Bagaimana
jika aku mati besok? Apa yang akan kulakukan? Apakah aku akan menangis?
Melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan atau justru meratapi
kesendirian dalam kesepian? Apa yang akan kulakukan jika seandainya seluruh
benda dipermukaan bumi ini lenyap dan hanya meninggalkan satu benda yang bisa
kumiliki? Mungkin aku akan mengambil secangkir kopi hangat. Memasukan satu sendok kopi dengan dua sendok
gula sebagai pemanisnya. Menikmatinya perlahan sampai kepulan asap itu
membumbung tinggi, hilang, atau mungkin aku hanya diam. Entahlah.
“Vhey!!” Suara itu menarikku kembali dari lamunan
panjangku. Cangkir kopi dalam genggaman kedua tanganku di meja sudah tak
sepanas tadi. Menunggu laki-laki itu berjalan dari tangga di ujung lorong.
Masih tetap sama, dia masih dengan kameranya. Kejadian lima belas tahun lalu
memang sudah merubah segalanya. Termasuk merubah kehidupanku.
Aku membalas senyumannya. Dia memutar kursi dan duduk di sebelahku.
Aku hanya bisa tersenyum, memperhatikan semua yang dia lakukan. Dia menunjukan
sederet foto yang sudah ia cetak beberapa hari lalu. Aku tak mengerti apa itu
seni. Sisi seperti apa yang harus kupijak agar dapat menikmati keindahannya.
Aku hanya tahu sebatas bagus dan jelek. Tapi aku selalu suka saat sederet foto
itu ia tunjukan padaku. Aku selalu tersenyum karnanya.
“Bagaimana? Bagus?” tanyanya padaku antusias. Aku
tersenyum, lalu mengangguk.
“Astaga! Tunggu sebentar ya,” Ucapnya lagi setelah teringat
sesuatu. Aku buru-buru menulis sesuatu di buku catatan kecilku, merobek dan
menyerahkan padanya. Dia menerima uluran kertas dariku, membacanya dalam posisi
berdiri antara meja dan kursi sedikit terdorong.
“Ahh, bukan apa-apa. Bukan masalah serius. Oiya, aku
titip kameraku.” Aku hanya mengangguk dengan tanda tanya di kepalaku.
Seandainya aku bisa,
kataku dalam hati.
***
Kondisi kamar yang masih sama.
Ranjang, satu rak besar dengan buku-buku yang berjejer rapi sesuai abjad, meja
kecil, tempat duduk menghadap jendela, serta satu sudut kamar yang paling
berharga bagiku. Tempat dimana berdiri satu komputer tua yang berisi semua
tulisanku, yang aku sendiri lupa sejak kapan aku menulis disana.
“Vhey, makan dulu sayang.” Panggil
Ibuku dari lantai bawah. Kujejalkan kakiku yang dingin di sandal berbulu warna
cokelat dengan kepala beruang di depannya. Ini
jam berapa?, pikirku saat menuruni anak tangga. Kuedarkan pandanganku ke semua
sudut rumah yang bisa kujangkau. Disamping buffet tinggi, jam persegi itu bertengger.
“Ayo, sayang.” Ibuku merangkul pundakku dan
menggiringku ke meja makan. Seolah tidak akan ada makan malam jika aku tidak
segera duduk. Koran dilipat dan diletakkannya di sudut meja, begitu pula kaca
mata bacanya. Setelah piringku terisi penuh dengan nasi dan sayur bayam
kesukaanku, tiba-tiba kulepaskan sendok dari genggaman tanganku. Sendok itu
berdenting, sementara tanganku terjulur ke depan dengan posisi tangan menunjuk.
Ayahku menghentikan suapan ketiganya, dan mendongakkan kepalanya ke arahku
dengan wajah heran.
“Ada apa?”
Aku menggeleng. Segera kutarik
tanganku turun dan melanjutkan makanku. Dalam benakku, tersusun seribu
pertanyaan yang menyangkut tentang satu permasalahan yang sama, kenapa aku
mengangkat tanganku lalu menunjuknya? Ya Tuhan. Ayah dan ibuku menatapku dengan
wajah heran sekaligus khawatir. Berkali-kali sejak kejadian dua belas tahun
lalu, aku dibawa ke psykiater, tapi tidak ada gangguan kelainan jiwa selain
trauma yang menyerangku. Mereka dua menggeleng, lalu tertunduk dan kembali
melanjutkan makan malam mereka.
“Kembalilah ke kamar dan
istirahatlah.” Perintah ayahku, setelah semua piring diangkat ibu kembali ke
dapur beberapa saat lalu. Gesekan kaki kursi dan lantai keramik berbunyi di tengah
keheningan yang diciptakan malam.
Di dalam kamarku, aku duduk
bersandar di kusen jendela. Ada kursi kayu panjang yang sengaja kuletakan di bawah
jendela agar aku bisa beristirahat sambil memandang langit. Tapi malam ini, aku
tidak ingin tidur lebih cepat. Aku ingin menghabiskan malam sampai waktu
menunjukan pukul dua belas malam tepat. Saat mataku terfokus pada satu titik
bintang, pikiranku melayang jauh, kembali berkutat pada kejadian dua belas
tahun lalu, tepatnya saat usiaku lima tahun. Dimana semua permasalahan dan
ketakutanku muncul.
Dalam mobil hitam yang muat untuk
empat orang itu, aku dan Key duduk di belakang. Key adalah saudara kembarku,
dia cantik, pendiam, dan sangat manis. Sangat berbeda denganku, aku tidak
secantik dirinya, aku lebih suka bicara, dan usil. Saat itu sekitar jam sebelas
tiga puluh, seperti saat ini. Keadaan sangat panik. Key tiba-tiba muntah darah
di kamar mandi dan pingsan dalam kondisi kepala terbentur di dinding. Aku
dilanda ketakutan yang teramat sangat, tidak beda jauh dengan kedua orang
tuaku. Aku ingat betul, saat itu aku berteriak, menjerit, berteriak lagi
seperti orang kesurupan. Dalam pikiranku, aku hanya ingin cepat sampai di rumah
sakit. Mendorongnya masuk ke dalam ruangan yang akan segera menyelamatkannya.
Tapi sayang, maksudku tidak tersampaikan, ayahku berteriak keras.
Badanku gemetar mendengar bentakkan
itu. Sejenak aku diam, tapi beberapa saat kemudian aku kembali berteriak-teriak
menyuruh ayahku lebih cepat.
“Sudah kubilang diam!!”
“Cepat!! Cepat Ayah!! Key muntah
lagi, ayo Ayah!! Ayo!!” rengekku kala itu. Ibuku yang duduk di kursi sebelah
kiri hanya bisa berdoa, berusaha tetap tenang, dan terus coba menenangkan
suaminya. Rasa takutku meledak ketika tangan Key dalam genggamanku mendingin.
Seluruh tubuhku seolah mendapat sengatan listrik yang bisa membunuhku saat itu
juga. Aku menjerit sejadi-jadinya, membuat ayahku menginjak rem dalam-dalam.
Dencitan ban mobil memekikkan telinga. Sepersekian detik kemudian, aku
merasakan ada yang menghantam bagian belakang dengan keras. Mendorong mobil
jauh ke depan, membelok ke sungai, dan yang aku ingat, aku menjerit sangat
keras. Key hilang.
***
“Vheye Aprilianda!! Jangan melamun!!
Cuci mukamu dan cepat kembali!” Manusia tinggi besar dengan kacamata yang
sedikit merosot hampir ke ujung hidung, kini sudah berdiri di sebelah mejaku.
Tangannya yang besar membuat getaran yang kuat saat menggebrak meja. Jantungku
melonjak. Sebenarnya, aku membenci diriku yang selalu tidak bisa mengendalikan
pikiranku sendiri. Membuat segalanya menyebar dan akhirnya aku membutuhkan satu
panggilan keras yang menyebut namaku agar aku kembali.
Berjalan menyusuri lorong kelas menuju
kamar mandi. Kubasuh mukaku yang lusuh. Para setan membisikiku agar aku tidak
kembali ke ruangan yang menahanku dalam waktu satu jam lagi, dan sepertinya aku
menuruti perintah setan itu.
Menjajaki satu persatu batu besar
pembelah kolam ikan. Dengan moleknya ikan-ikan kecil itu menari dalam air yang
cukup jernih. Seketika aku meremas dadaku di bagian sekitar jantung. Sakit. Aku
merasa jantungku berdegub lebih cepat, ditambah serangan di bagian kepala
membuat sekitar otak belakangku berdenyut hebat. Kenangan menghilangnya Key kembali
ke permukaan. Sejak umur lima tahun sampai sekarang. Bahkan aku merasa tidak
bisa menikmati masa SMA-ku seperti gadis remaja lainnya. Masa SMA yang sebentar
lagi selesai.
Oh
Tuhan, keluhku sambil terus menekan bagian dada sekaligus kepalaku yang
sakit. Aku mengerang kesakitan. Menahan rasa sakit ini sendirian. Aku merasakan
duduk di taman dengan bangku yang mulai terkelupas. Bahkan gemericik suara air
kolam ikan itu terdengar jelas. Apa aku akan mati di sini? Di tempat ini? Apa
ini hukuman? Astaga Tuhan, aku menyayangi
dia, aku merindukan dia.
Perlahan aku melihat semuanya putih,
semakin putih, dan aku merasa ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku. Udara
lebih panas dari sebelumnya. Telingaku pun samar-samar menangkap dua suara yang
kukenal. Suara itu seperti suara milik Miko dan pak Muklis. Aku bisa mendengar
suara teriakan seperti angkat, kepala, namaku dipanggil-panggil, bertahan,
kepala, cepat, dan tidak tahu.
“Sudah sadar?” Aku berpaling. Sosok
itu tengah memasukan kotak obat ke dalam lemari kaca di pojok ruangan. Matahari
mulai berjalan ke barat, meninggalkan warna merah di langit. Suara oak-an burung memecah langit. Entah
sudah berapa lama aku tertidur, tapi kurasa sudah sangat lama. Kugerakan
tanganku ke kiri berusaha mengambil tasku yang tergeletak di atas lemari kecil.
Tapi aku kalah cepat. Tas itu dengan cepatnya berpindah ke depan wajahku.
Kulempar senyumku sebagai ucapan
terima kasih. Dia menungguku yang masih mencari buku catatan kecilku, buku yang
biasa kugunakan sebagai alat komunikasi. Aku bukannya bisu, aku hanya takut. Aku
selalu teringat kejadian mengerikan itu. Aku selalu berpikir jeritan dan
teriakanku itulah yang menyebabkan Key menghilang. Ada ekspresi kaget di wajahnya
setelah membaca tulisanku untuknya. Dia menatapku dengan dahi yang dikerutkan,
dan aku mulai mengerti bahwa aku kembali bermimpi.
“Kamu jatuh di depan kamar mandi,
bukan taman. Mungkin kamu memang mau ke taman setelah selesai, tapi sayangnya
kamu jatuh di depan toilet.” Aku mengangguk mengiyakan. Tidak ada gunanya
mengelak, toh aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia
benar, aku memang jatuh di kamar mandi, dan taman itu hanya imajinasiku.
Ditambah lagi, sekolahku tidak memiliki kolam ikan. Jadi itu jelas hanya
imajinasiku. Miko tersenyum, lalu mengacak-acak rambutku lembut seolah ingin
membuang pikiran asal yang silih berganti memenuhi kepalaku.
***
Menurutmu
lebih menyedihkan yang mana? Cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta
terpendam? Kalau menurutku, cinta terpendam. Karna ..
“Hey, kamu lagi nulis apa?” selidik
Key sambil melingkarkan tangannya di leherku. Membuatku terhuyung dan hampir
jatuh dari ayunan putih. Dia memutari benda berayun itu dan duduk di sebelahku.
“Cinta terpendam dan bertepuk
sebelah tangan ya?” ia berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya, lalu berkata
“Sepertinya aku sama sepertimu. Cinta terpendam. Karna bagiku, orang yang melakukan
itu adalah seorang pengecut. Dia ingin bahagia tapi enggak mau mengambil resiko, patah hati.” Lanjutnya sambil
memandang langit. Aku masih bergulat dengan rasa ketidakpercayaanku. Jawaban
itu sama persis seperti apa yang di katakan Miko sebelum Key ditemukan dulu.
Saat acara pesta kelulusan SMA.
Aku
harap aku bisa bertemu denganmu lagi seperti aku bisa bertemu dengan Key
seperti sekarang. Dalam doa, selalu kupanjatkan rasa syukur karna
ingatannya yang masih terjaga dan dia mau kembali setelah kedua orang tua
angkatnya meninggal. Dan yang terpenting, dalam doa selalu kupanjatkan
permohonan agar aku bisa menghilangkan rasa takut yang terus merasukiku.
“Uhm, kamu akhirnya mau masuk mana?
Kamu udah berhenti setahun lho, enggak
sayang umur Vhey?” Aku menoleh dan menatapnya, tapi dia masih sibuk melihat
bintang-bintang kesayangannya. Memang, sudah setahun sejak aku lulus SMA, aku
berhenti sekolah. Entah kenapa aku membuat keputusan itu tahun lalu, padahal
ayah dan ibuku sangat menginginkanku langsung meneruskan kuliah bersama dengan
Key.
Setahun lalu, Key membuat kami
sekeluarga sangat kaget termasuk bahagia. Dalam malam kudus, Key mengetuk pintu
rumah kami. Dia mengenakan baju warna biru salju. Sesaat kami tidak mengenal
siapa gadis yang berdiri di depan pintu dengan linangan airmata. Tapi ikatan
batin anak dan ibu memang kuat, ibuku langsung memeluk Key erat.
“Dia Key, anak kita.” Kata ibu padaku
dan ayah. Kami sempat saling pandang beberapa saat sebelum tersadar dan ikut
memeluk, menyambut kepulangan satu anggota keluarga yang sempat menghilang. Key
menceritakan semuanya, bagaimana ia bertemu dengan satu keluarga yang selalu
bahagia meski mereka tidak mempunyai anak sampai usia mereka cukup tua. Key pun
memutuskan untuk menjadi anak mereka untuk sementara waktu yang tanpa disadari
telah berjalan hingga dua belas tahun lebih. Tapi kecelakaan itu merenggut
sepasang suami istri yang sangat penting bagi Key. Akhirnya Key mencari
informasi tentang keberadaan kami dengan kekayaan dari kedua orang tua angkatnya
yang diberikan pada Key, anak semata wayang bagi mereka.
Aku mengendikan bahu menjawab
pertanyaan darinya. Dia merengut lalu meninju lenganku pelan. ‘Aku masih takut’,
tulisku dalam kertas. Merasa kesal, ia
berdiri, meninggalkanku sendirian di malam yang hampir menuju puncaknya.
Beberapa saat setelah tubuh tinggi
langsing itu menghilang, pikiranku kembali pada sosok Miko. Sosok yang
meninggalkan kenangan penuh tanda tanya. Kenangan yang sangat ingin kutahu
artinya, benarkah itu hanya napsu sesaat atau memang ada sesuatu yang ingin dia
tinggalkan. Ciuman pertamaku. Saat itu adalah satu hari setelah acara wisuda
kelulusan, ada pesta kecil yang kami adakan di rumah Mia. Rumahnya yang
memiliki bangunan khusus seperti home
teater, membuat kami, anak satu kelas memilih rumah Mia sebagai tempat
untuk berkumpul sebelum sibuk dengan urusan masing-masing.
Kuingat jelas kemeja yang ia pakai,
berwarna putih dengan satu garis biru dibagian kerah. Celana jeans hitam sehitam warna bola matanya,
kamera yang menggantung di leher kuatnya. Dia berjalan lalu duduk di sebelahku.
Dia menemaniku yang duduk menyendiri di tepi kolam renang. Aku tidak suka
keramaian tapi aku juga tidak bisa menolak ajakkan mereka untuk datang.
Tiba-tiba dia berkata, “Lihat kemari.” Dan dalam seketika wajahku yang aneh
dengan pipi menggembung terisi lollipop tersalin dalam layar kameranya. Aku
berusaha merebut kamera miliknya tapi justru aku yang terpeleset dan jatuh di kolam
renang. Aku mengapung-ngapung. Berada di tengah kolam sangat menyenangkan,
badanku terasa ringan dan aku berharap kehidupanku seringan ini.
“Hey Vhey!! Ayo naik! Kamu bisa
masuk angin. Buruan naik!!” teriaknya sambil membungkukan badannya ke arahku.
Otot tangannya yang menjulur telihat menyundul keluar. Aku menggeleng dan malah
berposisi seperti orang mati. Bodoh. Kakiku mengepak beberapa kali agar aku
bisa menyeimbangkan tubuhku lagi yang terperanjat kaget karna Miko yang
tiba-tiba sudah mengapung persis di depanku. Meninggalkan kamera, ponsel dan
sepatunya di seberang. Nadiku berdenyut kuat. Air yang dingin seakan berjuang
untuk membekukan setiap bagian tubuhku. Dia meatapku. Menatapku dengan tatapan
yang belum pernah kulihat. Ia menahan wajahku dengan kedua tangannya. Wajahku
yang semula dingin perlahan berubah menjadi hangat dan semakin panas.
Menggerakan kakinya agar berada lebih dekat dengaku.
“Vhey,” bisiknya lembut, lalu..
Cup!
***
Apa
kabarnya sekarang? Apa dia masih seperti dulu? Atau sudah berubah? Bolehkah aku
berharap bisa bertemu dengannya lagi? Bolehkah aku berasumsi bahwa perasaanku
saat ini masih sama seperti apa yang aku rasakan sebelum berada dalam di dekapannya,
sebelum menyentuh bibirnya pertama kali? Bahwa perasaanku tidak pernah berubah.
Aku menatap diriku sendiri, melihat
bayangan yang seolah tertawa mengejekku. Sisi jiwaku yang lain sedang berusaha
keluar dari jeruji yang menahan mereka. Aku takut.
“Vhey!!” Aku memutar tubuhku
kebelakang. Belum sampai dalam keadaan seimbang, Key sudah menubrukku.
Membuatku hampir membentur meja rias. Ia memelukku erat. Mengajakku menari,
berputar layaknya seorang penari balet.
“Kamu tahu Vhey, sekarang tanggal
berapa?” Aku menggeleng.
“Tanggal 10 Oktober. Sekarang sudah
setengah tahun aku jadian sama dia. Laki-laki yang sejak SMA aku suka. Kamu
tahu, sebenarnya dia satu sekolah sama kamu.”
‘Siapa?’ Tulisku dalam secarik
kertas. Dia mendengus, membanting tubuhnya di ranjang.
“Sampai kapan kamu mau berperan
sebagai orang bisu?! Aku sudah pulang, aku enggak
benci kamu. Aku kembali. Dan aku mau Vhey yang dulu. Vhey yang ceria, cerewet,
dan selalu punya topik-topik yang menarik. Bicaralah!!” semburnya
habis-habisan. Aku hanya diam mematung. Dia duduk menggantung kaki, air matanya
menetes tapi aku tak mampu menghapusnya. Aku juga ingin menjadi normal tapi rasa
ketakutanku akan kembali muncul dan membuat semuanya semakin berantakan. Aku
juga ingin menghabiskan waktu makan siang bersama dengan cerita-cerita menarik,
berteriak saat menonton konser, atau bernyanyi bersama di dalam Gereja. Mungkin
untuk sekarang, aku memang harus berlari dan terus berlari.
“Aku rindu saudaraku. Aku rindu
suaranya. Aku rindu semua cerita-ceritanya. Aku rindu Vhey. Aku mohon Vhey,
bicaralah! Bicaralah!! Aku mohon..” Ia menangis terisak. Suara sesegukannya
begitu memilukan. Aku duduk di lantai, menatap wajahnya yang tertunduk. Kuhapus
air mata yang terus keluar lalu menariknya dalam pelukanku. Di pundakku yang
basah, suara itu masih sangat menyayat. Aku ingin suara itu berhenti. Aku ingin
dia kembali ceria, tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaannya untuk kali
ini. Aku belum siap.
Maafkan
aku Key. Aku janji suatu saat nanti, kamu pasti bisa mendengar suaraku lagi
meskipun itu adalah suara yang terakhirku. Maafkan aku.
***
Aku kecewa. Aku marah. Aku ingin
berteriak sekeras-kerasnya, namun suara ini selalu berhenti di tenggorokan.
Kenyataan itu begitu menyakitkan sekaligus menamparku. Mengatakan padaku bahwa
keputusanku telah membuatku merasakan rasa sakit. Jadi, apakah aku masih bisa
digolongkan sebagai seorang pengecut?
Di bawah pohon ini, lima belas tahun
lalu, aku bertemu dengan anak kecil. Hari dimana aku kehilangan Key untuk
pertama kalinya. Anak laki-laki kecil itu memberiku sebuah jeruk. Dia
menunjukan banyak tempat indah yang bisa dilihat dari tempatku berdiri sekarang.
Aku menggeser kakiku seperti yang kulakukan dulu. Setiap geseran kaki, aku
mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Kurasa itu sama dengan kehidupan.
Banyak hal berbeda yang bisa dilihat dari sisi yang berbeda.
“Lihatlah! Bukankah bukit ini bagus
untuk berteriak?” katanya sebelum mengeluarkan teriakannya. Teriakan yang
menyakitkan telinga tapi mampu melegakan hati yang terluka. Ia berbalik
menghadapku, menarikku ke puncak bukit, menepuk-nepuk punggungku. Jujur, saat
itu aku kesal dengan tingkahnya yang seolah-olah sudah lama mengenalku. Tapi
aku tetap menurut. Aku juga ingin mencoba keberuntungan dengan berteriak di sini.
“Aku ingin Key kembali!!!” teriakku
keras bersamaan dengan air mata yang meluncur keluar. Aku jatuh. Kututup wajahku
dengan kedua tanganku sambil terus menangis terisak. Bukan kelegaan seperti
yang tadi kulihat di raut wajah anak itu, tapi rasa bersalah yang semakin
besar. “Hey, kamu kenapa? Apa tenggorokanmu sakit habis berteriak?” Aku
menggeleng. Pertanyaan itu begitu polos, sama seperti wajahnya. Dia akhirnya
ikut jongkok sepertiku. Mengelus-elus kepalaku, lalu ia menegakkan wajahku.
Samar-sama dengan mata terhalang airmata, aku bisa melihat dia merogoh saku
jaketnya. Mencari sesuatu dengan tangan kirinya yang bebas. Sementara tangan kanannya
masih bersandar di pipiku, membersihkan sisa-sisa airmata yang masih membasahi
pipi dan mataku.
“Sudahlah, berhenti nangisnya. Ini
aku punya jeruk. Kita bagi dua ya? Tunggu aku kupasin dulu.” Kami duduk saling
berhadapan. Dia membelah jeruk itu menjadi lalu memasukan sepotong yang sudah
dibersihkan ke dalam mulutku. Air mataku memang sudah berhenti, tapi suaraku
masih terbata-bata. Sejak saat itu aku menjadi dekat dengannya. Anak laki-laki
yang tidak akan mungkin aku lupakan.
Kenanganku berhenti disaat anak itu
menggenggam erat tanganku lalu mengantarkanku pulang. Aku membuka mataku
kembali. Di tempat ini aku berteriak. Aku ingin ada yang menepuk pundakku agar
aku bisa menemukan kembali suaraku. Keberanianku untuk berteriak seperti dulu.
Sontak aku membalikan badan saat aku merasakan ada yang menepuk pundakku dua
kali.
“Aku pikir kamu sudah lupa, tapi
kamu malah berdiri di tempat yang sama.” Ucapnya santai, manggut-manggut. Aku memang sengaja berdiri di sini, aku
ingin memohon kau kembali.
“Apa kamu sudah mencoba untuk berteriak
lagi? Seperti dulu.” Aku menggeleng. Dia sama seperti Key, hanya mampu menghela
nafas karna keputusanku.
“Cobalah. Aku ingin mendengar
suaramu seperti lima belas tahun lalu. Seperti saat kamu berteriak kemudian
menangis. Cobalah!” pintanya lembut.
Oh
Tuhan, kenapa harus laki-laki ini? Kenapa harus dia yang menjadi anak kecil
itu? Kenapa harus dia, orang yang pertama kali kusayangi dan pertama kali harus
kulupakan? Kenapa harus selalu dia yang bersamaku, bahkan ciuman pertamaku pun
bersamanya.
“Aku mengerti, kamu pasti masih
takut.” Katanya kemudian membuyarkan lamunanku.
***
Sudah semester dua sejak aku masuk
kuliah. Berarti sudah satu tahun sejak aku bertemu kembali dengannya di puncak
bukit itu. Berarti sudah satu tahun pula dia menjadi kakak seniorku. Perpisahan
itu akan datang sebentar lagi. Mungkin dulu aku memilih tidak langsung kuliah
agar aku tidak berada dalam satu panggung perpisahan dengannya.
Aku membalas senyumannya. Memutar
kursi dan duduk dihadapanku. Aku hanya bisa tersenyum, memperhatikan semua yang
dia lakukan. Menunjukan foto-foto hasil jepretannya.
“Bagaimana? Bagus?” tanyanya
antusias. Aku tersenyum kemudian mengangguk.
“Tunggu sebentar ya,” ucapnya lagi.
Aku buru-buru menulis sesuatu dibuku catatan kecilku, merobek dan menyerahkan
padanya. Ia membaca kertas itu dalam posisi antara meja dan kursi yang sedikit
terdorong.
“Ahh, bukan masalah serius. Tunggu
sebentar, aku titip kameraku ya.” Aku kembali mengangguk dengan patuh. Sambil
menunggunya, ku otak-atik kamera miliknya. Mataku membulat dengan semua foto
yang belum pernah kulihat. Kurasa ia memang tidak berniat untuk mencetaknya.
Mataku menemukan sederet tanggal yang jika diperhatikan itu adalah tanggal
kelulusan SMA. Tahun dimana ia menghilang dan Key kembali.
“Maaf menunggu,” ia kembali sesaat
setelah kukembalikan kamera miliknya ditempat semula. Aku bisa bernafas
lega. Ia muncul dengan gadis yang sangat
kukenal. Sebisa mungkin kulepas senyumanku, meski itu hanya formalitas ucapan
selamat.
Mereka berdua bertemu di fakultas
yang sama. Saling jatuh cinta setelah beberapa bulan saling kenal, dan setengah
tahun setelah mereka menjadi mahasiswa, mereka berpacaran. Memang Mikolah
orangnya. Kini sudah hampir satu setengah tahun mereka bersama. Tanggal 10
Oktober.
Key memelukku erat. Aku hanya
tersenyum, selalu berharap bahwa Key tidak pernah tahu kejadian sebelum dia
memiliki Miko. Tak lama kemudian, tiba-tiba Key teringat sesuatu. Setelah
meminta maaf karna harus meninggalkanku duluan, ia segera menarik Miko pergi.
Aku
tahu dan aku paham bahwa manusia adalah mahluk yang terus hidup sambil melukai
dan dilukai, tapi aku rasa manusia bukanlah mahluk yang dengan mudah membenci
orang lain. Dan aku tahu, Tuhan selalu menjadikan segala sesuatu indah pada
waktunya. Seandainya aku bisa mengatakan bahwa aku juga orang yang menyayangimu,
bahkan sebelum kau meninggalkan kenangan yang tak akan bisa kulupakan.
“Sampai saat ini aku masih
menyayangimu Miko.”
THE
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar