Rabu, 05 Maret 2014

Because Of You


Matahari pagi membangunkan Yuki dari mimpi panjangannya. Hamparan semangat pagi memanggilnya saat tirai jendela kayu itu dibuka. Berbekal pena dan sebuah buku catatan di tangannya, Yuki melangkahkan kakinya mencari sebuah inspirasi dari kenyataan-kenyataan hidup yang indah.  Tapi ada yang berbeda, Yuki tampak tak seperti biasanya, wajah tegar dan semangatnya berubah menjadi keputusasaan. Sesekali ia berhenti dan duduk di sudut kota, menutup matanya, seakan tak ingin melanjutkannya lagi. Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundaknya
“Semangatlah.”  Ucap laki-laki berkaki asli satu itu. Yuki mendongakkan kepalanya, diamati wajah laki-laki itu.
“Bapak siapa?” Terlihat sedikit air mata di sudut mata Yuki. Tapi laki-laki itu hanya tersenyum dan pergi, seperti ada semangat yang menyatu dalam dirinya. Yuki mengepalkan tangannya, berdiri lalu kembali melanjutkan pencariannya.
                                                            ***
Di tengah kerumunan anak, Yuki berhenti, memperhatikan tingkah anak-anak itu. Lalu ia membuka buku catatan miliknya, Bagaikan bayi yang baru terlahir, suci dan tak berdosa. Berlari, menari, dan tertawa. Lepas bagai burung yang terbang melihat indahnya dunia dengan dua sayap yang mengepak bebas. Senyum itu bukan suatu kepalsuan. Mata yang indah menatap kehidupan yang panjang. Harapan dan asa berjajar rapi menyambut semangat mereka. Yuki tersenyum dan sesekali memotret anak-anak itu dengan kamera ponselnya.
“Aku sudah memiliki kenangan tentang mereka.” Gumamnya sambil tertawa. Angin kembali membawanya mencari inspirasi-inspirasi dalam hidup hingga ia berjumpa dengan seorang ibu pemulung dan seorang anak perempuan yang  mengekor, seakan malu terhadap dunia. Yuki berjalan mendekat, mengajak ibu dan anak yang sedang mengobrak-abrik tempat sampah untuk makan bersama di warung kecil yang tidak jauh tempat mereka.
“Pesanlah yang kalian suka.” Suara Yuki terdengar begitu lembut. Sang anak mengambil satu potong paha ayam yang dari tadi menggodanya.
“Boleh aku ambil itu satu?” pintanya, tangan kecilnya menunjuk piring di rak nomer dua. Yuki menoleh mengikuti arah tangan kecil itu menjulur, senyuman mengembang di wajahnya. “Ambillah.”
Wanita sebagai seorang ayah demi anak tercinta. Satu kalimat yang sudah ia tanam dalam benaknya. Mematrinya dengan kuat agar ia bisa memindahkannya nanti.
                                                            ***
Inilah kehidupan Yuki setelah ia mengalami suatu hal yang menyakitkan. Hidup sebatang kara. Kecelakaan itu sempat membuatnya tenggelam dalam laut keputusasaan, tapi pada akhirnya ia berhasil keluar dan menjadi gadis tegar dengan sebuah mimpi. Hidupnya yang sendiri membuatnya harus mampu bertahan dalam kejamnya kehidupan, ia hanya ingin membuat kedua orang tuanya bangga meskipun sudah tak bersamanya. Kali ini Yuki bertemu gadis kecil yang menangis, wajahnya sangat lusuh. “Kamu kenapa?” tanya Yuki dengan suara yang dibuat setulus mungkin. Tiba-tiba gadis kecil itu memeluk tubuh Yuki erat.
“Hey, ada apa?” tanya Yuki lagi. Kini ia menjadi penasaran pada anak kecil yang tengah menangis terisak dalam pelukannya. Yuki duduk, menyilakan kakinya. Gadis kecil itu kini sedang ikut duduk seperti Yuki. Rumput hijau di tepi sungai ini seperti sofa empuk dalam rumah. Memandang jauh matahari yang bersiap naik, burung-burung berterbangan di angkasa.
“Aku ingin bertemu ayah sama bunda. Kenapa hanya mereka yang pergi? Kenapa aku yang ditinggalkan? Aku ingin ikut dengan mereka.” Airmata yang semula mulai mengering, kini kembali basah. Yuki mengelus kepala gadis kecil itu penuh sayang.
“Apa mereka sekarang pergi ke istana Tuhan?” Gadis itu mengangguk mantap. Yuki mengerti sekarang. Kenangan masa lalunya sedikit terbuka. Dimana saat itu dia juga menangis, sama halnya dengan anak yang sedang bersamanya.
“Kamu tahu kenapa Tuhan melarangmu untuk ikut? Itu karna Tuhan sangat menyayangimu. Lebih menyayangi. Dia ingin kamu hidup lebih lama. Merangkai semua mimpi, cita-cita, tumbuh menjadi seorang anak yang bisa dibanggakan.” Gadis kecil bermata indah itu hanya bisa terkesima, menganga mendengar perkataan Yuki.
            Yuki melanjutkan kembali perjalanannya setelah gadis kecil tadi pergi beberapa saat yang lalu. Kakinya melangkah entah kemana, ia sendiripun tidak pernah tahu. Ia hanya berjalan dan berhenti ditempat yang mencuri rasa penasaran yang selalu menggebu dalam dirinya. Sampai pada akhirnya, langit berubah senja. Angin yang semula hangat kini berubah dingin. Seperti paku yang menusuk-nusuk setiap bagian tubuh yang terbuka.

Di ruangan kecil, Yuki melepaskan semua lelahnya. Komputer lama peninggalan ayahnya ia nyalakan dan kesepuluh jemarinya mulai menari di atas papan penuh tombol. Ia menulis ulang semua catatan yang sudah memenuhi bukunya. Selembar kertas kosong tidak lagi ditemukan didalam buku yang elelu ia bawa.
Secangkir teh hangat dan sebuah kacamata minus setia menemaninya di depan layar komputer. Sore sudah lama menghilang. Terganti dengan pekatnya langit malam. Ia menyusun semua tulisannya menjadi sebuah cerita pendek yang akan menjadi pendatang baru di foldernya yang sudah berdebu. Meskipun begitu, ia ingin menyelesaikan semuanya malam ini juga.
                                                            ***
Ia duduk melamun sendirian. Membawa hasil ketikannya semalam. Entah apa yang ia lamunkan tapi dia berharap orang yang sedang ia tunggu akan membaca tulisannya. Memberikan semangat untuk ia terus melanjutkan mimpinya.
“Sudah lama? Maaf ya membuatmu menunggu. Ada apa?” Yuki tersenyum. Menyerahkan hasil ketikannya semalam. Ken menerima satu jilid kertas yang Yuki sodorkan padanya. Ia membuka satu persatu halaman. Membaca perlahan, meski tidak semua.
“Mau kamu terbitkan? Kamu yakin?” Yuki mengangguk mantap.Tapi gadis itu melihat ada sesuatu yang disembunyikan Ken padanya.
“Ada apa?”
“Aa, bu-bukan apa-apa.” Balas Ken bingung.
“Ah, iya. Aku tahu kamu berbakat dalam menulis, tapi untuk jadi penulis hebat itu sendiri tidaklah mudah. Kamu harus mati-matian berjuang. Mencari dan terus mencari penerbit yang bersedia membukukan karyamu. Aku hanya tidak ingin kamu kecewa.” Yuki tertawa garing mendengar ucapan Ken barusan. Ia merasa bahwa Ken yang sekarang sedang berbicara dengannya itu bukanlah Ken yang biasanya. Tapi sekarang aku sudah kecewa dan itu karna sikapmu.

Keesokkannya, di tempat yang berbeda, Yuki duduk sambil menangis. Airmatanya pecah sambil di iringi sebuah permintaan agar Tuhan memberikannya seorang penyemangat. Kaki ditariknya mendekat lalu ia peluk keduanya erat. Namun tiba-tiba ia bisa merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya. Membelainya dengan perlahan.
“Jangan menangis nak! Kamu tidak sendirian.”
“Bapak?!” Yuki kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki yang pernah membuatnya menemukan kembali semangatnya.
“Ada urusan apa? Apa bapak juga punya masalah atau hanya ingin bersantai di sini?”
Laki-laki tua itu duduk tidak terlalu jauh dari tempat Yuki. Meletakan tongkatnya di antara dirinya dan gadis di sampingnya.
 “Dulu sebenarnya bapak ini juga seorang penulis, wajahmu mirip sama anak bapak yang sudah meninggal karna kecelakaan. Kecelakaan yang sama juga membuat bapak harus kehilangan satu kaki bapak.”
            “Mereka semua mengatakan kalau kota itu adalah tempat yang kejam.” Celetuk Yuki.
            “Memang. Tapi kamu memiliki mimpi dan semangat yang luar biasa. Jadi lebih baik jangan pernah menyerah. Kejar semua cita-citamu. Ini hidupmu dan hanya kamu yang berhak menentukan semuanya. Bila kamu berani mengambil sebuah keputusan yang besar, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hadiah yang sama besarnya atau mungkin lebih besar.” Kata bapak itu bijak. Perlahan Yuki kembali mengerti, kembali berani melawan hidup. Senyum manis itu kembali menghiasi wajah Yuki. Tuhan, terima kasih. Kau telah kirimkan aku satu malaikat yang selalu mendorongku untuk bangkit. Terima kasih Tuhan, terima kasih bapak, ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
                                                                        ***
            Inilah kota barunya. Tidak ada satupun orang yang ia kenal disini. Mencari kesana kemari tapi gedung yang menjadi tujuannya belum juga ia temukan. Sampai pada sebuah kertas yang melayang, jatuh tepat di sebelah sepatunya saat ia tengah beristirahat di halte bus. Sebuah brosur. Ia membaca setiap kalimatnya dengan cermat dan tiba-tiba ia merasakan keajaiban baru saja menolongnya.
            Gedung itu terlalu besar, lebih besar dari yang ia bayangkan sebelumnya. Amplop coklat yang berisi hasil tulisannya ia serahkan. Lalu pulang. Dalam cemas ia berdoa, mengharapkan semua yang baik terjadi pada dirinya. Bukan satu dua hari ia menunggu, melainkan hampir sebulan. Simpanan uangnya pun juga mulai menipis. Dering ponselnya membuyarkan pikirannya,
            “Hallo,” kata pertama yang meluncur bebas dari mulutnya yang merekah.
                                                                        ***
            Empat tahun kemudian, Yuki berhasil dengan mimpinya. Kini ia telah menjadi penulis terkenal, hasil tulisannya yang dulu hanya disimpan kini berubah menjadi buku yang banyak dicari dan dibaca masyarakat. Sampai suatu saat Yuki teringat akan jasa laki-laki tua itu. Disaat Yuki istirahat dalam menulis, Yuki kembali ke kota lamanya. Semua teman Yuki termasuk Ken datang menyambut Yuki. Sebenarnya ia juga rindu untuk bicara bersama Ken di tepi sungai seperti dulu. Tapi untuk kali ini, ia ingin mencari orang yang dianggapnya paling berjasa dalam hidupnya.
            Berhari-hari ia mencari. Disemua tempat yang pernah dikunjunginya. Tempat yang pernah mempertemukannya dengan bapak itu. Ia berhenti di depan papan pengumuman besar ditengah kota. Papan pengumuman yang biasa digunakan untuk mengumumkan orang hilang atau hal mendesak lainnya. Sontak Yuki mundur beberapa langkah ke belakang. Air matanya kembali pecah seperti dulu. Bahkan ucapan terima kasih pun masih bersarang dengan nyaman ditenggorokannya.
            Berdiri di depan makam yang mulai merumput tinggi, Yuki mulai memanjatkan doa pada Tuhan. Baru sekitar enam bulan yang lalu pusara itu dibuat. “Selamat tinggal dan terima kasih untuk semuanya.” Kata Yuki pelan.
            Perjalanan yang semula ia bayangkan akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, justru berjalan sebaliknya. Di tempat kerjanya, ia berbeda. Tak ada satupun pekerjaan yang sudah ia selesaikan. Semuanya berakhir ditengah-tengah. Berjalan mulus diawal dan selalu berhenti saat berada pada klimaks. Seolah kehilangan ide dan konsep yang sebelumnya ia susun sedemikian rupa.
            Jangan menyerah! kamu punya sebuah mimpi dan semangat yang luar biasa.
Kalimat itu seketika terlintas dalam benaknya. Memecutnya dengan keras. Kembali mendorongnya saat ia berhenti karna bingung harus memilih jalan yang mana.

            Sebulan kemudian dengan hati dan semangat yang sudah terbebas dari keterpurukan, Yuki meluncurkan satu buku terbarunya yang berjudul “Because Of You”. Buku yang menceritakan tentang pengalaman hidupnya, perjuangannya, mimpi-mimpi dan jasa-jasa yang sudah ia terima. Diakhir bukunya Yuki menulis pesan singkat, ‘Don’t
give up, it's your life. Face reality - a reality in your life. And if you dare to take the big decisions you'll be a great gift.
                                                                                          THE END
 
Cerita lainnya yang dimuat. [Tomorrow;s Way] 
Because Of You
Cover Majalah Sekolah Edisi ke 6
 
                                                        

 

 

 

Tidak ada komentar: