi?! Dasar bocah badung! Ikut saya ke kantor sekarang juga!” perintah Pak Marko dengan suara khasnya yang kental dengan logat jawa. Nama boleh bule tapi jiwa tetap jawa. Lusy masuk ke kelas dengan wajah ditekuk, diikuti Manda yang masih sedikit merinding. Menoleh pada Rama sekilas tapi laki-laki itu hanya diam berpangku tangan sambil membuang pandangan keluar jendela. Helaan nafas panjang ia keluarkan dengan kasar, melempar tas ranselnya lalu berderap keluar kelas. Pandangannya yang semula tak bertuan, kini memiliki pemilik. Rama memperhatikan seseorang yang selalu ia anggap sebagai anak kecil tengah berdiri di bawah. Rasa bersalah karena kesalahan itu masih terus bergelayut memenuhi setiap sisi di otaknya, dan semakin lama semakin membuat ia merasa tidak pantas berada di sisi orang itu.
                                                                       ***
Ketika banyak dari mereka mengatakan bahwa hal buruk dan baik itu adalah hasil dari perbuatanmu, maka akan ada seseorang yang mengatakan bahwa semua itu bergantung pada nasib. Karna pasti ada orang lain yang dapat memahamimu seutuhnya.

            Imelda Benedrika anak 3-D tiba-tiba muncul, duduk persis di depan Rama, memohon untuk dijelaskan beberapa mata pelajaran agar ia lulus dan tidak mengulang lagi di kelas tambahan. Waktunya sudah cukup tersita untuk modeling dan les ballet yang mungkin kedua hal itulah yang menjadi penyebabnya.
            “Aku tidak mau,” tolak Rama mentah-mentah. Imelda diam mematung, seperti baru mendengar bahwa esok adalah hari kiamat. Ia tidak menyerah. Ia mengeluarkan kemampuan merayunya dengan matanya yang dibuat seolah berkaca-kaca, tapi tetap saja Rama tidak bereaksi– masih tetap melanjutkan membaca buku sambil mendengarkan musik melalui headphonenya.
            “Apa kau tidak mendengarkanku?” ucapnya ketus setengah beranjak pergi, kali ini Rama baru bereaksi. Lusy yang duduk dua bangku lebih belakang hanya memperhatikan sambil bertopang dagu dan melumat permen karet rasa blueberry untuk ke tiga kalinya.
            “Hey, Ram. Apa salahnya untuk membantunya? Mengajarinya tidak akan membuat ilmumu berkurang, justru semakin bertambah,” celetuk Lusy santai. Masih dalam posisi menunduk. “Ini masalahnya. Bukan masalahku. Dia menambah satu hal lain, tapi mengorbankan banyak hal lainnya. Jadi lebih baik tidak perlu menambah hal lain kalau tidak bisa menyesuaikan dengan hal sebelumnya.”
            “Kau terlalu berlebihan Ram,”  sindir Lusy kesal.
            “Terserah.” Rama mengangkat kepalanya, melihat sekilas perempuan yang masih berdiri di hadapannya lalu menoleh pada Lusy. “Kalau kau yang merasa terganggu dengan ucapanku, lebih baik kau saja yang membantunya agar berhasil.”

            Atap sekolah itu masih sepi seperti biasanya. Kaki kiri ia selonjorkan, sementara kaki kanannya ia tekuk di depan dada. Angin sepoi-sepoi menyentuh rambut yang menutupi sebagian dahinya. Menerbangkan kesana-kemari. Sambil memejamkan matanya, ia mulai memainkan harmonika miliknya.
            Selagi Lusy mengajari Imelda pelajaran matematika, ia terenyuk. Ia merasa mendengar permainan yang sudah lama tidak pernah ia dengar. Permainan yang sangat ia rindukan. Permainan yang tanpa sadar mengorek kenangan masa kecilnya. Disaat ia berharap kalau orang itu memang sedang memainkannya, Imelda dan Manda menggeleng saat ditanya apakah mereka mendengar ada 22alunan nada meskipun hanya samar-samar. Pada akhirnya Lusy hanya mampu menghela nafas dan  kembali pada Imelda, meskipun di pikirannya masih terlalu yakin bahwa telinganya tidak salah.
            Oakan suara burung memecah langit sore. Coretan senja baru saja terbentuk. Lusy menendang kaleng botol yang semula menghalangi jalannya. Sementara Manda sibuk dengan makanan di kantong plastik. “Aku curiga denganmu Lus,” ucap Manda tiba-tiba. Lusy menghentikan acara menggiring kalengnya. “Aku? Curiga kenapa?” sahutnya santai.
            “curiga antara kau dan Rama. Aku lihat, kau seolah tidak hanya mengenal Rama sebagai murid baru tapi lebih dari itu. Ada apa?” sambungnya. Lusy tersenyum. Di tempat lain, Rama menghabiskan waktu sorenya setelah pulang sekolah di sebuah rumah kecil bertuliskan ‘Panti Asuhan Atleisya’. Rumah kecil dengan halaman yang sangat luas. Duduk di salah satu sisi ayunan, mengenang kesalahan yang menurutnya adalah sebuah kesalahan besar.
            “Hey Lus, kenapa?” Lusy kembali dikagetkan dengan suara Manda yang cukup nyaring. Lusy menyerah.

            Gadis kecil berkuncir dua itu masih terus merengek di tangan ibunya. Matanya yang berlinang air mata sedikit menggetarkan hati sang ibu namun itu masih belum cukup. Memukul perut ibunya yang buncit adalah sebuah kesalahan. Sejak saat itu, tidak pernah ada malam yang terlewat dalam dongengan dari mulut ibunya. Gadis itu marah dan akhirnya pergi.
            Gadis kecil itu menangis meraung-raung dalam dekapan wanita tua berusia 40 tahunan. Dengan lembut ia membelai dan mencoba menenangkan gadis itu. Sampai tiba-tiba tangis itu berhenti ketika ada sebatang lollipop yang menggoda muncul di depan matanya. Mata mungilnya mengikuti tangan yang tertutup lengan baju warna biru tua, mengarahkannya pada sosok anak kecil yang lebih tua setahun darinya. Anak kecil itu tersenyum dan berkata, “Ambillah, tapi jangan menangis lagi ya.” Wanita tua yang sedari tadi memeluk gadis itu pun ikut tersenyum lalu menyuruh mereka bermain berdua di taman belakang dan ayunanlah yang mereka pilih.
            “Anak baru?” tanya anak kecil berbaju biru sambil mendorong ayunan pelan. Gadis kecil itu menggeleng. Dia sudah berhenti menangis. “Lalu?”
            “Aku kesal sama mama. Aku dimarahi mama. Jadi aku kesini.”
            “Kenapa?” Gadis itu mulai bercerita dengan suaranya yang lucu. Sesekali lawan bicaranya tertawa, bukan menertawakan ceritanya tapi caranya dia bercerita. Wajahnya yang bulat, matanya yang kecil bersih, serta hidungnya yang merah karena menangis seharian.
            “Ohh, kalau menurutku, itu kau yang salah. Seharusnya kau bahagia karena kau akan memiliki adik. Aku saja ingin mempunyai adik, tapi sebelum itu terjadi kedua orang tuaku sudah lebih dulu pergi.” Katanya sambil tersenyum seolah tidak ada kesedihan di dalamnya.
            “Aku mau kakak!!” protesnya sambil cemberut.
            Malam beranjak semakin gelap. Pengasuh panti asuhan pun sudah menghubungi ayah gadis itu secara diam-diam. Entah kenapa, Lusy dengan cepatnya menganggap anak kecil itu sebagai sosok kakak baginya. Dia tidak ingin berpisah dengan kakak barunya. Lusy kecil selalu merengek setiap kakaknya tidak tidur bersamanya atau tidak memainkan harmonika sebelum ia tertidur. Kebiasaan itu berlanjut sampai ia berusia 10 tahun dan setelah itu ia diharuskan berpisah dengan kakaknya karena ‘pengadopsian’.
            Lusy menangis, ayah ibunya pun sampai tidak tega melihat Lusy yang merasa sangat kehilangan. Namun anak kecil itu hanya berbalik dan berkata dengan suara serta ekspresi wajah yang datar, “Dasar anak manja! Anak perempuan yang selalu saja menangis. Kau selalu ingin menjadi pusat perhatian dan tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain. Anak egois. Dasar menyebalkan!!” Air matanya berhenti berlinang, lututnya lemas dan tidak lagi mengejar anak kecil yang semakin jauh meninggalkannya.
                                                                      
            “Jadi kau dan Rama?” selidik Manda memperjelas. Lusy mengangguk. “Atleisya Lusyana, nama panti asuhan itu sama dengan namaku karena itu adalah milik ayahku. Dan sosok kakak saat itu adalah Rama. Rama Josephetra yang sekarang menjadi teman sekelas kita,” aku Lusy dengan suara lebih pelan dan dalam.
            “Tapi kenapa dia seolah tidak mengenalmu padahal kau dan dia dulu sangat dekat sampai selalu tidur bersama?” Kalimat ‘selalu tidur bersama’ yang Manda tekankan membuat pipi Lusy memanas. Setiap mengingat hal itu ia pun selalu malu sendiri dan merasa kalau dulu dirinya sangat bodoh.
            “Kurasa karena dia merasa bersalah padaku dan merasa tidak pantas berada di dekatku. Padahal aku rindu dengan perhatiannya sebagai sosok kakak yang sangat kuinginkan.” Lusy kembali mengenang masa kecilnya saat beberapa bulan sejak kepergian Rama, ia panas tinggi dan akhirnya lumpuh. Di sekolah, ia mendapat olokan dari teman-temannya. Ia selalu menangis di halaman belakang. Sampai pada akhirnya ia tahu bahwa selama ini Rama masih melindunginya meski dari jauh. Ia tahu bahwa Rama menghukum balik semua temannya yang sudah mengejeknya. Tapi sayang Rama harus pindah di akhir tahun pelajaran kelas lima.
                                                                       ***
Dulu setelah jam pelajaran usai, mereka selalu melihat matahari tenggelam. Melewati jalanan yang sama. Saat salah satu dari mereka mendengarkan lagu untuk pertama kalinya dan masih terus terkenang setiap dia melwati jalan itu dalam perjalanan pulang. Mendengarkan lagu yang pernah diajarkan orang lain padanya.
           
            Lusy mengernyitkan dahi melihat ayunan yang bergerak sendiri tanpa ada satu orang pun di sekitarnya. Ia melempar pandangannya sekaligus memutar badannya dan tepat saat ia berbalik badan, wajahnya nyaris membentur dada bidang milik seseorang yang amat dia kenal.
“Hey, lama tidak bertemu,” sapanya dengan sekilas senyuman. Lusy diam mematung. Otaknya seperti lupa untuk memerintah agar kelopak matanya berkedip dan kakinya bergerak satu langkah ke  belakang.
            “Atleisya Lusyana,” panggil orang itu tepat di telinga Lusy yang membuat bulu romanya berdiri dan ia baru tersadarkan. “Rama Josephetra,” sahutnya ragu.
            “Lama tidak bertemu,” ulangnya lagi.
            “Siapa yang lama tidak bertemu hah? Setiap hari kita selalu bertemu di sekolah. Ada apa denganmu?” protes Lusy tanpa jeda. Wajahnya memanas, bahkan bulir air mata itu sudah mulai mencoba keluar. Rama hanya tersenyum setelah sempat menghela nafas panjang. Ia meraih tangan Lusy dan menariknya ke jalanan menuju jembatan gantung di sekitar panti asuhan.
            Rama memperlambat langkah kakinya agar ia bisa berjalan satu langkah di belakang Lusy. Memasangkan headphone miliknya pada Lusy. Lagu masa kecil mereka berputar, membuat Lusy melonjak kaget. Lagu yang selalu menemani detik-detik terakhir sebelum ia terlelap. Lagu yang selalu dibawakan Rama dengan harmonikanya. “Lagu ini? Kau masih menyimpannya?”
            “Tentu. Bagiku hanya lagu ini yang bisa mengingatkanku bahwa jangan sampai aku mendekatimu, karena aku tak ingin kau terluka.” Lusy berbalik badan. Posisi dan jarak mereka teramat dekat, bahkan nafas Rama bisa Lusy rasakan sedang menyentuh wajahnya. Rama mundur selangkah. “Dari dulu yang aku inginkan hanya memiliki sebuah keluarga dan aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Adik kecilku. Gadis manisku. Tapi saat itu aku harus memilih keinginanku sejak dulu ataukah kebahagian baruku.” Lusy meraih tangan Rama yang tergantung lemah, “Lalu?”
            “Aku melakukan segalanya untuk menjagamu dari jauh, terlebih saat kau lumpuh yang kurasa itu karena ucapan kasarku. Sejak saat itu aku takut untuk berada di dekatmu. Aku tidak ingin kau terluka. Sejak kau berkata ‘aku ingin menjadi adikmu’ aku terobsesi untuk selalu melindungimu, tapi apa yang terjadi, justru akulah yang membuatmu selalu terluka.”
            “Tapi aku tidak merasa terluka sama sekali. Yang membuatku terluka hanyalah saat kau pergi dari panti asuhan dan tidak datang di acara ulang tahunku.”
            “Aku datang. Ulang tahun yang kau adakan di panti asuhan. Mereka semua memaksaku untuk masuk tapi aku menolak. Aku takut hari ulang tahunmu akan berantakan karena kedatanganku. Tapi ternyata karena keegoisanku itulah kau semakin terluka. Bodoh kan aku?” Lusy terkekeh mendengar pengakuan Rama. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rama. Ia sama sekali tidak menyangka kalau itulah yang selama ini Rama pikirkan. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia hanya ingin untuk bisa bersama Rama seperti saat mereka masih kecil dan tidak ada sedikitpun kemarahan ataupun penyesalan.
            Lusy melepaskan pelukan tak terbalasnya saat ponselnya bergetar. “Tunggu sebentar,” serunya kemudian. Menempelkan layar ponselnya ke telinga sebelah kanan, tiba-tiba wajahnya sumringah lebih dari sebelumnya. Mengucapkan kata ‘selamat’ sebelum mengakhiri pembicaraan.
            “Ada apa?” tanya Rama penasaran. Lusy berbalik, bergelayut manja di lengan kanan Rama seperti saat ia pulang sekolah dulu. Rama masih ingat jelas bagaimana manjanya Lusy yang menggemaskan.
            “Imelda lulus di ujian pertama, jadi ia tidak perlu ikut kelas tambahan.”
            “Dan kau bahagia?”
            “Tentu. Apa kau lupa siapa yang mengajarinya? Jadi aku pasti ikut senang kalau dia lulus. Kalau sampai dia tidak lulus, aku juga yang malu,” jawabnya bercanda. Rama menarik lengannya lalu berputar. Memeluk Lusy dari belakang. Kedua tangan Lusy yang kecil mencengkram tali pembatas jembatan yang basah akibat hujan yang sempat menyapa bumi.
“Seandainya aku bisa memahamimu dari dulu?” gumam Rama kemudian.
            “Kalau itu yang terjadi, kita tidak akan punya kisah seperti ini. Dimana kita sama-sama saling salah paham dengan pikiran kita sendiri dan takut untuk mencari tahu kebenarannya.” Rama terkekeh mendengar seruan adik kecilnya yang terdengar begitu bijak. Ia mempererat pelukannya.
“Terima kasih kau masih bersedia menerima kakak tidak berperasaan sepertiku sekali lagi.” Lusy tersenyum dan sekilas ia bisa melihat bahwa Rama juga ikut tersenyum dari pantulan air di danau. “Kau berhasil Lusy. Kau berhasil membuatku tidak bisa lepas darimu. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu,” bisik Rama.
“Apa kau membawa harmonikamu? Aku ingin mendengarmu memainkan lagu itu untukku lagi dan tentunya dengan harmonikamu.” Rama tersenyum lalu berdeham. Melepas pelukannya dan mulai memainkan harmonika miliknya dengan penuh penghayatan seperti dulu. Seperti saat mereka masih kecil.
 SELESAI ..

Tidak ada komentar: