Kamis, 06 Maret 2014

One Day in 2023 (Versi Cerpen)



Tiara + Insan + Sasti + Ria + Retno = KITA


Kita itu seperti pelangi. Pelangi mempunyai tujuh warna berbeda yang selalu muncul bersama. Sama seperti kita, diantara kita mempunyai kebiasaan, sifat dan kesukaan yang berbeda. Bahkan perbedaan itu teramat sangat. Tapi kita tetap bersama, tidak peduli kesukaan kita apa, yang jelas kita selalu menghargai apa yang sudah menjadi diri kita sendiri. Karena kita tidak menuntut untuk selalu sama. Terkadang saat aku melihat koloni semut yang berjuang untuk membawa makanan mereka, aku jadi teringat akan kita. Kita selalu berjuang bersama agar kita lulus. Tapi terkadang aku juga merasa kita ini seperti puzzle. Saling melengkapi. Saat satu dari kita tidak ada, ada sesuatu yang hilang. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Suatu saat kita akan berpisah, menemukan tujuan hidup kita masing-masing. Tapi suatu saat kita juga akan bertemu kembali di menara Eiffel, tanggal 1 Januari 2023! Jadi jangan takut kita tidak akan bisa bersama lagi.
(TCP)


            Waktu semakin mendekati bulatan merah di kalender yang tengah duduk manis di atas meja warna cokelat. Detik jam pun sama sekali tidak berkenan untuk menambah jumlahnya dalam satu hari. Ia tetap mempertahankan angka 24 miliknya. Lima remaja dalam diamnya tengah merenung, memikirkan jalan apa yang harus segera mereka ambil, keputusan apa yang harus segera mereka buat. Di ujung hari dalam lelap tidur mereka, matahari terbangun dan bersiap untuk beranjak kesinggasananya.
                                                                            ***
Bunga mawar. Disaat bunga itu masih kuncup, disanalah pertama kali kita bertemu. Perlahan mulai merekah dan ketika semua kelopak bermekaran akan terlihat begitu indah.  Tapi sayang, keindahan itu mulai berkurang saat salah satu kelopak mulai terlepas. Saat salah satu teman tidak ada, terasa sekali ada yang berkurang dan sepertinya itu bergiliran. Kita mungkin seperti itu, tapi tak sselamanya itu benar karena setelah semua kelopak itu terlepas, suatu saat nanti kita akan mulai bermekaran lagi di bawah menara Eiffel, 2023!! Amin..
(SMU)

            Hal pertama yang selalu mereka lakukan. Tidak ada dalam satu hari tanpa memulai hari dengan tidak bercerita. Memori mereka tak akan sanggup jika harus mengingat semua hal dan cerita apa saja yang telah mereka lakukan berlima. Ini kisah mereka selama tiga tahun bersama. Terkesan terlalu sederhana tapi bagi mereka inilah hal berharga.
            “Annyeong..”
            “Domo.. Ohayo..” balas Inara saat Rasti baru datang bersama Tara, gadis paling tinggi dan paling pendiam di antara mereka. Bel jam pelajaran sudah berbunyi, tapi salah satu dari mereka belum datang. Maudy Maulidiyah. Anggota yang lebih akrab di panggil ‘Ahjumma’ karena dia sangat suka dengan Korea sama halnya dengan Rasti.
            “Ahjumma kemana?” tanya Sita dengan suara kecilnya serambi mengeluarkan buku sejarah. Tara mengendikkan bahunya, menggeleng pelan pertanda tidak tahu.
            “Paling telat, bareng Pak Sugeng mungkin,” sambar Inara. Ahh, Pak Sugeng. Beliau adalah guru matematika mereka saat kelas satu dan dua, sekaligus masih keluarga dengan Maudy.  Saat Maudy datang tertambat yang selalu dijadikan kambing hitam oleh mereka berlima adalah Pak Sugeng. Apa salah beliau? Selang beberapa menit setelah Mr. Bakir masuk dan mulai mendongeng dengan kata ‘tidak usah munafik ya’, Maudy pun datang. “Jam berapa ini Ahjumma?” sindir Rasti. Cewek berambut keriting sebahu itu hanya tertawa lalu duduk.
           
            Jam istirahat adalah saat yang paling ditunggu Inara jika pelajaran sebelumnya adalah kimia bertolak belakang dengan dengan Sita, jam istirahat adalah hal yang ia harapkan tidak cepat terjadi saat pelajaran kimia. Sejarah, kimia baru selanjutnya istirahat. “Ittadakimasu..” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
            “Apa itu Ia?” Gadis berkuncir ekor kuda itu sedikit mencondongkan kepalanya ke kotak bekal milik Sita yang duduk di sebelahnya. “Biasa, tumis kedelai.”
            “Aku mie lagi, mie lagi. Padahal ibuku sendiri yang bilang ‘makan mie terus’ tapi sendirinya yang bikinkan bekal mie,” celetuk Maudy. Ia memutar kursinya agar bisa makan satu meja dengan Inara dan Sita.
            “Aku nasi goreng terus,” sambung Inara.
            “Ti, kamu enggak makan?” Lagi-lagi Tara hanya menggeleng dan tertawa,
            “Tara bekalnya di bawa pulang,” potong Rasti dengan mulut penuh nasi.
            “Habis aku enggak laper, ya aku makan di rumah aja,” protes Tara tak mau kalah. Itulah hal yang terkadang membuat keempat kawannya merasa kesal sendiri dengan Tara. Bukan karena apa, tapi untuk apa membawa bekal ke sekolah kalau pada akhirnya juga dimakan di rumah? Terkadang Rasti yang mendapat julukan sebagai ‘ibunya Tara’ sampai marah dan memaksa Tara untuk makan bekalnya. Mungkin karena takut atau apa, barulah Tara mau makan.
           
            “Ayo!” ajak Inara yang sudah terlalu ingin pulang. Jam setengah empat sore, pelajaran usai dengan les tambahan persiapan UN.
            “Jaa nee!!” seru Inara kemudian pada ketiga temannya yang dibalas dengan lambaian tangan dan seruan yang sama.
                                                                            ***
            Entah apa yang dulu mengawali sampai akhirnya salah satu dari mereka mengatakan ‘sepuluh tahun lagi kita bertemu di bawah menara Eiffel’ dengan santainya. Janji konyol yang mereka sepakati sejak duduk di kelas dua SMA. Mereka selalu memulai imajinasi gila mereka ketika keadaan kelas sepi atau sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
            “Sihh khayalannya..”
            “Biarin sudah Ras, siapa tahu itu memang bisa terjadi. Karena kita semua sudah punya mimpi yang sama, mungkin kita bisa berjuang lebih keras agar mimpi itu jadi kenyataan, kalau enggak ya sudah. Apa salahnya bermimpi?” seru Inara kemudian. Khayalan mereka terus berlanjut sampai Bu. Peni masuk. Dia guru biolagi yang menjadi musuh di kelas mereka. Saat kelas satu silam, hampir anak satu kelas tidak ada yang suka dengan beliau karena dianggap pilih kasih, mereka berlima pun sedikit sepakat saat di kelas dua. Inara mulai dengan ide gilanya, karena takut kalau mengobrol dan akhirnya ditunjuk untuk menjelaskan atau apalah, putri tidur ini akhirnya menyobek kertas yang ia temukan di laci meja dan menulis surat.
    
        Surat? Lebih tepatnya media untuk bicara secara tak langsung. Ia ambil bolpoin warna biru miliknya lalu mulai menulis, ‘Bu ini cuman jelasin ke anak D. Anak C sudah pinter-pinter makanya enggak pernah dijelasin.’ Kertas itu pun bergilir ke Sita, orang terdekat denganya. Pindah lokasi ke Tara yang duduk di belakang Sita, bergeser sedikit ke tempat Rasti lalu kembali pada Inara.  Baru sekali putaran, kertas itu sudah memiliki cerita sendiri, seperti sebuah diari yang mereka tulis bersama. Sekali lagi Inara menulis, tapi kali ini kertas itu tidak beralih ke Sita melainkan pada Maudy yang duduk persis di depan Inara baru terlempar ke Sita, kembali pada orbit sebelumnya. Mereka berlima selalu tertawa sebelum membalas tulisan terakhir. Semakin lama kertas itu berputar, semakin panjang kertas yang mereka sambung, semakin tidak menyambung apa yang mereka tulis. Kertas yang menjadi sebagian dari kisah mereka di kelas dua. Kertas yang pada akhirnya kembali mereka temukan di kotak pensil milik Maudy saat mereka duduk bersama kembali di kelas tiga.

Pertemanan kita seperti organ-organ tubuh manusia. Jika salah satu organ tersakiti, maka organ lain juga ikut merasakannya. Satu organ menghilang maka mereka tidak sempurna lagi. Organ-organ tubuh manusia itu kemanapun pergi akan selalu bersama, saling membutuhkan satu sama lain, melengkapi segala kekurangan. Jadi, persahabatan kita sama pentingnya seperti organ-organ tubuh itu. Karena manusia tidak akan bisa hidup hanya dengan satu organ saja.
(RM)
                                                                            ***
            Perempuan dengan sweater biru tua baru saja sampai di Champ de Mars di tepi Sungai Seine. Ia melirik jam di ponselnya yang sudah ia atur dengan waktu setempat. Dia tidak peduli dimana kakinya berpijak, hanya satu jenis lagu yang akan tetap memanjakan telinganya. Bulan Desember akhir, salju turun berlahan tapi langit belum menggelap.

            Rasti, wanita berkerudung putih itu tengah menunggu Tara yang tiba-tiba ingin ke toilet setelah turun dari pesawat. Rasti menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang di serang dingin. Topi rajutan dari ibunya serta sarung tangan tebal masih belum cukup membuatnya merasa hangat. Ia memeriksa ponselnya kembali tapi keadaannya tetap sama. Tidak ada pesan atau panggilan masuk.
            “Sudah beli tiket?” Rasti melonjak, spontan ia memukul Tara sangking terkejutnya.
            “Hehh!” Tara cemberut sambil menggosok-gosok lengannya yang sakit.
            “Maaf Tir, kamu sih bikin kaget. Aku belum beli tiket. Aku bingung mau beli di loket yang mana. Jadi aku nunggu kamu,” akunya.
            “Yah, aku juga enggak tahu Sas. Asal pilih tah?”
            “Kalau nanti salah?”
            “Ya enggak tahu. Keburu gelap, nanti malah sulit ketemu mereka. Tapi aku terserah kamu sih. Jadi gimana?”
            “Terserah juga sudah.” Keputusan pun diambil, loket di sebelah kiri pintu masuk dengan warna tema biru pun yang mereka berdua dekati. Meninggalkan loket di sebelah seberang yang semula berada lebih dekat dengan posisi mereka berdiri. Loket kereta api menuju ke kota Paris. Tak lama kemudian, tiket Paris Visit berpindah ke tangan mereka berdua, tiket berharga yang akan mereka gunakan dalam satu hari.
            Sebelum masuk ke barisan, mereka mengamati apa yang orang-orang lakukan. Berbekal film-film yang pernah mereka tonton saat SMA, mereka sedikit mengerti apa yang harus mereka lakukan. Gerbang kontrol tiket otomatis menyambut mereka, Rasti memasukan tiketnya yang kemudian diikuti Tara, pintu terbuka. Berdiri di peron kereta menunggu kereta datang.

            Menunggu kereta datang itu hal yang menyebalkan. Koala kembar itu bergerak kesana-kemari setiap pungunggnya bergerak. Minuman hangat ia genggam, uapnya ia gunakan untuk melawan uap dingin yang keluar dari hembusan nafasnya. Sambil meniup-niup minuman hangat miliknya, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Kakinya menggantung di kursi tunggu sekitar peron. Jam digital hitamnya tiba-tiba mengingatkannya pada kejadian dimana mereka berlima pernah hampir bermusuhkan kala kelas satu SMA. Kejadian yang sudah lama terjadi, kejadian saat ujian penilaian renang.

            “Ia berhenti dulu, Rasti sama Tara hilang,” ucap Inara sesaat setelah kepalanya kembali ia tarik ke depan. Sita menarik rem sepedanya dan merapat ke kiri di sebelah masjid cukup besar.
            “Coba sms, mungkin mereka salah jalan. Ehh, mereka tahu jalan ke kolam renang kan?” Inara menggeleng, menekan-nekan tombol di ponselnya lalu tombol send ia pilih.
            “Sudah tapi belum di balas.”
            “Kamu kirim ke siapa? Apa isinya?”
            “Ke Rasti. Aku bilang, kalian dimana? Aku tunggu kalian di dekat masjid Al-Huda seberang jalannya Panasonik. Gitu?!”
            “Ya enggak mungkin dibaca, anaknya kan bawa sepeda. Ke Tara coba.” Kali ini ganti Sita yang menoleh ke belakang sementara Inara mengirim pesan yang sama ke nomer ponsel Tara. Siapa yang ditunggu, siapa yang datang. Maudy datang bersama Gita dan Wanda, teman mereka berlima yang kemudian pindah saat kelas dua karena ikut bersama ibunya ke Batam.
            “Kalian enggak kelihatan Rasti?” tanya Sita. Inara mulai cemas dengan jarum jam yang sudah mendekati angka tiga. “Sudah jam tiga loh. Gimana mau ditunggu atau enggak?” Inara memberi pilihan pada ke tiga temannya yang sama cemasnya dengan dirinya. Satu sisi mereka ingin menunggu tapi disisi lain mereka juga takut terlambat.
            “Ayo sudah berangkat duluan,” putus Sita.
            Di ruang ganti, baru saja Inara dan Sita selesai mengganti baju mereka dengan pakaian renang, tiba-tiba Rasti dan Tara muncul. Satu kesalahan yang Inara buat, ia mengeluarkan kata kasar. Ia terlihat seperti menyalahkan Rasti karena mereka hampir saja terlambat.
            “Kamu dimana aja? Aku sama anak-anak nunggu kamu lama banget di dekat masjid,” sergah Inara. Sergahan itu dilanjutkan oleh Sita, “Enggak tahu ini, padahal tadi ada dibelakang tiba-tiba langsung hilang.” Sekejap kemudian, Inara menangkap perubahan ekspresi di wajah Rasti. Ia sedikit bingung, mencari sesuatu yang membuat ini berakhir. Dia yang memulai, dia yang mengakhiri.
      Semua kembali, kemurungan, kekesalan, marah dan emosi itu hilang terbawa air di kolam renang. Keluar lalu mengapung dan entah terbawa arus yang mana lalu melekat pada siapa. Entah siapa tuan mereka selanjutnya, yang pasti mereka berlima bukanlah tuan dari hal-hal itu lagi.

            Sita kembali pada dunia nyata bahwa ia masih duduk menunggu kereta datang. Ia tertawa sendiri pelan, mengingat hal yang mereka lalui. Bukan hal tidak mungkin bahwa mereka semua sebenarnya pasti pernah merasa kesal, iri dan marah pada satu sama lain. Tapi keegoisan itu mereka tekan karena mereka tidak ingin menghancurkan ikatan yang telah mereka buat.

            Rasti dan Tara naik ke kereta di jalur RER B. Duduk dengan antusias. Mengamati setiap jalan yang mereka lewati, mengabadikan dalam kamera digital mereka. Tidak lupa mereka pun membingkai diri mereka dalam layar kamera milik Tara. Stasiun tujuan mereka sebentar lagi akan terlihat, St-Michel Notre Dame. Stasiun satu jalur dengan nuansa biru muda dan putih pada bagian dindingnya. Perlahan kereta mulai memperlambat. Berhenti untuk menurunkan penumpangnya sebelum kembali menggesek besi panjang di bawahnya. Dua perempuan itu turun, melangkahkan kakinya kembali menuju RER C.

            Ia membuang gelas kertas miliknya di tempat sampah, mengambil buku petunjuk jalan disamping tempat duduknya lalu berdiri di dekat rel karena kereta sudah akan tiba. Kepala kereta terlihat dari balik kacamatanya. Ia menoleh ke belakang saat mendengar ada yang menyebut namanya. Tidak banyak disana yang memiliki nama seperti dia.
            “Sita!!!” suara teriakan itu silih berganti dengan suara yang berbeda.
            “Rasti!! Tara!!!” balas ia berteriak. Ia berlari ke arah dua teman lamanya. Kini mereka bertiga, bersama-sama menunggu kereta itu benar-benar berhenti.

            Perempuan bersweater biru tua itu baru saja membeli crepes, sejenis jajanan yang terbuat dari tepung dengan isi beragam, tapi dia memilih isi cokelat yang sudah akrab dengan mulutnya, bedanya kali ini cokelatnya lebih banyak sehingga benar-benar terasa. Jarum jam hampir mendekati angka sembilan malam. Lagu Bird milik Yuya matsushita, menemaninya dalam dingin dan kelezatan crepes. Dan entah kenapa, tiba-tiba suapan itu mengingatkannya ketika ia berusia genap tujuh belas tahun. Baginya itu sebuah kejutan ulang tahun yang sama sekali tidak ia duga. Rencana yang semula tersusun rapi tapi seketika itu hancur karena Rasti dan Maudy bingung harus bersembunyi dimana.
            Kue tart black forest dengan dua lilin yang menyulut. Seperti sebuah tradisi, foto dulu baru makan. Inara pun menduplikasi kue ulang tahunnya ke dalam layar ponsel. Kue yang di bawah oleh kakaknya itu kini berubah bentuk, bagaimana tidak? Ada permen dan belimbing wuluh ditaruh diatasnya sebagai hiasan.
           

‘Makasih.’ Satu kata itulah yang ia ucapkan, selebihnya ia bingung. Ulang tahun kali ini pun mengingatkannya ketika teman satu kelas merayakan ulang tahunnya saat ia kelas lima SD. Saat dia benar-benar takut dimarahi guru. Dan berhasil. Tapi kejutan itu gagal saat diulang di kelas enam. Gerak-gerik anak satu kelas terbaca olehnya.
            Ia tersenyum mengenang semua, “Saat-saat itu.. Arigatou minna.”

            Sudah hampir satu jam ia mengantri untuk membeli lima tiket menuju lantai ketiga agar bisa melihat seluruh Paris dari puncak tertinggi. Mengganjal perutnya yang hampir membeku dengan Panini, ia merasa beruntung karena Panini yang ia beli tidak ada saus sambalnya jadi ia bisa merasa tenang menikmati makanan sejenis sandwich ini tanpa takut perutnya bermasalah. Selangkah demi selangkah ia maju ke depan. Disuapan terakhir makanannya, ia berada satu langkah sebelum tepat di depan loket tiket. Mengeluarkan sekitar 125 euro dan lima tiket berhasil masuk dalam tas ransel kecilnya. Ia tarik kopernya menuju taman luas yang tidak berwarna hijau melainkan putih karena terselimuti salju.
           
            Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya mereka bertiga keluar juga dari stasiun Champ de Mars. Mereka benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dua teman mereka yang lain. Dari tempat mereka berdiri, mereka sudah melihat betapa tingginya menara impian mereka. Tapi kaki mereka diam mematung.
            “Ini sungguhan kita ada di Paris?” celetuk Rasti ditengah terpaan angin malam yang dingin. Berdiri di tengah-tengah Sita dan Tara membuat suaranya terdengar jelas di kedua telinga temannya.
            “Sepertinya sungguhan kok Ras, buktinya itu menara Eiffel kan?” jawab Sita sambil menunjuk menara yang berdiri kokoh jauh di depan mereka.
            “Ta.. Sit..” ia diam sesaat, menoleh pada kedua temannya yang masih sama takjubnya, “Ayo!!” Mereka bertiga kemudian berlari secepat mungkin menuju tempat pertemuan mereka.

            “Hisashiburi..” Kata perempuan yang tiba-iba muncul di belakang Maudy.
Maudy berbalik badan, ia diam dan sejurus kemudian mereka berdua berpelukan.
            “Itu tadi artinya apa?” tanya Maudy sesaat setelah melepaskan rangkulannya.
            “Lama tidak jumpa. Sudah lama? Aku sampai mau jadi es, beku disini.” Maudy tertawa.
            “Sudah dari tadi. Aku aja sampai sudah belikan tiket buat kalian berlima. Bayar!!” jawabnya dengan nada serius seperti biasanya lalu tertawa setelah itu.
            “Anak-anak kok belum ada yang datang ya? Sudah mau jam sepuluh loh.” Setidaknya kali ini Inara tidak sekhawatir tadi saat ia masih sendiSitan menunggu teman-temannya. “Siah, itu hal yang sering terjadi. Paling mereka telat lagi,” sahut Maudy santai.
            “Inara!!” Koala di punggungnya bergerak semakin hebat.
           “Ahjumma!!” teriak Rasti kemudian. Mereka bertiga berlari semakin cepat. Berpelukan ala teletubis untuk beberapa saat. Berteriak-teriak dan selalu heboh seperti dulu. Selalu heboh setiap mereka berkumpul dan mereka tidak pernah peduli dengan pikiran orang lain terhadap keramaian mereka berlima.

Kelompok dengan anggota yang mempunyai tubuh kecil. Di lingkungan luar kita terlihat seperti anak-anak yang pendiam tapi setiap kita berkumpul suasana akan berbeda. Aneh, itu menurutku. Kita mempunyai daya imajinasi yang sangat tinggi dan itu sangat tidak rasional, kepribadian dan saling melengkapi.
(PNI)

            Maudy membagi tiket yang sudah ia beli. Tanpa membuang waktu lagi mereka masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dua. Perjalanan seharian sudah terlalu melelahkan kalau mereka masih di haruskan untuk naik tangga, jadi lift-lah yang mereka pilih. Kenangan dimana mereka naik lift pertama kali bersama-sama pun terngiang kembali. Dimana cerita pun beragam, ada yang pusing, mual, memilih di dekat dinding dan tidak tahu tombol mana yang harus ditekan.
            Dari kaca-kaca jendela yang melingkar di sekeliling lantai tiga, lantai paling tinggi di menara Eiffel, mereka berlima dengan takjub menyaksikan kota Paris bagian utara. Lautan lampu menerangi setiap gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperi mainan miniatur anak-anak. Taman luas yang membelah kota, air mancur bercahaya yang mempesona seakan tak henti-hentinya membuat Inara, Rasti, Maudy, Sita dan Tara terperangah.
            DUAAAAARRRRRR!!!! DUUUAAAAARRRR!!!
            Belum selesai merasa takjub dengan panorama kota yang disajikan, langit malam kota Paris pun berubah menjadi kanvas yang bersedia untuk menampung lemparan cat-cat berwarna-warni yang indah.
            “Sudah tahun baru ya?” gumam Tara, keempat kawannya seraya menoleh bersamaan. Mengangguk dan kembali menatap langit berlampu.
            “2023 ya?” kata Inara menimpali.
            “Sungguh ini semua terjadi? Benarkah kita berlima ada disini? Di menara Eiffel sekarang?”
                                                                            ***
            Lagu Man in Love terngiang di telinga Rasti. Sinar matahari masuk menerobos celah di jendela kamarnya. Dengan enggan ia meraih ponsel lalu mematikan alarm, beberapa saat setelah itu ia baru bangkit menuju kamar mandi.
            Ketika Rasti baru beranjak dari tempat tidur, Inara sudah berjalan di jalanan beraspal menuju sekolah. Menikmati suasana sepi yang menyelimuti sekolah bersama dengan terpaan matahari. Gerbang sekolah belum sepenuhnya terbuka, ia masuk, melewati satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kelas mereka berdiam. Menopang dagu disebuah kusen jendela, memandang matahari yang perlahan mulai meninggi. Ia berdesah. Tuhan, keluhnya dalam hati. Ia meruntuki dirinya sendiri. Namun seketika kepalanya menggeleng keras seolah menolak apa yang baru saja ia katakan.
            “Hahh!” Ia menghela nafas panjang sebelum berbalik dan mendapati kedatangan Sita dengan wajah yang sama ditekuknya.
            “Inara, aku…”
            “Aku juga Sit,” potongnya. Mereka berdua saling diam. Sama-sama berharap ketiga temannya cepat datang agar mereka tidak menyimpan semuanya sendiri. Jam terus berputar. Kelas sedikit demi sedikit mulai penuh dan tak lagi sunyi.
            “Inara..” rengek Rasti seperti anak kecil, terkadang sikapnya memang tak kalah seperti anak kecilnya dengan Sita.
            “Apa? Kamu juga?” selidik Inara kemudian. Gadis berkerudung itu hanya mengangguk lalu berjalan ke belakang meletakkan tas merah beratnya.
            “Aku juga Na,” sambung Tara. Kini tinggal satu yang belum datang.
            “Kenapa ini kok murung  semua? Ada ulangan tah?” sapa Maudy pertama kali, lima menit sebelum bel masuk.
            “Jumma, kamu mimpi apa enggak?” balas Rasti.
            “Enggak. Enggak mimpi aku,” jawabnya tanpa bersalah. “Mimpi apa?”
            “Yah, Jumma kok enggak, padahal kita berempat iya,” kata Sita sedikit menoleh ke Tara. “Mimpi apa?” ulangnya pelan.
            “Ke Paris!!” jawab mereka berempat kompak.
            “Oo, mimpi ke Paris toh? Iya, aku mimpi kalau itu,” serunya sambil tertawa, “Tadi tanyanya kamu mimpi apa enggak, ya enggaklah. Aku sekolah mana bisa aku mimpi. Kalau semalam iya, aku mimpi,” lanjutnya.
            “Jumma!!!!” teriak mereka kompak sekali lagi. Maudy mencoba menghindari dengan tawa dan alasan-alasannya untuk membenarkan bahwa pertanyaan Rasti itu salah. Mereka berlima saling menceritakan mimpi tentang Paris versi mereka masing-masing. Satu hal yang sama diantara mimpi mereka adalah pertemuan dan perayaan malam pergantian tahun baru sambil menyaksikan lautan lampu kota.
            “Itu mungkin atau enggak ya?” Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Sita. Inara tersenyum, “Mungkin atau enggak mungkin, apa salahnya untuk bermimpi? Siapa tahu memang mungkin terjadi. Ya kan?”
            “Amin..” seru Rasti.
            “Amin..” Respon yang lainnya.

Ketika sekumpulan ulat masih terus bermimpi dan berjuang bersama untuk menjadi sekawanan kupu-kupu yang indah.
(IGCG)

THE END

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Gk pernah bosen baca ini cerita :) jadi kngen masa" itu