Senin, 03 Maret 2014

Waktu dan Sesisir Jeruk



Bagaimana jika aku mati besok? Apa yang akan kulakukan? Apakah aku akan menangis? Melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan atau justru meratapi kesendirian dalam kesepian? Apa yang akan kulakukan jika seandainya seluruh benda dipermukaan bumi ini lenyap dan hanya meninggalkan satu benda yang bisa kumiliki? Mungkin aku akan mengambil secangkir kopi hangat.  Memasukan satu sendok kopi dengan dua sendok gula sebagai pemanisnya. Menikmatinya perlahan sampai kepulan asap itu membumbung tinggi, hilang, atau mungkin aku hanya diam. Entahlah.
            “Vhey!!” Suara itu menarikku kembali dari lamunan panjangku. Cangkir kopi dalam genggaman kedua tanganku di meja sudah tak sepanas tadi. Menunggu laki-laki itu berjalan dari tangga di ujung lorong. Masih tetap sama, dia masih dengan kameranya. Kejadian lima belas tahun lalu memang sudah merubah segalanya. Termasuk merubah kehidupanku.

            Aku membalas senyumannya. Dia memutar kursi dan duduk di sebelahku. Aku hanya bisa tersenyum, memperhatikan semua yang dia lakukan. Dia menunjukan sederet foto yang sudah ia cetak beberapa hari lalu. Aku tak mengerti apa itu seni. Sisi seperti apa yang harus kupijak agar dapat menikmati keindahannya. Aku hanya tahu sebatas bagus dan jelek. Tapi aku selalu suka saat sederet foto itu ia tunjukan padaku. Aku selalu tersenyum karnanya.
            “Bagaimana? Bagus?” tanyanya padaku antusias. Aku tersenyum, lalu mengangguk.
            “Astaga! Tunggu sebentar ya,” Ucapnya lagi setelah teringat sesuatu. Aku buru-buru menulis sesuatu di buku catatan kecilku, merobek dan menyerahkan padanya. Dia menerima uluran kertas dariku, membacanya dalam posisi berdiri antara meja dan kursi sedikit terdorong.
            “Ahh, bukan apa-apa. Bukan masalah serius. Oiya, aku titip kameraku.” Aku hanya mengangguk dengan tanda tanya di kepalaku.
            Seandainya aku bisa, kataku dalam hati.
                                                                              ***

            Kondisi kamar yang masih sama. Ranjang, satu rak besar dengan buku-buku yang berjejer rapi sesuai abjad, meja kecil, tempat duduk menghadap jendela, serta satu sudut kamar yang paling berharga bagiku. Tempat dimana berdiri satu komputer tua yang berisi semua tulisanku, yang aku sendiri lupa sejak kapan aku menulis disana.
            “Vhey, makan dulu sayang.” Panggil Ibuku dari lantai bawah. Kujejalkan kakiku yang dingin di sandal berbulu warna cokelat dengan kepala beruang di depannya. Ini jam berapa?, pikirku saat menuruni anak tangga. Kuedarkan pandanganku ke semua sudut rumah yang bisa kujangkau. Disamping buffet tinggi, jam persegi itu bertengger.
            “Ayo,  sayang.” Ibuku merangkul pundakku dan menggiringku ke meja makan. Seolah tidak akan ada makan malam jika aku tidak segera duduk. Koran dilipat dan diletakkannya di sudut meja, begitu pula kaca mata bacanya. Setelah piringku terisi penuh dengan nasi dan sayur bayam kesukaanku, tiba-tiba kulepaskan sendok dari genggaman tanganku. Sendok itu berdenting, sementara tanganku terjulur ke depan dengan posisi tangan menunjuk. Ayahku menghentikan suapan ketiganya, dan mendongakkan kepalanya ke arahku dengan wajah heran.
            “Ada apa?”
            Aku menggeleng. Segera kutarik tanganku turun dan melanjutkan makanku. Dalam benakku, tersusun seribu pertanyaan yang menyangkut tentang satu permasalahan yang sama, kenapa aku mengangkat tanganku lalu menunjuknya? Ya Tuhan. Ayah dan ibuku menatapku dengan wajah heran sekaligus khawatir. Berkali-kali sejak kejadian dua belas tahun lalu, aku dibawa ke psykiater, tapi tidak ada gangguan kelainan jiwa selain trauma yang menyerangku. Mereka dua menggeleng, lalu tertunduk dan kembali melanjutkan makan malam mereka.
            “Kembalilah ke kamar dan istirahatlah.” Perintah ayahku, setelah semua piring diangkat ibu kembali ke dapur beberapa saat lalu. Gesekan kaki kursi dan lantai keramik berbunyi di tengah keheningan yang diciptakan malam.
            Di dalam kamarku, aku duduk bersandar di kusen jendela. Ada kursi kayu panjang yang sengaja kuletakan di bawah jendela agar aku bisa beristirahat sambil memandang langit. Tapi malam ini, aku tidak ingin tidur lebih cepat. Aku ingin menghabiskan malam sampai waktu menunjukan pukul dua belas malam tepat. Saat mataku terfokus pada satu titik bintang, pikiranku melayang jauh, kembali berkutat pada kejadian dua belas tahun lalu, tepatnya saat usiaku lima tahun. Dimana semua permasalahan dan ketakutanku muncul.
            Dalam mobil hitam yang muat untuk empat orang itu, aku dan Key duduk di belakang. Key adalah saudara kembarku, dia cantik, pendiam, dan sangat manis. Sangat berbeda denganku, aku tidak secantik dirinya, aku lebih suka bicara, dan usil. Saat itu sekitar jam sebelas tiga puluh, seperti saat ini. Keadaan sangat panik. Key tiba-tiba muntah darah di kamar mandi dan pingsan dalam kondisi kepala terbentur di dinding. Aku dilanda ketakutan yang teramat sangat, tidak beda jauh dengan kedua orang tuaku. Aku ingat betul, saat itu aku berteriak, menjerit, berteriak lagi seperti orang kesurupan. Dalam pikiranku, aku hanya ingin cepat sampai di rumah sakit. Mendorongnya masuk ke dalam ruangan yang akan segera menyelamatkannya. Tapi sayang, maksudku tidak tersampaikan, ayahku berteriak keras.
            Badanku gemetar mendengar bentakkan itu. Sejenak aku diam, tapi beberapa saat kemudian aku kembali berteriak-teriak menyuruh ayahku lebih cepat.
            “Sudah kubilang diam!!”
            “Cepat!! Cepat Ayah!! Key muntah lagi, ayo Ayah!! Ayo!!” rengekku kala itu. Ibuku yang duduk di kursi sebelah kiri hanya bisa berdoa, berusaha tetap tenang, dan terus coba menenangkan suaminya. Rasa takutku meledak ketika tangan Key dalam genggamanku mendingin. Seluruh tubuhku seolah mendapat sengatan listrik yang bisa membunuhku saat itu juga. Aku menjerit sejadi-jadinya, membuat ayahku menginjak rem dalam-dalam. Dencitan ban mobil memekikkan telinga. Sepersekian detik kemudian, aku merasakan ada yang menghantam bagian belakang dengan keras. Mendorong mobil jauh ke depan, membelok ke sungai, dan yang aku ingat, aku menjerit sangat keras. Key hilang.
                                                                              ***

            “Vheye Aprilianda!! Jangan melamun!! Cuci mukamu dan cepat kembali!” Manusia tinggi besar dengan kacamata yang sedikit merosot hampir ke ujung hidung, kini sudah berdiri di sebelah mejaku. Tangannya yang besar membuat getaran yang kuat saat menggebrak meja. Jantungku melonjak. Sebenarnya, aku membenci diriku yang selalu tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri. Membuat segalanya menyebar dan akhirnya aku membutuhkan satu panggilan keras yang menyebut namaku agar aku kembali.
            Berjalan menyusuri lorong kelas menuju kamar mandi. Kubasuh mukaku yang lusuh. Para setan membisikiku agar aku tidak kembali ke ruangan yang menahanku dalam waktu satu jam lagi, dan sepertinya aku menuruti perintah setan itu.
            Menjajaki satu persatu batu besar pembelah kolam ikan. Dengan moleknya ikan-ikan kecil itu menari dalam air yang cukup jernih. Seketika aku meremas dadaku di bagian sekitar jantung. Sakit. Aku merasa jantungku berdegub lebih cepat, ditambah serangan di bagian kepala membuat sekitar otak belakangku berdenyut hebat. Kenangan menghilangnya Key kembali ke permukaan. Sejak umur lima tahun sampai sekarang. Bahkan aku merasa tidak bisa menikmati masa SMA-ku seperti gadis remaja lainnya. Masa SMA yang sebentar lagi selesai.
            Oh Tuhan, keluhku sambil terus menekan bagian dada sekaligus kepalaku yang sakit. Aku mengerang kesakitan. Menahan rasa sakit ini sendirian. Aku merasakan duduk di taman dengan bangku yang mulai terkelupas. Bahkan gemericik suara air kolam ikan itu terdengar jelas. Apa aku akan mati di sini? Di tempat ini? Apa ini hukuman? Astaga Tuhan, aku menyayangi dia, aku merindukan dia.
            Perlahan aku melihat semuanya putih, semakin putih, dan aku merasa ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku. Udara lebih panas dari sebelumnya. Telingaku pun samar-samar menangkap dua suara yang kukenal. Suara itu seperti suara milik Miko dan pak Muklis. Aku bisa mendengar suara teriakan seperti angkat, kepala, namaku dipanggil-panggil, bertahan, kepala, cepat, dan tidak tahu.
            “Sudah sadar?” Aku berpaling. Sosok itu tengah memasukan kotak obat ke dalam lemari kaca di pojok ruangan. Matahari mulai berjalan ke barat, meninggalkan warna merah di langit. Suara oak-an burung memecah langit. Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi kurasa sudah sangat lama. Kugerakan tanganku ke kiri berusaha mengambil tasku yang tergeletak di atas lemari kecil. Tapi aku kalah cepat. Tas itu dengan cepatnya berpindah ke depan wajahku.
            Kulempar senyumku sebagai ucapan terima kasih. Dia menungguku yang masih mencari buku catatan kecilku, buku yang biasa kugunakan sebagai alat komunikasi. Aku bukannya bisu, aku hanya takut. Aku selalu teringat kejadian mengerikan itu. Aku selalu berpikir jeritan dan teriakanku itulah yang menyebabkan Key menghilang. Ada ekspresi kaget di wajahnya setelah membaca tulisanku untuknya. Dia menatapku dengan dahi yang dikerutkan, dan aku mulai mengerti bahwa aku kembali bermimpi.
            “Kamu jatuh di depan kamar mandi, bukan taman. Mungkin kamu memang mau ke taman setelah selesai, tapi sayangnya kamu jatuh di depan toilet.” Aku mengangguk mengiyakan. Tidak ada gunanya mengelak, toh aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia benar, aku memang jatuh di kamar mandi, dan taman itu hanya imajinasiku. Ditambah lagi, sekolahku tidak memiliki kolam ikan. Jadi itu jelas hanya imajinasiku. Miko tersenyum, lalu mengacak-acak rambutku lembut seolah ingin membuang pikiran asal yang silih berganti memenuhi kepalaku.
                                                                              ***

            Menurutmu lebih menyedihkan yang mana? Cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta terpendam? Kalau menurutku, cinta terpendam. Karna ..
            “Hey, kamu lagi nulis apa?” selidik Key sambil melingkarkan tangannya di leherku. Membuatku terhuyung dan hampir jatuh dari ayunan putih. Dia memutari benda berayun itu dan duduk di sebelahku.
            “Cinta terpendam dan bertepuk sebelah tangan ya?” ia berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya, lalu berkata “Sepertinya aku sama sepertimu. Cinta terpendam. Karna bagiku, orang yang melakukan itu adalah seorang pengecut. Dia ingin bahagia tapi enggak mau mengambil resiko, patah hati.” Lanjutnya sambil memandang langit. Aku masih bergulat dengan rasa ketidakpercayaanku. Jawaban itu sama persis seperti apa yang di katakan Miko sebelum Key ditemukan dulu. Saat acara pesta kelulusan SMA.
            Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi seperti aku bisa bertemu dengan Key seperti sekarang. Dalam doa, selalu kupanjatkan rasa syukur karna ingatannya yang masih terjaga dan dia mau kembali setelah kedua orang tua angkatnya meninggal. Dan yang terpenting, dalam doa selalu kupanjatkan permohonan agar aku bisa menghilangkan rasa takut yang terus merasukiku.
            “Uhm, kamu akhirnya mau masuk mana? Kamu udah berhenti setahun lho, enggak sayang umur Vhey?” Aku menoleh dan menatapnya, tapi dia masih sibuk melihat bintang-bintang kesayangannya. Memang, sudah setahun sejak aku lulus SMA, aku berhenti sekolah. Entah kenapa aku membuat keputusan itu tahun lalu, padahal ayah dan ibuku sangat menginginkanku langsung meneruskan kuliah bersama dengan Key.
            Setahun lalu, Key membuat kami sekeluarga sangat kaget termasuk bahagia. Dalam malam kudus, Key mengetuk pintu rumah kami. Dia mengenakan baju warna biru salju. Sesaat kami tidak mengenal siapa gadis yang berdiri di depan pintu dengan linangan airmata. Tapi ikatan batin anak dan ibu memang kuat, ibuku langsung memeluk Key erat.
            “Dia Key, anak kita.” Kata ibu padaku dan ayah. Kami sempat saling pandang beberapa saat sebelum tersadar dan ikut memeluk, menyambut kepulangan satu anggota keluarga yang sempat menghilang. Key menceritakan semuanya, bagaimana ia bertemu dengan satu keluarga yang selalu bahagia meski mereka tidak mempunyai anak sampai usia mereka cukup tua. Key pun memutuskan untuk menjadi anak mereka untuk sementara waktu yang tanpa disadari telah berjalan hingga dua belas tahun lebih. Tapi kecelakaan itu merenggut sepasang suami istri yang sangat penting bagi Key. Akhirnya Key mencari informasi tentang keberadaan kami dengan kekayaan dari kedua orang tua angkatnya yang diberikan pada Key, anak semata wayang bagi mereka.
            Aku mengendikan bahu menjawab pertanyaan darinya. Dia merengut lalu meninju lenganku pelan. ‘Aku masih takut’, tulisku dalam kertas. Merasa  kesal, ia berdiri, meninggalkanku sendirian di malam yang hampir menuju puncaknya.
            Beberapa saat setelah tubuh tinggi langsing itu menghilang, pikiranku kembali pada sosok Miko. Sosok yang meninggalkan kenangan penuh tanda tanya. Kenangan yang sangat ingin kutahu artinya, benarkah itu hanya napsu sesaat atau memang ada sesuatu yang ingin dia tinggalkan. Ciuman pertamaku. Saat itu adalah satu hari setelah acara wisuda kelulusan, ada pesta kecil yang kami adakan di rumah Mia. Rumahnya yang memiliki bangunan khusus seperti home teater, membuat kami, anak satu kelas memilih rumah Mia sebagai tempat untuk berkumpul sebelum sibuk dengan urusan masing-masing.
            Kuingat jelas kemeja yang ia pakai, berwarna putih dengan satu garis biru dibagian kerah. Celana jeans hitam sehitam warna bola matanya, kamera yang menggantung di leher kuatnya. Dia berjalan lalu duduk di sebelahku. Dia menemaniku yang duduk menyendiri di tepi kolam renang. Aku tidak suka keramaian tapi aku juga tidak bisa menolak ajakkan mereka untuk datang. Tiba-tiba dia berkata, “Lihat kemari.” Dan dalam seketika wajahku yang aneh dengan pipi menggembung terisi lollipop tersalin dalam layar kameranya. Aku berusaha merebut kamera miliknya tapi justru aku yang terpeleset dan jatuh di kolam renang. Aku mengapung-ngapung. Berada di tengah kolam sangat menyenangkan, badanku terasa ringan dan aku berharap kehidupanku seringan ini.
            “Hey Vhey!! Ayo naik! Kamu bisa masuk angin. Buruan naik!!” teriaknya sambil membungkukan badannya ke arahku. Otot tangannya yang menjulur telihat menyundul keluar. Aku menggeleng dan malah berposisi seperti orang mati. Bodoh. Kakiku mengepak beberapa kali agar aku bisa menyeimbangkan tubuhku lagi yang terperanjat kaget karna Miko yang tiba-tiba sudah mengapung persis di depanku. Meninggalkan kamera, ponsel dan sepatunya di seberang. Nadiku berdenyut kuat. Air yang dingin seakan berjuang untuk membekukan setiap bagian tubuhku. Dia meatapku. Menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat. Ia menahan wajahku dengan kedua tangannya. Wajahku yang semula dingin perlahan berubah menjadi hangat dan semakin panas. Menggerakan kakinya agar berada lebih dekat dengaku.
            “Vhey,” bisiknya lembut, lalu..
            Cup!
                                                                              ***

            Apa kabarnya sekarang? Apa dia masih seperti dulu? Atau sudah berubah? Bolehkah aku berharap bisa bertemu dengannya lagi? Bolehkah aku berasumsi bahwa perasaanku saat ini masih sama seperti apa yang aku rasakan sebelum berada dalam di dekapannya, sebelum menyentuh bibirnya pertama kali? Bahwa perasaanku tidak pernah berubah.
            Aku menatap diriku sendiri, melihat bayangan yang seolah tertawa mengejekku. Sisi jiwaku yang lain sedang berusaha keluar dari jeruji yang menahan mereka. Aku takut.
            “Vhey!!” Aku memutar tubuhku kebelakang. Belum sampai dalam keadaan seimbang, Key sudah menubrukku. Membuatku hampir membentur meja rias. Ia memelukku erat. Mengajakku menari, berputar layaknya seorang penari balet.
            “Kamu tahu Vhey, sekarang tanggal berapa?” Aku menggeleng.
            “Tanggal 10 Oktober. Sekarang sudah setengah tahun aku jadian sama dia. Laki-laki yang sejak SMA aku suka. Kamu tahu, sebenarnya dia satu sekolah sama kamu.”
            ‘Siapa?’ Tulisku dalam secarik kertas. Dia mendengus, membanting tubuhnya di ranjang.
            “Sampai kapan kamu mau berperan sebagai orang bisu?! Aku sudah pulang, aku enggak benci kamu. Aku kembali. Dan aku mau Vhey yang dulu. Vhey yang ceria, cerewet, dan selalu punya topik-topik yang menarik. Bicaralah!!” semburnya habis-habisan. Aku hanya diam mematung. Dia duduk menggantung kaki, air matanya menetes tapi aku tak mampu menghapusnya. Aku juga ingin menjadi normal tapi rasa ketakutanku akan kembali muncul dan membuat semuanya semakin berantakan. Aku juga ingin menghabiskan waktu makan siang bersama dengan cerita-cerita menarik, berteriak saat menonton konser, atau bernyanyi bersama di dalam Gereja. Mungkin untuk sekarang, aku memang harus berlari dan terus berlari.
            “Aku rindu saudaraku. Aku rindu suaranya. Aku rindu semua cerita-ceritanya. Aku rindu Vhey. Aku mohon Vhey, bicaralah! Bicaralah!! Aku mohon..” Ia menangis terisak. Suara sesegukannya begitu memilukan. Aku duduk di lantai, menatap wajahnya yang tertunduk. Kuhapus air mata yang terus keluar lalu menariknya dalam pelukanku. Di pundakku yang basah, suara itu masih sangat menyayat. Aku ingin suara itu berhenti. Aku ingin dia kembali ceria, tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaannya untuk kali ini. Aku belum siap.
            Maafkan aku Key. Aku janji suatu saat nanti, kamu pasti bisa mendengar suaraku lagi meskipun itu adalah suara yang terakhirku. Maafkan aku.
                                                                              ***
           
            Aku kecewa. Aku marah. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, namun suara ini selalu berhenti di tenggorokan. Kenyataan itu begitu menyakitkan sekaligus menamparku. Mengatakan padaku bahwa keputusanku telah membuatku merasakan rasa sakit. Jadi, apakah aku masih bisa digolongkan sebagai seorang pengecut?
            Di bawah pohon ini, lima belas tahun lalu, aku bertemu dengan anak kecil. Hari dimana aku kehilangan Key untuk pertama kalinya. Anak laki-laki kecil itu memberiku sebuah jeruk. Dia menunjukan banyak tempat indah yang bisa dilihat dari tempatku berdiri sekarang. Aku menggeser kakiku seperti yang kulakukan dulu. Setiap geseran kaki, aku mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Kurasa itu sama dengan kehidupan. Banyak hal berbeda yang bisa dilihat dari sisi yang berbeda.
            “Lihatlah! Bukankah bukit ini bagus untuk berteriak?” katanya sebelum mengeluarkan teriakannya. Teriakan yang menyakitkan telinga tapi mampu melegakan hati yang terluka. Ia berbalik menghadapku, menarikku ke puncak bukit, menepuk-nepuk punggungku. Jujur, saat itu aku kesal dengan tingkahnya yang seolah-olah sudah lama mengenalku. Tapi aku tetap menurut. Aku juga ingin mencoba keberuntungan dengan berteriak di sini.
            “Aku ingin Key kembali!!!” teriakku keras bersamaan dengan air mata yang meluncur keluar. Aku jatuh. Kututup wajahku dengan kedua tanganku sambil terus menangis terisak. Bukan kelegaan seperti yang tadi kulihat di raut wajah anak itu, tapi rasa bersalah yang semakin besar. “Hey, kamu kenapa? Apa tenggorokanmu sakit habis berteriak?” Aku menggeleng. Pertanyaan itu begitu polos, sama seperti wajahnya. Dia akhirnya ikut jongkok sepertiku. Mengelus-elus kepalaku, lalu ia menegakkan wajahku. Samar-sama dengan mata terhalang airmata, aku bisa melihat dia merogoh saku jaketnya. Mencari sesuatu dengan tangan kirinya yang bebas. Sementara tangan kanannya masih bersandar di pipiku, membersihkan sisa-sisa airmata yang masih membasahi pipi dan mataku.
            “Sudahlah, berhenti nangisnya. Ini aku punya jeruk. Kita bagi dua ya? Tunggu aku kupasin dulu.” Kami duduk saling berhadapan. Dia membelah jeruk itu menjadi lalu memasukan sepotong yang sudah dibersihkan ke dalam mulutku. Air mataku memang sudah berhenti, tapi suaraku masih terbata-bata. Sejak saat itu aku menjadi dekat dengannya. Anak laki-laki yang tidak akan mungkin aku lupakan.
            Kenanganku berhenti disaat anak itu menggenggam erat tanganku lalu mengantarkanku pulang. Aku membuka mataku kembali. Di tempat ini aku berteriak. Aku ingin ada yang menepuk pundakku agar aku bisa menemukan kembali suaraku. Keberanianku untuk berteriak seperti dulu. Sontak aku membalikan badan saat aku merasakan ada yang menepuk pundakku dua kali.
            “Aku pikir kamu sudah lupa, tapi kamu malah berdiri di tempat yang sama.” Ucapnya santai, manggut-manggut. Aku memang sengaja berdiri di sini, aku ingin memohon kau kembali.
            “Apa kamu sudah mencoba untuk berteriak lagi? Seperti dulu.” Aku menggeleng. Dia sama seperti Key, hanya mampu menghela nafas karna keputusanku.
            “Cobalah. Aku ingin mendengar suaramu seperti lima belas tahun lalu. Seperti saat kamu berteriak kemudian menangis. Cobalah!” pintanya lembut.
            Oh Tuhan, kenapa harus laki-laki ini? Kenapa harus dia yang menjadi anak kecil itu? Kenapa harus dia, orang yang pertama kali kusayangi dan pertama kali harus kulupakan? Kenapa harus selalu dia yang bersamaku, bahkan ciuman pertamaku pun bersamanya.
            “Aku mengerti, kamu pasti masih takut.” Katanya kemudian membuyarkan lamunanku.
                                                                              ***
           
            Sudah semester dua sejak aku masuk kuliah. Berarti sudah satu tahun sejak aku bertemu kembali dengannya di puncak bukit itu. Berarti sudah satu tahun pula dia menjadi kakak seniorku. Perpisahan itu akan datang sebentar lagi. Mungkin dulu aku memilih tidak langsung kuliah agar aku tidak berada dalam satu panggung perpisahan dengannya.
            Aku membalas senyumannya. Memutar kursi dan duduk dihadapanku. Aku hanya bisa tersenyum, memperhatikan semua yang dia lakukan. Menunjukan foto-foto hasil jepretannya.
            “Bagaimana? Bagus?” tanyanya antusias. Aku tersenyum kemudian mengangguk.
            “Tunggu sebentar ya,” ucapnya lagi. Aku buru-buru menulis sesuatu dibuku catatan kecilku, merobek dan menyerahkan padanya. Ia membaca kertas itu dalam posisi antara meja dan kursi yang sedikit terdorong.
            “Ahh, bukan masalah serius. Tunggu sebentar, aku titip kameraku ya.” Aku kembali mengangguk dengan patuh. Sambil menunggunya, ku otak-atik kamera miliknya. Mataku membulat dengan semua foto yang belum pernah kulihat. Kurasa ia memang tidak berniat untuk mencetaknya. Mataku menemukan sederet tanggal yang jika diperhatikan itu adalah tanggal kelulusan SMA. Tahun dimana ia menghilang dan Key kembali.
            “Maaf menunggu,” ia kembali sesaat setelah kukembalikan kamera miliknya ditempat semula. Aku bisa bernafas lega.  Ia muncul dengan gadis yang sangat kukenal. Sebisa mungkin kulepas senyumanku, meski itu hanya formalitas ucapan selamat.
            Mereka berdua bertemu di fakultas yang sama. Saling jatuh cinta setelah beberapa bulan saling kenal, dan setengah tahun setelah mereka menjadi mahasiswa, mereka berpacaran. Memang Mikolah orangnya. Kini sudah hampir satu setengah tahun mereka bersama. Tanggal 10 Oktober.
            Key memelukku erat. Aku hanya tersenyum, selalu berharap bahwa Key tidak pernah tahu kejadian sebelum dia memiliki Miko. Tak lama kemudian, tiba-tiba Key teringat sesuatu. Setelah meminta maaf karna harus meninggalkanku duluan, ia segera menarik Miko pergi.
            Aku tahu dan aku paham bahwa manusia adalah mahluk yang terus hidup sambil melukai dan dilukai, tapi aku rasa manusia bukanlah mahluk yang dengan mudah membenci orang lain. Dan aku tahu, Tuhan selalu menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Seandainya aku bisa mengatakan bahwa aku juga orang yang menyayangimu, bahkan sebelum kau meninggalkan kenangan yang tak akan bisa kulupakan.
            “Sampai saat ini aku masih menyayangimu Miko.”


THE END

Tidak ada komentar: