Rabu, 05 Maret 2014

My Shining Star


            Sekarang yang terdengar hanyalah suara jangkrik, malam telah datang. Riri bersiap-siap pergi ke rumah Shasa. Sekitar 25 menit kemudian Riri sudah sampai dan Shasa sudah menunggu di depan rumahnya. Malam itu di rumah Shasa hanya ada mereka berdua, orang tua Shasa sedang pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan.
            Buku pelajaran matematika sudah tertata rapi di ruang tamu, “Ayo Ri, belajarnya di sini aja sekalian bisa nonton tivi.“ Ajak Shasa. Mereka berdua pun langsung mengerjakan tugas matematika bersama, tapi tiba-tiba berulang kali Riri menggaruk-garuk kepalanya yang membuat Shasa terganggu.
            “Kamu kenapa Ri, belum keramas ya?” ledek Shasa.
            “Enak aja, aku enggak bisa nomer 4 loh, macet di tengah-tengah.” Protesnya.
            “Oo,” Ia terkekeh, menarik buku tugas milik Riri lebih dekat dengannya, “sini aku bantu, mungkin aku bisa.” Sepuluh menit sudah Shasa menjelaskan materi yang kurang dipahami Riri, namun Riri malah sama sekali tak memperhatikan, ia justru asik dengan acara tivi di sebelah Shasa.
            “Hhhu kamu ini Ri, dengerinlah! Capek aku jelasin enggak kamu peduliin. Enggak tahu sudah, kerjakan sendiri tugasmu!!”
            “Ya maaf, aku capek loh. Nonton tivi dulu ya?” rayu Riri dengan suara anak-anaknya yang manja. Shasa pun mengalah. Pagelaran acara musik yang sedang berlangsung membuat mereka berdua antusias. Teriakan mereka begitu histeris saat band-band ternama membawakan lagu yang mampu membuat badan sekaligus kepala bergerak. Namun semua itu berubah saat, panggung itu dimiliki 7SMe.
“Aduh, ngapain mereka tampil segala?! Sudah muka dan suara jelek, masih ditambah kelakuan mereka mirip banci.” Ejek Shasa habis-habisan dan langsung mendapat persetujuan dari Riri. Remote ia ambil alih, mengganti dengan acara lain. Ftv.
                                                            ***
            Di sekolah, saat jam pelajaran kosong berlangsung, hampir semua teman-teman sekelas mereka sibuk membahas boyband yang tampil klemarin, sebut saja mereka 7SMe. Bertolak belakang dengan Santa yang memilih untuk tiduran sambil mendengarkan lagu favoritnya.
            “Untunglah Sa,” Riri menghela nafas
            “Untung apa Ri?”
            “Untung Santa enggak ikut-ikut kayak mereka, mengidolakan para banci seperti mereka. Kalo aku sih males banget.” Kata Riri seolah itu adalah hal menjijikkan.
            “Iya aku juga, enggak akan aku nge-fans sama mereka.” Tiba-tiba Santa bangun dan mematikan ponselnya, “Jangan gitu, jangan bilang enggak aka, nanti kalian sendiri yang malah lebih parah dari mereka.” Kemudian pergi keluar kelas bersama Putri.
            “Ri, gimana kalo beneran kayak gitu?” Shasa sedikit cemas.
            “Enggak akan, tenang aja.” jawab Riri santai.
                                                                        ***
            Dua purnama udah berganti, apa yang diucapkan Santa terjadi. Shasa dan Riri sekarang sering bolak-balik ke warnet hanya untuk download lagu-lagu 7SMe, memburu foto-foto dan update terbaru tentang mereka. Sekarang tidak pernah dalam satu hari mereka tidak membahas tentang 7SMe, sampai kadang cerita-cerita Putri dan Santa terpotong hanya karena 7SMe terlintas di pikiran mereka. Sampai suatu saat Santa memberikan mereka berdua informasi tentang rencana konser 7SMe di Candie Café. Shasa dan Riri amat sangat senang, “San, kapan? berapa tiketnya?” Tanya Shasa beruntun,
“Kalo enggak salah tanggal 22 November jam 3 sore, tiketnya buat yang biasa 150 ribu buat yang vip 350 ribu.” Terang Santa ringan.
“Oo, loh kamu kok tau?” Balas Riri menyelidiki.
“Aku diberi tahu temenku, mungkin dia kira aku suka boyband gitu.”
“Oo, ya-ya makasih ya, Santa baik deh..” Santa memutar bola matanya sekilas, membalik badannya ke posisi semula dan kembali tidur di kelas seperti biasa. Shasa dan Riri memutar otak bagaimana caranya agar mereka mendapatkan uang minimal 150 ribu untuk menonton konser, karna orang tua mereka tidak akan mau memberikan mereka uang. Berhari-hari mereka bingung sampai Putri pun asal bicara, “Kerja aja gimana?” Seketika itu hasa dan Riri pun langsung berniat untuk menjual minuman dan makanan kecil sore hari. Tapi Santa menolak keras. Ia bangun dari tidurnya, memasang ekspresi yang bisa membuat teman-temannya diam, “Jangan! Aku enggak setuju kalo pake cara itu. Cuman karna ingin nonton konser, kalian sampai seperti itu? Semangat kalian bagus tapi jangan berlebihan kayak gitu juga. Belum tentu mereka lihat dan peduli sama kalian.”
                                                                        ***
            Shasa mencoba bilang ke ayahnya tentang keinginannya, seluruh tubuh Shasa sudah merinding takut kalo sampai ayahnya marah. Tapi entah apa yang terjadi, ayah Shasa sama sekali tidak marah, beliau justru bersedia membayar harga tiket untuk Shasa dan Riri. Tapi semua itu tidak ada yang gratis, Shasa harus memastikan bahwa konser itu terlaksana setelah ujian mereka, jika tidak maka perjanjian batal.  Shasa tampak sangat bahagia, Shasa lupa akan satu hal tanggal 22 adalah ujian bahasa Inggrisnya. Keesokkan harinya, Shasa langsung menceritakan kabar bahagianya pada teman-temannya.
“Sa, kamu lupa? tanggal 22 kita ujian bahasa Inggris.” Santa mencoba mengingatkan.
“Loh iya San, duhh gimana ini? Alamat enggak jadi.” Pikiran Shasa dan Riri kemana-mana, rencana mereka hancur sudah. Rasa kecewa Shasa dan Riri makin besar sewaktu mendenger sebagian temen-temen di kelasnya membicarakan rencana tanggal 22 besok.
                                                                        ***
            TANGGAL 22, dentingan lonceng terdengar jelas. Suasana sepi, diam dan serius memikirkan jawaban setiap soal yang ada. Tapi enggak buat Shasa, pikirannya penuh sama jam 3 sore begitu pula Riri yang juga bingung gimana cara buat lihat konser. Waktu menit-menit terakhir ujian, masih banyak soal yang belum mereka jawab dan akhirnya mereka jawab sama jawaban yang asal-asalan.
            Sepulang sekolah, Shasa langsung mengajak Riri untuk menonton konser dengan modal 100 ribu dari uang mereka berdua kalo digabungin. Sampai di Candie café yang suasananya sudah penuh dengan manusia-manusia penggemar 7SMe dan sebuah insiden terjad.. sepeda motor Shasa ditabrak mobil saat sedang mencari tempat parkir. Spontan Riri berteriak saat melihat temannya tergeletak di jalan.
“Shasaaaa….” Dua personil 7SMe yang ada di dalam mobil langsung turun dan membawa Shasa ke rumah sakit.
                                                                        ***
            “Ini semua gara-gara kalian, jangan mentang-mentang kalian artis jadi bisa ssenaknya nabrak orang, kalo dia kenapa-kenapa gimana?” Bentak Riri ke Ziam, salah seorang personil 7SMe. Sementara Erza masih mencoba menghubungi teman-temannya untuk tetap melanjutkan konser mereka
            “Kita minta maaf, kita akan biayain pengobatannya kok.” Seru Ziam mencoba menenangkan Riri.
            “Shasa enggak butuh uang kalian, orang tuanya mampu biayain semua pengobatannya. Yang jelas kalo ada sesuatu dengan Shasa, aku tuntut kalian.” Ancam Riri dengan sorot mata yang tajam. Suasana berubah semakin tegang saat orang tua Shasa datang, Riri bingung ketika orang tua Shasa meminta penjelasan kenapa Shasa sampai bisa tertabrak. Tiba-tiba, Erza angkat bicara, “Maaf om, ini semua salah saya. Saya yang menyetir mobil dan saya tidak melihat anak om yang berada di depan mobil saya.”
            “Kamu siapa?” tanya ayah Shasa.
            “Saya Erza personil 7SMe, sepertinya tadi anak om ingin menonton konser band saya.”
            “Apa?? Nonton konser?” Gemeretakan suara gigi geraham laki-laki bertubuh gempal itu membuat bulu roma Riri berdiri sebagian.
“Shasa, kamu sudah ingkar janji.” gumamnya. Dua puluh menit kemudian Shasa sudah diperbolehkan keluar dengan keadaan jalan harus dibantu dengan tongkat, “Ayah?” Hanya rasa takut yang ada difikiran Shasa saat itu.
            “Kamu enggak pa-pa? Kenapa kamu ingkar janji? Kenapa kamu nekat buat lihat band sampai segitunya? Tadi ujianmu gimana, pasti nilaimu hancur?!”
                                                                        ***
            Sudah seminggu lebih, kaki Shasa belum kunjung sembuh. Kini Shasa dan Riri menyadari satu hal, mengingkari janji kepada orang tua dan memaksakan keinginan membuat mereka merasa rugi dan kecewa. Hasil ujian bahasa Inggris mereka tidak memuaskan sama sekali, masih ditambah rasa menyesal Shasa yang sudah membuat orang tua terutama ayahnya kecewa.  Hari-hari Shasa tidak seperti dulu lagi, wajah sedih sering menghampirinya.
                                                                        ***
            Rasa bersalah pun masih sering mendatangi hati dan fikiran Erza, diwaktu luangnya sekarang Erza sering datang ke rumah Shasa meskipun hanya sekedar menanyakan perkembangan kesehatannya. Rasa bersalah Erza lama-lama berubah menjadi rasa yang sulit diartikan maksudnya. Begitu pula Ziam yang sering mencari alasan untuk bertemu dengan Riri, entah apa yang membuat Ziam seorang artis tertarik dengan seorang pelajar SMA biasa.

            Langit di malam yang cerah, saat semua orang kelihatan senang karna kaki Shasa audah sembuh, tiba-tiba Shasa dan Riri mendapat pesan singkat dari nomer yang tidak mereka kenal. Mereka ditunggu di gelora dekat rumah Shasa. Shasa dan Riri pun pergi ditemani Santa dan Arga. Lima belas menit kemudian Shasa dan Riri masuk lebih dulu, di dalam gelora Erza dan Ziam sudah menunggu. Lalu dalam hitungan sepersekian detik, ada spanduk yang bertuliskan ‘I LOVE YOU.. WOULD YOU BE MY GIRL ??’ terbuka. Jantung mereka seakan berhenti berdetak dan sekujur tubuh mereka kaku, Santa membangunkan mereka,
            “Hey, kok malah diam? ditembak sama artis tuh. Buruan dijawab keburu berubah pikiran mereka.” Ledek Santa. Perlahan Riri berjalan ke arah Ziam sambil berkata, “Yes, I want.“ tidak ada percakapan setelah itu. Ziam dan Riri hanya salaing pandang untuk waktu yang lama. Sementara kaki Shasa masih kaku, gadis itu masih berdiri di tempat yang sama. Mengijinkan sang pangeran yang datang menghampirinya.
“Would you be my girl ?”
I will regret for a second time if I refuse your love. Yes, I want I want.” Serunya penuh keyakinan.  “From the first you are my shining star even though you're not have and now you be mine.” Lanjut Shasa dalam genggaman tangan Erza.

The End
 
My Shining Star


Cover Majalah Sekolah Edisi Ke 5
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar: