Matahari pagi membangunkan Yuki dari mimpi panjangannya.
Hamparan semangat pagi memanggilnya saat tirai jendela kayu itu dibuka.
Berbekal pena dan sebuah buku catatan di tangannya, Yuki melangkahkan kakinya
mencari sebuah inspirasi dari kenyataan-kenyataan hidup yang indah. Tapi ada yang berbeda, Yuki tampak tak
seperti biasanya, wajah tegar dan semangatnya berubah menjadi keputusasaan.
Sesekali ia berhenti dan duduk di sudut kota, menutup matanya, seakan tak ingin
melanjutkannya lagi. Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundaknya
“Semangatlah.” Ucap
laki-laki berkaki asli satu itu. Yuki mendongakkan kepalanya, diamati wajah
laki-laki itu.
“Bapak siapa?” Terlihat sedikit air mata di sudut mata Yuki.
Tapi laki-laki itu hanya tersenyum dan pergi, seperti ada semangat yang menyatu
dalam dirinya. Yuki mengepalkan tangannya, berdiri lalu kembali melanjutkan pencariannya.
***
Di tengah kerumunan anak, Yuki berhenti, memperhatikan
tingkah anak-anak itu. Lalu ia membuka buku catatan miliknya, Bagaikan bayi yang baru terlahir, suci dan
tak berdosa. Berlari, menari, dan tertawa. Lepas bagai burung yang terbang
melihat indahnya dunia dengan dua sayap yang mengepak bebas. Senyum itu bukan
suatu kepalsuan. Mata yang indah menatap kehidupan yang panjang. Harapan dan
asa berjajar rapi menyambut semangat mereka. Yuki tersenyum dan sesekali
memotret anak-anak itu dengan kamera ponselnya.
“Aku sudah memiliki kenangan tentang mereka.” Gumamnya
sambil tertawa. Angin kembali membawanya mencari inspirasi-inspirasi dalam
hidup hingga ia berjumpa dengan seorang ibu pemulung dan seorang anak perempuan
yang mengekor, seakan malu terhadap
dunia. Yuki berjalan mendekat, mengajak ibu dan anak yang sedang mengobrak-abrik
tempat sampah untuk makan bersama di warung kecil yang tidak jauh tempat
mereka.
“Pesanlah yang kalian suka.” Suara Yuki terdengar begitu
lembut. Sang anak mengambil satu potong paha ayam yang dari tadi menggodanya.
“Boleh aku ambil itu satu?” pintanya, tangan kecilnya
menunjuk piring di rak nomer dua. Yuki menoleh mengikuti arah tangan kecil itu
menjulur, senyuman mengembang di wajahnya. “Ambillah.”
Wanita
sebagai seorang ayah demi anak tercinta. Satu
kalimat yang sudah ia tanam dalam benaknya. Mematrinya dengan kuat agar ia bisa
memindahkannya nanti.
***
Inilah kehidupan Yuki setelah ia mengalami suatu hal yang
menyakitkan. Hidup sebatang kara. Kecelakaan itu sempat membuatnya tenggelam
dalam laut keputusasaan, tapi pada akhirnya ia berhasil keluar dan menjadi
gadis tegar dengan sebuah mimpi. Hidupnya yang sendiri membuatnya harus mampu
bertahan dalam kejamnya kehidupan, ia hanya ingin membuat kedua orang tuanya
bangga meskipun sudah tak bersamanya. Kali ini Yuki bertemu gadis kecil yang
menangis, wajahnya sangat lusuh. “Kamu kenapa?” tanya Yuki dengan suara yang
dibuat setulus mungkin. Tiba-tiba gadis kecil itu memeluk tubuh Yuki erat.
“Hey, ada apa?” tanya Yuki lagi. Kini ia menjadi penasaran
pada anak kecil yang tengah menangis terisak dalam pelukannya. Yuki duduk,
menyilakan kakinya. Gadis kecil itu kini sedang ikut duduk seperti Yuki. Rumput
hijau di tepi sungai ini seperti sofa empuk dalam rumah. Memandang jauh
matahari yang bersiap naik, burung-burung berterbangan di angkasa.
“Aku ingin bertemu ayah sama bunda. Kenapa hanya mereka yang
pergi? Kenapa aku yang ditinggalkan? Aku ingin ikut dengan mereka.” Airmata
yang semula mulai mengering, kini kembali basah. Yuki mengelus kepala gadis
kecil itu penuh sayang.
“Apa mereka sekarang pergi ke istana Tuhan?” Gadis itu
mengangguk mantap. Yuki mengerti sekarang. Kenangan masa lalunya sedikit
terbuka. Dimana saat itu dia juga menangis, sama halnya dengan anak yang sedang
bersamanya.
“Kamu tahu kenapa Tuhan melarangmu untuk ikut? Itu karna
Tuhan sangat menyayangimu. Lebih menyayangi. Dia ingin kamu hidup lebih lama.
Merangkai semua mimpi, cita-cita, tumbuh menjadi seorang anak yang bisa
dibanggakan.” Gadis kecil bermata indah itu hanya bisa terkesima, menganga
mendengar perkataan Yuki.
Yuki
melanjutkan kembali perjalanannya setelah gadis kecil tadi pergi beberapa saat
yang lalu. Kakinya melangkah entah kemana, ia sendiripun tidak pernah tahu. Ia
hanya berjalan dan berhenti ditempat yang mencuri rasa penasaran yang selalu
menggebu dalam dirinya. Sampai pada akhirnya, langit berubah senja. Angin yang
semula hangat kini berubah dingin. Seperti paku yang menusuk-nusuk setiap
bagian tubuh yang terbuka.
Di ruangan kecil, Yuki melepaskan semua lelahnya. Komputer
lama peninggalan ayahnya ia nyalakan dan kesepuluh jemarinya mulai menari di
atas papan penuh tombol. Ia menulis ulang semua catatan yang sudah memenuhi
bukunya. Selembar kertas kosong tidak lagi ditemukan didalam buku yang elelu ia
bawa.
Secangkir teh hangat dan sebuah kacamata minus setia menemaninya
di depan layar komputer. Sore sudah lama menghilang. Terganti dengan pekatnya
langit malam. Ia menyusun semua tulisannya menjadi sebuah cerita pendek yang
akan menjadi pendatang baru di foldernya yang sudah berdebu. Meskipun begitu,
ia ingin menyelesaikan semuanya malam ini juga.
***
Ia duduk melamun sendirian. Membawa hasil ketikannya
semalam. Entah apa yang ia lamunkan tapi dia berharap orang yang sedang ia
tunggu akan membaca tulisannya. Memberikan semangat untuk ia terus melanjutkan
mimpinya.
“Sudah lama? Maaf ya membuatmu menunggu. Ada apa?” Yuki
tersenyum. Menyerahkan hasil ketikannya semalam. Ken menerima satu jilid kertas
yang Yuki sodorkan padanya. Ia membuka satu persatu halaman. Membaca perlahan,
meski tidak semua.
“Mau kamu terbitkan? Kamu yakin?” Yuki mengangguk
mantap.Tapi gadis itu melihat ada sesuatu yang disembunyikan Ken padanya.
“Ada apa?”
“Aa, bu-bukan apa-apa.” Balas Ken bingung.
“Ah, iya. Aku tahu kamu berbakat dalam menulis, tapi untuk
jadi penulis hebat itu sendiri tidaklah mudah. Kamu harus mati-matian berjuang.
Mencari dan terus mencari penerbit yang bersedia membukukan karyamu. Aku hanya
tidak ingin kamu kecewa.” Yuki tertawa garing mendengar ucapan Ken barusan. Ia
merasa bahwa Ken yang sekarang sedang berbicara dengannya itu bukanlah Ken yang
biasanya. Tapi sekarang aku sudah kecewa dan
itu karna sikapmu.
Keesokkannya, di tempat yang berbeda, Yuki duduk sambil
menangis. Airmatanya pecah sambil di iringi sebuah permintaan agar Tuhan
memberikannya seorang penyemangat. Kaki ditariknya mendekat lalu ia peluk
keduanya erat. Namun tiba-tiba ia bisa merasakan ada tangan yang menyentuh
kepalanya. Membelainya dengan perlahan.
“Jangan menangis nak! Kamu tidak sendirian.”
“Bapak?!” Yuki kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bisa
bertemu dengan laki-laki yang pernah membuatnya menemukan kembali semangatnya.
“Ada urusan apa? Apa bapak juga punya masalah atau hanya
ingin bersantai di sini?”
Laki-laki tua itu duduk tidak terlalu jauh dari tempat Yuki.
Meletakan tongkatnya di antara dirinya dan gadis di sampingnya.
“Dulu sebenarnya
bapak ini juga seorang penulis, wajahmu mirip sama anak bapak yang sudah
meninggal karna kecelakaan. Kecelakaan yang sama juga membuat bapak harus
kehilangan satu kaki bapak.”
“Mereka
semua mengatakan kalau kota itu adalah tempat yang kejam.” Celetuk Yuki.
“Memang.
Tapi kamu memiliki mimpi dan semangat yang luar biasa. Jadi lebih baik jangan
pernah menyerah. Kejar semua cita-citamu. Ini hidupmu dan hanya kamu yang berhak
menentukan semuanya. Bila kamu berani mengambil sebuah keputusan yang besar,
suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hadiah yang sama besarnya atau mungkin
lebih besar.” Kata bapak itu bijak. Perlahan Yuki kembali mengerti, kembali
berani melawan hidup. Senyum manis itu kembali menghiasi wajah Yuki. Tuhan, terima kasih. Kau telah kirimkan aku
satu malaikat yang selalu mendorongku untuk bangkit. Terima kasih Tuhan, terima
kasih bapak, ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
***
Inilah kota
barunya. Tidak ada satupun orang yang ia kenal disini. Mencari kesana kemari
tapi gedung yang menjadi tujuannya belum juga ia temukan. Sampai pada sebuah
kertas yang melayang, jatuh tepat di sebelah sepatunya saat ia tengah
beristirahat di halte bus. Sebuah brosur. Ia membaca setiap kalimatnya dengan
cermat dan tiba-tiba ia merasakan keajaiban baru saja menolongnya.
Gedung itu
terlalu besar, lebih besar dari yang ia bayangkan sebelumnya. Amplop coklat
yang berisi hasil tulisannya ia serahkan. Lalu pulang. Dalam cemas ia berdoa,
mengharapkan semua yang baik terjadi pada dirinya. Bukan satu dua hari ia
menunggu, melainkan hampir sebulan. Simpanan uangnya pun juga mulai menipis.
Dering ponselnya membuyarkan pikirannya,
“Hallo,”
kata pertama yang meluncur bebas dari mulutnya yang merekah.
***
Empat tahun
kemudian, Yuki berhasil dengan mimpinya. Kini ia telah menjadi penulis
terkenal, hasil tulisannya yang dulu hanya disimpan kini berubah menjadi buku
yang banyak dicari dan dibaca masyarakat. Sampai suatu saat Yuki teringat akan
jasa laki-laki tua itu. Disaat Yuki istirahat dalam menulis, Yuki kembali ke
kota lamanya. Semua teman Yuki termasuk Ken datang menyambut Yuki. Sebenarnya
ia juga rindu untuk bicara bersama Ken di tepi sungai seperti dulu. Tapi untuk
kali ini, ia ingin mencari orang yang dianggapnya paling berjasa dalam
hidupnya.
Berhari-hari
ia mencari. Disemua tempat yang pernah dikunjunginya. Tempat yang pernah
mempertemukannya dengan bapak itu. Ia berhenti di depan papan pengumuman besar
ditengah kota. Papan pengumuman yang biasa digunakan untuk mengumumkan orang
hilang atau hal mendesak lainnya. Sontak Yuki mundur beberapa langkah ke
belakang. Air matanya kembali pecah seperti dulu. Bahkan ucapan terima kasih
pun masih bersarang dengan nyaman ditenggorokannya.
Berdiri di
depan makam yang mulai merumput tinggi, Yuki mulai memanjatkan doa pada Tuhan.
Baru sekitar enam bulan yang lalu pusara itu dibuat. “Selamat tinggal dan
terima kasih untuk semuanya.” Kata Yuki pelan.
Perjalanan
yang semula ia bayangkan akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, justru
berjalan sebaliknya. Di tempat kerjanya, ia berbeda. Tak ada satupun pekerjaan
yang sudah ia selesaikan. Semuanya berakhir ditengah-tengah. Berjalan mulus
diawal dan selalu berhenti saat berada pada klimaks. Seolah kehilangan ide dan
konsep yang sebelumnya ia susun sedemikian rupa.
Jangan menyerah! kamu punya sebuah mimpi dan
semangat yang luar biasa.
Kalimat itu seketika terlintas dalam benaknya. Memecutnya
dengan keras. Kembali mendorongnya saat ia berhenti karna bingung harus memilih
jalan yang mana.
Sebulan
kemudian dengan hati dan semangat yang sudah terbebas dari keterpurukan, Yuki
meluncurkan satu buku terbarunya yang berjudul “Because Of You”. Buku yang
menceritakan tentang pengalaman hidupnya, perjuangannya, mimpi-mimpi dan jasa-jasa
yang sudah ia terima. Diakhir bukunya Yuki menulis pesan singkat, ‘Don’t
give up, it's your life. Face reality
- a reality in
your life. And if you dare to take the
big decisions you'll
be a great gift.’
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar