Ini sudah tahun ketiga dan aku masih saja berharap bisa melihatnya lagi.
Bersandar di kusen jendela dan menatap langit abu-abu. Rintik-rintik hujan
mulai menghantam tanah berumput di depan kamarku. Kututup jendela dan beranjak
ke tempet tidur yang terlihat lebih hangat dari biasanya. Meringkuk sendirian
dengan balutan selimut tebal yang aku rasa bisa membuatku terbang sesaat.
***
“Saya, kamu mau tidur
sampai jam berapa?”
“Iya-iya ma..
Bentar.” Sahutku dari balik selimut. Kulirik jam beker, setengah lima sore. Selimut
kusibakkan dan mulai bertugas.
“Bangun juga
akhirnya.” Sindirnya dari atas sofa. Mamaku memang punya kebiasaan menyebalkan,
setiap pembantu pergi anak selalu dijadikan pembantu seperti kisah Cinderella.
Sementara dirinya sendiri asik minum teh sambil membaca majalah seperti
sekarang. “Sekarang apa?” tanyaku kesal. Jari telunjuknya yang panjang dan
mahal, menujuk keluar. Kakiku melangkah berat, dari celah pintu yang terbuka,
kepalaku keluar sekilas mirip seperti kepala kura-kura.
“Apa?” Setumpuk
selang tertangkap di sudut mataku.
Selang kuarahkan
kemana-mana, bahkan ke jalan beraspal di depan rumah. Air terus mengucur
membentuk hujan di jalan yang seketika kemudian langsung kutarik dan kulempar jauh
ke dalam rumah. Berlahan aku mendekat ke arah pagar rumah, kucengkram kuat trali-trali
besi berwarna putih.
“Kamu enggak pa-pa?
Maaf ya.” Aku cuman bisa diam dari balik pagar tanpa ada reaksi lebih dari itu.
“Ahh enggak pa-pa.
Lain kali hati-hati ya.” Sahutnya lembut lalu pergi.
***
“Saya, kamu mau tidur
sampai jam berapa? Kamu enggak berangkat les?” Suara yang selalu membuat
telingaku sakit. Raungannya mirip suara singa kelaparan.
“Iya ma, ini udah
bangun.” Kuraih handuk dan melangkah ke kamar mandi. Air kubiarkan membasahi
rambut baruku. Aku yakin mama pasti marah saat melihat rambutku yang awalnya
panjang dan hitam sekarang berubah pendek dan kusemir sedikit sembur merah, meskipun
enggak kelihatan kalo enggak di bawah sinar matahari. Aku tertawa geli membayangkan
reaksi mama nanti.
Aku gadis remaja.
Setengah tahun lagi mungkin aku bisa lulus SMA dan mulai kehidupanku bersama
ayah di pulau paling barat. Aku jelaskan, mereka bukan bercerai hanya terlalu
fokus dengan pekerjaan mereka sendiri-sendiri dan aku sebagai anak tunggal,
terlalu fokus dengan kehidupan remajaku.
“Mbak mau makan apa?”
tanya bik Sum, pembantu kesayangan mama dari dulu
“Enggak bik, mau
langsung berangkat aja.” Tolakku pelan.
“Ma, mama masih
ngelarang pak Bon buat nyiram halaman depan, kan?” Kujejalkan kakiku ke dalam
sepatu kets merah.
“Ma?” teriakku.
“Iya, sayang.” Balas
wanita berbaju hitam dari ruang keluarga.
Pelajaran kimia.
Pelajaran dengan nilai terburuk dari pelajaran lainnya. Duduk di bangku paling
belakang bareng Raya dan Riska. Sebenarnya dua orang itu sudah paham dengan
kimia, apalagi Raya, dia bahkan sudah pernah mengikuti olimpiade kimia. Pak
botak mulai mendongeng dengan rumus-rumus kimianya. Raya dan Riska sama. Mereka
berdua asik berkutat dengan soal dibuku mereka. Sedangkan aku …
Isi kotak pensil
sudah ku obrak-abrik tapi sebatang pensil pun enggak ada. “Betss, Ray, pinjem
pensil.” Bisikku.
“Lagi ku pake, adanya
mekanik mau?” Aku menggeleng.
“Kamu pake yang
mekanik aja, aku yang itu.”
“Nih buat kamu, pensilkan?”
potong Bastian. Kepalaku kembali ke posisi semula, “Makasih Bas.” Beberapa saat
setelah laki-laki itu berbalik badan, aku melirik tajam ke arah mereka yang
sibuk cekikikan sendiri. Kenapa mereka berdua begitu bahagia setiap kali aku berbicara
dengan Bastian, memang siapa Bastian? Dihh!!
“Ciee Ciee Saya ..”
ledek Raya seperti biasa. Aku enggak peduli dan terus menjejalkan kripik
singkong ke mulutku yang sudah penuh
“Udah Ray, kamu
seneng banget godain Saya.”
“Gimanapun kamu nyoba
buat deketin Bastian ke Saya, Saya tetep enggak bakalan ngerubah pendiriannya.
Ya kan Ya?” sambung Riska. Aku menggangguk menanggapi pertanyaan Riska.
“Kemarin aku mimpiin
dia lagi. Orang gila, pangeran iblis itu lagi.” Tangan Riska merangkul pundakku
cepat, sementara Raya menggenggam tangan kananku. Aku yakin, sekeras apapun
Raya menyuruhku untuk melupakan orang gila itu, semua itu hanya karna dia
terlalu peduli. Airmataku menetes, membasahi kulit atas tanganku. Dingin–
begitu dingin. “Kata orang, saat orang yang ditunggunya datang, airmata akan
jatuh. Kapan aku bisa ngerasain dinginnya airmata itu?” Bahkan di telingaku
sendiri, suaraku terdengar begitu sedih. Apa iya, aku benar-benar enggak akan
bisa ngelupain dia, meskipun ada Bastian yang juga nunggu aku?
***
Diulang tahunku yang
ke 18, aku ingin mendengar sekaligus melihat wajahnya lagi. Langit mulai
berubah jingga. Aku membanting jendela kamar dan melesat ke halaman depan. “Pak
Bon jangan!!!” teriakku keras dari depan pintu. “Tapi mbak?”
“Pak Bon lupa atau
mau dipecat? Aku kan udah bilang, jangan nyiram halaman depan, biar aku. AKU!!”
protesku. Pak Bon menunduk ketakutan lalu nyerahin selang, ku rampas dan mulai
dengan kebiasaanku. Bukan karna aku
takut dimarahi mama atau sudah kebiasaan, tapi aku selalu berharap kejadian itu
terulang lagi. Saat aku menyiram seseorang yang kemudian aku sukai, sampai
sekarang. Aku harap dihari ulang tahunku ini, dia bisa kembali, muncul di depan
pagar rumahku dan dengan lembutya bilang, ‘Lagi
siram-siram lagi?’ Sampai kapan aku terus begini? Sebenarnya aku juga capek
tapi setiap kali aku berusaha buat ngelupain dia, orang itu seperti yang tahu
dan nyegah aku, seperti tahun lalu saat ulang tahun ke 17ku.
Kuperhatikan satu
persatu hadiah yang masih lengkap dengan pembungkusnya. Tertumpuk rapi di atas
meja belajar. Meskipun bentuknya berbeda, pembungkusnya selalu sama, biru-putih
volcadot. Selalu dan selalu itu. Gantungan ponsel, bentuk lumba-lumba dari kaca
itupun masih menggantung dan sama sekali belum pernah aku pake. Aku takut kalo
sampai gantungan itu hilang. “Mbak, ada mbak Riska sama mbak Raya.” Suara si
mbok menghilangkan ingatanku dan menahan airmata yang hampir keluar.
“Iya, mbok.” Sahutku
lesu.
Dua gadis itu sudah
berdiri dengan kue tart kecil, menyambut wajahku yang masam dengan ucapan,
“Selamat ulang tahun Saya..” Aku tiup api lilin yang menyulut kesana-kemari.
Asap putih itu akan segera hilang. Mereka berdua memelukku erat seolah bisa
merasakan ada yang aku tunggu. “Ikut kita yuk, makan kuenya entaran aja,
gampang.” Ajak Raya semangat. Tanpa pikir panjang kali lebar lagi, aku langsung
setuju.
“Say, dia masih
sering telepon kamu?” pertanyaan Riska membuka keheningan di antara kami.
Kutarik pandanganku kembali ke bumi, “Setahun sekali atau aku bener-bener butuh
orang.” Jawabku singkat dan kembali menatap langit.
“Cuman karna itu kamu
masih terus nungguin dia?”
“Entahlah.”
“Aku punya ide,
gimana kalo kamu ganti nomer hape aja, mungkin dia masih nyimpen nomermu. Kalo
kamu ganti nomer dia enggak bakalan tahu kan?” Seketika aku tertawa lebar.
“Ngapain ketawa, aku kan cuman ngasih saran?” protes Riska.
“Aku sudah ganti
nomer tiga kali dan dia tetep aja tahu. Makanya aku enggak mau ganti nomer
lagi. Dia bener-bener kayak paranormal.”
Hal itu yang selama
ini terus muter-muter di pikiranku. Hal aneh. Kenapa dia masih bisa tahun nomer
telepon ponselku, selalu tahu kalo aku lagi ada masalah dan setiap hari ulang
tahunku disaat aku udah mau tidur dia pasti telepon dan cuman bilang: Selamat
ulang tahun, terima kasih dan maaf. Hanya itu.
“Pulang ayo, udah
malam. Enggak ada pelangi juga.” Ajakku malas lalu beranjak pergi. “Wahh orang
ini udah beneran enggak waras. Nyarik pelangi malem-malem.” Gerutu Raya.
Malam semakin larut.
Mereka berdua juga baru aja pulang. Tirai jendela sengaja enggak aku tutup, aku
masih ingin melihat pelangi itu lagi hari ini. Atau bisakah aku mendengar suara
laki-laki itu sekali lagi? Lampu ponselku berkedip-kedip, bunyi getaran di meja
pun terdengar jelas dan belum bisa mengalahkan suara detik jam yang menguasai
kamar. Nomer tidak dikenal. “Hallo? Ini Agha?” sergahku seketika.
“Agha? Siapa itu? Ini
aku Bastian. Selamat ulang tahun ya, maaf baru bisa ngucapin sekarang.”
“Hmm..” balasku
singkat, sangat singkat. Kututup lalu kulempar ke samping bantal. “Kalo hari
ini enggak ditelpon, berarti mulai besok harus ngelupain dan nyambut Bastian.
Tapi apa itu enggak jahat buat Bas?” batinku. Bantal kembali kulempar saat suara
getaran ponsel merambat sampai ditelingaku. “Hallo? Ini Agha?”
“Iya ini aku.
Ternyata kamu masih inget. Selamat ulang tahun ..”
“Maaf dan terima
kasih kan? Kamu mau bilang itu lagi kan?” tandasku sambil duduk bersila di
ranjang. Dari balik ponsel, aku bisa mendengar kalo saat ini dia tertawa. “Aku
tahu, sekarang kamu pasti lagi ketawa kan? Aku juga pingin lihat tawamu lagi.
Kamu sadar enggak, kalo kamu itu gantungin aku lama banget. Aku juga pingin
lepas dari kamu, tapi enggak pernah bisa.”
“Kenapa?”
“Perhatian kamu. Kenapa
kamu bisa tahu kalo aku sedih dan pasti nelpon aku, Sadar enggak itu bikin aku
gak bisa lepas dari kamu. Stop buat kayak gini, aku mohon kembali.”
“Aku tahu kamu pasti
lagi nangis sambil dekap boneka anjing. Jendela kamar pasti kebuka, kan?”
Pandanganku langsung tertuju tajam ke jendela yang terbuka. Semuanya gelap. Aku
pikir sekarang dia ada di depan rumah, tapi enggak.
“Coba lihat ke atas.”
Ucapnya yang membuyarkan konsentrasiku. Pelangi lunar. Akhirnya, aku bisa
melihat pelangi itu lagi. Langit berubah cerah dengan bulan purnama yang besar.
“Kenapa kamu bisa tahu?” selidikku dengan suara yang mulai berat. Hening. Suara
besar itu berubah menjadi bunyi panjang yang menyakitkan. “Selalu begini.
Menghilang dan menghilang lagi.”
***
Kata
orang, kebahagiaan selalu menunggu di tempat-tempat yang sudah dimakan
kesedihan? Sementara aku disini masih mencari tempat dengan bunga-bunga yang
akan mekar tahun ini. Langit dengan semburan awan-awan putih, seolah memberiku
petunjuk kalo sebentar lagi jalan beraspal ini akan basah dan kembali kering
saat sinar matahari mulai menyapa. Tolong beritahu aku, kegelapan itu seperti
apa? Cahaya itu seperti apa? Dan saat aku tahu, aku akan maju lalu menjadi
kuat. Tapi aku sudah terbiasa sendiri, menunggu sesuatu, merasakan kesepian
bersama cahaya bulan dan goresan pelangi.
“Selamat pagi Saya..” Raya merangkul
sekaligus menertawaiku saat dia tahu aku sedang menggambar, gambaran anak TK.
“Kamu masih suka gambar pelangi? Please
deh Say, kamu ini udah gede, udah SMA. Jangan gambar pelangi lagi kenapa, ganti
gitu.”
“Tapi aku suka pelangi. Orang itu
kayak pelangi.”
“Orang itu? Siapa? Agha lagi?” Aku
mengangguk. Mungkin telinga orang ini sudah membusuk karna sering aku racuni dengan
cerita seseorang yang enggak pernah dia lihat. “Ray, kemarin dia telepon aku.
Dan untuk pertama kali, aku bisa ngobrol sama dia lebih dari 1 menit. Dan saat
itu ada pelangi. Buat aku dia kayak pelangi.”
“Orang itu pelangi?”
“Pelangi itu selalu muncul saat
hujan berhenti dan enggak pernah bertahan lama pasti langsung hilang. Buat aku
dia sama kayak pelangi lunar. Selalu muncul di malam hari, selalu tahu waktu
aku sedih dan enggak akan pernah bertahan lama. Pasti menghilang.”
“Say, kejadian apa aja yang udah
kamu lalui sama Agha? Jangan bilang kamu cuman ketemu sekali didepan gerbang
itu?”. Aku menunduk. Kugigiti ujung ibu jariku sampai warnanya memerah.
***
“Saya, besok aku sama Agha
mau datang ke pesta ulang tahunnya Maia, kamu mau ikut?” ajak Bram dari atas
jok motornya.
“Aku? Aku enggak kenal
sama pacarmu Bram.”
“Kamu sama Agha aja.”
“Iya kalo Aghanya mau,
kalo enggak?”
“Kalo kamu mau aku
jemput, kalo enggak ya sudah.” Sambar Agha dengan nada seperti biasanya.
Laki-laki ini maunya apa? Dia enggak pernah mau ambil pusing dan enggak peduli
urusan orang lain. Menurut aku dia itu laki-laki yang misterius, pendiam, tapi
sekalinya dia ngomong pasti berubah jadi tokoh motivator. Panjang banget
ceramahnya.
Setengah lima sore,
Agha udah ngejogrok bareng Bram di depan gerbang. Aku buru-buru keluar, aku
enggak mau bikin dia marah lagi. Meski dia enggak pernah nunjukin marahnya,
semuanya bisa terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam, saat itu jelas
dia marah. “Lama banget? Agha, aku suruh masuk buat panggil kamu dia enggak
mau. Katanya buat apa,” sindir Bram.
“Ayo naik.” Suara Agha
selalu membuatku tersenyum sendiri. Suara dan sikapnya yang dingin itu menjadi
alasan kenapa aku betah di dekatnya.
Rintik hujan mulai
membasahi kaca helm kami. Jalanan beraspal ini juga mulai lebih hitam.
Samar-samar aku seperti mendengar Agha bicara sesuatu,
“Kamu bilang apa?”
tanyaku memepertegas. “Enggak, aku cuman mau bilang, jangan pikir aku sama
kayak orang lain.” Telingaku sekarang cukup mampu mendengar suaranya dari balik
guyuran hujan. Agha memutar arah dan mengantarkanku pulang. Membatalkan tujuan
awal kami untuk datang ke ulang tahun Maia. Itu lebih baik daripada datang
dengan penampilan awut-awutan. “Maksudnya?"
“Jangan sekali-kali
nyabuk, aku enggak suka. Kalo tangan kamu kedinginan masukin aja ke saku samping
jaketku.” Tegasnya.
Suara raungan knalpot
sudah lama berhenti di pinggir warung lalapan. Aku dan dia duduk berdua, saling
berhadapan. Peduli apa ini warung atau restoran, yang penting sekarang aku
ditraktir sama laki-laki keren ini.
Beberapa saat setelah
pesananku datang– ayam goreng, dia langsung mengangkat piring makan dan minumannya
ke meja lain yang jauh dari tempatku. Sekelebat ingatan muncul di otakku,
“Tuhan aku lupa, kalo dia enggak suka ayam.” Sekarang takdir. Seperti biasa
lagi, harus makan sendiri. Melihatnya makan dari jauh sangat enggak
menyenangkan, menyebalkan iya.
***
Ujian melelahkan
berakhir sudah, tinggal menunggu pengumuman dan aku siap terbang ke tempat
ayah. Meninggalkan semua kenangan di kota ini, termasuk kenangan akan Agha.
“Say, kamu jadi pindah ke tempat ayah kamu?” Aku menatap wajah Raya dan Riska
lekat-lekat. Jujur, aku juga enggak mau pisah dengan mereka, tapi aku juga
harus nepatin janji aku ke ayah, sebuah janji kecil– dulu.
“Kita pasti kangen
kamu. Kehilangan sosok Saya yang menyebalkan dan terlalu setia.” Ledek Raya.
Aku tersenyum hambar.
“Aku juga pasti kangen
kalian. Kangen semua hal tentang kalian. Tapi kita masih ketemu waktu libur
kuliah kan?”
“Tentu.”
***
Di kamar bernuansa
biru, kamar baruku. Segalanya terasa asing. Pelukan terakhir mereka masih
melekat. Pengumuman itu sudah lama berakhir. Kuliahku juga sudah berjalan
beberapa bulan. Hidup baruku dimulai. Termasuk nomer ponselku juga. Ya, semoga
dengan aku ganti nomer, dia enggak akan bisa nelpon aku dan aku bisa belajar
ngelupain dia. Satu yang aku harap disini, aku masih bisa melihat pelangi lunar
itu lagi. Pelangi indah yang menggores di atas kanvas yang berbeda, konvas yang
lebih lebar berwarna ungu kehitaman– Langit.
“Hallo siapa?” sapaku
“Kamu masih suka lihat
langit, apalagi pelangi. Iya kan? Kalo iya, tolong lihat keluar sekarang.” Aku
melompat dari atas ranjang, hampir terjungkal karna kakiku sempat tersangkut di
selimut. “Ada apa?” tanyaku lagi.
“Pelangi..”
“Hallo kamu siapa?
Agha?” desakku beruntut. Suara itu berubah lagi menjadi suara panjang yang
menyakitkan telinga. Kumatikan ponselku lalu kuletakkan di meja. Duduk mengayun
kaki di kusen jendela. Melihat pelangi dengan puas, meyakinkan mata sampai
pelangi itu benar-benar menghilang.
“Saat kamu
menghubungiku, kamu selalu tertawa dan itu bukan lelucon yang aku harapkan.
Bahkan airmata penyesalan terasa begitu berbeda. Masih kuingat saat aku terluka
dan kamu mengatakan agar aku selalu percaya akan Tuhan. Kamu bilang Tuhan akan
selalu memperhatikan kita, seperti kita yang selalu memperhatikan goresan
langit itu.” Kataku bersama mata yang mulai enggak sanggup menahan airmata.
Di dalam angin, aku selalu melihat dunia yang aku impian. Dunia yang
selalu muncul dalam lelap tidurku.
Meskipun aku sering jatuh dari kusen ini dan aku menerima kekosongan di
hatiku. Apakah kau masih bisa tersenyum kecil buat aku? Seperti senyuman manis
dalam mimpiku.
Setiap
pasangan manusia mencari tempat persembunyian. Sementara aku tidak. Aku pikir itu
akan lebih menyakitkan. Saat aku hanya bisa bertahan satu detik lebih lama
darimu, karna aku adalah sesuatu yang sangat berharga buatmu. Itulah yang aku
mengerti selama ini. Apa aku harus seperti hujan yang terus bersedih agar bisa
melihatmu? lalu melepaskanmu saat aku sudah lebih lega? Kau pelangi malamku.
Pelangi lunarku. Dan tidak akan pernah berubah untuk selamanya, karna aku yang
akan memastikannya sendiri. [ ]
*Story of My Second Anthology*
*Story of My Second Anthology*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar