Aku melihat
anak kecil itu baru bangun dari lelap tidurnya semalam. Dia berbeda saat
matahari sudah berada dipuncak langit. Wajahnya lusuh dengan bekas liur yang
membentuk garis lurus di sudut bibir. Ia menguap, membuka mulutnya lebar-lebar.
“Hey!!” pekikku. Tanpa merasa
bersalah dia membuka mulutnya di depanku yang tengah menikmati es buah sambil
menonton dvd kesukaanku.
“Ada apa?” balasnya dengan wajah
datar. Aku memutar bola mataku. Memang susah mengurus anak kecil ini sendirian.
Terlebih dia masih belum mengakuiku sebagai kakak angkatnya semenjak kakaknya
meninggal. Baginya aku hanya pelayan, seorang pengasuh sekaligus pembantu yang
harus menyediakan semua permintaannya. Sarapan, makan siang, makan malam,
sekolah, dan membereskan semua mainan yang ia geletakan begitu saja setelah
lelah bermain.
Aku menggiringnya ke kamar mandi. Dia menurut dengan tetap menenteng bola plastiknya. Melepas pakaian dan melemparkannya begitu saja dilantai sepanjang koridor. “Hey jangan buang bajumu disini!! Kalau kau ingin, buang saja di tong sampah!!” gerutuku. Dia menoleh sambil tertawa, dan aku yakin dia pasti sengaja membuang celana dalam.
Aku menggiringnya ke kamar mandi. Dia menurut dengan tetap menenteng bola plastiknya. Melepas pakaian dan melemparkannya begitu saja dilantai sepanjang koridor. “Hey jangan buang bajumu disini!! Kalau kau ingin, buang saja di tong sampah!!” gerutuku. Dia menoleh sambil tertawa, dan aku yakin dia pasti sengaja membuang celana dalam.
“Hey!!” teriakku lagi. Dia berlari
sambil tertawa. Kukejar larinya yang cepat. Pintu kamar mandi ditutupnya tapi
lupa ia kunci. Aku masuk dengan wajah menyeramkan. Alis kutautkan ditengah. Ia
diam, seolah mengerti maksudku yang bersandar di pinggir pintu.
“Ya, baiklah.” Perlahan, anak kecil
itu masuk ke dalam bath tub. Merendam
tubuhnya yang gempal tertutup daging.
“Baiklah, mandi yang benar. Aku akan
menyiapkan makan siang untukmu.” Seruku sambil tersenyum meninggalkan. Aku
menyayangi anak itu layaknya adik kandungku sendiri. Mungkin aku memang memikul
sebuah janji yang terasa berat. Aku sudah berjanji untuk menjaganya sampai kapanku. Dan
kurasa aku menikmatinya. Anak itu hanya merasakan kehilangan yang sangat besar.
Membuatnya tidak percaya dengan orang asing, meskipun terkadang ia membisikiku
sebuah rahasia yang bahkan tidak pernah ia ceritakan pada kakak kandungnya
sendiri.
Kuletakkan piring berisi tumis
kacang dengan sosis berbentuk bunga diatas meja. Ia menarik tangannya keluar
melalui lubang dibajunya. Aku tersenyum simpul melihatnya baru selesai mandi.
Sepertinya dia mulai menurut dengan perintahku.
“Makan apa?” tanyanya kemudian
setelah duduk dikursi yang menghadap televisi. “Kau melihat film itu lagi? Apa
kau tidak bosan? Aku saja bosan.” Celetuknya dingin. Aku menghela nafasku,
membatalkan pemikiran yang kubuat.
“Kalau kau bosan, jangan duduk sana.
Dengan begitu kau tidak perlu melihat film yang sedang kutonton kan?” komenku
tidak mau kalah. “Dan, aku ingin bertanya hal yang sama. Kenapa kau tidak
pernah bosan dengan tumis kacang sosis buatanku? Apa karna masakanku itu lezat?”
“Chigau.”[1]
“Lalu?”
“Karna dari semua
masakanmu, hanya ini yang bisa kumakan.” Sahutnya enteng. Sendok sayur kupukulkan ke kepalanya. Ia
mengernyit kesakitan dengan batuk-batuk karna tersedak. “Jangan suka menghina,
kalau kau tidak bisa melakukan hal yang sama atau lebih dari hal yang kau hina
itu. Itu tidak baik.” Kataku meninggalkannya pergi.
***
Badanku sudah bekerja
keras hari ini, melakukan rutinitas yang kurasa semakin hari semakin bertambah.
Kuhabiskan satu cangkir teh melati diberanda belakang. Menikmati tetesan hujan
dengan uap aroma terapi yang membumbung tinggi didalam genggamanku. Aku
meyukainya. Terasa damai.
“Hey kau!”
“Panggil aku kakak!”
balasku dongkol. Anak itu selalu saja memanggilku dengan kata ‘kau’, dia pikir
umurku masih lima tahun seperti dirinya.
Ia mengangguk. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ia menarik kursi lebih
dekat denganku, menggeser cangkir milikku dengan gelas berisi susu cokelat.
“Ada apa?” tanyaku
penasaran
“Lanjutkan ceritamu
yang waktu itu.”
“Ini baru jam empat
sore, tidak salah? Nanti malam saja.” Tolakku.
“Apa masalahnya? Kau
bilang itu cerita bukan dongeng, jadi tidak masalah bukan aku memintanya sekarang?”
Anak ini masih saja memanggilku ‘kau’
“Baiklah. Terakhir sampai mana?”
“Aiko-nee pingsan dan akan mati.”
Aku tidak menyangka dia mengingatnya, pikirku.
Nova kembali
melanjutkan pertarungannya. Ia disuruh pergi oleh anggota medis yang sudah
diberi amanat untuk menyembuhkan Aiko segera. Tapi Nova sama sekali tidak bisa
berkonsentrasi, ia sangat khawatir dan ingin berada disebelahnya.
“Awas!!” teriak Dedy.
Senjata yang semula akan melukai punggung Nova beralih dipedang miliknya.
“Jangan lengah!!” teriaknya. Nova bergitik. Sekelebat bayangan orang yang
sepertinya ia kenal, tapi bukan Dedy, Aiko, atau pasukan yang lain. Dia beda.
Nova memutar pengelihatannya, melempar semua kefokusannya sambil berusaha
melawan siapa yang mendekatinya. “Siapa?” gumamnya.
Ditempat lain, Insan
mulai sadarkan diri, jantungnya mulai berdetak dengan teratur yang sebelumnya
sempat sangat mengkhawatirkan. Berawal dari gelap, menuju putih, dan berakhir
pada kesamaran melihat medan perang yang masih saja belum selesai. Ia mendesah. Sebenarnya, dia ingin tersadar
saat perang ini sudah selesai karna dia malas harus melawan spora yang tak kunjung
selesai. Dia bosan melawan musuh yang sama, dia ingin yang lebih.
Kesadarannya sudah
lebih pulih, bukan lagi samar-samar tapi sudah jelas. Sudah sangat jelas untuk
melihat siapa orang yang tengah duduk disebelahnya sambil mengobati semua
luka-lukanya.
“Apa yang kau
lakukan?!” protesnya dan berusaha untuk berdiri.
“Aku orang yang sudah
mengobatimu. Lebih baik kau istirahat dulu, jangan langsung ikut berperang.” Dia
tertawa sinis, “Aa, terima kasih. Tapi itu memang tugasmu. Dan lagi jangan kau
harap aku akan duduk santai disini, sementara kedua temanku sedang berjuang.”
“Mereka akan mengerti
keadaanmu.”
Orang itu berdecak lidah menanggapi ucapan petugas medis dihadapannya.
Apa yang ia pedulikan? Tidak ada. Yang ia inginkan hanya ikut bertarung sampai garis
depan seperti orang yang terakhir ia amati sebelum ia terluka.
Para pasukan terus
berjatuhan, sementara para musuh terus bertambah banyak. Perbandingan yang
tidak seimbang. “Apa yang harus kita lakukan?” kata salah satu dari empat orang
digaris paling depan.
“Kau benar. Dia semakin
kuat saja. Sebelum mahluk itu terbentuk dengan sempurna, kita harus sudah bisa
menghabisi pengendalinya.”
“Aku tahu. Tapi teori
itu lebih mudah dari prakteknya.” Dua laki-laki yang tadi berhasil mencuri
perhatian Aiko dan Nova, sekaligus membuat Dedy kesal, tengah bersiap dengan
jurus pertahan kuat milik mereka. Kekuatan abadi berwarna ungu campur hitam dan
satunya berwarna oranye campur merah, seperti api, menyelimuti kedua orang itu.
Kini seolah monster bertarung dengan monster dan pengendali dengan pengendali.
“Tunggu!!” potongnya
seperti biasa.
“Apa?” Aku meneguk teh
milikku sementara anak itu berbicara tentang keganjilan yang ia temukan.
“Kemana dua orang lainnya? Kau bilang empat?”
“Sedang liburan di Hawaii.” Sambarku
kesal. Ia memberengut, ikut meneguk susu cokelat miliknya.
Semua pasukan termasuk mereka berdiri,
mengarahkan perhatian mereka pada dua monster yang baru terbentuk. Dengan
perisai api yang dimiliki monster berwarna ungu itu, si pengendali melemparkan
panahnya yang berhasil membelah pelindung musuh yang selama ini disebutkan
sebagai pertahanan terkuat. Lalu, jika sesuai rencana kini giliran monster
berwarna oranye yang melakukan tugas. Ia bersama pengendalinya, menyemburkan
bola-bola hitam berkekuatan super dahsyat yang bisa menghancurkan semuanya.
Ukuran monster milik musuh mengecil,
pengendalinya terluka dibagian dada yang membuatnya sedikit tidak
berkonentrasi. Dua laki-laki tua yang tadi bersama mereka, maju ke depan,
menggunakan mantra penyegel. Mereka berdua mengucapkan mantra tanpa bersuara,
hanya gerakan mulut. Seolah ada rantai besar yang keluar dari balik tanah
menuju tempat monster itu berada. Dan dengan cepat rantai-rantai besar itu
mengikat buruannya. Menariknya ke tanah, mengambil seluruh kekuatannya sampai
seluruh musuh hasil ciptaannya termasuk monster dibelakangnya itu menghilang.
“Sudah selesai.”
***
“Aiko-nee, bertahanlah.
Jangan mati disini!!” Nova menemukan Insan tengah bersandar di bawah pohon
dengan luka-luka ditangan dan punggungnya.
Dedy mendekat, “Apa dia terluka lagi?”
“Entahlah. Tapi
sepertinya ini–”
“Ini luka yang tadi,
aku hanya beristirahat–“
Belum selesai berbicara, Nova dan Dedy sudah memotong ucapannya seperti
saat ia memotong ucapan Nova. Insan membenarkan posisi tidurnya sambil melirik
ke arah Nova dan Dedy yang memasng wajag dongkol bersamaan.
“Sudah lah aku lelah,
ingin isirahat sejenak.”
“Jangan, kita harus
bicara.” Suara yang berbeda, bukan Nova ataupun Dedy. Insan memutar kepalanya,
ia terperanjat mendapati matanya melihat sesuatu yang dikatakannya indah.
Bajunya sudah lusuh, dengan robek dimana-mana, tapi tetap tidak membuat Insan
berkedip sekalipun.
Ia berdiri, menyamakan
ketinggian dengan kedua temannya. “Ada apa?”
“Hey, lihat!!” celetuk
Nova sambil mengankat kedua tangannya. Melihat ada selubuh putih yang
membungkus tangan Nova, Insan dan satu rekan timnya itu juga melakukan hal yang
sama. Seperti bayangan.
“Sepertinya kalian akan
kembali ke dunia kalian.” Seru laki-laki yang disukai Nova. Nova merona, padahal
belum tentu perkataan itu untuknya. Insan mengangguk.
“Jadi apa yang ingin
kau katakan?” selidik Insan merasa waktunya sudah akan habis. Laki-laki itu
menggeleng, mengeluarkan bongkahan batu cantik berwarna putih. Mungkin itu
prisma, tapi ini berbeda. Ini terlihat lebih indah bahkan sebelum diletakkan di
sinar matahari.
“Ambillah ini, sebagai
ucapan terima kasihku. Aku tahu kau bukan dari tempat ini, tapi kau tetap
bersedih bertarung bahkan sampai kau terluka. Jadi, terima kasih.”
“Selesai!!” Cangkirku sudah
kosong, langitpun sudah menghilangkan kemendungan yang sempat membayangi. Anak
itu tersenyum yang aku tidak tahu apa arti dari senyumannya. Aku kehabisan
cerita dan aku ingin segera mengakhiri ceritaku, jadi terpaksa ku skip adegan yang sebenarnya ada menjadi
tidak ada. Ya, kau tahu, kalau itu tidak kulakukan, seharian aku akan
menghabiskan waktu disini dan tidak melakukan hal lainnya.
Aku beranjak, membawa
cangkir kosongku ke dapur. “Jangan lupa segera masuk, sudah malam. Akan
kusiapkan air hangat untuk kau mandi.”
“Ya, kak.” Jawabnya.
Aku diam sejenak, mendengarnya memanggilku ‘kak’. Tanpa sadar ujung bibirku
tertarik membentuk seulas senyuman.
Kuletakkan cangkir
kosongku di tempat cuci piring lalu menyiapkan air hangat di bath tub. Menunggu air panas mengucur
sampai secukupnya sebelum kutambah dengan air dingin, kurogoh kantong celanaku,
“Aku masih menyimpannya. Batu itu. Terima kasih.” Gumamku.
zzz
2 komentar:
eyy, cerpen nya retno posting jg jg dong :D
Hahaha, cerpen yang mana? Dia aja belum bikin cerpen. Yang aku bikinin depan-depannya aja mungkin sudah tenggelam dilaut tuh kertas. Apa yang mau aku post kan?
Posting Komentar