Seandainya semua orang
dapat memahami orang lain hanya dengan saling pandang, untuk apa ada perasaan
dan perkataan?
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa masa muda hanyalah
sebuah kebohongan belaka. Menciptakan perkumpulan hanya untuk menikmati masa
muda, tapi mereka yang hanya melakukan itu akan mengundang banyak masalah.
Kegagalan, kebohongan, rahasia dan bahkan hal-hal baik yang menyelubungi. Dan
semua itu mengarah pada kesimpulan bahwa kita harus memiliki teman. Maka orang yang tidak memiliki teman, akan
menjalani masa muda yang lebih sulit, kan?
“Lusyyyy!!”
teriak Manda dari ujung tangga di lantai bawah, sementara Lusy berdiri mematung
di ujung tangga lainnya. Mulutnya bergerak-gerak, memutar benda kecil di
dalamnya. Lalu dalam seketika, raut wajahnya berubah. Ia memincingkan matanya
saat melihat seseorang di belakang Manda yang tengah berjalan santai. Laki-laki
itu menjejalkan kedua tangannya di saku celana dan headphone yang menutupi kedua telinganya. Lusy, murid kelas 3-B
yang terkenal dengan keisengan sekaligus sikap pedulinya yang besar, kini
merasa terganggu, bukan hanya terganggu tapi lebih dengan merasa tidak bisa
menjadi dirinya yang seperti biasa setelah kehadiran Rama, laki-laki yang
berjalan semakin dekat dengannya.
“Ke sini
sebentar!” Tarik Lusy seketika. Manda yang postur tubuhnya sedikit lebih mungil
dari pada Lusy, hampir saja terjerembab sebelum kembali menyeimbangkan
tubuhnya.
“Ada apa?”
selidik Manda penasaran. Lusy mengambil botol minum dari ranselnya dan saat
Rama lewat persis di depannya, menunjukkan punggungnya yang bidang terbalut
seragam warna putih dengan hiasan kotak-kotak cokelat di bagian lengan.
“Rama!”
panggil Lusy dan sejurus kemudian, wajah Rama basah. Manda menghilang.
Bersembunyi di balik dinding. Ia merasa seolah akan ada bendera perang dingin
yang dikibarkan Rama. Rama mengusap air di wajahnya. Menatap Lusy dengan sorot
mata biasa. Tidak ada kemarahan yang tersirat hanya seperti sebuah kemakluman.
Lalu berbalik dan masuk ke dalam kelas.
“Wah, gila
kau Lus. Maksudmu itu apa?” Lusy hanya mengangkat bahu. Memperhatikan Rama dari
celah pintu yang terbuka. Botol minum yang dari tadi dibawanya, melayang dan
mendarat dengan sempurna di kepala Pak Marko, musuh bebuyutan Lusy.
“Kau lagi?!
Dasar bocah badung! Ikut saya ke kantor sekarang juga!” perintah Pak Marko
dengan suara khasnya yang kental dengan logat jawa. Nama boleh bule tapi jiwa
tetap jawa. Lusy masuk ke kelas dengan wajah ditekuk, diikuti Manda yang masih
sedikit merinding. Menoleh pada Rama sekilas tapi laki-laki itu hanya diam
berpangku tangan sambil membuang pandangan keluar jendela. Helaan nafas panjang
ia keluarkan dengan kasar, melempar tas ranselnya lalu berderap keluar kelas. Pandangannya
yang semula tak bertuan, kini memiliki pemilik. Rama memperhatikan seseorang
yang selalu ia anggap sebagai anak kecil tengah berdiri di bawah. Rasa bersalah
karena kesalahan itu masih terus bergelayut memenuhi setiap sisi di otaknya,
dan semakin lama semakin membuat ia merasa tidak pantas berada di sisi orang
itu.
***
Ketika banyak dari mereka mengatakan bahwa hal buruk dan
baik itu adalah hasil dari perbuatanmu, maka akan ada seseorang yang mengatakan
bahwa semua itu bergantung pada nasib. Karna
pasti ada orang lain yang dapat memahamimu seutuhnya.
Imelda Benedrika anak 3-D
tiba-tiba muncul, duduk persis di depan Rama, memohon untuk dijelaskan beberapa
mata pelajaran agar ia lulus dan tidak mengulang lagi di kelas tambahan.
Waktunya sudah cukup tersita untuk modeling
dan les ballet yang mungkin kedua hal
itulah yang menjadi penyebabnya.
“Aku tidak
mau,” tolak Rama mentah-mentah. Imelda diam mematung, seperti baru mendengar
bahwa esok adalah hari kiamat. Ia tidak menyerah. Ia mengeluarkan kemampuan
merayunya dengan matanya yang dibuat seolah berkaca-kaca, tapi tetap saja Rama
tidak bereaksi– masih tetap melanjutkan membaca buku sambil mendengarkan musik
melalui headphonenya.
“Apa kau
tidak mendengarkanku?” ucapnya ketus setengah beranjak pergi, kali ini Rama baru
bereaksi. Lusy yang duduk dua bangku lebih belakang hanya memperhatikan sambil
bertopang dagu dan melumat permen karet rasa blueberry untuk ke tiga kalinya.
“Hey, Ram.
Apa salahnya untuk membantunya? Mengajarinya tidak akan membuat ilmumu
berkurang, justru semakin bertambah,” celetuk Lusy santai. Masih dalam posisi
menunduk. “Ini masalahnya. Bukan masalahku. Dia menambah satu hal lain, tapi
mengorbankan banyak hal lainnya. Jadi lebih baik tidak perlu menambah hal lain
kalau tidak bisa menyesuaikan dengan hal sebelumnya.”
“Kau
terlalu berlebihan Ram,” sindir Lusy
kesal.
“Terserah.”
Rama mengangkat kepalanya, melihat sekilas perempuan yang masih berdiri di hadapannya
lalu menoleh pada Lusy. “Kalau kau yang merasa terganggu dengan ucapanku, lebih
baik kau saja yang membantunya agar berhasil.”
Atap
sekolah itu masih sepi seperti biasanya. Kaki kiri ia selonjorkan, sementara
kaki kanannya ia tekuk di depan dada. Angin sepoi-sepoi menyentuh rambut yang
menutupi sebagian dahinya. Menerbangkan kesana-kemari. Sambil memejamkan
matanya, ia mulai memainkan harmonika miliknya.
Selagi Lusy
mengajari Imelda pelajaran matematika, ia terenyuk. Ia merasa mendengar
permainan yang sudah lama tidak pernah ia dengar. Permainan yang sangat ia
rindukan. Permainan yang tanpa sadar mengorek kenangan masa kecilnya. Disaat ia
berharap kalau orang itu memang sedang memainkannya, Imelda dan Manda
menggeleng saat ditanya apakah mereka mendengar ada 22alunan nada meskipun
hanya samar-samar. Pada akhirnya Lusy hanya mampu menghela nafas dan kembali pada Imelda, meskipun di pikirannya
masih terlalu yakin bahwa telinganya tidak salah.
Oakan suara burung memecah langit sore.
Coretan senja baru saja terbentuk. Lusy menendang kaleng botol yang semula
menghalangi jalannya. Sementara Manda sibuk dengan makanan di kantong plastik. “Aku
curiga denganmu Lus,” ucap Manda tiba-tiba. Lusy menghentikan acara menggiring
kalengnya. “Aku? Curiga kenapa?” sahutnya santai.
“curiga
antara kau dan Rama. Aku lihat, kau seolah tidak hanya mengenal Rama sebagai
murid baru tapi lebih dari itu. Ada apa?” sambungnya. Lusy tersenyum. Di tempat
lain, Rama menghabiskan waktu sorenya setelah pulang sekolah di sebuah rumah
kecil bertuliskan ‘Panti Asuhan Atleisya’. Rumah kecil dengan halaman yang
sangat luas. Duduk di salah satu sisi ayunan, mengenang kesalahan yang
menurutnya adalah sebuah kesalahan besar.
“Hey Lus,
kenapa?” Lusy kembali dikagetkan dengan suara Manda yang cukup nyaring. Lusy
menyerah.
Gadis kecil
berkuncir dua itu masih terus merengek di tangan ibunya. Matanya yang berlinang
air mata sedikit menggetarkan hati sang ibu namun itu masih belum cukup.
Memukul perut ibunya yang buncit adalah sebuah kesalahan. Sejak saat itu, tidak
pernah ada malam yang terlewat dalam dongengan dari mulut ibunya. Gadis itu
marah dan akhirnya pergi.
Gadis kecil
itu menangis meraung-raung dalam dekapan wanita tua berusia 40 tahunan. Dengan
lembut ia membelai dan mencoba menenangkan gadis itu. Sampai tiba-tiba tangis
itu berhenti ketika ada sebatang lollipop yang menggoda muncul di depan
matanya. Mata mungilnya mengikuti tangan yang tertutup lengan baju warna biru
tua, mengarahkannya pada sosok anak kecil yang lebih tua setahun darinya. Anak
kecil itu tersenyum dan berkata, “Ambillah, tapi jangan menangis lagi ya.” Wanita
tua yang sedari tadi memeluk gadis itu pun ikut tersenyum lalu menyuruh mereka
bermain berdua di taman belakang dan ayunanlah yang mereka pilih.
“Anak
baru?” tanya anak kecil berbaju biru sambil mendorong ayunan pelan. Gadis kecil
itu menggeleng. Dia sudah berhenti menangis. “Lalu?”
“Aku kesal
sama mama. Aku dimarahi mama. Jadi aku kesini.”
“Kenapa?”
Gadis itu mulai bercerita dengan suaranya yang lucu. Sesekali lawan bicaranya tertawa,
bukan menertawakan ceritanya tapi caranya dia bercerita. Wajahnya yang bulat,
matanya yang kecil bersih, serta hidungnya yang merah karena menangis seharian.
“Ohh, kalau
menurutku, itu kau yang salah. Seharusnya kau bahagia karena kau akan memiliki
adik. Aku saja ingin mempunyai adik, tapi sebelum itu terjadi kedua orang tuaku
sudah lebih dulu pergi.” Katanya sambil tersenyum seolah tidak ada kesedihan di
dalamnya.
“Aku mau
kakak!!” protesnya sambil cemberut.
Malam
beranjak semakin gelap. Pengasuh panti asuhan pun sudah menghubungi ayah gadis
itu secara diam-diam. Entah kenapa, Lusy dengan cepatnya menganggap anak kecil
itu sebagai sosok kakak baginya. Dia tidak ingin berpisah dengan kakak barunya.
Lusy kecil selalu merengek setiap kakaknya tidak tidur bersamanya atau tidak
memainkan harmonika sebelum ia tertidur. Kebiasaan itu berlanjut sampai ia
berusia 10 tahun dan setelah itu ia diharuskan berpisah dengan kakaknya karena
‘pengadopsian’.
Lusy menangis,
ayah ibunya pun sampai tidak tega melihat Lusy yang merasa sangat kehilangan.
Namun anak kecil itu hanya berbalik dan berkata dengan suara serta ekspresi
wajah yang datar, “Dasar anak manja! Anak perempuan yang selalu saja menangis.
Kau selalu ingin menjadi pusat perhatian dan tidak pernah mau mengerti perasaan
orang lain. Anak egois. Dasar menyebalkan!!” Air matanya berhenti berlinang,
lututnya lemas dan tidak lagi mengejar anak kecil yang semakin jauh
meninggalkannya.
“Jadi kau
dan Rama?” selidik Manda memperjelas. Lusy mengangguk. “Atleisya Lusyana, nama
panti asuhan itu sama dengan namaku karena itu adalah milik ayahku. Dan sosok
kakak saat itu adalah Rama. Rama Josephetra yang sekarang menjadi teman sekelas
kita,” aku Lusy dengan suara lebih pelan dan dalam.
“Tapi
kenapa dia seolah tidak mengenalmu padahal kau dan dia dulu sangat dekat sampai
selalu tidur bersama?” Kalimat ‘selalu tidur bersama’ yang Manda tekankan membuat
pipi Lusy memanas. Setiap mengingat hal itu ia pun selalu malu sendiri dan
merasa kalau dulu dirinya sangat bodoh.
“Kurasa
karena dia merasa bersalah padaku dan merasa tidak pantas berada di dekatku.
Padahal aku rindu dengan perhatiannya sebagai sosok kakak yang sangat
kuinginkan.” Lusy kembali mengenang masa kecilnya saat beberapa bulan sejak
kepergian Rama, ia panas tinggi dan akhirnya lumpuh. Di sekolah, ia mendapat
olokan dari teman-temannya. Ia selalu menangis di halaman belakang. Sampai pada
akhirnya ia tahu bahwa selama ini Rama masih melindunginya meski dari jauh. Ia
tahu bahwa Rama menghukum balik semua temannya yang sudah mengejeknya. Tapi
sayang Rama harus pindah di akhir tahun pelajaran kelas lima.
***
Dulu setelah jam pelajaran usai, mereka selalu melihat
matahari tenggelam. Melewati jalanan yang sama. Saat salah satu dari mereka
mendengarkan lagu untuk pertama kalinya dan masih terus terkenang setiap dia
melwati jalan itu dalam perjalanan pulang. Mendengarkan lagu yang pernah
diajarkan orang lain padanya.
Lusy mengernyitkan dahi melihat
ayunan yang bergerak sendiri tanpa ada satu orang pun di sekitarnya. Ia
melempar pandangannya sekaligus memutar badannya dan tepat saat ia berbalik
badan, wajahnya nyaris membentur dada bidang milik seseorang yang amat dia kenal.
“Hey,
lama tidak bertemu,” sapanya dengan sekilas senyuman. Lusy diam mematung.
Otaknya seperti lupa untuk memerintah agar kelopak matanya berkedip dan kakinya
bergerak satu langkah ke belakang.
“Atleisya Lusyana,” panggil orang
itu tepat di telinga Lusy yang membuat bulu romanya berdiri dan ia baru
tersadarkan. “Rama Josephetra,” sahutnya ragu.
“Lama tidak bertemu,” ulangnya lagi.
“Siapa yang lama tidak bertemu hah?
Setiap hari kita selalu bertemu di sekolah. Ada apa denganmu?” protes Lusy
tanpa jeda. Wajahnya memanas, bahkan bulir air mata itu sudah mulai mencoba
keluar. Rama hanya tersenyum setelah sempat menghela nafas panjang. Ia meraih
tangan Lusy dan menariknya ke jalanan menuju jembatan gantung di sekitar panti
asuhan.
Rama memperlambat langkah kakinya
agar ia bisa berjalan satu langkah di belakang Lusy. Memasangkan headphone miliknya pada Lusy. Lagu masa
kecil mereka berputar, membuat Lusy melonjak kaget. Lagu yang selalu menemani
detik-detik terakhir sebelum ia terlelap. Lagu yang selalu dibawakan Rama
dengan harmonikanya. “Lagu ini? Kau masih menyimpannya?”
“Tentu. Bagiku hanya lagu ini yang
bisa mengingatkanku bahwa jangan sampai aku mendekatimu, karena aku tak ingin
kau terluka.” Lusy berbalik badan. Posisi dan jarak mereka teramat dekat,
bahkan nafas Rama bisa Lusy rasakan sedang menyentuh wajahnya. Rama mundur
selangkah. “Dari dulu yang aku inginkan hanya memiliki sebuah keluarga dan aku
sangat senang bisa bertemu denganmu. Adik kecilku. Gadis manisku. Tapi saat itu
aku harus memilih keinginanku sejak dulu ataukah kebahagian baruku.” Lusy
meraih tangan Rama yang tergantung lemah, “Lalu?”
“Aku melakukan segalanya untuk
menjagamu dari jauh, terlebih saat kau lumpuh yang kurasa itu karena ucapan
kasarku. Sejak saat itu aku takut untuk berada di dekatmu. Aku tidak ingin kau
terluka. Sejak kau berkata ‘aku ingin menjadi adikmu’ aku terobsesi untuk
selalu melindungimu, tapi apa yang terjadi, justru akulah yang membuatmu selalu
terluka.”
“Tapi aku tidak merasa terluka sama
sekali. Yang membuatku terluka hanyalah saat kau pergi dari panti asuhan dan
tidak datang di acara ulang tahunku.”
“Aku datang. Ulang tahun yang kau
adakan di panti asuhan. Mereka semua memaksaku untuk masuk tapi aku menolak.
Aku takut hari ulang tahunmu akan berantakan karena kedatanganku. Tapi ternyata
karena keegoisanku itulah kau semakin terluka. Bodoh kan aku?” Lusy terkekeh
mendengar pengakuan Rama. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rama. Ia
sama sekali tidak menyangka kalau itulah yang selama ini Rama pikirkan. Padahal
jauh di dalam lubuk hatinya, ia hanya ingin untuk bisa bersama Rama seperti
saat mereka masih kecil dan tidak ada sedikitpun kemarahan ataupun penyesalan.
Lusy melepaskan pelukan tak terbalasnya
saat ponselnya bergetar. “Tunggu sebentar,” serunya kemudian. Menempelkan layar
ponselnya ke telinga sebelah kanan, tiba-tiba wajahnya sumringah lebih dari
sebelumnya. Mengucapkan kata ‘selamat’ sebelum mengakhiri pembicaraan.
“Ada apa?” tanya Rama penasaran.
Lusy berbalik, bergelayut manja di lengan kanan Rama seperti saat ia pulang
sekolah dulu. Rama masih ingat jelas bagaimana manjanya Lusy yang menggemaskan.
“Imelda lulus di ujian pertama, jadi
ia tidak perlu ikut kelas tambahan.”
“Dan kau bahagia?”
“Tentu. Apa kau lupa siapa yang
mengajarinya? Jadi aku pasti ikut senang kalau dia lulus. Kalau sampai dia
tidak lulus, aku juga yang malu,” jawabnya bercanda. Rama menarik lengannya
lalu berputar. Memeluk Lusy dari belakang. Kedua tangan Lusy yang kecil
mencengkram tali pembatas jembatan yang basah akibat hujan yang sempat menyapa
bumi.
“Seandainya
aku bisa memahamimu dari dulu?” gumam Rama kemudian.
“Kalau itu yang terjadi, kita tidak
akan punya kisah seperti ini. Dimana kita sama-sama saling salah paham dengan
pikiran kita sendiri dan takut untuk mencari tahu kebenarannya.” Rama terkekeh
mendengar seruan adik kecilnya yang terdengar begitu bijak. Ia mempererat
pelukannya.
“Terima
kasih kau masih bersedia menerima kakak tidak berperasaan sepertiku sekali
lagi.” Lusy tersenyum dan sekilas ia bisa melihat bahwa Rama juga ikut
tersenyum dari pantulan air di danau. “Kau berhasil Lusy. Kau berhasil
membuatku tidak bisa lepas darimu. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu,” bisik
Rama.
“Apa
kau membawa harmonikamu? Aku ingin mendengarmu memainkan lagu itu untukku lagi dan
tentunya dengan harmonikamu.” Rama tersenyum lalu berdeham. Melepas pelukannya
dan mulai memainkan harmonika miliknya dengan penuh penghayatan seperti dulu.
Seperti saat mereka masih kecil.
SELESAI ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar