Sekarang
yang terdengar hanyalah suara jangkrik, malam telah datang. Riri bersiap-siap pergi
ke rumah Shasa. Sekitar 25 menit kemudian Riri sudah sampai dan Shasa sudah menunggu
di depan rumahnya. Malam itu di rumah Shasa hanya ada mereka berdua, orang tua
Shasa sedang pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan.
Buku
pelajaran matematika sudah tertata rapi di ruang tamu, “Ayo Ri, belajarnya di
sini aja sekalian bisa nonton tivi.“ Ajak Shasa. Mereka berdua pun langsung
mengerjakan tugas matematika bersama, tapi tiba-tiba berulang kali Riri menggaruk-garuk
kepalanya yang membuat Shasa terganggu.
“Kamu
kenapa Ri, belum keramas ya?” ledek Shasa.
“Enak aja,
aku enggak bisa nomer 4 loh, macet di tengah-tengah.” Protesnya.
“Oo,” Ia
terkekeh, menarik buku tugas milik Riri lebih dekat dengannya, “sini aku bantu,
mungkin aku bisa.” Sepuluh menit sudah Shasa menjelaskan materi yang kurang
dipahami Riri, namun Riri malah sama sekali tak memperhatikan, ia justru asik dengan
acara tivi di sebelah Shasa.
“Hhhu kamu ini
Ri, dengerinlah! Capek aku jelasin enggak kamu peduliin. Enggak tahu sudah, kerjakan
sendiri tugasmu!!”
“Ya maaf,
aku capek loh. Nonton tivi dulu ya?” rayu Riri dengan suara anak-anaknya yang
manja. Shasa pun mengalah. Pagelaran acara musik yang sedang berlangsung
membuat mereka berdua antusias. Teriakan mereka begitu histeris saat band-band
ternama membawakan lagu yang mampu membuat badan sekaligus kepala bergerak.
Namun semua itu berubah saat, panggung itu dimiliki 7SMe.
“Aduh, ngapain mereka tampil segala?! Sudah muka dan suara
jelek, masih ditambah kelakuan mereka mirip banci.” Ejek Shasa habis-habisan
dan langsung mendapat persetujuan dari Riri. Remote ia ambil alih, mengganti
dengan acara lain. Ftv.
***
Di sekolah,
saat jam pelajaran kosong berlangsung, hampir semua teman-teman sekelas mereka
sibuk membahas boyband yang tampil klemarin, sebut saja mereka 7SMe. Bertolak
belakang dengan Santa yang memilih untuk tiduran sambil mendengarkan lagu favoritnya.
“Untunglah
Sa,” Riri menghela nafas
“Untung apa
Ri?”
“Untung
Santa enggak ikut-ikut kayak mereka, mengidolakan para banci seperti mereka.
Kalo aku sih males banget.” Kata Riri seolah itu adalah hal menjijikkan.
“Iya aku
juga, enggak akan aku nge-fans sama mereka.” Tiba-tiba Santa bangun dan
mematikan ponselnya, “Jangan gitu, jangan bilang enggak aka, nanti kalian
sendiri yang malah lebih parah dari mereka.” Kemudian pergi keluar kelas
bersama Putri.
“Ri, gimana
kalo beneran kayak gitu?” Shasa sedikit cemas.
“Enggak akan,
tenang aja.” jawab Riri santai.
***
Dua purnama
udah berganti, apa yang diucapkan Santa terjadi. Shasa dan Riri sekarang sering
bolak-balik ke warnet hanya untuk download lagu-lagu 7SMe, memburu foto-foto dan
update terbaru tentang mereka. Sekarang tidak pernah dalam satu hari mereka tidak
membahas tentang 7SMe, sampai kadang cerita-cerita Putri dan Santa terpotong
hanya karena 7SMe terlintas di pikiran mereka. Sampai suatu saat Santa memberikan
mereka berdua informasi tentang rencana konser 7SMe di Candie Café. Shasa dan
Riri amat sangat senang, “San, kapan? berapa tiketnya?” Tanya Shasa beruntun,
“Kalo enggak salah tanggal 22 November jam 3 sore, tiketnya
buat yang biasa 150 ribu buat yang vip 350 ribu.” Terang Santa ringan.
“Oo, loh kamu kok tau?” Balas Riri menyelidiki.
“Aku diberi tahu temenku, mungkin dia kira aku suka boyband
gitu.”
“Oo, ya-ya makasih ya, Santa baik deh..” Santa memutar bola
matanya sekilas, membalik badannya ke posisi semula dan kembali tidur di kelas
seperti biasa. Shasa dan Riri memutar otak bagaimana caranya agar mereka mendapatkan
uang minimal 150 ribu untuk menonton konser, karna orang tua mereka tidak akan
mau memberikan mereka uang. Berhari-hari mereka bingung sampai Putri pun asal
bicara, “Kerja aja gimana?” Seketika itu hasa dan Riri pun langsung berniat untuk
menjual minuman dan makanan kecil sore hari. Tapi Santa menolak keras. Ia
bangun dari tidurnya, memasang ekspresi yang bisa membuat teman-temannya diam,
“Jangan! Aku enggak setuju kalo pake cara itu. Cuman karna ingin nonton konser,
kalian sampai seperti itu? Semangat kalian bagus tapi jangan berlebihan kayak
gitu juga. Belum tentu mereka lihat dan peduli sama kalian.”
***
Shasa
mencoba bilang ke ayahnya tentang keinginannya, seluruh tubuh Shasa sudah
merinding takut kalo sampai ayahnya marah. Tapi entah apa yang terjadi, ayah Shasa
sama sekali tidak marah, beliau justru bersedia membayar harga tiket untuk
Shasa dan Riri. Tapi semua itu tidak ada yang gratis, Shasa harus memastikan
bahwa konser itu terlaksana setelah ujian mereka, jika tidak maka perjanjian
batal. Shasa tampak sangat bahagia,
Shasa lupa akan satu hal tanggal 22 adalah ujian bahasa Inggrisnya. Keesokkan harinya,
Shasa langsung menceritakan kabar bahagianya pada teman-temannya.
“Sa, kamu lupa? tanggal 22 kita ujian bahasa Inggris.” Santa
mencoba mengingatkan.
“Loh iya San, duhh gimana ini? Alamat enggak jadi.” Pikiran
Shasa dan Riri kemana-mana, rencana mereka hancur sudah. Rasa kecewa Shasa dan
Riri makin besar sewaktu mendenger sebagian temen-temen di kelasnya membicarakan
rencana tanggal 22 besok.
***
TANGGAL 22,
dentingan lonceng terdengar jelas. Suasana sepi, diam dan serius memikirkan
jawaban setiap soal yang ada. Tapi enggak buat Shasa, pikirannya penuh sama jam
3 sore begitu pula Riri yang juga bingung gimana cara buat lihat konser. Waktu
menit-menit terakhir ujian, masih banyak soal yang belum mereka jawab dan
akhirnya mereka jawab sama jawaban yang asal-asalan.
Sepulang
sekolah, Shasa langsung mengajak Riri untuk menonton konser dengan modal 100 ribu
dari uang mereka berdua kalo digabungin. Sampai di Candie café yang suasananya sudah
penuh dengan manusia-manusia penggemar 7SMe dan sebuah insiden terjad.. sepeda
motor Shasa ditabrak mobil saat sedang mencari tempat parkir. Spontan Riri berteriak
saat melihat temannya tergeletak di jalan.
“Shasaaaa….” Dua personil 7SMe yang ada di dalam mobil langsung
turun dan membawa Shasa ke rumah sakit.
***
“Ini semua gara-gara
kalian, jangan mentang-mentang kalian artis jadi bisa ssenaknya nabrak orang,
kalo dia kenapa-kenapa gimana?” Bentak Riri ke Ziam, salah seorang personil
7SMe. Sementara Erza masih mencoba menghubungi teman-temannya untuk tetap
melanjutkan konser mereka
“Kita minta
maaf, kita akan biayain pengobatannya kok.” Seru Ziam mencoba menenangkan Riri.
“Shasa enggak
butuh uang kalian, orang tuanya mampu biayain semua pengobatannya. Yang jelas
kalo ada sesuatu dengan Shasa, aku tuntut kalian.” Ancam Riri dengan sorot mata
yang tajam. Suasana berubah semakin tegang saat orang tua Shasa datang, Riri
bingung ketika orang tua Shasa meminta penjelasan kenapa Shasa sampai bisa
tertabrak. Tiba-tiba, Erza angkat bicara, “Maaf om, ini semua salah saya. Saya yang
menyetir mobil dan saya tidak melihat anak om yang berada di depan mobil saya.”
“Kamu
siapa?” tanya ayah Shasa.
“Saya Erza
personil 7SMe, sepertinya tadi anak om ingin menonton konser band saya.”
“Apa??
Nonton konser?” Gemeretakan suara gigi geraham laki-laki bertubuh gempal itu
membuat bulu roma Riri berdiri sebagian.
“Shasa, kamu sudah ingkar janji.” gumamnya. Dua puluh menit
kemudian Shasa sudah diperbolehkan keluar dengan keadaan jalan harus dibantu
dengan tongkat, “Ayah?” Hanya rasa takut yang ada difikiran Shasa saat itu.
“Kamu enggak
pa-pa? Kenapa kamu ingkar janji? Kenapa kamu nekat buat lihat band sampai segitunya?
Tadi ujianmu gimana, pasti nilaimu hancur?!”
***
Sudah seminggu
lebih, kaki Shasa belum kunjung sembuh. Kini Shasa dan Riri menyadari satu hal,
mengingkari janji kepada orang tua dan memaksakan keinginan membuat mereka merasa
rugi dan kecewa. Hasil ujian bahasa Inggris mereka tidak memuaskan sama sekali,
masih ditambah rasa menyesal Shasa yang sudah membuat orang tua terutama ayahnya
kecewa. Hari-hari Shasa tidak seperti
dulu lagi, wajah sedih sering menghampirinya.
***
Rasa
bersalah pun masih sering mendatangi hati dan fikiran Erza, diwaktu luangnya
sekarang Erza sering datang ke rumah Shasa meskipun hanya sekedar menanyakan
perkembangan kesehatannya. Rasa bersalah Erza lama-lama berubah menjadi rasa
yang sulit diartikan maksudnya. Begitu pula Ziam yang sering mencari alasan untuk
bertemu dengan Riri, entah apa yang membuat Ziam seorang artis tertarik dengan
seorang pelajar SMA biasa.
Langit di malam
yang cerah, saat semua orang kelihatan senang karna kaki Shasa audah sembuh,
tiba-tiba Shasa dan Riri mendapat pesan singkat dari nomer yang tidak mereka
kenal. Mereka ditunggu di gelora dekat rumah Shasa. Shasa dan Riri pun pergi
ditemani Santa dan Arga. Lima belas menit kemudian Shasa dan Riri masuk lebih
dulu, di dalam gelora Erza dan Ziam sudah menunggu. Lalu dalam hitungan
sepersekian detik, ada spanduk yang bertuliskan ‘I LOVE YOU.. WOULD YOU BE MY
GIRL ??’ terbuka. Jantung mereka seakan berhenti berdetak dan sekujur tubuh
mereka kaku, Santa membangunkan mereka,
“Hey, kok malah
diam? ditembak sama artis tuh. Buruan dijawab keburu berubah pikiran mereka.” Ledek
Santa. Perlahan Riri berjalan ke arah Ziam sambil berkata, “Yes, I want.“ tidak
ada percakapan setelah itu. Ziam dan Riri hanya salaing pandang untuk waktu
yang lama. Sementara kaki Shasa masih kaku, gadis itu masih berdiri di tempat
yang sama. Mengijinkan sang pangeran yang datang menghampirinya.
“Would you be my girl ?”
“I will regret for a second time if I refuse your love. Yes, I want
I want.” Serunya penuh keyakinan. “From the first you are my shining star even though you're not have
and now you be mine.” Lanjut Shasa dalam genggaman
tangan Erza.
The End
| My Shining Star |
| Cover Majalah Sekolah Edisi Ke 5 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar