Rabu, 05 Maret 2014

Pelangi Lunar


              Ini sudah tahun ketiga dan aku masih saja berharap bisa melihatnya lagi. Bersandar di kusen jendela dan menatap langit abu-abu. Rintik-rintik hujan mulai menghantam tanah berumput di depan kamarku. Kututup jendela dan beranjak ke tempet tidur yang terlihat lebih hangat dari biasanya. Meringkuk sendirian dengan balutan selimut tebal yang aku rasa bisa membuatku terbang sesaat.
                                                                            ***
              “Saya, kamu mau tidur sampai jam berapa?”
              “Iya-iya ma.. Bentar.” Sahutku dari balik selimut. Kulirik jam beker, setengah lima sore. Selimut kusibakkan dan mulai bertugas.
              “Bangun juga akhirnya.” Sindirnya dari atas sofa. Mamaku memang punya kebiasaan menyebalkan, setiap pembantu pergi anak selalu dijadikan pembantu seperti kisah Cinderella. Sementara dirinya sendiri asik minum teh sambil membaca majalah seperti sekarang. “Sekarang apa?” tanyaku kesal. Jari telunjuknya yang panjang dan mahal, menujuk keluar. Kakiku melangkah berat, dari celah pintu yang terbuka, kepalaku keluar sekilas mirip seperti kepala kura-kura.

              “Apa?” Setumpuk selang tertangkap di sudut mataku.
              Selang kuarahkan kemana-mana, bahkan ke jalan beraspal di depan rumah. Air terus mengucur membentuk hujan di jalan yang seketika kemudian langsung kutarik dan kulempar jauh ke dalam rumah. Berlahan aku mendekat ke arah pagar rumah, kucengkram kuat trali-trali besi berwarna putih.
              “Kamu enggak pa-pa? Maaf ya.” Aku cuman bisa diam dari balik pagar tanpa ada reaksi lebih dari itu.
              “Ahh enggak pa-pa. Lain kali hati-hati ya.” Sahutnya lembut lalu pergi.
                                                                            ***
              “Saya, kamu mau tidur sampai jam berapa? Kamu enggak berangkat les?” Suara yang selalu membuat telingaku sakit. Raungannya mirip suara singa kelaparan.
              “Iya ma, ini udah bangun.” Kuraih handuk dan melangkah ke kamar mandi. Air kubiarkan membasahi rambut baruku. Aku yakin mama pasti marah saat melihat rambutku yang awalnya panjang dan hitam sekarang berubah pendek dan kusemir sedikit sembur merah, meskipun enggak kelihatan kalo enggak di bawah sinar matahari. Aku tertawa geli membayangkan reaksi mama nanti.
              Aku gadis remaja. Setengah tahun lagi mungkin aku bisa lulus SMA dan mulai kehidupanku bersama ayah di pulau paling barat. Aku jelaskan, mereka bukan bercerai hanya terlalu fokus dengan pekerjaan mereka sendiri-sendiri dan aku sebagai anak tunggal, terlalu fokus dengan kehidupan remajaku.
              “Mbak mau makan apa?” tanya bik Sum, pembantu kesayangan mama dari dulu
              “Enggak bik, mau langsung berangkat aja.” Tolakku pelan.
              “Ma, mama masih ngelarang pak Bon buat nyiram halaman depan, kan?” Kujejalkan kakiku ke dalam sepatu kets merah.
              “Ma?” teriakku.
              “Iya, sayang.” Balas wanita berbaju hitam dari ruang keluarga.


              Pelajaran kimia. Pelajaran dengan nilai terburuk dari pelajaran lainnya. Duduk di bangku paling belakang bareng Raya dan Riska. Sebenarnya dua orang itu sudah paham dengan kimia, apalagi Raya, dia bahkan sudah pernah mengikuti olimpiade kimia. Pak botak mulai mendongeng dengan rumus-rumus kimianya. Raya dan Riska sama. Mereka berdua asik berkutat dengan soal dibuku mereka. Sedangkan aku …
              Isi kotak pensil sudah ku obrak-abrik tapi sebatang pensil pun enggak ada. “Betss, Ray, pinjem pensil.” Bisikku.
              “Lagi ku pake, adanya mekanik mau?” Aku menggeleng.
              “Kamu pake yang mekanik aja, aku yang itu.”
              “Nih buat kamu, pensilkan?” potong Bastian. Kepalaku kembali ke posisi semula, “Makasih Bas.” Beberapa saat setelah laki-laki itu berbalik badan, aku melirik tajam ke arah mereka yang sibuk cekikikan sendiri. Kenapa mereka berdua begitu bahagia setiap kali aku berbicara dengan Bastian, memang siapa Bastian? Dihh!!


              “Ciee Ciee Saya ..” ledek Raya seperti biasa. Aku enggak peduli dan terus menjejalkan kripik singkong ke mulutku yang sudah penuh
              “Udah Ray, kamu seneng banget godain Saya.”
              “Gimanapun kamu nyoba buat deketin Bastian ke Saya, Saya tetep enggak bakalan ngerubah pendiriannya. Ya kan Ya?” sambung Riska. Aku menggangguk menanggapi pertanyaan Riska.
              “Kemarin aku mimpiin dia lagi. Orang gila, pangeran iblis itu lagi.” Tangan Riska merangkul pundakku cepat, sementara Raya menggenggam tangan kananku. Aku yakin, sekeras apapun Raya menyuruhku untuk melupakan orang gila itu, semua itu hanya karna dia terlalu peduli. Airmataku menetes, membasahi kulit atas tanganku. Dingin– begitu dingin. “Kata orang, saat orang yang ditunggunya datang, airmata akan jatuh. Kapan aku bisa ngerasain dinginnya airmata itu?” Bahkan di telingaku sendiri, suaraku terdengar begitu sedih. Apa iya, aku benar-benar enggak akan bisa ngelupain dia, meskipun ada Bastian yang juga nunggu aku?
                                                                            ***
              Diulang tahunku yang ke 18, aku ingin mendengar sekaligus melihat wajahnya lagi. Langit mulai berubah jingga. Aku membanting jendela kamar dan melesat ke halaman depan. “Pak Bon jangan!!!” teriakku keras dari depan pintu. “Tapi mbak?”
              “Pak Bon lupa atau mau dipecat? Aku kan udah bilang, jangan nyiram halaman depan, biar aku. AKU!!” protesku. Pak Bon menunduk ketakutan lalu nyerahin selang, ku rampas dan mulai dengan kebiasaanku.  Bukan karna aku takut dimarahi mama atau sudah kebiasaan, tapi aku selalu berharap kejadian itu terulang lagi. Saat aku menyiram seseorang yang kemudian aku sukai, sampai sekarang. Aku harap dihari ulang tahunku ini, dia bisa kembali, muncul di depan pagar rumahku dan dengan lembutya bilang, ‘Lagi siram-siram lagi?’ Sampai kapan aku terus begini? Sebenarnya aku juga capek tapi setiap kali aku berusaha buat ngelupain dia, orang itu seperti yang tahu dan nyegah aku, seperti tahun lalu saat ulang tahun ke 17ku.

             
              Kuperhatikan satu persatu hadiah yang masih lengkap dengan pembungkusnya. Tertumpuk rapi di atas meja belajar. Meskipun bentuknya berbeda, pembungkusnya selalu sama, biru-putih volcadot. Selalu dan selalu itu. Gantungan ponsel, bentuk lumba-lumba dari kaca itupun masih menggantung dan sama sekali belum pernah aku pake. Aku takut kalo sampai gantungan itu hilang. “Mbak, ada mbak Riska sama mbak Raya.” Suara si mbok menghilangkan ingatanku dan menahan airmata yang hampir keluar.
              “Iya, mbok.” Sahutku lesu.
              Dua gadis itu sudah berdiri dengan kue tart kecil, menyambut wajahku yang masam dengan ucapan, “Selamat ulang tahun Saya..” Aku tiup api lilin yang menyulut kesana-kemari. Asap putih itu akan segera hilang. Mereka berdua memelukku erat seolah bisa merasakan ada yang aku tunggu. “Ikut kita yuk, makan kuenya entaran aja, gampang.” Ajak Raya semangat. Tanpa pikir panjang kali lebar lagi, aku langsung setuju.
              “Say, dia masih sering telepon kamu?” pertanyaan Riska membuka keheningan di antara kami. Kutarik pandanganku kembali ke bumi, “Setahun sekali atau aku bener-bener butuh orang.” Jawabku singkat dan kembali menatap langit.
              “Cuman karna itu kamu masih terus nungguin dia?”
              “Entahlah.”
              “Aku punya ide, gimana kalo kamu ganti nomer hape aja, mungkin dia masih nyimpen nomermu. Kalo kamu ganti nomer dia enggak bakalan tahu kan?” Seketika aku tertawa lebar. “Ngapain ketawa, aku kan cuman ngasih saran?” protes Riska.
              “Aku sudah ganti nomer tiga kali dan dia tetep aja tahu. Makanya aku enggak mau ganti nomer lagi. Dia bener-bener kayak paranormal.”
              Hal itu yang selama ini terus muter-muter di pikiranku. Hal aneh. Kenapa dia masih bisa tahun nomer telepon ponselku, selalu tahu kalo aku lagi ada masalah dan setiap hari ulang tahunku disaat aku udah mau tidur dia pasti telepon dan cuman bilang: Selamat ulang tahun, terima kasih dan maaf. Hanya itu.
              “Pulang ayo, udah malam. Enggak ada pelangi juga.” Ajakku malas lalu beranjak pergi. “Wahh orang ini udah beneran enggak waras. Nyarik pelangi malem-malem.”  Gerutu Raya.
              Malam semakin larut. Mereka berdua juga baru aja pulang. Tirai jendela sengaja enggak aku tutup, aku masih ingin melihat pelangi itu lagi hari ini. Atau bisakah aku mendengar suara laki-laki itu sekali lagi? Lampu ponselku berkedip-kedip, bunyi getaran di meja pun terdengar jelas dan belum bisa mengalahkan suara detik jam yang menguasai kamar. Nomer tidak dikenal. “Hallo? Ini Agha?” sergahku seketika.
              “Agha? Siapa itu? Ini aku Bastian. Selamat ulang tahun ya, maaf baru bisa ngucapin sekarang.”
              “Hmm..” balasku singkat, sangat singkat. Kututup lalu kulempar ke samping bantal. “Kalo hari ini enggak ditelpon, berarti mulai besok harus ngelupain dan nyambut Bastian. Tapi apa itu enggak jahat buat Bas?” batinku. Bantal kembali kulempar saat suara getaran ponsel merambat sampai ditelingaku. “Hallo? Ini Agha?”
              “Iya ini aku. Ternyata kamu masih inget. Selamat ulang tahun ..”
              “Maaf dan terima kasih kan? Kamu mau bilang itu lagi kan?” tandasku sambil duduk bersila di ranjang. Dari balik ponsel, aku bisa mendengar kalo saat ini dia tertawa. “Aku tahu, sekarang kamu pasti lagi ketawa kan? Aku juga pingin lihat tawamu lagi. Kamu sadar enggak, kalo kamu itu gantungin aku lama banget. Aku juga pingin lepas dari kamu, tapi enggak pernah bisa.”
              “Kenapa?”
              “Perhatian kamu. Kenapa kamu bisa tahu kalo aku sedih dan pasti nelpon aku, Sadar enggak itu bikin aku gak bisa lepas dari kamu. Stop buat kayak gini, aku mohon kembali.”
              “Aku tahu kamu pasti lagi nangis sambil dekap boneka anjing. Jendela kamar pasti kebuka, kan?” Pandanganku langsung tertuju tajam ke jendela yang terbuka. Semuanya gelap. Aku pikir sekarang dia ada di depan rumah, tapi enggak.
              “Coba lihat ke atas.” Ucapnya yang membuyarkan konsentrasiku. Pelangi lunar. Akhirnya, aku bisa melihat pelangi itu lagi. Langit berubah cerah dengan bulan purnama yang besar. “Kenapa kamu bisa tahu?” selidikku dengan suara yang mulai berat. Hening. Suara besar itu berubah menjadi bunyi panjang yang menyakitkan. “Selalu begini. Menghilang dan menghilang lagi.”
                                                                            ***
            Kata orang, kebahagiaan selalu menunggu di tempat-tempat yang sudah dimakan kesedihan? Sementara aku disini masih mencari tempat dengan bunga-bunga yang akan mekar tahun ini. Langit dengan semburan awan-awan putih, seolah memberiku petunjuk kalo sebentar lagi jalan beraspal ini akan basah dan kembali kering saat sinar matahari mulai menyapa. Tolong beritahu aku, kegelapan itu seperti apa? Cahaya itu seperti apa? Dan saat aku tahu, aku akan maju lalu menjadi kuat. Tapi aku sudah terbiasa sendiri, menunggu sesuatu, merasakan kesepian bersama cahaya bulan dan goresan pelangi.

            “Selamat pagi Saya..” Raya merangkul sekaligus menertawaiku saat dia tahu aku sedang menggambar, gambaran anak TK. “Kamu masih suka gambar pelangi? Please deh Say, kamu ini udah gede, udah SMA. Jangan gambar pelangi lagi kenapa, ganti gitu.”
            “Tapi aku suka pelangi. Orang itu kayak pelangi.”
            “Orang itu? Siapa? Agha lagi?” Aku mengangguk. Mungkin telinga orang ini sudah membusuk karna sering aku racuni dengan cerita seseorang yang enggak pernah dia lihat. “Ray, kemarin dia telepon aku. Dan untuk pertama kali, aku bisa ngobrol sama dia lebih dari 1 menit. Dan saat itu ada pelangi. Buat aku dia kayak pelangi.”
            “Orang itu pelangi?”
            “Pelangi itu selalu muncul saat hujan berhenti dan enggak pernah bertahan lama pasti langsung hilang. Buat aku dia sama kayak pelangi lunar. Selalu muncul di malam hari, selalu tahu waktu aku sedih dan enggak akan pernah bertahan lama. Pasti menghilang.”
            “Say, kejadian apa aja yang udah kamu lalui sama Agha? Jangan bilang kamu cuman ketemu sekali didepan gerbang itu?”. Aku menunduk. Kugigiti ujung ibu jariku sampai warnanya memerah.
                                                                            ***
            “Saya, besok aku sama Agha mau datang ke pesta ulang tahunnya Maia, kamu mau ikut?” ajak Bram dari atas jok motornya.
            “Aku? Aku enggak kenal sama pacarmu Bram.”
            “Kamu sama Agha aja.”
            “Iya kalo Aghanya mau, kalo enggak?”
            “Kalo kamu mau aku jemput, kalo enggak ya sudah.” Sambar Agha dengan nada seperti biasanya. Laki-laki ini maunya apa? Dia enggak pernah mau ambil pusing dan enggak peduli urusan orang lain. Menurut aku dia itu laki-laki yang misterius, pendiam, tapi sekalinya dia ngomong pasti berubah jadi tokoh motivator. Panjang banget ceramahnya.

            Setengah lima sore, Agha udah ngejogrok bareng Bram di depan gerbang. Aku buru-buru keluar, aku enggak mau bikin dia marah lagi. Meski dia enggak pernah nunjukin marahnya, semuanya bisa terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam, saat itu jelas dia marah. “Lama banget? Agha, aku suruh masuk buat panggil kamu dia enggak mau. Katanya buat apa,” sindir Bram.
            “Ayo naik.” Suara Agha selalu membuatku tersenyum sendiri. Suara dan sikapnya yang dingin itu menjadi alasan kenapa aku betah di dekatnya.
            Rintik hujan mulai membasahi kaca helm kami. Jalanan beraspal ini juga mulai lebih hitam. Samar-samar aku seperti mendengar Agha bicara sesuatu,
            “Kamu bilang apa?” tanyaku memepertegas. “Enggak, aku cuman mau bilang, jangan pikir aku sama kayak orang lain.” Telingaku sekarang cukup mampu mendengar suaranya dari balik guyuran hujan. Agha memutar arah dan mengantarkanku pulang. Membatalkan tujuan awal kami untuk datang ke ulang tahun Maia. Itu lebih baik daripada datang dengan penampilan awut-awutan. “Maksudnya?"
            “Jangan sekali-kali nyabuk, aku enggak suka. Kalo tangan kamu kedinginan masukin aja ke saku samping jaketku.” Tegasnya.

            Suara raungan knalpot sudah lama berhenti di pinggir warung lalapan. Aku dan dia duduk berdua, saling berhadapan. Peduli apa ini warung atau restoran, yang penting sekarang aku ditraktir sama laki-laki keren ini.
            Beberapa saat setelah pesananku datang– ayam goreng, dia langsung mengangkat piring makan dan minumannya ke meja lain yang jauh dari tempatku. Sekelebat ingatan muncul di otakku, “Tuhan aku lupa, kalo dia enggak suka ayam.” Sekarang takdir. Seperti biasa lagi, harus makan sendiri. Melihatnya makan dari jauh sangat enggak menyenangkan, menyebalkan iya.

                                                                            ***

            Ujian melelahkan berakhir sudah, tinggal menunggu pengumuman dan aku siap terbang ke tempat ayah. Meninggalkan semua kenangan di kota ini, termasuk kenangan akan Agha. “Say, kamu jadi pindah ke tempat ayah kamu?” Aku menatap wajah Raya dan Riska lekat-lekat. Jujur, aku juga enggak mau pisah dengan mereka, tapi aku juga harus nepatin janji aku ke ayah, sebuah janji kecil– dulu.
            “Kita pasti kangen kamu. Kehilangan sosok Saya yang menyebalkan dan terlalu setia.” Ledek Raya. Aku tersenyum hambar.
            “Aku juga pasti kangen kalian. Kangen semua hal tentang kalian. Tapi kita masih ketemu waktu libur kuliah kan?”
            “Tentu.”
                                                                            ***
            Di kamar bernuansa biru, kamar baruku. Segalanya terasa asing. Pelukan terakhir mereka masih melekat. Pengumuman itu sudah lama berakhir. Kuliahku juga sudah berjalan beberapa bulan. Hidup baruku dimulai. Termasuk nomer ponselku juga. Ya, semoga dengan aku ganti nomer, dia enggak akan bisa nelpon aku dan aku bisa belajar ngelupain dia. Satu yang aku harap disini, aku masih bisa melihat pelangi lunar itu lagi. Pelangi indah yang menggores di atas kanvas yang berbeda, konvas yang lebih lebar berwarna ungu kehitaman– Langit.
            “Hallo siapa?” sapaku
            “Kamu masih suka lihat langit, apalagi pelangi. Iya kan? Kalo iya, tolong lihat keluar sekarang.” Aku melompat dari atas ranjang, hampir terjungkal karna kakiku sempat tersangkut di selimut. “Ada apa?” tanyaku lagi.
            “Pelangi..”
            “Hallo kamu siapa? Agha?” desakku beruntut. Suara itu berubah lagi menjadi suara panjang yang menyakitkan telinga. Kumatikan ponselku lalu kuletakkan di meja. Duduk mengayun kaki di kusen jendela. Melihat pelangi dengan puas, meyakinkan mata sampai pelangi itu benar-benar menghilang.
            “Saat kamu menghubungiku, kamu selalu tertawa dan itu bukan lelucon yang aku harapkan. Bahkan airmata penyesalan terasa begitu berbeda. Masih kuingat saat aku terluka dan kamu mengatakan agar aku selalu percaya akan Tuhan. Kamu bilang Tuhan akan selalu memperhatikan kita, seperti kita yang selalu memperhatikan goresan langit itu.” Kataku bersama mata yang mulai enggak sanggup menahan airmata.

            Di dalam angin, aku selalu melihat dunia yang aku impian. Dunia yang selalu muncul dalam lelap tidurku.  Meskipun aku sering jatuh dari kusen ini dan aku menerima kekosongan di hatiku. Apakah kau masih bisa tersenyum kecil buat aku? Seperti senyuman manis dalam mimpiku.
            Setiap pasangan manusia mencari tempat persembunyian. Sementara aku tidak. Aku pikir itu akan lebih menyakitkan. Saat aku hanya bisa bertahan satu detik lebih lama darimu, karna aku adalah sesuatu yang sangat berharga buatmu. Itulah yang aku mengerti selama ini. Apa aku harus seperti hujan yang terus bersedih agar bisa melihatmu? lalu melepaskanmu saat aku sudah lebih lega? Kau pelangi malamku. Pelangi lunarku. Dan tidak akan pernah berubah untuk selamanya, karna aku yang akan memastikannya sendiri. [ ]


*Story of My Second Anthology*

Tidak ada komentar: